
Hari yang di janjikan pun tiba, seperti apa yang dikatakan simo, dia sembuh dalam 3 hari. Namila yang mengetahuinya menjadi penasaran sekaligus heran. Dia sudah memeriksa tubuh simo dan perkiraannya mungkin dalam 10 hari ke depan akan sembuh, tapi kenyataan sekarang simo sembuh dalam waktu sesingkat itu.
“Bagaimana kau bisa sembuh secepat itu. Bahkan aku yang terluka lebih sedikit masih merasa sakit dan kau yang lebih parah sekarang seperti orang yang tidak pernah sakit?” Tanya namila saat melihat simo sedang istirahat di lapangan setelah berlari.
Simo hanya menjawab rahasia, tapa penjelasan sedikit pun. Tentu saja itu membuat namila penasaran, maka dia berusaha menanyakannya, tapi dia selalu saja gagal.
Kecepatan penyembuhan simo, tidak lepas dari pengetahuan arwah kaisar pedang yang sangat berpengalaman dalam bidang pengobatan. Dia menyarankan simo untuk mencari taman-tanaman herbal yang ada di bawah air terjun taman belakang akademi.
Saat mencari-carinya, simo dengan mudah mendapatkan. Bahkan tidak sampai satu menit dia sudah mendapatkannya. Jumlah yang di dapatkan lebih dari cukup untuk membuat ramuan herbal untuk penyembuhannya.
Selain itu, simo juga menggunakan sihir penyembuh yang dia pelajari dari Namila. Hasilnya sangat memukau dengan sihir dan ramuan itu, simo sekarang sudah sembuh total dari lukanya.
Di siang hari yang terik, tanpa awan sedikit pun, simo menunggu namila di lapangan. Mereka akan pergi ke pulau sijiriah menyusul teman-teman kelasnya.
Tidak beberapa lama namila yang menyamar datang bersama Klarika.
Simo tidak mengatakan apa pun mengenai penampilan namila sebab dia sudah mengetahui alasan namila menyamar. Namila menyamar tidak lepas dari kekesalannya karena menjadi populer di akademi. Menurut kabar yang beredar, dia mengetahui namanya sangat populer dan selalu menjadi pujaan para lelaki di akademi. Tentu saja karena dia cantik yang membuat siapa saja tertarik dengannya.
“apakah kita bisa pergi sekarang?” tanya simo.
“kau itu ya tidak sabaran sekali, dengarkan dulu penjelasan bu Klarika.”
Kalarika mengangguk, kemudian menjelaskan tujuan dari latihan itu untuk mengembangkan mental, fisik dan pengetahuan tentang alam liar. Klarika memberi keringanan untuk tinggal di sana hanya 3 hari dan menyuruh simo dan jauzan masing-masing membawa satu tanaman herbal langka yang biasanya di jaga oleh para monster di sana.
Semakin tinggi kahasiatnya maka semakin kuat juga monster yang menjaganya. Klarika menyarankan untuk memetik yang sebisanya dan jangan memaksakan diri.
“bu, bolehkah waktunya di perpanjang?” tanya simo.
“Bisa saja, tapi aku sarankan itu tidak lebih dari dua hari, karena akan ada ujian akhir tahun.”
“Sebelum kalian pergi ambil ini.” Klarika menyuruh jauzan dan simo mengambil kristal ungu.
“Dengan kristal itu kalian bisa kembali ke akademi dengan cepat dan sebagai pilihan melarikan diri di saat bahaya. Apa kalian mengerti?”
“bu, jika kami tidak mendapatkannya. Apakah bisa kembali?” Tanya jauzan.
“tentu saja, tanaman itu hanya tambahan bagi yang bisa mendapatkannya.”
__ADS_1
Setelah semua pertanyaan di jawab, Klarika memutar tangannya di depan dan seketika muncul lubang teleportasi angin yang besar. Di dalam lubang itu hanya terlihat Langi biru cerah.
“pergilah, jangan kecewakan ibu.”
Jauzan dan simo mengangguk lalu masuk ke dam lubang itu.
“semoga saja mereka tidak kenapa-kenapa.” Gumam Klarika lalu menutup lubang teleportasi itu.
****
Di bagian sebelah Utara kekaisaran gunung salju ada sebuah danau yang luas nan indah. Airnya berwarna biru seperti langit.
Di kelilingi berbagai jenis pohon. Burung-burung menghiasinya di kala siang dan saat malam pantulan bulan dan bintang-bintang tampak bercahaya.
Yang paling indah dari semua itu ada bukit-bukit kecil yang menghiasi di tengah-tengah danau. Bukit-bukit itu tersebar di beberapa titik dengan ketinggian yang beragam.
Di bawah langit malam, rani berdiri seraya memandang dua orang yang berdiri di dua bukit di depannya.
