Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 32 lembah monster part 2


__ADS_3

“apakah ini lembah yang kau katakan?” tanya simo seraya memandang ke dalam lembah dengan ekspresi takut. Baru kali ini dia merasakan takut dan tidak menyangka hanya kedalaman lembah itulah yang membuatnya takut.


Saat simo melihatnya, dia dapat mendengar berbagai suara yang aneh dari lembah itu. Meski jauzan menyebutkan lembah, itu tidak lebih seperti jurang yang sangat lebar dengan kedalaman tanpa ujung.


Kabut-kabut di bawah jurang itu menambah kengeriannya saat melihatnya.


Jauzan mengangguk. “Seperti apa yang tertera di buku.” Jawab jauzan tanpa ekspresi takut sedikit pun; sebaliknya dia sangat bersemangat.


“Ayo.”


Jauzan langsung menarik tangan simo dan mengajaknya melompat, tanpa memperdulikannya, entah dia mau atau pun tidak. Simo berteriak keras kala terjun bebas dengan ketinggian seperti itu.


Jantungnya serasa copot, peredaran darahnya seperti membeku.


Suaranya kian mengecil kala dia semakin terjatuh dan masuk ke dalam kabut putih itu.


...****...


Swusss


Sakya menebaskan pedangnya dengan kesal, karena dia sangat kesulitan itu membuat jalan. Apalagi tumbuhan-tumbuhan di pulau sijiriah bukalah taman-tanaman normal.


Sakya butuh mengeluarkan tenang ekstra untuk memotong setiap tumbuhan yang menghalangi dan tentu saja itu menguras tenaganya.


Jika saja dia masih memiliki aura pedang dan kaisar pedang dapat di pastikan dia dengan mudah melakukan. Namun bak di telan bumi aura itu menghilang setelah bertarung dengan simo.


Dia mencurigai dia lah yang telah merebut kaisar pedang dan aura pedangnya, sehingga membuatnya mencari-carinya. Sesuai prediksinya hanya bagian utaralah simo berada, sebab dia sudah menelusuri semuanya kecuali bagian utara. Dia tidak sendirian, melainkan bersama Wulin yang mengekorinya dari belakang.


“Jika aku menemukannya aku pastikan akan membunuhnya!” ujar Sakya seraya memotong tumbuhan-tumbuhan yang menghalangi. Kedua matanya memperlihatkan kebencian dan kemarahan kala mengingat simo. Jelas sekali dia sangat ingin membunuhnya dan kata-katanya sangat bisa di percaya.


“Tenang saja, jika aku mati sekalipun aku pastikan akan menyeretnya juga.” Kata Wulin setelah tidak beberapa lama berbicara.


“aku harap dia yang mati dan kau tenang saja biar aku saja yang akan membunuhnya, tanpa bertarung.”


“apa maksudmu?”


Sakya lalu menjelaskan dia sudah memiliki sebuah rencana yang akan di gunakan untuk menjebak simo, dia juga sudah mempersiapkan semua bahan-bahan yang akan di gunakan dalam prosesnya, sehingga sekarang hanya perlu membuat simo terjebak dan ikut alur yang telah dia buat.


“Bagaimana caranya?” tanya Wulin. Tentu saja baginya simo bukalah seorang yang mudah di jebak, terlebih lagi jika memang apa yang Sakya tebak benar, itu akan menambah kewaspadaannya terhadap orang lain, terutama Wulin dan Sakya yang pernah bertarung dengannya.


“Nah, di sana masalahnya, aku harap akan menemukannya sebelum kita bertemu dengannya.” Jawab Sakya.


Tidak beberapa lama mereka akhirnya tiba di sebuah Padang rumput luas yang terletak di tengah-tengah hutan belantara. Mereka keheranan dan mengerutkan kening, bukan hanya karena Padang rumput itu, tapi 3 orang yang telah menunggunya dan seperti sudah mengetahui mereka menuju arah sana.


Tiga orang itu, tidak lain rani, nayaka dan dara yang ingin menangkap simo.


“halo bocah-bocah, apakah kalian bisa mengatakan di mana bocah itu berada?” tanya Rani seraya memainkan angin merah berbentuk bunga dengan santai. Walau begitu, Sakya dan Wulin sangat merasakan kewaspadaan dan kengerian darinya.


“jika Kalian mengatakannya, maka kalian bisa kembali, jika tidak.”

__ADS_1


Wusss


Nayaka melirik daun-daun yang ada di atas Sakya dan Wulin, dan seketika daun-daun itu terbelah menjadi dua.


“Hidup kalian akan seperti daun itu.”


Seketika Wulin menjadi takut, dengan cepat dia memutuskan untuk berlari. Namun sebelum itu, Sakya menghentikannya.


“Jangan takut.” Kata Sakya tanpa takut sedikit pun.


“Tapi....” Wulin menghentikan kata-katanya setelah melihat pandangan Sakya yang memperlihatkan ekspresi percaya diri dan seolah-olah dia mengisyaratkan untuk tenang dan semuanya akan baik-baik saja.


“heheh, lebih baik kita bunuh saja mereka.” Dara tidak sabaran. Dia ingin mendekati Sakya dan Wulin, tetapi di halangi oleh Nayaka.


