
Pria itu mengangkat tangannya, kemudian muncul tombak yang sangat besar dan panjang berwarna putih. Ketika senjata itu keluar, tekanan yang kuat terpancar darinya.
Asap-asap sebelumnya menyatu dengan tombak itu, dan menabah tekanan tombak itu. Sepertinya pria ini ingin menyerang simo dengan serangan tunggal dan sangat kuat.
“Kakak, kita tidak bisa berada di sini!” ucap Lasmaya khawatir. Walaupun dia sangat kuat, dengan kekuatan pria itu, dia takut tidak bisa melindungi simo. Dia merasa tekanan yang kuat terpancar dari tombak itu.
Simo mengangguk dan mengikuti Lasmaya. Dia yakin Lasmaya yang kuat saja harus pergi, bagaimana dengan dirinya. Di tambah lagi kekuatannya sudah terkuras.
Selain itu, kaisar pedang juga menginstruksikannya untuk pergi.
“Ingin pergi? Mimpi!”
Pria itu langsung melempar tombak ke arah simo.
Suara deru angin yang melengking terdengar saat tombak itu melesat. Asap tipis terlilit di tombak itu seperti ular, dan samar-samar menghilang.
‘bocah, hari ini kau harus mati.’ Batin pria itu. Dia sangat marah karena di perlakukan seperti itu oleh simo.
Andai saja dia tidak mempunyai apa pun untuk menghalau serangan simo, maka dapat di pastikan dia sudah mati.
Serangan simo hampir membuatnya mati, bahkan pakaian sudah robek-robek. Ini adalah hal yang sangat memalukan, melihat seorang pemuda berhasil membuatnya seperti ini.
Wussss booommmmm!!!!!!
Semuanya hancur, tidak ada yang tersisa sedikit pun.
Ketika tombak itu mendarat di tanah, asap tebal mengepul dan meledak mengeluarkan api yang sangat panas. Area ledakan seluas beberapa hektar, sehingga dapat di pastikan simo pasti terkenal serangannya.
“Hahahaha!”
Pria itu tertawa di udara, tawa yang penuh kemenangan.
Setelah melihat-lihat beberapa detik dia akhirnya berkata, “aku lebih baik pergi, tidak ada gunanya berada di sini.”
Walaupun ledakan beberapa hektar, orang-orang yang ada di dalam perisai tidak terkena dampak sedikit pun. Ledakan itu seperti menghindarinya.
“ukh...ukh...ukh...”
Simo bangun dari dalam tanah. Tubuhnya penuh luka, pakaianya robek. Tubuhnya sangat lemas.
Dia memandang sekitarnya dan merasa lega setelah tidak melihat pria itu.
Untung saja Lasmaya memberinya perlindungan sebelum akhirnya pergi. Itu adalah semua kekuatannya. Lasmaya bisa saja membawa simo pergi, tapi harus menggunakan semua kekuatannya, sehingga dia hanya bisa melakukan itu.
Walaupun demikian, simo bersyukur bisa hidup dari serangan itu. Dia bangkit dan berjalan beberapa meter sebelum akhirnya duduk lagi.
Simo mengatur nafasnya dan memandang ke area sekitarnya, sungguh pemandangan yang kacau!
“Siapa pria itu?” gumamnya.
Setelah beberapa menit akhirnya Naria datang. Ketika dia melihat ini, dia sangat takut dan mencari-cari simo. Setelah melihatnya, hatinya menjadi lega dan mendekatinya.
__ADS_1
“kau tidak apa-apa.” Naria mendekati simo.
Simo menggeleng pelan.
“apa kau berhasil membunuhnya?”
“tidak. Dia berhasil kabur.”
“Sayang sekali.”
Kepala simo terasa pusing, penglihatannya samar-samar buram. Dia lemas dan akhirnya terjatuh.
Sebelum menyentuh tanah, Naria menangkapnya dan menghela nafas.
“Kau selalu memaksakan diri.” Katanya sambi memandang muka simo.
...****************...
Satu jam pun berlalu saat simo pingsan. Selama itu putri Naria menjaganya. Dia mengobati simo dengan berbagai macam hal yang di punyainya.
Tidak berselang lama, Safia datang. Gadis itu dengan wajah khawatir menanyakan bagaimana keadaan ayahnya.
Putri Naria mengatakan tidak terjadi apa-apa, dan simo hanya kelelahan. Selanjutnya, dia bertanya mengenai musuh yang di lawan Safia.
