
“ini pedangmu, maaf ya aku pinjam sebentar.” Ucap jauzan seraya menyerahkan pedangnya ke simo. Saat menyerahkan pedang simo, ekspresi jauzan seperti bisa-bisa saja. Dia seperti sudah bisa melakukan itu. Bahkan dia tidak mengucap terima kasih kepada simo.
“bagaimana kau bisa mengambilnya?” tanya simo. Sebelumnya dia terkejut melihat kemunculan jauzan di tengah lapangan. Apalagi dia muncul untuk menyelamatkan Talina.
Saat melihatnya, simo mengira jika pedang yang jauzan gunakan adalah pedangnya sendiri, tapi sering waktu berjalan, simo mengerutkan keningnya. dia mulai melihat-lihat pedang itu dan memastikan itu pedangnya. Ketika dia memeriksa punggungnya, dia dengan yakin menyatakan pedang itu adalah miliknya.
Simo juga mengumpat dalam hati, Karena tidak mengenali pedangnya sendiri, padahal baru kemarin dia menggunakan pedangnya untuk bertarung. Simo mengutuk dirinya dan akan memeriksakan kesehatan tubuhnya. Dia juga mulai curiga ada orang yang melakukan itu kepadanya. Apalagi sebelum dia masuk ke akademi, dia tidak pernah lupa apa pun. Bahkan sesuatu yang dia lakukan 3 hari pun dia masih bisa mengingatnya.
Selain itu, Simo juga mulai memikirkan apa yang jauzan katakan di gua tentang bunga itu berbohong. Apalagi dia melihat kelembutannya dengan Talina yang seperti memiliki hubungan spesial. Dugaan kian menguat saat semua siswa tidak melakukan tindakan apa pun saat Melihat Suman mengayunkan pedangnya dengan keras dan bermaksud menyakiti Talina.
Bukannya mereka menyelamatkan Talina, mereka sebaliknya menutup mata dan seperti berdoa untuk keselamatan gadis yang menyedihkan itu.
“Itu rahasia dan kau jangan memikirkan hal-hal yang aneh.” Ucap jauzan yang seperti mengetahui simo memikirkannya. Saat mengatakan itu tatapan tajam, dingin dan di penuhi aura membunuh di lemparkan ke simo dan membuatnya sedikit tidak nyaman. Selain itu, tatapan inilah pertama kali simo lihat selain tatapan lembut yang penuh dengan kegadisan itu.
Saat melihat tatapan ini simo merasa familiar dan tentu saja seperti biasanya, dia tidak mengetahuinya entah di mana pernah melihat atau mendengar tentangnya.
“tidak akan.” Simo menempelkan pedangnya kembali ke punggungnya. Simo berusaha menyembunyikan ketidak nyamanan saat melihat tatapan jauzan. Dia juga mengalihkan pandangannya ke depan dan berusaha tidak memikirkan tatapan itu.
“No 3 dan 4.” Ujar Klarika dengan keras yang segera membuat semua siswa memfokuskan pandangan mereka ke lapangan. Ekspresi mereka semua menjadi tegang dan heran, menanti-nanti siapakah orang selanjutnya bertarung. Jika sebelumnya mereka menyaksikan kekuatan peringkat 9 dan 10 melawan peringkat yang lemah, sekarang mereka ingin jika peringkat sepuluh besar bertarung.
Selain ingin menyaksikan kekuatan mereka, para siswa juga tidak ingin melawan mereka, oleh karena itu mereka berharap jika semua peringkat 10 besar bertarung lebih awal dan tentu saja lawan yang mereka inginkan bukan salah satu dari mereka yang lemah. Melainkan yang kuat-kuat.
Empat orang melompat seperti bayang hantu. Saat mereka mendarat, mereka sudah saling menoleh dengan pandang tajam dan berharap pandangan itu membuat musuh ketakutan.
Jika suasana memanas di lapangan Terjadi, di tempat penonton sangat berbeda; beberapa siswa menari nafas lega, karena bukan mereka yang bertarung. Apalagi jika yang bertarung sekarang adalah orang-orang yang berada di peringkat 10 besar, jadi dapat di pastikan jika tinggal 4 orang peringkat 10 besar yang belum bertarung.
__ADS_1
Sekarang semuanya yang bertarung adalah gadis-gadis, tapi tidak seperti sebelumnya. Mereka semua terlihat sangat kuat. Bahkan Padangan mereka seolah akan menusuk mata orang lain.
Melihatnya saja membuat orang-orang bergidik negeri, walaupun dia seorang yang memiliki kekuatan yang lebih kuat dari gadis-gadis itu. Orang-orang kuat mungkin saja menang jika berhadapan dengan para gadis itu, tapi jika melihat pandang mereka, orang yang tadinya kuat akan seketika minder jika mereka tidak pernah melihat tatapan itu.