Salah-satu orang berdiri menyilangkan kedua tangannya seraya memegang pedang lengkap dengan sarungnya, sementara di sisi lain seorang pria sedikit gemuk tengah berdiri di atas pilang besar.
“Kenapa kau datang?” tanya Nayaka dengan nada dingin.
“Apakah kau sudah menyelesaikan tugas kita?” Tanya dara.
Nari menghela nafas, kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
“kenapa bisa begitu?” tanya nayaka.
“dia berhasil kabur. Kedatanganku ke sini untuk meminta bantuan kalian untuk menangkapnya, bukanya aku tidak bisa, tapi aku hanya ingin berjaga-jaga supaya bocah itu tidak lolos lagi.”
“hehehe aku tidak menyangka hanya seorang bocah bisa membuatmu seperti ini.” Ucap dara.
“jika bukan karena ada orang-orang yang melindunginya, sudah dari dulu kita bisa menangkapnya.” Ucap rani seraya memandang tajam dara.
“baiklah, aku akan membantumu, lagi pula itu juga tugas kita semua. Aku harap kita bisa menangkapnya sekarang.” Jawab nayaka sebelum akhirnya menghilang.
“aku juga.” Jawab rani yang menghilang juga.
__ADS_1
“Sudahlah, mau apa lagi.” Dan terakhir dara menghilang.
...****...
Pulau sijiriah adalah Salah satu pulau yang paling berbahaya di dataran ini, dan yang paling di incar oleh orang-orang yang memiliki kekuatan tinggi. Selain karena kekayaan alamnya yang melimpah, seseorang juga akan mendapatkan pengalaman tiada tara di pulau itu. Tentu saja itu hanya bisa di lakukan oleh orang tertentu saja.
Di sana tidak hanya keberanian saja di perlukan, selain kecerdikan, seseorang juga harus memiliki pengetahuan yang cukup mumpuni untuk pergi ke sana.
Klarika merupakan seseorang pertama yang mengirim para siswa pergi ke sana. Apalagi itu kelas terlemah di akademi dan juga baru kelas terendah di tingkatnya. Entah apa yang dipikirkannya sehingga berani melakukan itu.
“Simo, kenapa kita tidak pergi mencari tanaman yang lain, yang lebih berharga dan lebih mudah memetiknya.” Bisik jauzan seraya sembunyikan di balik pepohonan bersama simo. Jauzan merasa heran, sebab tanaman yang ingin di incar simo hanya bunga dailelo ungu yang hanya berharga 10 koin emas saja.
Selain murah, bunga itu juga sangat sensitif dan mudah hancur. Seingat jauzan dia pernah di perintahkan untuk memetik bunga itu di hutan tempatnya berlatih dulu.
Di hutan itu ada banyak sekali bunga dailelo ungu, tapi dia hanya bisa mengumpulkan setengah dari yang perintahkan kakeknya, karena tidak mudah untuk memetik dan menjaganya.
“apa kau lupa, aku ingin mendapatkan pengalaman di sini. Walau itu hanya bunga dailelo saja, kau lihat monster yang menjaganya.” Ucap simo tanpa memandang jauzan, karena dia mengamati sesosok monster yang tengah tertidur di depan gua tempat bunga dailelo unggu tumbuh.
Sosok itu adalah seekor kucing dengan bulu-bulu burung yang berwarna putih bersih seperti bulu-bulu merpati. Kucing itu memiliki tubuh yang besar dengan kedua kakinya seperti cakar elang yang tajam. Moster itu mendengkur seraya menggerak-gerakkan ekor, telinga dan kumisnya.
Meski moster itu tertidur, simo masih melakukan pengamatan, tapi bukan untuk mencari celah untuk memetik bunga itu, sebaliknya dia ingin mengamati apa saja yang mungkin bisa dilakukan kucing itu setelah dia membangunkannya.
Setelah beberapa saat, simo menduga, keempat kakinya akan di gunakan untuk mencakar dan simo sangat mengetahuinya, tapi kucing itu adalah monster pasti memiliki kelebihan selain itu, simo menduga kuku-kukunya memiliki rancun yang mematikan.
Setelah mengamati cairan bening menetes dari kukunya beberapa kali.
Setelah simo rasa sudah cukup untuknya mengamatinya, dia menarik pedangnya dan tali yang sudah dia persiapan jauh hari.
“Kau tunggu saja di sini, aku akan pergi sebentar.”
“Tap...”
Sebelum jauzan selesai menjawab, simo sudah melompat dan mengayunkan pedangnya dengan keras tepat di atas kepala kucing itu. Suara pedang pun terdengar kala bilang pedang itu membentur kepala kucing, tapi bukannya keluar darah, malahan sebaliknya bilang pedang simo retak sedikit yang membuatnya terkejut.
...****...
ayo semakin banyak like nya maka semakin cepat update nya
__ADS_1