Gadis itu dengan bangga mengatakan dia berhasil membunuhnya dan tidak memberikannya waktu menyerang. Dia juga mengungkapkan kekecewaannya dengan musuh yang di lawan yang mudah di kalahkan.
Safia lalu menanyakan bagaimana dengan dua orang lainnya.
Putri Naria menceritakan semuanya dan mengatakan musuh yang dia lawan kabur.
Putri Naria tersenyum tipis dan mengangguk.
Beberapa menit kemudian akhirnya simo kembali sadar. Dia mendapati dirinya berada di pangkuan putri Naria. Hal yang tidak terduga terjadi, dia merasa nyaman berada di pangkuannya.
Lalu memandang ke segala arah, dan melihat Safia sedang duduk menikmati pemandangan.
“Kau sudah sadar?” tanya Naria yang sudah membuka matanya, dia tanpa sadar tertidur karena angin.
Simo mengangguk dan bangun, tapi sebelum bisa melakukannya, putri Naria menghentikannya dan mengatakan untuk beristirahat saja. Dia menduga simo pasti kelelahan setelah bertarung.
Simo menolaknya, tapi lagi-lagi Naria melarangnya. Beberapa kali berusaha berdiri, simo akhirnya menyerah dan mengikuti kehendaknya.
“apa yang terjadi?” tanya Naria.
Simo mulai menceritakan semua yang dia alami dalam bertarung bersama pria itu, dan putri Naria mendengarnya dengan detail dan fokus.
“untung saja kau berhasil selamat. Jika ada musuh seperti itu, kau tidak perlu melawannya sendiri.”
Simo mengangguk. “Tapi aku melawannya dengan Lasmaya.”
“walaupun begitu kau tidak usah melawannya.”
__ADS_1
“Aku akan mencobanya.”
Setelah beberapa saat beristirahat, akhirnya simo kembali pulih, walaupun tidak seratus persen, dia masih bisa melanjutkannya.
Pertama-tama yang dia lakukan adalah mendekati perisai ungu dan menyentuhnya.
Ketika tangannya bersentuhan, simo merasakan tangannya terasa tersengat listrik.
Selain karena heran mengapa pria itu meninggalkan para penduduk, dia juga keheranan, apa rencana sebenarnya dari balik ini semua.
Sebelum melakukan tindakan lanjut, simo memerintahkan Safia dan Naria untuk menyurvei di area sekitar, dia takut jika ada orang yang mengawasi mereka dan menyerang secara tiba-tiba.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Safia dan Naria datang membawa berita baik, sehingga membuat simo lega.
Dia kemudian menjaga jarak dan memerintahkan semua untuk melakukan hal yang sama.
Kemudian dia mengeluarkan bola api biru dan menembaknya, tapi sayang sekali, bola itu tidak memberikan dampak apa pun kepada perisai itu.
Tidak menyerah, simo mengeluarkan aura Pedangnya. Setelah di rasa auranya kuat, dia memegang pedangnya erat-erat, kemudian berteriak dan melesat.
Lalu menebas perisai itu.
Sejenak ada dampak, tetapi perisai itu kembali pulih.
Tidak menyerah, simo melancarkan beberapa serangan.
Safia dan putri Naria yang ada di sekitarnya tidak tinggal diam, mereka ikut membantu simo.
Tapi setelah beberapa saat tidak ada apa pun yang terjadi; perisai itu masih kokoh berdiri.
Mereka berhenti dan memikirkan cara lainnya.
Karena waktu yang di perlukan sedikit dan harus berjaga-jaga di sekitar, simo langsung meminta bantuan kaisar pedang.
Dia menceritakan semua hal tentang perisai itu.
Kaisar pedang mengangguk dan mengerti.
Dia memerintahkan untuk menggunakan Serangan tunggal dengan daya kekuatan yang sangat mengerikan, tapi harus hati-hati dalam melakukannya, karena dapat melukai penduduk.
“Rina!”
Karena memandang ke bawah, simo tidak menyadari rina ada di depannya sedang mengetuk-ngetuk perisai.
“Rina, kau tenang saja, aku akan berusaha mengeluarkanmu.”
Rina mengangguk. Dia tidak bisa berbicara dengan simo karena suaranya terhalang, tapi dia masih bisa mendengar suara simo sedikit.
Safia dan Naria yang menyadari rina hanya mengangguk.
“Safia, Naria, apa kalian bisa meminjamkan kekuatan kalian?”
__ADS_1
“tentu saja ayah,” jawab Safia.
Naria mengangguk.