Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 14 ujian part 2 : kipas


__ADS_3

Setelah melihat joshu dan Amara sudah saling mengamati, wasit langsung berteriak, memulai pertarungan.


Meski pertarungan sudah di mulai, Amara tetap mengipas-ngipaskan wajahnya yang panas, seperti tidak peduli dengan pertarungan sudah di mulai, bahkan dia seolah tidak tertarik dengan pertarungan yang sudah di mulai.


Kedua matanya terlihat biasa-biasa saja, seperti tidak mempedulikan apa pun yang akan terjadi. Walau begitu musuhnya, joshu juga diam.


Joshu diam bukan karena dia mengamati Amara, tapi dia bingung dengan Amara. Di dalam hatinya dia bertanya apakah gadis di depannya berniat bertarung atau tidak? Apalagi dia terlihat tidak tertarik sedikit pun.


Bahkan dari pengamatan Joshu, Amara terlihat tidak meningkatkan kewaspadaannya.


Tidak hanya Joshu beberapa siswa juga bingung melihat Amara. Memang gadis itu cantik, tapi di dunia ini tanpa kekuatan, dia sama artinya dengan tembikar indah yang mudah hancur.


Oleh karena itu, beberapa siswa mulai berbisik-bisik membicarakannya. Ada yang mencaci maki, ada penasaran mengapa Amara diam, serta ada juga yang tidak peduli. Hingga beberapa siswa mulai berteriak-teriak.


“Apakah gadis itu hanya mencari perhatian saja?”


“hey gadis kecil! Keluarlah, kau hanya pengganggu saja, biarkan yang lainnya bertarung.”


“ya.” Ujar beberapa siswa yang geram karena perilaku Amara.


Mendengar itu, wajah Amara terlihat kesal. Dia menoleh kemudian berujar, “kalian yang harus keluar! Aku berdiri di sini karena ingin bertarung. Lihatlah musuhku juga tidak bergerak, untuk apa aku harus memulai duluan, yang akan membuat tubuhku berkeringat.”


Mendengar itu, maka balasan demi balasan terlontar. Suasananya pun semakin memanas, saat balasan demi balasan terdengar. Kebisingan pun pecah dan menimbulkan rasa ketidak nyamanan di antara siswa, bahkan beberapa siswa terlihat di jendela-jendela kelas, karena penasaran apa yang terjadi.


Mereka tidak lain adalah siswa kelas dua dan tiga yang tengah belajar teori. Akan tetapi keinginan mereka harus terpendam, karena guru yang mengajar dengan cepat memerintahkan mereka kembali ke tempat masing-masing.


Untuk mencegah kekacauan lebih membesar, Klarika pun mengumumkan untuk tenang dan juga jangan ikut campur dengan ujian yang berlangsung.


Setelah pengumuman itu selesai, keributan berangsur-angsur menghilang dan akhirnya menjadi hening. Meski tidak terlalu tenang, setidaknya keributan itu tidak mengganggu siswa lainnya.


Setelah semua tenang, Joshu pun mengambil ancang-ancang dan berlari seraya memegang erat pedangnya.

__ADS_1


Sebelumnya, setelah mendengar itu, joshu baru menyadari telah berbuat bodoh karena tidak menyerang duluan. Karena menunggu musuh bersiap-siap bukankah itu adalah sebuah kecerobohan dan kesalahan?


Maka dari itu, demi menjaga reputasinya, dia akan berusaha memenangkan pertarungan ini. Dia juga ingin menguji teknik-teknik pedang yang akhir-akhir ini dia pelajari, dan ingin mengetahui seberapa efektif teknik yang dia kembangkan.


Selain itu, dia juga penasaran dengan perkembangannya akhir-akhir ini. Dia telah berlatih dengan giat akhir-akhir ini, selain karena ujian dia menyadari dirinya masih lemah, bahkan dia di kalahkan oleh siswa baru yang entah dari mana asalnya.


Jelas sekali itu adalah penghinaan baginya. Dia marah, namun dia juga kesal dengan kemampuan yang lebih lemah dari siswa baru itu, apalagi itu hanya satu serangan. Oleh karena itu dia terus meningkatkan kekuatannya, meski ibu dan ayahnya sudah menganggapnya hebat.


“Teknik pertama, serangan kilat!” ujar Joshu.


Lalu seketika kecepatan Joshu semakin cepat dan cepat, bahkan dia terlihat seperti kilatan cahaya biru yang sangat cepat.


Kecepatannya yang tiba-tiba membuat beberapa siswa kagum, begitu pun dengan namila, anulika, dan yang lainya. Mereka terlihat lebih fokus dengan pertarungan dan berharap dua orang yang menyita banyak perhatian itu tidak mengecewakan mereka.


