
Sebelum belati itu mengenai leher jauzan cahaya biru melesat mengenainya. Saat itu jauzan mampu menggerakkan tubuhnya dan melihat sekilas wajah orang itu yang seperti wajah Amelia. Tanpa membuang waktu, jauzan langsung mengayunkan pedangnya.
Namun pedang itu hanya menebas angin dan membuat jauzan terkejut. Bagaimana bisa seseorang bisa pergi secepat itu, tanpa suara sedikit pun. Tanpa membuang waktu, jauzan berlari dan melompat-lompat mencari orang yang menyerangnya tanpa peduli dengan orang yang telah menolongnya. Dia juga bisa pergi dengan cepat menggunakan teknik airnya, tapi dia kadang-kadang kelewatan dengan detailnya
Di dalam pikirannya, dia sangat yakin orang tadi adalah Amelia. Oleh karena itu, jauzan sangat bersemangat untuk mencarinya. Selain untuk menghukumnya, dia juga ingin mengetahui siapa dia sebenarnya.
Di kegelapan malam yang sebelumnya tenang, jauzan melompat-lompat sesuai perkiraannya. Burung-burung bersuara dan berterbangan karena takut. Tidak beberapa lama jauzan menghentikan langkah.
“Seharusnya dia tidak jauh dari sini, tapi mengapa aku tidak mendengar suara sedikit pun?” jauzan menyebarkan pandangannya ke sekeliling dan memasang indra pendengaran yang paling tajam. Namun tidak ada suara-suara pergerakan manusia di sekitarnya.
“aneh.”
Jauzan melanjutkan perjalanannya, Tapi tidak ada hasilnya sama sekali. Dengan perasaan kesal, dia kembali mengambil ikannya dan bergabung dengan Amelia. Tidak lupa juga dia mencari belati orang tadi, tapi tidak menemukannya.
Saat tiba, jauzan melihat Amelia sedang membuat ramuan. Dia mengamati seluruh tubuh gadis itu, tapi tidak ada hal-hal yang mencurigakan. Bahkan gadis itu bersenandung merdu di dalam kegelapan malam itu. Wajahnya ceria seperti bunga matahari yang indah. Jika yang menyerangnya tadi adalah Amelia seharusnya ada keringat dan jejak-jejak lainnya, tapi tidak ada satu pun di antaranya.
Meski begitu, jauzan masih mencurigainya. Apalagi dia belum mengetahui kemampuan gadis itu. Jauzan menaruh Ikannya di atas bara api. Dia juga menawarkannya kepada Amelia. Tentu saja dia dengan senang hati mengambilnya, tanpa menyelesaikan kegiatannya itu.
Setelah gadis itu mengambil dan meletakkannya di atas bara api, jauzan menanyakan keberadaan simo yang seharusnya dia sudah kembali dari sungai.
“Aku tidak tahu, mungkin saja dia juga menangkap ikan dan aku tebak dia akan membawa ikan yang besar untuk kita makan malam ini. Aku tidak sabar menunggunya.” Jawab Amelia seraya membayangkan simo kembali membawa ikan yang besar.
“mungkin saja. Ngomong-ngomong setelah mencari taman obat apa kau melihat sesuatu yang mencurigakan?”
“tidak ada. Apa kau melihat sesuatu?” jawab Amelia seraya membulak- balikkan ikannya.
“Tidak ada, mungkin hanya perasaanku saja.”
“Mungkin.”
Setelah itu, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Jauzan mungkin saja menceritakan semua hal yang dia alami dan menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan Amelia, tapi dia tidak melakukan , karena di khawatirkan akan menambah kecurigaan Amelia kepadanya.
“Akhirnya aku tiba.”
Simo akhirnya muncul membawa beberapa barang, tapi bukan ikan yang besar sesuai tebakan Amelia, melainkan buah-buahan segar.
“Akhirnya kau datang juga. Aku kira kau akan membawa ikan, karena mandi di sungai, tapi tidak apalah aku lebih suka buah-buahan.” Ujar Amelia yang menghampiri simo.
“bagiku buah-buahan lebih baik. Apalagi sepertinya jauzan sudah menangkap ikan.” Ucap simo seraya melihat ikan panggang dan jauzan memakan dengan lahap seperti tidak pernah makan ikan seumur hidupnya. Bukan hanya itu saja, ekspresi yang di tunjukkan juga sangat aneh seperti marah kepada seseorang. Meski begitu simo tidak memperdulikannya.
__ADS_1
“Ya... Tapi jika kau menangkapnya akan lebih besar darinya.”
“mungkin saja.” Simo lalu berjalan dan menghidangkan buah-buahan di atas daun pisang. Buah-buahan yang simo bawah terdiri dari rambutan, pisang, anggur hutan dan lain-lain
Amelia segera mengambil anggur, lalu berkata, “simo bolehkah aku menyuapimu?”
‘e.... Boleh saja, tapi apa kau tidak keberatan. Aku juga bisa melakukannya sendiri, kau tidak perlu melakukannya.”
“Aku hanya ingin menyuapimu. Sekali saja, boleh ya?”
“baiklah.” Jawab simo pelan.
Maka Amelia pun menyuapi simo dengan lembut seraya tersenyum manis. Simo yang di suapi terlihat agak sedikit tidak nyaman, tapi apa boleh buat, setelah melihat Ekspresi Amelia yang sangat ingin melakukannya, dia tidak rela membuat gadis itu bersedih, lagi pula Amelia hanya sekali.
