Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 13 ujian


__ADS_3

“masuklah!” ujar Kaisar pedang seraya berusaha memasukkan aura itu ke dalam tubuh simo.


Nyala api itu seketika membesar, kemudian kembali normal.


Dalam tahap ini, mungkin saja akan ada penolakan yang di karena kan energi alam kecil simo mendeteksi adanya energi asing ke dalam tubuh simo. Energi itu akan berusaha melindungi simo.


Dengan sedikit tekanan, akhirnya aura itu berhasil masuk ke dalam tubuh simo.


Menggertakkan giginya, mengepalkan kedua tangannya, simo berusaha menahan rasa sakit di dalam punggungnya. Simo dapat merasakan punggungnya terbakar hebat dan menimbulkan rasa sakit yang parah.


Setelah beberapa saat, darah mengalir dari bibir dan tangan simo. Itu adalah caranya untuk bertahan.


“Bertahanlah.” Kata kaisar pedang yang mengetahui keadaan simo.


Simo mengangguk.


Setelah beberapa menit itu berlangsung, akhirnya kaisar pedang berhasil menyelesaikannya. Dia tertawa dan tersenyum puas setelah berhasil menyelesaikannya, sementara simo, dia akhirnya pingsan.


...****


...


Perlahan-lahan kedua mata simo terbuka. Dia mendapati dirinya tertidur di pangkuan seorang wanita yang memakai gaun putih bersih. Dengan terkejut dia bangun dan melihat orang yang berada di sampingnya.


“kau?” ujar simo tidak percaya, melihat salah satu siren di sana.


Siren itu terlihat seperti tidak terikat apa pun, tapi sebenarnya dia sedang di kurung, hanya saja itu tidak terlihat oleh simo.


Wanita itu memandang simo acuh tidak acuh, lalu berkata, “Andai aku bisa bebas, sudah dari tadi aku bunuh kau bocah.” Ucap Daria ketus.


“bagaimana tidurmu, muridku?”


Akhirnya Kaisar pedang muncul dan mendekati simo. Wajahnya tersenyum puas, seperti sedang dalam suasana hati yang bergembira. Tidak tahu apa sebabnya.


Kaisar pedang terlihat tenang, meski Melihat siren yang terlihat bebas. Oleh karena itu simo penasaran apa yang tengah terjadi, dia pun bertanya, “Guru, kenapa kau membiarkan ku tidur di pangkuannya?”


“tadi kau pingsan dan menderita luka yang cukup patal. Karena guru khawatir, guru memerintahkan salah satu siren untuk membantumu dan untuk saja salah satunya bisa.”


“bukankah guru bisa menyembuhkan?” pertanyaan itu wajar saja keluar dari mulut simo, apalagi setahunya, kaisar pedang memiliki kemampuan yang hebat, mana mungkin tidak bisa mengobati.

__ADS_1


Mendengar itu, kaisar pedang menghela nafas lalu berkata, “meski guru hebat dalam ilmu berpedang, belum tentu guru bisa mengobati. Seandainya guru bisa melakukannya, pasti akan ada harapan untuk bertahan waktu itu.” Ucap kaisar pedang seraya mengingat masa lalunya yang kelam.


“Ah..., itu sudah berlalu.” Lanjutnya.


“guru, anda pasti tahu bagaimana jika nanti siren itu melakukan hal buruk kepadaku? Apalagi mereka jahat, atau mungkin...setelah aku memangilmu guru dan menghormatimu kau bisa bertindak semaumu?” Tanya simo setelah beberapa saat membiarkan waktu Kepada kaisar pedang.


“Jangan mengada-ada, ini adalah tempatmu, dia hanya roh yang tidak berguna. Di sini, kau adalah penguasa, jadi kau tidak perlu takut dengan hal itu.”


“Jadi mengapa guru mengikat mereka saat tiba?”


“Soal itu.... Ahahah, itu hanyalah upacara penyambutan untuk mereka, hahah.” Ucap kaisar pedang seraya mengusap belakang kepalanya yang tidak gatal.


“baiklah, itu tidak penting, yang terpenting kau sudah memiliki aura pedang, namanya aura naga api merah.” Lanjut kaisar pedang dengan wajah seketika serius.


“Sekarang kau harus kembali, karena Matahari sudah terbit.”


“Bagaimana bisa!?” ujar simo tidak percaya, lalu dengan cepat dia pergi.


“sampai kapan kau akan mengurung kami seperti ini?” tanya daria mendekati Kaisar pedang


“Sampai kalian membantu anak muda itu.” Jawab kaisar pedang dengan serius.


“kau akan mengetahuinya nanti.”


...****...