“kita tunggu saja.”


“baiklah, aku akan mengatakannya, apa yang kalian maksud siswa baru yang bernama simo itu?” tanya Sakya Kepada rani, nayaka dan dara.


“ternyata kau pintar juga bocah.” Ucap rani.


“sudah...aku duga.”


...****...


Simo berteriak sebelum akhirnya mendarat di pohon yang terletak di samping sungai.


“hihihi maaf, maaf.”


“Iya, tapi ini....di mana?” simo terkejut sekaligus heran dengan pemandangan di depannya. Dia melihat sungai yang luas dengan air biru bak langit. Sesekali terlihat ikan-ikan melompat-lompat dari air.


Kupu-kupu berwarna-warni yang bercahaya beterbangan mengitari bunga-bunga yang ada di depan pepohonan tempatnya berdiri.


Dan yang paling indah, berbagai jenis tanaman yang bercahaya di seberang sungai.


“tentu saja ini lembah yang aku maksud, tapi lembah ini lebih indah dari apa yang tertera di buku. Sudahlah ayo kita lihat.” Jauzan menarik tangan simo yang membuatnya mau tidak mau harus mengikutinya.


Mereka melihat-lihat hal-hal aneh dan menakjubkan, sebelum akhirnya melihat sesosok bak seperti peri yang simo lihat di hutan.


“wah, aku tidak menyangka ada monster secantik itu.” Ujar jauzan seraya melihat sesosok manusia dengan sayap kupu-kupu yang lebar dan besar.


Dia seorang perempuan memakai gaun putih panjang, kalung dan beberapa gelang di tangan dan kakinya.


Wajahnya sangat cantik, apalagi jika di padukan dengan rambut hitam panjangnya.


“dia bukan monster, tapi peri!” ujar simo yang yang sangat yakin itu peri hanya tubuhnya saja lebih besar.


Sosok itu membasuh mukanya dengan lembut dan memandang sekitar tanpa mengetahui keberadaan simo dan jauzan, karena mereka bersembunyi setelah mengetahui ada seseorang yang datang.


Tidak beberapa lama muncul seekor kijang emas dengan garis-garis putih di tubuhnya menghampiri sosok itu.

__ADS_1


Kijang itu memiliki tanduk hitam dengan bunga-bunga tumbuh di tanduknya layaknya pot bunga.


“kenapa kau kesini?” tanya sosok itu lalu mengusap-usap kepala kijang itu dengan lembut.


Kijang itu hanya bersuara kecil, kemudian meminum air sungai.


Seketika sosok itu mengerutkan keningnya dan menyadari ada yang mengintipnya.


“Kita harus la....”


Wussss


Sebelum simo berhasil menyelesaikan kata-katanya, daun-daun pohon sekitar beterbangan seperti di sedot oleh angin tornado, sehingga membuat dia dan jauzan ketahuan.


“dasar Makhluk rendahnya!” pekik sosok itu sebelum mengepak sayapnya dan terbang mengarah simo.


Tidak ada pilihan lain, simo dan jauzan harus bertarung dengannya.


Simo dan jauzan pun langsung menggunakan teknik terkuatnya, karena hanya beberapa detik saja Daun-daun bisa beterbangan dengan mudah dan menghilang begitu saja.


Selain itu, simo dan jauzan juga merasakan kekuatan yang mengerikan dari dalam tubuh sosok itu. Meski simo ingin bertarung dengan monster kuat, tapi dia tidak berharap jika Monster di depan sekuat ini.


Simo dan jauzan juga mempersiapkan kristal yang telah di berikan Klarika sebagai antisipasinya jika ada hal-hal yang tidak di kehendaki.


“makhluk rendah! berani sekali kalian memasuki daerah kekuasaanku! Terima ini!”.


Sosok itu mengeluarkan tongkat panjang dengan bunga teratai di atasnya, kemudian mengangkatnya.


Seketika muncul pusaran awan yang mengerikan yang membuat semuanya menjadi gelap.


Dari pusaran itu muncul sosok wanita sangat besar yang terbuat dari angin hitam peka seraya membawa tombak yang sangat besar dan mengayunkannya tepat ke arah simo.


Hanya setengah badannya saja yang keluar dari pusaran itu!


“Ahahaha matilah kalian berdua!!”


Simo mengeluarkan api berbentuk bunga Matahari biru yang baru dia kuasai beberapa hari, sedangkan jauzan mengeluarkan naga air yang besar yang menjadi andalannya yang merupakan teknik rahasia yang akan dia keluarkan saat situasi seperti ini.


Bomm!


Tiga energi berbenturan di langit, menyebabkan guncangan hebat di area sekitarnya. Pohon-pohon hancur menjadi ribuan keping, tanah retak di sana-sini. Walaupun serangan simo dan jauzan hebat itu tidak lebih hanya gigitan semut bagi sosok itu.


“hahahah sekarang matilah!”


Wanita angin itu kembali menebaskan pedangnya.


Simo dan jauzan dengan cepat menghancurkan kristalnya. Namun sebelum itu, tebasan itu sudah mendarat dan mengenai keduanya. Simo hanya bisa melihat cahaya putih.


Betapa kuatnya serangan itu!

__ADS_1


__ADS_2