Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 59 mahkluk aneh part 2


__ADS_3

Setelah Diana mengatakan itu, es-es di tubuhnya bergerak-gerak keluar seperti tentakel gurita. Tentakel-tentakel itu sangat banyak dan panjang. Ujung-ujungnya membentuk kepala manusia. Wajahnya sangat seram dan bentuknya beragam. Giginya tajam dan panjang.


Puluhan kepala-kepala itu berteriak seraya membuka mulutnya lebar-lebar. Ekspresi mereka seperti mahkluk buas yang siap menerkam siapa saja yang menjadi musuhnya.


Meski pun teknik yang Diana keluarkan bukan sesuatu yang mengejutkan, tetapi ini adalah salah satu teknik terkuat yang dia miliki. Jadi, dia berbohong kepada Anulika, bahwa itu adalah kartu asnya.


“apa kau sudah melihatnya?” Diana bertanya seraya tersenyum penuh percaya diri.


Anulika tidak menjawab. Dia memejamkan matanya. Kedua tangannya di satukan di depan, tepat di depan dada. Seruling di tangannya sudah menghilang.


Perlahan-lahan Dewi es memainkan serulingnya.


Ketika suara itu bergema, dewi tuju warna memperlihatkan ekspresi serius. Kemudian dia terbang dengan anggun. Ketika terbang, tuju warna terlihat di bawah kaki dan Gaunnya. Itu terlihat seperti pelangi.


Dewi es tuju warna mengangkat tangannya. Di telapak tangan, muncul pusaran tuju warna. Perlahan-lahan membentuk bunga teratai tuju warna.


Melihat itu, Diana tertarik. “Ini menarik, tapi ini masih lemah.”


Perlahan-lahan tentakel-tentakel kepala manusia di tubuh Diana bersatu membentuk tentakel dengan kepala yang besar. Wajahnya sangat sangar, giginya lebih besar. Dia meraung, menciptakan suasana seram ketika melihatnya.


Dengan anggun Dewi tuju warna melempar teratai di tangannya, menciptakan suasana yang indah.


Perlahan-lahan teratai itu terbang dan berputar-putar.


“bunga kecil seperti itu tidak akan bisa melukaiku! Hahaha!”


Perlahan-lahan kepala manusia membuka mulutnya lebar-lebar, seperti ingin melahap bunga tersebut. Kepala itu pun melesat mengarah bunga teratai yang indah.


Boooommmm!!!!


Ketika mulut manusia ingin melahapnya, teratai itu berputar. Cahaya tuju warna melesat ke segala arah, itu seperti lampu disko.


Simo yang melihatnya tidak bisa tidak kagum. Dia memfokuskan semua pikiran dan matanya untuk melihat apa yang akan terjadi. Cahaya semakin terang, terang, dan akhirnya simo tidak bisa melihatnya.


Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya simo bisa membuka matanya, namun dia tidak bisa melihat apa-apa. Putih, semua terlihat putih. Tapi dia melihat kelopak-kelopak teratai tuju warna melayang-layang di udara. Warnanya seperti memudar di dalam air; terbang dan terkikis.

__ADS_1


‘apa yang terjadi?’ simo memandang sekitarnya.


Setelah putih tersebut, hempasan angin kencang melanda tubuh simo, itu sangat kuat, membuat simo kesulitan untuk berdiri. Semakin kuat dan akhirnya simo menggunakan energi alam kecil.


Booommm!!!


Ledakan kedua pun terjadi. Kali ini simo terhempas beberapa meter dari titik semula. Dia tidak bisa melihat, dia hanya bisa memejamkan matanya.


3 detik berlalu akhirnya dia kembali bisa membuka matanya. Dia terkejut melihat semua yang telah terjadi. Kedua alisnya sedikit terangkat, menyaksikan apa yang ada di depannya.


Hamparan salju yang semula berada di depannya hancur lebur, pohon-pohon cemara tadinya berdiri kuat kini tidak tersisa sedikit pun. Pegunungan di sekitar tinggal sebagian. Namun, anehnya menara di depannya kini masih utuh berdiri, Tanpa kerusakan sedikit pun.


Simo mencari-cari anulika, namun dia tidak menemukannya.


“hahaha! Sepertinya temanmu sudah kalah!”


Simo menoleh ke arah samping. Dia terkejut dengan pernyataan Diana, tapi dia berusaha untuk tidak terlihat seperti itu. “bagian tubuhmu juga kalah.”


“Siapa bilang?” Diana tersenyum.


“Lihat! Aku adalah penguasa di sini, Kalian tidak akan bisa mengalahkanku.”


“Siapa bilang temanku kalah,” ucap simo setelah melihat butiran-butiran es muncul di tempat lainya.


“Ini....” Ekspresi senang di wajah Diana seketika runtuh ketika melihat butiran-butiran es muncul berseberangan dengan bagian tubuhnya.


“Ukh... Ukhuee...!” tiba-tiba Diana merasa sakit di dalam tubuhnya. Dia terbatuk-batuk dan mengeluarkan seteguk darah Segar. wajah yang semula pucat kini lebih pucat.


