
“ya, aku akan melakukannya.” Talina mengangguk dan menguatkan tekadnya.
Namun sangat di sayangkan jika lawanya adalah Anulika.
Dari beberapa meter, Talina merasakan hawa dingin yang mencekam menyebar dari tubuh Anulika.
‘aku bisa,' batinya mengimbuh semangat dan kepercayaan diri di dalam dirinya.
Talina mengeluarkan payungnya. Anulika mengeluarkan Serulingnya.
Saat pertarungan dimulai.
Talina tidak langsung menyerang. Dia sadar, anulika pengendali es yang berarti jangkauan serangannya luas dan menekan lawan dengan keras. Dia memilih mengamati lawan dan mencari tindakan yang pasti untuk menghalau serangannya. Lalu mencari solusi untuk menyerang dan mematahkannya.
Aura dingin tersebar dari tubuh Anulika, bersamaan dia mulai memainkan serulingnya dengan anggun. Dalam sekejap mata arena di hiasi dengan alunan nada yang indah.
Perlahan-lahan Talina merasakan kepalanya pusing, penglihatannya mulai menurun.
“apakah ini dampaknya?” Gumamnya seraya memegang kepalanya yang pusing.
Talina langsung bergerak. Walau kecepatannya menurun drastis, dia tetap melakukannya. Dia sadar, mengulur waktu hanya membuatnya kalah perlahan.
Saat dekat dengan anulika, Talina mendorong payungnya, lalu mengayunkan sesuai gerakan Anulika menghindar.
Secepat apa pun dia berusaha menyerang, dia tidak bisa menyentuh tubuh anulika.
Anulika sendiri dengan anggun menghindar dan seolah dia bagikan balon ketika menghindar. Dia sesekali tersenyum saat menghindar.
Melihat senyum itu, Talina semakin geram. Dia mempercepat serangannya dan menambah energi yang di keluarkannya.
Beberapa menit berlalu, Talina semakin geram, dia bahkan mulai menggunakan tendangan dan pukulannya.
Serangan semakin gencar Talina keluarkan. Dan anehnya, anulika terus menghindar dan menghindar, walau Talina hampir mengenainya, dia tetap memilih menghindar.
Di bawah tekanan aura dingin, Talina masih bisa bertahan, yang membuat anulika sedikit tertarik dengannya.
Alasan mengapa Talina bertahan adalah hasil latihan gigihnya setelah kalah dalam pertarungan pertamanya. Dia berlatih dengan sangat giat untuk menempa tubuhnya.
Ayah dan ibunya merasa senang, tapi mereka juga sedih melihatnya. Walau latihannya demi meraih keinginan mereka berdua, tentu saja mereka tidak ingin Talina sakit karena berlatih dengan giat.
“Apa aku boleh menghentikannya?” ibu Talina tidak tahan melihat anaknya menyiksa dirinya sendiri, tapi dia juga tidak bisa bertindak sembarangan.
“Biarkan saja, itu adalah keinginannya sendiri. Dia akan marah jika kau menghentikannya.” Jawab ayah Talina memandang anaknya sedang berlatih dari balik jendela.
“aku percaya dengan kegigihan dan kerja kerasnya. Dia akan menjadi gadis yang kuat.”
“Aku hanya akan melihatnya saja.”
__ADS_1
Ibu Talina keluar menyaksikan anaknya sedang berlatih dengan batang pohon di luar.
Saat itu matahari mulai menutup cahayanya. Cahaya orange menghias langit, burung-burung beterbangan dengan riang.
Keringat membasahi tubuh, rambut acak-acakan, kedua tangannya memerah karena latihan. Tapi dia tidak menghentikan latihan yang keras itu.
“aku harus menjadi lebih kuat,” Gumamnya lalu menyerang batang pohon di depannya.
Dia menendang, memukul dan menendang lagi. Kombinasi gerakan itu selalu di ulang-ulang. Meski kelelahan, dia tetap berlatih.
“Talina! Ayo beristirahat.” Ibunya tidak tahan melihat anaknya.
“Tidak! Aku harus berlatih.” Talina mulai melanjutkan latihannya.
30 menit berlalu, Talina masih berlatih. Ibunya tidak tahan melihatnya, dia lalu mendekatinya dan memegang tangan anaknya. Menghentikan latihan anaknya secara paksa.
Talina heran lalu berkata, “ada apa bu?”
“istirahat dulu, kau sudah kelelahan. Mandi kemudian makan.”
“tidak. Aku ingin berlatih lagi,” ujar Talina menarik tangannya.
Ibu Talina lagi-lagi memegang tangan anaknya dan menyatukannya lewat sela-sela jarinya.
Talina memandang heran, baru kali ini ibunya bersikap seperti itu.
“Untuk apa?”
“Jika kau sakit, kau tidak akan bisa berlatih lagi. Kau mestinya tahu, jika kau sakit kau akan terbaring setidaknya dua hari untuk memulihkan tubuhmu.”
Ibunya melanjutkan, “ibu dan ayah senang kau berlatih dengan giat, tapi kami tidak menginginkannya sampai seperti ini.”
