
Saat namila mempraktikkan cara menggunakan sihir, dia terlihat sangat mudah melakukannya. Bahkan ekspresi Wajahnya terlihat biasa saja. Walaupun begitu, tidak semudah yang terlihat. Simo berkali-kali mencobanya, akan tetap tidak membuahkan hasil.
Keringat terus membanjiri pelipisnya. Walaupun hari itu malam hari yang dingin, simo tidak merasakan dingin sedikit pun dan sebaliknya sensasi panas terus menjalar seluruh tubuhnya.
“Jangan menyerah begitu saja.” Saran namila Seraya duduk di pinggir tebing dan memandang langit malam. Walaupun gadis itu tidak menoleh, dia sangat mengetahui jika simo sedang terbaring lemas akibat latihan berkali-kali.
Walau pun simo terbaring, namila terkejut dalam hatinya. Dia tidak menyangka ada seorang yang hampir bisa menggunakan sihir dalam beberapa jam saja.
Seingatnya, membutuhkan waktu 3 tahun untuk orang normal bisa melatihnya dan itu juga masih 50 persen berhasil
Sedangkan untuk orang seperti dirinya, membutuhkan waktu 3 bulan, dan itu sudah di anggap jenius.
Namun setelah melihat simo, namila menjadi terheran-heran sekaligus kagum bagaimana bisa dalam beberapa jam sudah hampir bisa menggunakan sihir?
Gelombang energi hijau dari jantung simo meluncur Seperti air dan menjelajahi setiap rongga pembuluh darahnya, terus mengalir hingga mencapai pergelangan simo, tetapi di pergelangan itulah energi itu meledak dan menyebabkan simo gagal melakukannya, Namila sangat mengetahui itu dan oleh karena itu juga berusaha mendukung simo yang sudah kelihatan lelah.
“aku sudah kelelahan... Adakah jalan pintas itu melakukannya?” tanya simo seraya bangun setelah beberapa menit berbaring. Wajahnya pucat dan terlihat jelas kelelahan di wajahnya.
“Tidak ada jalan pintas selain kau harus berusaha terus dan mencapai keberhasilan. Kau tahu jika semakin kau gagal, maka semakin kau berkembang.” Namila masih duduk manis tanpa memandang simo. Walaupun jarak mereka jauh, Namila masih dapat mendengar ucapan simo dengan jelas seperti memiliki telinga setajam kelelawar.
“jika begitu... Aku ingin latihan besok saja. Hari ini aku sudah kelelahan. Apalagi besok aku akan bersekolah, aku tidak ingin dihukum untuk pertama ataupun terakhir kalinya.” Ucap simo tidak bersemangat.
Mendengar itu, namila menarik nafas panjang, jelas sekali namila kesal dengan simo, dia bisa saja membangkitkan semangat simo dengan mengatakan dia hampir bisa, akan tetapi hatinya tidak mau mengakuinya. Apalagi sebagai cucu kepala sekolah dan siswa jenis, tentu saja mengakui orang lain sulit baginya.
Namila seketika duduk di samping simo yang membuat simo terkejut dan mengumpat. Melihat itu Namila tertawa kecil, lalu berkata, “apa kau ingin menyerah?”
Simo menggelengkan kepalanya. “tidak, sampai mati pun aku tidak akan menyerah. Meski beberapa kali harus jatuh bangun dan jatuh lagi.” Saat mengatakan itu ekspresi simo seperti seorang yang memiliki tekat yang kuat seperti baja dan panas seperti api.
Namila tidak bisa menahan kegembiraan. Dia tersenyum, walau simo tidak melihatnya. Bagaimana pun namila ingin menjadikan simo teman latihannya dan jika teman latihannya lembek seperti tahu dan ringan seperti gabus, tentu saja membuatnya kecewa. Apalagi dia sudah mengujinya berkali-kali. “jika begitu, lakukanlah sekali lagi.” Namila tersenyum.
Melihat senyuman namila, semangat simo kembali berapi-api. Entah apa yang menjadi kelebihan namila yang membuat simo menjadi semangat kembali. “Baiklah aku akan mencobanya lagi.” Saat mengatakan itu, nada simo penuh dengan semangat.
“Berjuanglah.” Ucap namila.
Simo bangkit. Dia kembali meletakan telapak tangannya dan mulai membayangkan energi hijau mengalir ke tangan melalui pembuluh darahnya. Tidak beberapa lama energi hijau keluar dari telapak tangannya. Segera senyuman bahagia muncul di wajah simo dan begitu pun Namila.
__ADS_1
walaupun namila kalah cepat dari simo, dia tidak akan minder ataupun menyerah dengan simo, sebaliknya dia akan berusaha melawannya lagi dan lagi dengan begitu dia dapat berkembang, lalu membanggakan kakeknya. “selamat ya.” Ucap namila kemudian tersenyum.
Simo mengangguk. “akhirnya aku bisa!”
“teruslah berlatih.”
Simo mengangguk.
Setelah itu Mereka memutuskan untuk pulang dan tidak lupa juga mereka mengucap salam perpisahan.
...****...