Langit cerah kembali menampakkan dirinya. Cahaya matahari yang trik kembali menyinari bumi. Angin yang sejuk kembali mengelilingi dunia. Di bawah cahaya matahari dan langi biru, semua siswa berkumpul di lapangan. Walau suasana panas, tidak ada di antara mereka yang kesal atau mengeluh. Sebaliknya mereka terlihat bersemangat dan menunggu pertarungan seru apalagi yang akan terjadi di lapangan.


Apakah akan membuat lapangan hancur? Apakah pertarungannya terjadi lebih lama lagi dan apakah ada lebih jenius dari anulika?


Semua pertanyaan itu terngiang-ngiang di pikiran mereka.


Tapi banyak juga yang berpikir takut, jika mereka di panggil. Walau mereka sudah berlatih, rasa takut itu tidak pernah meninggalkan mereka. Meski mereka berusaha tenang dan berusaha mengusir rasa takut itu, tapi tidak di dapat dipungkiri rasa itu tidak mudah untuk di usir.


Selain itu, beberapa siswa terkejut dan tersipu malu melihat namila, gadis cantik yang memakai gaun biru langit tengah duduk dengan tenang. Beberapa terlihat berusaha menghindarnya, beberapa juga terlihat berusaha fokus ke lapangan.


Semua itu dilakukan untuk membuat fokus terhadap ujian yang akan berlangsung.


Namila duduk seraya tersenyum manis. Walau beberapa siswa di depannya berdiri, dia tidak mempedulikannya, entah bisa menonton atau tidak.

__ADS_1


Dia terlihat mencari-cari sesuatu, namun tidak mendapatkannya.


Di antara siswa tersebut, ada yang heran mengapa ada gadis secantik ini di sekolah mereka dan mengapa sekarang baru muncul?


Bisikan-bisikan demi bisikan pun pecah kalah semakin banyak siswa yang berdatangan.


Bisikan dan kebisingan itu akhirnya terdiam setelah tiga wali kelas akhirnya muncul. Kini giliran Klarika yang menjadi pengundi.


Dia dengan tenang berjalan dan mengucapkan ucapan pembuka sebelum ujian di mulai.


“Karena semua terlihat bersemangat, maka mari kita mulai ujian hari ini!” Ujar Klarika mengakhiri ucapan pembukanya.


Klarika tersenyum lalu mengambil nomor undian pembuka.


"Nomor 3.” Ujar Klarika, yang membuat semua siswa berbisik-bisik mengenai siapa yang mendapat nomor 3.


Tidak beberapa lama, seorang pemuda datang, lalu memperkenalkan dirinya yang bernama joshu dari kelas A.


“sekarang lihat lah kemampuan siswaku.” Kata kai sombong.


Sebelumnya, alasan dia sombong mengenai pertarungan kemarin, itu tidak lain di sebabkan oleh anulika, yang memang secara pribadi siswa kai, tapi di sekolah dia adalah siswa kelas B yang tidak lain walinya adalah Hendry. Anulika sendiri memiliki sikap ingin belajar dari dua guru, oleh karena itu dia sampai memohon kepada kai, yang sebelumnya menolak menjadikannya murid.


Tapi dengan berbagai usaha, akhirnya kai menerimanya. Keputusan itu adalah keputusan yang tepat kai ambil, soalnya anulika dapat mengharumkan namanya dan begitu pun dengan Hendry.


“aku akan melihatnya dan menduga mungkin tidak sehebat siswa pribadimu kemarin.” Jawab Hendry tanpa memandang kai di sampingnya.


“Terserah kau saja, tapi yang pasti siswaku bukan siswa biasa.”


Setelah Klarika mengambil nomor lagi, akhirnya seorang gadis mungil masuk ke dalam lapangan. Dia memiliki rambut panjang terurai rapi dengan wajah yang sedikit cantik. Di poninya terdapat jepit rambut kupu-kupu yang indah. Apalagi di padukan dengan seragam akademi yang indah. Gadis itu seolah-olah seperti malaikat yang mempunyai kesan tersendiri.


Gadis itu tersenyum seraya berjalan ke lapangan. Semua tatapan tertuju Padanya, terutama laki-laki, mereka seperti tidak berkedip sedikit pun.


“perkenalkan... Namaku Amara dari kelas B.” Ujar gadis itu dengan bangga setelah berada di lapangan.


Amara membawa kipas yang berukiran bunga, lalu mengipas-ngipaskan wajahnya yang terasa panas.


“Kita lihat siswaku atau siswamu yang akan menang sekarang.” Kata Hendry.


“pasti siswaku.” Jawab kai cepat.

__ADS_1


“Kita lihat saja.”


__ADS_2