
Simo menyerang Nara dengan berbagai ayunan dan gerakan. meskipun Nara tidak menggunakan senjata seperti sebelumnya, dia sekarang menggunakan elemen anginnya untuk membuat pedang tidak terlihat dan tentu saja itu lebih kuat dari sebelumnya.
Pertarungan sangat tidak seimbang, apalagi setiap ayunan yang Nara lontarkan itu dapat menghempaskan angin yang dapat menghambat gerakan simo untuk menyerang.
Melihat itu namila melesat dan ikut dalam pertarungan.
“Hahaha, meski kalian berdua, kalian tetap tidak akan bisa mengalahkanku.” Ujar Nara seraya bertarung melawan namila dan simo.
Simo dan Namila tidak mempedulikan ucapan yang di lontarkan Nara, bagi mereka sekarang menyerang adalah hal yang terpenting.
Mereka terus menyerang Nara hingga membuat mereka kelelahan lalu mundur beberapa langkah.
“Bola angin!” ujar Nara lalu beberapa bola angin terbentuk di udara kemudian melesat mengarah namila dan simo.
Sebelum menyentuh mereka, pusaran air terbentuk menghalangi bola angin itu. Pusaran air itu adalah salah satu kemampuan yang di miliki namila.
Setelah berhasil menghadang serangan Nara air itu kemudian membentuk 10 pedang air yang melayang di udara.
Namila menggerakkan tangannya ke depan bersama semua pedang air itu menerjang Nara.
Bark, barak, Barak.
Semua pedang itu berhasil Nara hindari.
“Kenapa kau diam saja, cepat serang dia!” ujar namila dengan kesal kepada simo.
“Maaf.” Simo berlari ke arah Nara, meski dia merasa kesal dengan namila. Simo tidak bergerak dari tadi karena ingin menunggu serangan namila selesai agar tidak mengganggunya akan tetapi namila malahan kesal dengannya.
Simo menyerang Nara dengan berbagai serangan sedangkan namila ikut membantu menyerang Nara dengan pedang-pedang airnya.
Beberapa menit serangan itu berlanjut hingga akhirnya berhasil membuat nara pecah konsentrasinya.
“kalian memang mengganggu!” ujar Nara bersamaan dengan keluarnya angin dari tubuhnya membuat simo terpental menjauh.
“Kenapa kalian menggangguku? karena hanya untuk peri-peri kecil itu hah?”ujar Nara. Sebenarnya dia tidak ingin membunuh siapa pun di antara namila dan simo. Dia tahu apa akibatnya jika membunuh keduanya.
“Aku hanya ingin menjadikannya koleksiku dan menelitinya. Jika kalian tidak mau menyerah maka aku pun tidak akan segan-segan membunuh kalian!” Saat mengatakan itu tubuh Nara menghempaskan energi dan angin yang lebih kuat.
“mereka adalah teman-teman ku, aku tidak akan pernah membiarkanmu menelitinya ataupun menjadi koleksi dan meski hari ini aku mati aku tidak akan membiarkanmu membawanya pergi!” Ujar simo dengan keras.
“Kau tidak perlu menanyakan alasan lagi kepadaku.” sahut namila.
“Hahahaha, baik, baik, maka sekarang terimalah kematian kalian! Badai tornado!”
Seketika angin di hutan menjadi keras. Awan-awan hitam bermunculan. Langit menjadi mendung Seolah-olah menuruti perintah nara.
__ADS_1
Dua pusaran perlahan-lahan turun dari langit tepat mengarah tempat Nara.
“hahaha, sungguh sayang dua jenis akan mati di tanganku.”
Melihat itu namila langsung membuat pusaran air untuk menahan angin yang begitu keras.
Sedangkan simo berusaha menahannya dengan memegang pedang yang tertanjab.
“aku tidak akan membiarkanmu!” namila menghunuskan pedangnya ke tanah. “tanaman rambat air!” seketika tanah bergetar lalu muncul tentakel-tentakel air yang besar lalu menyerang Nara.
“Usaha yang sia-sia.” Saat mencapai Nara. Pusaran angin mengelilinginya membuat tentakel itu seketika hancur.
“Selamat tinggal.”
Dua pusaran itu berhasil mendarat dan memporanda-porandakan pepohonan di sekitarnya. Satu pusaran mendarat di kanan namila dan satu lagi di kiri simo.
Pusaran itu adalah angin tornado yang dahsyat. Angin itu terus mendekat dan mendekat.
Simo dan Namila ingin menghindarinya akan tetapi mereka tidak bisa akibat angin yang terlalu kencang dan apabila angin itu berhasil menerbangkan mereka maka dapat di pastikan mereka akan mati atau setidaknya sekarat akibat angin tornado itu.
Sedangkan Nara menyaksikannya dengan satai dan di lindungin oleh pusaran angin. Meski dia terlihat santai, di dalam hatinya dia khawatir jika kakek Namila datang mendadak.