“aku tidak menyangka jika lawan kita hanya para gadis-gadis ****** seperti mereka.” Ujar Tamara yang merupakan pasang dari Tica. Sedangkan di depan mereka adalah Vera dan Ragina yang memandang mereka dengan tajam
“aku juga. Saat melihatnya, perasanku menjadi jijik seketika.” Timpa Tica.
Mendengar itu, Vera dan Ragina di depannya mengepalkan tangannya dengan erat, menggertak gigi dan memandang tajam ke arah Tamara dan Tica. Tentu saja mereka marah jika harga diri mereka di injak-injak. Apalagi jika hal itu bukalah fakta sebenarnya. Hal itu akan membuat harga diri mereka rusak.
“Siapa yang kalian katakan itu? Kami bukan seperti itu dan kalianlah yang mungkin seperti itu!” ujar Vera dengan keras
“Benar! Kalianlah ******!” timpa Ragina.
“pertarungan di mulai!” ujar Klarika yang sepertinya tidak ingin melihat adu argumentasi siswinya. Saat teriakan itu terdengar, Ragina, Vera, Tica dan Tamara melesat bagaikan cahaya.
Tombak merupakan salah-satu senjata tingkat tinggi. Selain tajam, tombak memiliki pertahanan yang kuat. Apalagi jika bahannya berasal dari pohon senjata yang asli. Bahkan jika besi sekalipun sulit itu menghancurkannya.
Sedangkan belati dan pedang juga merupakan senjata tingkat tinggi. Sama seperti tombak yang memiliki kekuatan yang kuat. Hanya saja untuk belati lebih sulit untuk di gunakan, karena ukurannya yang kecil.
“aku akan membuktikan jika kalianlah yang ******!” ujar vera lalu mengayunkan pedangnya dengan keras ke arah Tamara.
Tamara tidak ambil pusing melihat serangan Vera. Dia dengan pasti mengayunkan pedang. “kita lihat saja.”
Trangkk!!!
__ADS_1
Tombak dan pedang itu akhirnya beradu saling menyilang dan mendorong satu sama lainnya.
“Benarkah? Bagaimana jika aku yang menang.” Ucap Tamara menyeringai dan menahan tombak Vera dengan pedangnya.
“kau harus memperhatikan sekitarmu!” ujar Ragina yang seketika muncul di belakang Tamara dan mengayunkan tombaknya.
Tamara terkejut, namun dia sekarang tidak bisa melakukan apa-apa.
Vera yang melihatnya tersenyum, namun senyuman menghilang seketika saat melihat Tica muncul dan menahan serangan Ragina.
“oh, ternyata tidak kena ya.” Ucap Tamara seraya tersenyum jahat menatap vera yang kini menggertakkan giginya menahan amarah. Ekspresi terkejutnya seolah-olah hanya berpura-pura belaka.
“Aku akan membunuhmu!” ujar Vera lalu melompat mundur dan saat kaki kanannya mendarat, dengan keras vera menginjaknya dan membuat jejak di tanah yang padat itu. Vera kemudian melesat menyerang Tamara dengan segala ayunan pedang dan begitu pun Ragina yang menyerang Tica.
Mereka secara bergantian menyerang Tica dan Tamara. Vera melompat dan mengayunkan pedangnya dengan keras, namun Tamara dengan mudah menghindarinya. Tidak mau kalah dia mendarat dari tempat lain dan lain lagi. Menyerang Tamara lagi dan lagi
Selain itu, Vera dan Ragina saling bergiliran melawan temara dan Tica. Mereka bekerja sama saling menolong dan membantu menyerang, tapi musuh mereka juga bekerja sama, sehingga membuat pertarungan terlihat seimbang.
Beberapa menit pertarungan berlangsung, namun belum ada titik cerah dan pihak yang menang di antara Mereka. Keduanya sama-sama kuat!
Sepanjang pertarungan berlangsung para siswa menjadi lebih memahami jika bekerja sama sangat penting. Apalagi melawan musuh yang lebih kuat. Selain itu, Mereka juga mengetahui jika saling bergiliran itu akan membuat musuh sedikit kesulitan dalam menghadapi setiap serangan, karena setiap orang tentunya akan memiliki cara bertarungnya masih-masing.
“Dasar ******-****** brengsek, jika mereka tidak bekerja sama mungkin kita akan mengalahkan mereka.” Gumam Tamara seraya jongkok dan di topang pedangnya.
Keringat bercucuran di pelipis dan tumbuhnya. Membasahi setiap inci baju yang dia kenangan dan membuat gunung kembarnya terlihat jelas. Meski begitu tidak banyak orang memandangnya, karena mereka lebih fokus pada pertarungan. Jika orang itu menang sangat mesum pasti yang pertama mengetahuinya.
__ADS_1
...****...
mohon kritikan dan sarannya ya