Sementara itu jauzan memandang mereka dengan tatapan tajam penuh dengan kebencian, iri dan cemburu. Oleh karena itu dia memakan ikan dengan lebih lahap. Bahkan tulang-tulang ikut di masukkan.
Tidak beberapa lama, simo memutuskan untuk pergi mencari makanan lagi, sebab semua makan yang telah dia bawa sudah habis. Sebelum pergi dia berpesan untuk berjaga-jaga, karena di dalam hutan bisa saja binatang buas menyerang, tidak hanya itu saja, dia juga mengatakan dirinya mungkin akan pergi lebih lama dan menyuruh mereka untuk mematikan api sebelum tidur.
“Jangan lama-lama.” Ujar Amelia seraya melambaikan tangannya.
Setelah itu jauzan dan Amelia memutuskan untuk duduk berseberangan. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, sebab beberapa kali Amelia berusaha mengajak jauzan berbicara selalu saja dia pura-pura tidak mendengarnya dan jika Amelia memanggilnya lebih keras, dia hanya akan mengatakan dirinya sedang lelah dan tidak ingin berbicara.
Sebenarnya jauzan tidak lelah atau tidak ingin berbicara tapi dia cemburu dengan kedekatan simo dengan Amelia, apalagi itu adalah pertemuan mereka ke dua kalinya. Jika saja dia memiliki keberanian lebih, maka dapat di pastikan dia akan menendang gadis itu.
Karena tidak ada percakapan, jauzan menjadi mengantuk. Beberapa kali dia terlihat menguap dan berusaha menjaga kesadarannya. Jika bukan karena ingin berjaga-jaga dia pasti akan tidur dengan nyenyak.
Namun matanya mengkhianatinya, akhirnya mata terpejam dan tidak lama kemudian terbuka kembali. Saat terbuka, jauzan melihat seseorang berdiri di depannya. Dia mengangkat kepalanya yang ternyata itu adalah Amelia yang sudah siap menebaskan pedangnya. Ekspresi wajah Amelia dingin seperti tidak memiliki perasaan apa pun.
“Mati!”
Jauzan yang melihat pedang yang perlahan-lahan bergerak, dia secara refleks atau pun tidak, tidak bisa menghindari, karena jaraknya sudah terlalu dekat.
Dia hanya bisa memejamkan matanya, tapi rasa sakit tidak datang-datang, Padahal pedang itu memiliki kecepatan yang tinggi. Oleh karena itu, dia membuka matanya yang ternyata simo muncul tiba-tiba dan memegang bilah pedang tersebut yang menyebabkan darah mengalir.
“simo.” Ucap Amelia pelan dan begitu pun jauzan.
Simo dengan cepat menghempaskan Amelia ke tanah dengan kasar.
“Apa yang kau lakukan?”
__ADS_1
“Si-simo dia bukan jauzan, dia adalah seorang yang menyamar, percayalah aku tidak berbohong.” Jawab Amelia dengan nada memelas.
“bagaimana bisa?”
“Coba saja kau tanyakan padanya.”
“Simo jangan memperdulikannya, aku adalah jauzan yang asli, jika kau tidak percaya peganglah ini dan kau akan merasakan kulit yang selalu kau rasakan.” Jawab jauzan seraya mengulurkan tangannya dan mendekat.
“Untuk apa aku harus melakukannya, karena kedua-duanya menyamar.”
“Apa maksudmu?” tanya Amelia.
“Kau menyamar dan dia juga menyamar, aku tau dari awal, tapi aku tidak menyerangmu, karena aku ingin tahu seberapa liciknya dirimu.” Simo mengeluarkan pedang, lalu mengarahkannya ke arah Amelia.
“maksudmu?”
“kau kan yang memberikanku rancun lupa ingatan, agar kau bisa mengendalikanku sesukamu dan menyerangku setelah di bawah kendalimu? Setiap ada kesempatan kau akan menuangkan rancun itu ke dalam tubuhku, entah saat berjabat tangan atau menyuapiku. Aku tahu dari awal, tapi aku tidak memasang kecurigaan, awalnya aku ingin balik menjebakmu, tapi aku tidak menyangka kau tidak sabaran. Sekarang matilah.”
“oh, kau sudah mengetahuinya, aku pikir kau seorang yang bodoh, tapi nyatanya kau memang orang yang berbakat. Ah, aku tidak tega membunuhmu sekarang, apa aku boleh menciummu sekali saja sebelum membawamu dan....”
Wuss
Simo menebaskan pedangnya, tapi serangannya hanya bisa mengenai angin.
“ahahaha. Maaf ya simo, bocah sepertimu tidak ada apa-apanya bagiku.”
Amelia muncul dan melayang di udara. Angin di sekitarnya menjadi lebih keras menandakan dia penggunaan elemen angin.
“Simo aku akan membantumu.” Ucap jauzan yang sudah mendekat dan di jawab anggukan oleh simo.
“mungkin ini akan sedikit berbahaya, maka berhati-hati lah.” Saran simo yang di jawab anggukan oleh jauzan
“Apa Kalian sudah selesai, maka terima ini.”
Wuss bomm!!!
Dari telunjuk Amelia muncul segumpal angin merah lalu melesat mengarah simo. Meski hanya segumpal, itu membuat simo bergerak beberapa meter dari tempat awalnya. Bahkan menyebabkan kerusakan yang besar pada tanah.
...****...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya