
Di tempat dira, dia mulai melancarkan serangan ke arah Theo. Akar-akar bergerak cepat terus mencari celah untuk menyerang. Jika meleset, maka pohon di belakang Theo akan terkena dampaknya, pohon-pohon itu akan hancur dan akhirnya membusuk karena terkena racun.
Sudah beberapa kali dia melakukannya tanpa kesulitan apa pun. Namun, tidak untuk Theo yang sudah kehabisan tenaga, dia berusaha untuk menghindar sebisa mungkin. Dia sudah berusaha untuk memotong akar-akar itu, namun akar itu seperti besi.
Menghadapi lawan yang aneh dan unik, Theo hanya bisa menghindar dan terus berlari.
Tidak jauh dari mereka dua orang Wanita mengamati pertarungan mereka. Mereka terlihat sangat serius dan tertarik dengan pertarungan tersebut. Tentu saja hal ini tidak lain karena Dira memiliki kekuatan yang unik dan sangat kuat.
“apa kau memiliki informasi mengenainya?” tanya Hanna dengan tatapan menelisik dari kerimbunan pohon, karena mereka agak terlalu jauh berada dari area pertarungan.
“Kau pikir aku gudang informasi atau perpustakaan? Tidak mungkin aku punya! seharusnya kau yang punya. Kau lebih pintar dariku, seharusnya kau mengetahuinya!”
Mendengar itu, Anna sedikit kesal dan mengerutkan keningnya, Namun dia berusaha menahan emosinya. Dia tahu, temannya ini memang seperti itu, selalu saja membuatnya marah dan kesal entah di mana pun, dan meski itu dalam keadaan bahaya.
“Jika aku mengetahuinya, aku tidak akan bertanya kepadamu.” Bisiknya dengan nada aneh dan sedikit menggertak gigi.
“aku tidak tahu!” jawab Camila memalingkan wajahnya kemudian kembali menonton pertarungan.
“Anna, sepertinya wanita itu sangat kuat. Kenapa kita tidak ikut bergabung dengannya saja? Tujuan kita kesini untuk mencari Klarika. Karena dia tidak ada, Kenapa kita tidak ikut bertarung untuk membalaskan dendam klarika? Walaupun aku tidak yakin, Klarika mati di tangan Jendral Theo, kita akan memastikannya setelah menaklukkannya.” Tiba-tiba Camila berucap.
“Dengan menaklukkannya, kita pasti akan terkenal dan menjadi artis dadakan. Bagaimana? Hebat kan?” wajah camila berbinar-binar membayangkan betapa terkenal dirinya ketika berhasil mengalahkan Jendral Theo, salah seorang kuat di kekaisaran.
“Aku mencium bau-bau tidak enak di sini, aku akan mencari tempat lain.”
“Kenapa pergi?” Tanya Camila lalu menyusul Anna pergi.
Mereka pergi tidak jauh dari tempat sebelumnya.
Anna merasa jengkel melihat camila mengikutinya. Dia tidak suka di ganggu saat ada peristiwa seperti ini dan jarang terjadi.
“Anna kenapa kau berpindah tempat?” tanya camila seraya mengatur nafasnya akibat menyusul Anna.
“Anna, bagaimana dengan rencanaku? Hebat kan? Ini adalah kejadian langka dan unik, jadi kita harus memanfaatkan sebaik mungkin. Kau juga ingin terkenal kan seperti orang hebat dan kuat seperti Jendral Theo? aku juga, Dengan cara itulah, kita bisa mendapatkan popularitas tanpa usaha yang keras.”
Karena tidak ada jawaban, camila melanjutkan, “meski Jendral Theo merupakan orang terhormat, kita pasti tidak akan di hukum karena mengikatnya saja. Katakan saja, tuan jendral main hakim sendiri dan tanpa bukti menyerang akademi.”
Anna tidak berkata.
__ADS_1
“aku mendapatkan informasi itu dari guru lain, dan itu sangat akurat. Jadi, ayo kita lakukan, dan tunjukan, bahwa kita kuat, meski kita...”
“kau tidak lihat! Aku sedang fokus? Diamlah!” pekik Anna tiba-tiba menoleh. Dia sudah tidak bisa menahan kekesalannya. Wajahnya terajut, kedua tangannya di genggam erat, menahan amarah memuncak.
Meski Anna marah dan menyerang Camila, dia tidak akan pernah mengerti dengan keadaannya yang selalu tidak ingin di ganggu. Setelah beberapa saat begitu, Anna menghela nafas lalu kembali memandang ke depan.
Di pertarungan, Theo semakin terdesak oleh akar-akar dira yang muncul mengelilingi jalannya untuk menghindar. Kini, Theo hanya bisa mengeluarkan sisa tenaganya yang sangat tipis seraya melihat sekitar dan mencari celah. Wajah khawatir terlihat, keringat muncul.
