Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 61 pertempuran di pegunungan salju


__ADS_3

Di saat bersamaan di tempat lain, setelah Diana berkata demikian, dia dengan cepat melesat, dan begitu pun dengan tubuh yang satunya lagi. Ketika mereka sangat dekat, tubuh mereka sudah terawang. Ketika mereka saling bersentuhan, cahaya merah terpancar. Tubuh Diana perlahan-lahan menyatu.


“ini buruk!”


Simo mengerutkan keningnya. Dia kemudian melesat ke arah Diana. Walaupun dia tahu mungkin tidak akan bisa menghentikannya, setidaknya dia bisa membuatnya terluka. Alasan dia berkata demikian, karena dia merasa Diana kali ini tidak akan main-main lagi. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk menyerangnya.


Jika sampai tubuh Diana bersatu, maka kekuatan yang mengerikan akan keluar dari tubuhnya. Dan, jika itu sampai terjadi, baik simo maupun Anulika tidak bisa menghentikannya. Simo menduga, Diana menyatukan tubuhnya untuk melawan mereka satu persatu, dan mengurung yang lainya sementara sebelum dia bisa membunuh yang lainnya.


Ini adalah rencana terbaik yang mungkin Diana lakukan, jika tidak, dia pasti akan melawan mereka berdua bersama-sama. Namun, tentu saja jika bersamaan akan merepotkan, karena simo pasti akan merencanakan hal lain untuk menghalanginya atau jika bisa membunuhnya.


Melihat simo akan menyerangnya, Diana dengan marah berkata, “beraninya kau menyerangku di saat seperti ini! Tunggu saja, setelah ini, aku pasti akan membunuhmu.”


“aku menunggunya!”


Simo sudah ada di depan Diana. Dia memegang erat pedangnya, mengangkat ke atas dengan kedua tangannya. Lalu, dengan tenaganya yang kuat mengayunkannya. Aura putih dan merah bergerak tidak beraturan ketika simo mengayunkan pedangnya.


Diana lalu mengarahkan telapak tangan ke depan.


Bommm!!!


Ledakan aura pun terjadi. Simo menggertakkan gigi sembari berusaha mendorong pedang di tangannya. Diana pun seperti itu. Meski dia kuat, Diana tentu memiliki kelemahan, dan kelemahannya itu adalah pada saat-saat seperti ini.


“Ini belum selesai!”


Dari tangan simo muncul api biru, dan langsung menyelubungi pedangnya, Lalu ikut menyerang. Simo meraung dan terus mendorong pedangnya.


Melihat itu, Anulika mengirim Dewi es tuju warna.


Dewi itu bergerak cepat. Sembari bergerak, dari tangannya muncul tusuk konde yang besar dan memiliki tuju warna. Di ujungnya ada bentuk bunga dan di satunya lagi mengecil seperti jarum.


“Simo aku akan membantumu!” seru anulika, kemudian memejamkan matanya mengontrol Dewi tuju warna yang sulit dilakukan.


Simo mengangguk. Dewi tuju warna langsung mengayunkan tusuk kondenya. Kini aura tuju warna dan aura simo terus berusaha menyerah Diana.


“kurang ngajar!” Dengan kemarahan di hatinya, Diana terus berusaha menyerang balik. Ini adalah saat-saat terlemahnya, dia harus bisa menahan serangan simo dan Anulika sebelum tubuhnya kembali bersatu.

__ADS_1


“tidak akan aku biarkan!” simo meraung, memaksa tubuh untuk mengeluarkan kekuatan yang masih tersisa di tubuhnya. Api biru dan aura pedang keluar lebih cepat dan tidak beraturan.


Dewi es tuju warna yang ada di sampingnya juga berusaha mengayunkan senjatanya dengan keras, bahkan tusuk kondenya sedikit melengkung karena kekuatannya.


Sementara anulika mengernyitkan dahi dan mencakup kedua tangannya dengan erat. Gadis itu berusaha melakukan yang terbaik. Suara seruling dewi es terdengar lebih cepat dari sebelumnya. Wajahnya juga sangat serius dan tajam.


Simo dengan cepat berteriak lagi. Anulika terus memompa tubuhnya.


Perlahan-lahan pedang dan tusuk kondenya bergerak, namun sayang sekali, Diana sudah berhasil menyatukan tubuhnya. Dia dengan tersenyum berkata, “sayang sekali anak-anak, usaha kalian harus gagal.”


Diana mendorong satu telapak tangannya ke depan, membuat ledakan yang besar. Simo terpental dan memuntahkan seteguk darah. Dewi tuju warna juga ikut terpental, namun lebih lambat dari gerakan simo.


Anulika juga memuntahkan seteguk darah segar. Wajahnya pucat pasi.


