Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 4 perubahan


__ADS_3

Di sore hari, simo berjalan-jalan pulang. dia tersenyum mengingat semua hal yang dia lakukan dari pagi hingga sore itu, mulai dari dia bertemu dengan orang-orang akademi sampai mendapatkan beberapa kantong koin yang merupakan hasil taruhan yang di lakukan Amelia. Mengingatnya saja membuat simo senang.


Simo juga tidak menyangka, jika dia bertarung beberapa menit saja sudah mendapatkan beberapa kantong koin emas. Jika saja simo bisa melakukannya dengan bebas, maka dapat di pastikan dia akan menjadi kaya dadakan, tapi sayangnya hal itu tidak akan mungkin terjadi, mengingat kakeknya akan melarangnya.


Saat perjalanan itu, semua orang seperti biasa akan sibuk dengan semua aktivitas mereka masing-masing. Bahkan tidak ada satu pun di antara mereka yang menyapa simo. Meski begitu simo terlihat bisa-bisa saja, karena dia sudah terbiasa dengan semua itu, tapi saat pertama kali akan beda ceritanya.


Saat tiba di depan gang, simo berbelok. Meski di sore hari, gang itu masih sepi seperti tidak ada yang mau menemani gang tersebut, hanya ada angin dan ivander berdiri seraya menyandarkan punggungnya di tembok, yang menandakan dia menunggu seseorang.


Saat mendengar suara langkah kaki, ivander menoleh lalu tersenyum. “Akhirnya kau datang juga.” Katanya lalu berdiri dan mendekati simo.


“Apa kau ingin bertarung lagi?” ucap simo menerka-nerka, meski begitu dia sangat yakin jika ivander ingin melawannya. Apalagi dia adalah seorang bangsawan yang sombong. Saat melihat kemampuan simo, dia pasti ingin melawannya.


“tentu saja, kali ini aku tidak akan membiarkanmu lolos.” Ivander berhenti beberapa meter dari simo lalu menyilangkan kedua tangannya di dada seperti orang yang ingin menantang.


Mendengar itu, simo menarik pedangnya. Simo mengetahui ivander tidak akan membiarkannya lewat tanpa bertarung dan lagi pula dia juga ingin bertarung. meski baginya itu sudah berlebihan.


ivander menarik pedangnya tanpa basa-basi lagi, dia lalu melesat menuju simo dengan kecepatan tinggi dan membelah angin.


Tidak mau ketinggalan, simo pun berlari dan sebelum berlari, dia tidak lupa melempar seragamnya di tempat yang bersih.


Simo mengayunkan pedangnya dengan keras, meski terlihat sangat lambat di mata ivander nyatanya setiap serangan yang simo lontarkan membuat ivander terpojok dan mulai mundur.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, simo langsung melancarkan pukulan tepat di perut ivander, membuatnya terpental dan menabrak tembok.


Meski serangan simo terlihat santai dan tidak memiliki daya yang kuat serangan itu mampu membuat darah ivander keluar dari mulutnya.


Ivander berdiri dam mengusap darah di bibirnya. Ivander terlihat bersemangat, meski dia sudah terkena serangan simo.


“sudah aku duga.” Ucap ivander lalu berlari.


Tidak sampai mengayunkan pedangnya, ivander lagi-lagi menghantam tembok dan mengeluarkan seteguk darah segar.


Kali ini ekspresi ivander menjadi marah. Dengan sisa tenaga yang dia miliki dia berusaha berdiri lagi.


“bocah kampungan! Aku tidak akan melepaskanmu!”


Dengan kekuatan kakinya yang kuat, dia menghentakkan kaki kanannya, membuat tanah di sekeliling hancur dan retak.


“Bocah! Kau yang pertama kalinya melihat ini.” Pecah-pecah tanah di sekitarnya melayang lalu menyatu dengan tangan kirinya. dalam sekejam mata tangan kiri ivander berubah menjadi tangan besar yang memiliki kuku yang tajam seperti monster.


Ivander tersenyum lalu melesat dengan kecepatan yang tinggi bahkan angin di sekitarnya buyar.

__ADS_1


Simo tersenyum sinis lalu mengayunkan pedangnya.


Trangkk!!!


Simo dapatkan menahan serangan ivander dengan satu tangan, meski begitu tangan simo sudah mencapai batasnya dan jika ivander menyerangnya, maka dapat dipastikan simo harus menghindar.


Dan benar saja, ivander tidak menyia-nyiakan kesempatannya. Dengan sekuat tenaga, dia mengarahkan tangan monsternya.


Ivander tersenyum setelah melihat simo menghindari serangannya.


“ahaha. Bocah kampungan apakah kau sekarang takut!?” di saat bersamaan, ivander melesat mengarahkan pedang dan tangan monsternya.


Bomm!!!


Serangan ivander meleset dan mengenai tembok sisi jalan.


“dasar bocah pengecut!” celoteh ivander seraya melihat simo yang berdiri di atas tembok.


Simo menarik nafas panjang. “sepertinya aku harus serius melawanmu.” Saat mengucapkan itu, simo membuang jubah dan capilnya lalu melesat menuju ivander kemudian mengarahkan pukulannya.