Wussss. Dua angin itu saling berbenturan dan menyatu menjadi satu pusaran angin yang begitu besar membuat pepohonan hancur dan berterbangan. Atap-atap gubuk ikut terbang. Pohon-pohon yang tidak jauh berada ikut menyumbangkan dedaunannya karena tidak kuat menahan dan beberapa juga sudah ada yang gundul.
Nara yang menyaksikannya tersenyum jahat.
Nara mengerutkan keningnya. “bagaimana bisa angin menjadi beku!?” Nara tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Setahunya angin tidak bisa membeku dan sangat mustahil itu terjadi.
Kreak, piangg. Pusaran angin itu pecah memperlihatkan simo dengan tatapan dingin dan marahnya.
Sedangkan namila ikut membeku. Dia hanya bisa melihat dan terkejut dengan perubahan yang terjadi. Namila merasakan energi yang begitu besar terpancar dari tubuh simo dan energi itu lebih besar darinya yang membuatnya heran.
Apa yang terjadi? Batin namila.
Plak, plak, plak suara tepuk tangan dari nara.
“Aahahah, ternyata kau bisa bertahan ya.”
“berhenti mengoceh!” ucap simo dingin dan wajah yang marah.
“wow apakah ini sandiwara?” ujar Nara dengan wajah meremehkan, meski dia merasakan energi yang terus membesar terpancar dari tubuh simo. Nara menggagap energi itu bukan milik simo dan akan menghilang dalam sekejap mata.
“dasar bajingan!” simo melesat dengan sangat cepat.
“trangkkkk!!” dua bila pedang beradu dengan sangat keras.
__ADS_1
“wow, apakah ini kekuatan mu?”
“Berisik!” simo menyerang Nara dengan sangat kuat dan keras, bahkan tangannya lebih cepat saat dia bertarung dengan kakeknya.
Pertarungan mereka sekarang terlihat seimbang, meski Nara menggunakan anginnya untuk mendukung serangannya itu tidak mempan di hadapan simo yang mengeluarkan aura dingin yang mencekam.
Setiap Nara mengeluarkan anginnya seketika itu membeku dan menjadi pecahan-pecahan es.
Simo terus mengayunkan pedangnya dengan sangat keras membuat nara terus mundur karena tidak tahan dan mulai terpojok.
Ekspresinya yang sebelumnya tenang kini berubah menjadi jelek dan masam.
Srasss. Akhirnya ayunan pedang simo berhasil menggores dada Nara dan untuk pertama kalinya Nara mengeluarkan darah segarnya.
“Beraninya kau!” ujar Nara seraya menutupi lukanya dan terus mengayunkan pedangnya, tetapi dia sudah terpojok dan akhirnya tersungkur juga.
Nara hendak bangun lagi, tetapi dengan keras simo menendangnya dan menginjak kepala dan tangannya.
Nara mengeluarkan pusaran angin, namun seketika pusaran itu membeku dan bersamaan dengan tubuhnya.
Sekarang Nara memperlihatkan ekspresi takut.
“sekarang pergilah ke neraka.” Ucap simo dingin seraya mengarahkan pedangnya ke leher Nara.
“si...siapa kau sebenarnya?” tanya Nara yang sudah sangat takut.
“aku adalah pencabut nyawamu.” Setelah mengatakan itu simo langsung menusukkan pedangnya menembus leher Nara tanpa menjawab pertanyaannya.
Mulut Nara terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu. Matanya terbuka lebar karena ketakutan. Nara dapat merasakan lehernya di tusuk dengan keras, dia dapat merasakan dinginnya bilah pedang yang menusuknya.
Kesadaran berangsur-angsur menghilang dan akhirnya Nara menghembuskan nafas terakhirnya.
Setelah membunuh Nara, simo tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri, bersamaan dengan itu semua es mencair seketika.
Namila lalu menghampiri simo kemudian memeriksa tubuhnya.
“ Aneh.” Ucap namila yang menyadari energi itu sudah tidak ada dalam tubuh simo.
Setelah itu dia memeriksa tubuh simo yang ternyata hanya kelelahan. Namila menghela nafas lega setelah mengetahui simo hanya kelelahan. Ada rasa penasaran dalam pikiran namila setelah merasakan energi dalam tubuh simo yang aneh dan baru pertama kali dia merasakannya.
Namila menyembuhkan simo dan berharap dia akan cepat pulih.
Sihir penyembuh adalah salah satu sihir yang ada di dunia ini selain energi alam kecil.
Jika energi alam kecil bisanya untuk menggunakan elemen, sihir berbeda, sihir dapat di gunakan untuk berbagai keperluan, akan tetapi sangat sulit untuk dilakukan oleh karena itu orang-orang yang bisa menggunakan sihir bisa di hitung jari.
__ADS_1
Namila belajar sihir dari kakeknya sejak kecil. Walaupun itu hanya sihir penyembuh, itu sangat bermanfaat jika dalam keadaan terluka.
Setelah di rasa simo baikan, namila memutuskan untuk pergi dari sana.