‘’bagaimana mungkin? Ini tidak mungkin bisa!’ Diana tidak bisa menerima dan mempercayai apa yang tengah dia rasakan. Tentu saja, baginya ini sangat mustahil. Anulika bisa melukai tubuhnya yang berada di alam mimpi. Itu sungguh aneh dan tidak terduga.


Dengan wajah pucat Diana memandang ke arah butiran-butiran salju Anulika yang kini sudah memperlihatkan anulika masih tetap pada posisi sebelumnya, hanya saja pakaiannya sudah robek, tubuhnya beberapa bagian terluka.


Dewi es dan Dewi es tuju warna masih berdiri kokoh, namun, kondisi mereka sudah tidak terlalu baik. beberapa bagian tubuh mereka hilang dan robek-robek. Kekuatan mereka juga tampak lebih rendah dari sebelumnya, itu terlihat jelas dari aura yang di pancarkannya.


“aku akan membunuh temanmu sebentar lagi. Dan lihatlah bagaimana aku membunuhnya!” kemarahan terlihat di kedua mata Diana. Dia sangat marah dan benci, jika dia di lukai seperti ini, apalagi jika dia berada di tingkat alam tahap akhir dan penguasa di tempatnya. Ini adalah hal yang memalukan.

__ADS_1


Simo tersenyum mendengar. “aku akan menunggunya.”


Meski anulika sudah dalam kondisi seperti itu, simo yakin anulika masih bisa bertahan. Oleh karena itu, dia ingin menikmati pertarungan beberapa menit lagi. Selagi dia mempersiapkan rencana yang matang untuk membunuh Diana.


...****************...


Di dalam ruangan yang megah itu, namila masih terus bertarung dengan mahkluk siluman. Dia kesulitan untuk bertarung karena, setiap dia mengeluarkan teknik-teknik airnya, dalam beberapa menit akan membeku dan melemah. Kondisi seperti ini sangat tidak menguntungkannya.


Jika dia mengeluarkan air yang lebih kecil, maka semakin cepat durasi waktu yang di butuhkan untuk membeku. Itu membuatnya dengan terpaksa mengeluarkan teknik yang memerlukan jumlah air yang lebih besar.


Dadanya naik turun tidak teratur, bersamaan dengan nafasnya yang bergerak cepat, seperti di pompa. Mulutnya juga terbuka sedikit untuk menambah pasokan udara di paru-parunya. Keringat terus menetes dari dahi dan bibinya. Sebelum mencapai lantai, air itu akan membeku.


Dengan menekan Giginya, namila memandang siluman di atas pintu yang memperlihatkan senyuman menyeringai, memperlihatkan giginya yang tajam. Ular-ular di lengannya saling membuka mulut dan maju mundur. Lidahnya menari-nari.


Namila berdiri. Pedang air panjang dan besar dia keluarkan dan di ayunkan ke samping.


“kau mahkluk menjijikkan, aku pasti akan membunuhmu. Mencincangmu, membagi tubuhmu beberapa bagian lalu melemparkannya ke segala arah.”


“oh, mangsaku ternyata bermulut pedas.” Dia kembali menyeringai. “ tapi.... bisakah kau melakukannya? Ha ha ha!”


Setelah mengatakan itu, makhluk itu mengayunkan lengan ularnya ke depan. Ular-ular hijau yang ada di sana membuka mulut dan mendesis. Lalu dengan sekejap mata, memanjang ke arah namila.


“Langkah yang buruk!” Namila memegang erat pedang di samping dengan kedua tangannya. Ketika pandangannya tajam, dia melompat.


Lalu, saat di udara, dia meraung dan mengayunkan pedang besarnya. Namun, serangannya tidak membuahkan hasil apa pun. Dengan wajah kecewa dia menginjak butiran air di udara dan melompat mundur.


“ha ha ha. berhenti melawan. Diam dan jadi makananku.” Mahkluk siluman menarik kembali lengannya.


“Mimpi!”


Namila mengangkat tangannya ke atas. Perlahan-lahan tentakel-tentakel air keluar seperti tanaman rambat. Dengan ujungnya yang panjang melesat menyerang siluman. Tentakel itu berjumlah 5.


Siluman itu tidak terkejut ataupun berusaha ingin menghindar. Wajah jahat dan sombong masih melekat dengan baik di wajahnya. Bersamaan dengan mengayunkan lengan ularnya ke arah tentakel air, dia berkata, “ini sangat mudah.”


Lengan ularnya melesat seraya membuka mulut dan mendesis. Selain itu, semakin panjang, ular-ular itu semakin besar. Ketika tiba di depan tentakel air, besarnya sudah melebihi tentakel air namila. Ular-ular itu melahap tentakel namila, dan terus maju mengarah namila.

__ADS_1


Namila sontak mundur, tapi, dia juga tersenyum jika serangannya di antisipasi seperti itu. Dengan ular-ular melahap tentakel-tentakelnya, dia dapat dengan mudah memasukkan benih air ke dalam tubuh siluman tersebut


__ADS_2