Bomm!!!


Bomm!!!


Akhirnya serangan simo berhasil mengenai punggung ivander dan membuatnya kembali merasakan tombok sisi jalan. Tidak melewatkan kesempatan, simo berlari dan mengarahkan tendangan membuat ivander terseret beberapa meter lalu mengenai tembok rumah.


Untung saja rumah itu tidak ada penghuninya.


Simo melompat ke belakang dan tersenyum, dia dapat merasakan kakinya kembali seperti dulu saat dia bertarung.


Simo mengamati ivander yang terlihat tidak bergerak dan tergeletak begitu saja. sepertinya ivander sudah tidak bisa bertarung lagi.


Simo lalu bergegas mengambil barang-barangnya kemudian pergi. Meski pertarungan tidak sehebat yang dia pikirkan, namun itu sudah cukup untuk hari pertamanya yang bebas, bebas dari jeratan perintah kakeknya.


...****...


Malam akhirnya tiba. Taman belakang akademi adalah salah satu tempat terbaik untuk istirahat bagi semua murid ataupun para guru. Di sana banyak di tanami, tanaman-tanaman hias. selain itu tempatnya yang luas dan teduh, tidak jarang jika selalu ramai di kunjungi oleh orang-orang, meski mereka bukan murid ataupun guru dari akademi. Mereka bisa di ijinkan asalkan semua murid sedang belajar atau sudah pulang.


Yang paling indah dari taman belakang itu, ada air terjun yang tinggi dan di depannya ada patung seorang wanita yang besar sedang menuangkan air dari guci. Patung itu sangat besar dan setara dengan tinggi air terjun itu. Tidak jarang jika semua orang akan langsung memusatkan perhatiannya kepada patung itu saat baru masuk ke taman belakang akademi.


Di bawang cahaya rembulan, seorang gadis cantik tengah berdiri di punggung patung itu.

__ADS_1


Dia memiliki wajah yang cantik, kulit selembut salju, seputih sutra, Tubuh yang indah dan memancarkan keindahan tiada tara, Rambutnya hitam panjang bergelombang-gelombang karena tiupan angin. Gadis itu memakai gaun putih panjang dengan variasi kebiruan.


Seraya memandang ke depan, gadis itu memainkan buih-buih air di tangannya yang lembut. Buih-buih air itu membentuk naga, burung, kura-kura dan akhirnya kembali menjadi naga.


Tidak beberapa lama muncul seorang pemuda dari belakangnya lalu memberi hormat dengan sopan.


“nona, kepala sekolah meminta anda untuk menemuinya di ruangan kepala sekolah.”


Gadis itu tetap memandang ke depan. “kenapa harus malam ini?” tanya gadis itu dengan nada lembut.


“mohon maaf nona, untuk itu hamba tidak tahu dan sepertinya ada hal penting yang hendak kepala sekolah bicarakan kepada anda.”


“Baiklah.” Gadis itu melompat dengan indah sebelum akhirnya mendarat di atas kepala naga air lalu membawanya pergi.


Tidak beberapa lama akhirnya gadis itu tiba di ruangan kepala sekolah dan melihat kepala sekolah berdiri menghadap jendela. Orang itu yang tidak lain adalah Hoshi, seorang yang memiliki janji kepada aoba.


“kakek, kenapa kakek memanggilku? apakah ada hal penting atau jangan-jangan kakek memberiku hadiah.” Ucap gadis itu dengan antusias dan gembira.


“Namila, mulai besok kau bisa sekolah.”


“eh? Kenapa mendadak sekali? Kakek dua hari lagi ya, aku ingin bersenang-senang dulu. Baru beberapa bulan aku bisa keliling dan menikmati masa remajaku. Kakek tidak inginkan cucu kesayanganmu ini tidak bahagia.” Ucap Manila dengan suara memohon.


Mendengar itu, Hoshi menarik nafas panjang. Dia tidak menyangka jika cucunya bisa bersikap seperti itu dalam beberapa bulan. Bisanya cucunya itu akan bersikap dingin. “apa kau sudah memiliki teman?” tanya Hoshi menerka-nerka alasan namila tidak ingin bersekolah.


“kakek! tentu saja tidak, bagaimana bisa aku mempunyai teman dalam beberapa bulan.”


“katakan saja jika kau tidak berpengalaman dalam hal itu.”


Mendengar itu, namila terkekeh. “ kakek tahu aja. Sudahlah apa yang ingin kakek katakan lagi?”


“itu saja.”


“Jika begitu, aku pergi dulu dan tentu saja cucumu ini akan menuruti perintah. Jadi kakek jangan khawatir ya.” Seketika tubuh Manila berubah menjadi air lalu pergi.


Melihat itu, Hoshi hanya bisa tersenyum melihat perkembangan cucunya yang tampak lebih bahagia dari sebelumnya. Jika sebelumnya dia sangat dingin, sekarang dia terlihat sangat bahagia dan cerita.


“Aku harap dia akan selalu seperti itu.” Kakek namila lalu melanjutkan pekerjaannya.


...******...


jangan lupa like dan komentar nya biar author semangat nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2