“aku tidak menyangka, jendral Theo hebat kini seperti orang lemah dan Tidak memiliki kemampuan apa pun.”
Dira muncul dengan akar memanjang yang dia pijakki.
“Jika kau tidak menyerangku dalam keadaan seperti ini, aku pasti akan membunuhmu!”
“keadaan seperti apa yang kau inginkan?”
“keadaan saat aku pulih.”
Dira tersenyum jahat. “lucu sekali. Anda pikir aku akan memberikan kesempatan itu? Anda pikir ada musuh menunggu lawanya pulih baru melawannya? Aku, saat aku dulu, setelah persalinan, aku berlari sambil memeluk anakku dan di liputi rasa takut, apa anda membiarkanku pulih? Tentu saja tidak! Sekarang, anda harus membayar apa yang telah anda lakukan.” Ucap dira seraya mengingat-ingat kenangan suram yang pernah dia alami.
Perlahan-lahan, akar-akar yang mengelilingi Theo memanjang, kemudian tumbuh sangat cepat. Mereka membentuk 5 wanita akar yang besar, memandang Theo dengan tatapan kebencian.
“sampai kapan pun! aku tidak akan membayarnya! Hahaha!”
Perlahan-lahan kaki Theo berubah menjadi angin, terus hingga kepalanya. Sebelum sepenuhnya hilang, Theo berkata, “hari ini pergilah bersamaku!”
Angin itu kemudian berwarna merah darah, lalu terbang di langit, membentuk pusaran dengan petir merambat, dan ada sedikit awan hitam di tengah-tengahnya.
Kemudian, dari awan itu muncul pedang besar dengan aura darah yang mencekam. Angin di sekitar dira kemudian bergerak tidak beraturan, seiring pedang itu bergerak ke bawah.
Dira melambaikan tangannya. 5 wanita akar itu kemudian bersatu membentuk satu wanita besar dengan pedang besar di tangannya.
Tidak jauh dari dira, Anna dan camila merasakan tekanan yang kuat dari atas dan bawah, sehingga membuatnya kesulitan untuk bernafas.
“Anna kita haru segera menjauh!” saran camila yang di jawab anggukan oleh Anna.
Mereka kemudian pergi dari sana.
__ADS_1
Wussss! Bommm!
Pedang Theo di tahan oleh pedang akar Dira. Energi merah darah berbenturan dengan akar-akar dira. Beberapa akar-akar hancur seketika menghadapi serangan itu. Pohon-pohon bergoyang keras akibat angin yang di timbulkan.
Ekspresi wanita akar itu sedikit mengkerut menahan serangan Theo.
Setelah beberapa saat menahannya, akhirnya pedang itu meledak menghancurkan semuanya, pohon-pohon hancur di sekitar, dan menyisakan kawah dengan air mengalir.
Dira membuka pelindung akarnya. Dia kemudian memandang ke atas, lalu tersenyum, seperti melihat wajah seseorang di sana.
“toru, lihatlah, aku sudah membalaskan dendammu.” Kenangan-kenangan dengan suaminya pun terngiang-ngiang di benaknya. Saat mereka menikah, saat toru menjaganya ketika selamat dari kerajaan dan ketika menyadari dirinya mengandung.
Setelah itu dia menurunkan wajahnya. “klarika!” dira tiba-tiba teringat dengan klarika yang dia selamatkan. Saat hendak pergi seseorang memanggilnya.
“Yang mulia, hamba tidak apa-apa.”
Klarika mendekat seraya di rangkul oleh Camila dan Anna. Saat mendengar Klarika memanggil yang mulia, mereka berdua terkejut, namun klarika tidak mengatakan apa pun dan hanya tersenyum.
“Kau tidak perlu memberi hormat.” Dira menghentikan klarika ingin memberi hormat.
“Tapi yang mulia...”
“tidak perlu, aku melihat kau selamat saja sudah senang.”
“siapa kau?” tanya camila menyelidik.
Klarika ingin berkata, tapi setelah melihat Dira memberi kode, dia memilih diam.
“Aku bukan siapa-siapa.”
“Kau tidak perlu berbohong kepadaku, aku sudah mengetahuinya dari tadi, kau bukan orang sembarangan! Jadi... Berikan tanda tanganmu. Aku adalah fans berat dan pertamamu.” Ucap camila bersimpuh lalu menunduk.
Anna yang tidak jauh berada memutuskan memalingkan wajahnya.
Dira langsung memegang kedua bahunya dan menuntunnya untuk berdiri. “Kau tidak perlu melakukan itu.”
“Tidak bisa! Kau adalah orang kuat, jadi sudah seharusnya di sembah. Apakah kau mau memberikan tanda tanganmu?” Wajah camila seketika bercahaya dan mungil.
__ADS_1
“baiklah, baiklah.” Dira tidak bisa menolaknya.