Ke esokkan harinya, Klarika menguji para siswanya dengan pertarungan berpasangan, pasang yang di gunakan sesuai pasangan yang akan pergi ke pulau sijiriah. Selain untuk mengetahui semua kekuatan siswanya, Klarika ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Apalagi Klarika mengingat pulau itu sangat berbahaya. Seingatnya hanya sebagian dari teman-teman kelasnya yang selamat dari sana dan yang lainnya entah ke mana.
Mungkin dimakan hewan buas atau terlempar ke tempat lain dan menghilang , Oleh karena itu dia juga memastikan semua siswa-siswi hadir dan berharap semua siswa sudah memenuhi syarat untuk masuk ke pulau itu.
Dirasa semuanya hadir, Klarika mengeluarkan kota undian yang akan digunakan untuk mencari lawan. Di dalam kota itu ada 10 nomor, jadi dapat di pastikan semua siswa kelas C berjumlah 20 orang termasuk simo dan jauzan yang baru menjadi siswa kelas C.
“ini adalah kota undian nomor kalian. Setiap pasangan boleh mengambilnya satu dan nanti siswa yang nomornya di panggil harap maju.” Ujar Klarika dengan keras agar semua siswa-siswi dapat mendengar dengan jelas.
Setelah mengatakan itu, Klarika menyuruh semua perwakilan pasangan untuk maju mengambil nomor satu persatu.
Dari wajah jauzan, kelihatan dia ingin sekali tampil lebih awal, namun nasib tidak baik menimpanya sekarang.
“tenang saja kita akan memenangkan pertarungan itu.” Ucap simo yang berharap dapat menghibur jauzan, akan tetapi pemuda itu hanya mengangguk lemas. Simo yang melihatnya hanya bisa menghela nafas.
“No 1.” Ujar Klarika dengan keras.
Dua orang pemuda yang memiliki wajah mirip bersaudara maju ke depan. Keduanya sama-sama memiliki pandangan yang tajam seperti tidak ada hal yang perlu mereka takuti. Mereka adalah Sam dan Suman. Sam adalah yang lebih tua.
“Kak aku ingin menenangkan pertarungan kali ini.” Kata Suman dengan nada gembira.
“Tenang saja adikku. apa pun yang akan terjadi, kita akan memenangkan pertarungan ini. Meski kita harus menghadapi peringkat kelas 1 sekalipun.” Jawab Sam. Dari pandangan jelas sekali dia memiliki ambisi dan kelicikan yang besar.
“No 2.” Panggil Klarika lagi.
__ADS_1
Dua orang maju ke depan. Yang satunya laki-laki berkaca mata dan satunya lagi seorang gadis mungil. Mereka berdua adalah talina dan thomi.
“apakah kita bisa memenangkan pertarungan ini?” tanya Talina ragu-ragu. Gadis itu terlihat hanya memiliki 50 persen keyakinan untuk memang.
“baik menang ataupun kalah kita harus melakukan yang terbaik. Kau tidak perlu takut seperti itu.” Thomi terlihat memiliki tekad yang kuat untuk menang. Meski melawan musuh kuat darinya.
Talina mengangguk.
Saat Klarika mendeklarasikan untuk mulai, segera kedua belah pihak mengeluarkan senjata Mereka dari tempat penyimpanan.
Tempat penyimpanan adalah tempat semacam dompet, tapi memiliki ruangan yang lebih besar dan memiliki ukuran yang kecil, Oleh Karena tidak jarang jika semua orang ingin memilikinya.
Tempat penyimpanan sudah di tanami sihir yang langka. Sangat jarang orang-orang bisa melakukan dan oleh karena itulah harga barang itu mahal.
Walau begitu masih banyak orang yang ingin membelinya. Terutama kaum bangsawan yang memiliki uang yang lebih.
Sam mengeluarkan pedang panjang, segera menyerang tohomi yang menggunakan tongkat kayu.
Ekspresi kemenangan tergambar di wajah sam. Tongkat kayu adalah senjata terlemah yang pernah ada di dunia ini dan merupakan senjata yang sangat tidak berguna!
Sam mengayunkan pedangnya. Thomi dengan refleks membentangkan tongkatnya untuk menahan.
Dua senjata pun beradu.
“bocah miskin pulang saja sana! Kau berada di sini hanya sebagai barang rongsokan yang tidak berguna. Apalagi saat aku melihat senjata borokmu membuat mataku perih saja. Hahaha.” Ujar sam senang dengan pedang yang terus mengiris tongkat kayu thomi.
Sedang thomi berusaha menahan serangan sam yang kuat. Apalagi sam sudah tingkat fisik tahap 9. Sementara thomi hanya baru menginjak tingkat fisik tahap 5.
Dengan perbedaan kekuatan yang jauh seperti itu, tentu saja sam memiliki kepercayaan lebih. Tidak heran juga dia sombong.
Tidak bertahan lama tongkat itu pun patah dan membuat sam tersenyum. Sementara thomi mundur beberapa meter.
Tidak membiarkan thomi menarik nafas. Sam dengan tersenyum lalu melesat.
...****...
__ADS_1
mohon keritikan dan sarannya ya.
penulis batal off