“Kalian bohong! Kalian mengorbankan anak Kalian demi keinginan kalian. Kalian egois!” Talina menarik tangannya. Da. Tanpa sadar melupakan emosinya.
Ibunya lagi-lagi memegang tangannya. “ya, kami egois, tapi kami melakukan ini karena kami ingin melihat kau menjadi gadis yang kuat.”
“lalu mengapa kau menghentikanku?”
“ibu hanya takut. Sudah ibu bilang kau harus menjaga kesehatan tubuhmu. Beristirahatlah nak, kami tidak mau melihatmu berlatih sampai seperti ini.”
“ibu... Aku sudah kalah, aku ingin memenangkan pertarungan selanjutnya. Jika ibu menghentikanku seperti ini, aku tidak akan memenangkan pertarungan selanjutnya.”
Melihat keputusan anaknya sudah bulat, ibunya tidak bisa berkata-kata lagi, dan hanya bisa menerimanya. “baik. Ibu akan memberikannya, tapi kau harus janji, kau tidak boleh sampai sakit.”
Talina mengangguk.
Mulai sejak itulah Talina terus berlatih dan berlatih. Dia ingin mencapai keinginan orang tuanya, walaupun bakatnya rendah.
__ADS_1
Selama ini dia menduga ayah dan ibunya terlalu egois dan tidak mempedulikannya, tapi ternyata tidak. Ibu dan ayahnya sangat menyayanginya, dan oleh sebab itulah, mereka melakukannya, tidak lain hanya demi anak satu-satunya.
Kini di lapangan Talina sudah tidak kuat berdiri. Kepalanya di landa gempa bumi yang dahsyat, itu tidak lain efek dari aura dingin anulika.
“Menyerahlah!” ujar anulika.
Kata-kata itu membuat Talina yang memejamkan matanya kembali terbuka. Kata-kata ini memiliki kesan menyakiti di dalam hatinya. Yang membuatnya selalu marah. Dia juga membencinya. Dengan berat dia mengangkat kepalanya. “tidak, aku tidak akan menyerah!”
Talina berusaha bangkit dari tekanan aura anulika. Dia merasa berat, pusing dan kelelahan. Beberapa kali dia melihat buih-buih keringat menetes, tak dia hiraukan.
“aku akan mengalahkanmu!” ujar Talina dengan wajah yang penuh tekad yang kuat.
Dia melesat mengayunkan payungnya ke kiri, menendang lalu melancarkan pukulan. Anulika dengan anggun menghindari. Anulika kini tidak memainkan seruling karena dia yakin sebentar lagi Talina akan roboh tanpa menyerangnya.
Perbedaan kekuatan Talina dan anulika sangat jauh berbeda, hal ini jelas tidak menguntungkan dan tidak adil. Namun, apa boleh buat, ini ujian acak yang kadang-kadang beruntung dan sial.
Beberapa kali Talina melakukan serangan, tapi tak satu pun mengenai anulika.
Simo, namila dan thomi yang melihat ini, merasa khawatir. Mereka yakin Talina terlalu memaksakan diri. Jika saja ini bukan ujian, mereka pasti akan menghentikannya.
“Apa Talina akan menang?” tanya thomi Kepada simo. Walau keyakinan kalah seratus persen, dia tidak ingin hal itu terjadi kepada Talina, teman dekatnya, karena dia yakin itu akan menyakitinya seperti apa yang dia rasakan.
Simo menghela nafas panjang. “tidak mungkin.”
Mendengar itu, thomi hanya bisa berharap Talina akan menang. Atau setidaknya setelah pertarungan itu, Talina tidak cedera dan hanya kelelahan saja.
Setelah menyerang beberapa kali, Akhirnya anulika bergerak, lalu menendang Talina dengan keras, yang membuatnya terpental dan tiarab. Payungnya terlempar beberapa meter.
“aku kalah,” lirih gadis itu lalu mengucapkannya beberapa kali.
“ayah dan ibu akan selalu mendukungmu.” Tiba-tiba saja kata-kata ayah dan ibunya muncul dalam benaknya, entah mengapa kata-kata itu muncul dalam benaknya. Dia selalu berusaha mencapai harapan orang tuanya. Dia juga sudah bekerja keras, belajar siang dan malam. Namun, bakatnya terlalu rendah.
Meskipun orang tuanya selalu memberikan dukungan, itu belum cukup membuatnya mencapai keinginan orang tuanya.
“Ayah, ibu, aku tidak bisa.” Lirihnya berusaha berdiri lagi.
“Menyerahlah!” ujar anulika seraya tersenyum.
“Tidak! Aku tidak akan menyerah!”
“Dasar keras kepala!”
“aku tidak mempedulikannya!”
Walaupun kakinya sudah tidak kuat menopang, Talina berusaha berlari dengan secepat yang dia bisa.
“ayah, ibu lihatlah anakmu ini!” Talina berlari dengan kencang. Orang-orang yang melihatnya heran, karena setahunya mustahil bisa berlari secepat itu dalam kondisi seperti itu.
__ADS_1