Simo melesat dan berhenti bergerak setelah menabrak pegunungan salju di sekitarnya. Salju-salju melonjak ketika tubuh simo menghantam pegunungan tersebut.


Diana tertawa keras dan menggelegar di udara sebelum akhirnya tersenyum penuh kemenangan.


“sekarang adalah kematian kalian!” serunya dan tertawa lagi. Di tangan kanan perlahan-lahan es putih menyelimuti seperti sarung tangan. Bentuk-bentuk seperti sisik naga yang berkilauan. Bersamaan dengan itu juga, tangan kirinya di penuhi es-es hijau seperti Giok yang berkilauan.


Kini semua tubuhnya di penuhi amor.


Sejurus kemudian, Diana melesat dan mencekik leher anulika. Diana tertawa lagi. Dia sangat senang menyaksikan kesakitan terlihat di wajah anulika.


Anulika terlihat kesakitan sembari berusaha melepaskan tangan yang mencekiknya, namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa, kekuatan Diana sangat kuat.


Dewi es dan dewi tuju warna perlahan-lahan memudar dan akhirnya menghilang sama sekali.


“Tunjukan kekuatanmu, tunjukan. Ini kah kekuatan yang kau bawa untuk menyelamatkan adikmu? Sangat lemah! Ha ha ha ha!” Diana mempererat cekikannya, membuat anulika kesulitan bernafas.


“sekarang kau harus mati.”


Dengan geram, Diana mengangkat satu tangan. Perlahan-lahan kuku-kuku es putih terbentuk. Itu sangat tajam dan berkilauan.


“pergi ke neraka!” serunya sembari mengayunkan kuku-kuku jarinya yang tajam. Namun sebelum sampai mengenai tubuh anulika, pedang simo melesat, berputar-putar, menyebabkan Diana menangkisnya terlebih dahulu.

__ADS_1


“Oh, kau masih hidup juga?” kata Diana memandang ke arah tempat jatuhnya simo.


“Tentu saja.” Simo berdiri di gua yang terbentuk akibat benturan tubuhnya. Nafasnya tidak beraturan, tubuhnya terluka di beberapa sisi, beberapa bajunya robek. Dia dengan tersenyum mengusap darah di bibirnya dan berdiri di sana dengan senyuman meremehkan.


Walaupun sebelumnya dia menabrak pegunungan dengan keras, tidak terlihat sedikit pun wajah kesakitan.


Dia merentangkan tangan kanannya. Sesaat kemudian Pedangnya kembali dan berputar-putar seperti bumerang, lalu mendarat dengan sempurna di tangannya. Aura putih dan merah keluar dari bilah pedangnya dengan cepat dan banyak.


“ini belum cukup!” simo langsung mengeluarkan api birunya dan memoles di bilah pedangnya. Aura putih, merah dan biru bercampur aduk di bilahnya saat ini.


Tatapannya sangat dingin dan penuh kebencian. Jika di bandingkan dengan tatapannya waktu kecil, kini dia lebih menyeramkan.


Dengan cepat dia menunjuk Diana dengan Pedangnya. Dan berkata, “tunjukan Sekarang semua kekuatanmu!”


Saat mengatakan ‘kekuatan’ aura di pedang simo melonjak.


“Ini menarik.” Ucap Diana tersenyum kemudian ekspresi dingin seketika menghiasi wajahnya. Dia dengan kasar menghempaskan tubuh Anulika.


Melihat itu, simo langsung menyelamatkannya dan membaringkan anulika di hamparan salju. Anulika sudah tidak sadarkan diri.


Dia kemudian berbalik memandang Diana dengan tatapan dingin.


Mempersiapkan ancang-ancang, simo melesat dengan kecepatan tinggi. Membelah udara dan butiran-butiran salju, lalu meninggalkannya dalam kekacauan.


“dasar sombong!” Diana mempersiapkan tangan es hijaunya, kemudian ikut melesat.


Ketika jarak mereka sudah satu meter, simo mengayunkan pedangnya sembari berteriak.


Diana dengan tersenyum mengarahkan tangannya.


Wuuusssssss!!!


Ledakan energi lagi-lagi terjadi. Angin terhempas dari benturan itu, membuatnya seperti gelombang air. Setelah itu, mereka bergerak cepat dan saling menyerang.


Simo terus berteriak sembari mengayunkan pedangnya, sementara Diana terus menggunakan cakarnya.

__ADS_1


Walaupun di sini simo yang lebih lemah dia tetap berusaha menyerang dan menghindar. Pertarungan mereka sangat cepat dan sengit. Mereka bergerak di udara dengan sangat cepat.


Suara-suara dentingan terus menghiasi jalan pertarungan mereka. Angin-angin di sekitar bergerak tidak beraturan dan tercincang-cincang


__ADS_2