Melihat itu, Amara tersenyum, lalu mengayunkan tangan kanannya yang mungil ke atas. Melempar kipas dengan anggun.


‘aku ingin lihat apa yang bisa kipasmu lakukan’ batin joshu sejenak melihat kipas dan kembali fokus Kepada Amara.


Namun sayang, sebelum akhirnya menyentuh Amara, sesuatu seperti tembok menghalanginya. Joshu dapat merasakan tembok itu sangat keras, bahkan ujung pedangnya sedikit bengkok olehnya.


Walau ujung pedang itu bengkok, itu akan kembali ke bentuk semula dalam beberapa detik. Dengan pedang yang di tempa oleh pandai besi yang berpengalaman, jelas saja pedang itu tidak mudah hancur. Apalagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pedang itu bisa melengkung dengan sudut tiga ratus drajat, tanpa mengalami kerusakan sedikit pun.


Menyadari pedangnya tidak mungkin menembus tembok itu, joshu memilih melompat mundur. Dan betapa terkejutnya dia setelah melihat penghalang itu ternyata kipas yang sangat besar. Bahkan tidak ada goresan sedikit pun yang tersisa dari serangannya itu.


‘bagaimana bisa!?’ batin Joshu terkejut seraya kedua alinya terangkat, dia tidak menyangka, kipas itu adalah senjata Amara. Dia juga tidak menyangka kipas itu bisa seukuran raksasa seperti itu.


Walau joshu menyadari kipas itu bukan kipas biasa, tapi dia tidak menyangka kipas itu bisa membesar dan melebar seukuran seperti itu. Itu sudah di luar dugaannya.


Kipas itu memiliki ukuran sekitar 20 m dengan lebar 10 meter. Meski tidak terlalu besar, itu sudah mampu membuat semua orang terkagum-kagum termasuk 3 wali kelas yang berdiri tidak jauh dari sana.


“kau lihat, siswaku bukan siswa biasa-biasa.” Kata Hendry bangga sekaligus kagum dengan siswanya.

__ADS_1


Mendengar itu, kai hanya tersenyum masam.


Setelah sadar dari keterkejutannya, joshu menggunakan teknik yang sama, namun secara acak. Kadang-kadang dia muncul dari depan, kadang-kadang dari samping dan di sisi lainnya lagi.


Tapi semuanya berhasil di tahan oleh kipas besar itu. Dan walau terkena serangannya beberapa kali, tidak ada jejak sedikit pun di kipas yang indah itu.


Melihat serangannya tidak berhasil satu pun, joshu memilih mundur dan menarik nafas seraya memikirkan bagaimana caranya menyerang.


“apa kau sudah lelah?” tanya Amara setelah kipasnya melayang dan berpindah di belakang tubuhnya. Gadis itu tersenyum manis setelah mengatakannya.


Joshu tidak menjawab, dia tetap menarik nafas yang masih tergesa-gesa.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Amara berkata, “jika iya, maka menyerahlah, aku tidak ingin berkeringat hari ini. Kau tahu, aku ini seorang gadis yang harus menjaga bau tubuh. Memerlukan waktu beberapa jam untuk kembali segar seperti semula, maka dari itu menyerahlah.”


Mendengar itu, kedua alis Joshu berkedut, dia tidak menyangka akan mendapatkan musuh yang unik. Terlebih lagi tidak mau kotor. Bukankah bertarung pasti akan berkeringat dan bau?


Dia di buat geleng-geleng oleh gadis di depannya dan memikirkan bagaimana bisa mendapatkan musuh yang unik seperti ini.


 Setelah beberapa saat, akhirnya joshu menjawab, “kau yang harus menyerah, bukankah dengan begitu kau bisa mengakhiri pertarungan ini?”


“maaf sekali, ayahku menginginkan ku lulus. Aku tidak ingin membuat ayah dan ibuku sedih, karena diriku kalah. Walaupun aku sebenarnya tidak mau berkeringat, tapi bukan berarti aku tidak pantas masuk ke akademi ataupun tidak berminat bertarung, hanya saja aku tidak suka keringat”


“jadi kalau begitu kau harus berkeringat!” setelah mengatakan itu, Joshu berlari dengan cepat.


“dasar pria kasar! Aku akan mengalahkanmu dengan cepat! ” Ujar Amara kesal.


Kipas ku, tunjukkan kekuatanmu!”


Setelah mengatakan itu, kipas Amara berpindah di depan. Lalu bergetar hebat, kemudian muncul 7 pedang dengan motif yang berbeda. Dan sepertinya pedang itu berasal dari daerah yang berlainan, terlihat dari bentuk yang berbeda.


7 pedang itu kemudian melayang-layang di belakang Amara, layaknya seperti burung yang di kendalikan oleh satu pikiran.

__ADS_1


__ADS_2