
Dengan masih tersenyum, dia mengepalkan tangannya erat-erat.
Bommm!!!!
Ledakan pun terjadi di bahu kanan siluman itu. Tubuh-tubuh ularnya melesat ke segala arah, bersama dengan darah yang seperti hujan. Dan seketika wajahnya pucat pasi menyaksikan hal tersebut. kemudian darah segar menetes dari tangannya.
Siluman itu sedikit tertegun. Setelah sadar dia dengan marah dan merasakan sakit berkata, “Beraninya kau menghancurkan tanganku!”
“ kenapa tidak? Kau memang layak mendapatkannya.” Namila tersenyum dengan keberhasilannya, dan akhirnya mencapai titik terang setelah beberapa saat bertarung dengan siluman itu.
Tanpa membuang waktu Namila kemudian melompat dan berputar di udara. Saat kepalanya berada di bawah, dia melempar puluhan bola air dan pedang air untuk menyerang siluman itu. Tangannya sangat lihai ketika melepaskannya.
Selama tiga detik tanpa jeda, dia melakukannya, tapi bukan ke arah perutnya, melainkan kaki kodoknya yang besar dan beracun. Selain karena juga kuat, dia yakin, dengan seperti itu, dia akan mengalahkan siluman itu dengan cepat dan pergi dari sini secepat mungkin.
“ kurang ngajar...!”
Siluman berteriak, lalu melompat, menyebabkan lantai di bawahnya hancur.
“Kau harus membayarnya...!”
Siluman mengepalkan tangannya erat-erat dan mengarah ke arah Namila.
Memanfaatkan itu, Namila, mengeluarkan 5 pedang air, kemudian melesat dengan cepat. Kecepatannya sangat tinggi.
Beberapa pedang berhasil siluman itu hindari, namun dia tidak bisa menghindari yang paling terakhir, sehingga mengenai kaki kodoknya. Dia menjerit seraya di liputi rasa marah di hatinya.
Dia tidak berhenti bergerak, Dia tetap mendekati namila. Kemarahan sudah menguasai dirinya. Dia sudah tidak peduli entah Namila menyerangnya ataupun tidak, yang pasti dia ingin meluapkan rasa marahnya.
Kaki kodoknya memanjang dan membesar, melesat menyerang Namila.
Namila tersenyum. Ini adalah saatnya untuk memotong satu kaki kodoknya. Dia mengeluarkan pedang air besar, lalu melesat ke arah samping.
“siluman jelek! Rasakan ini...!”
Sreeessss!!!
argghhhh...!
__ADS_1
Dengan sekali tebasan, akhirnya kaki kodok itu terputus, membiarkan darah mengalir dari tubuhnya.
Melihat itu, siluman mundur. Wajahnya pucat pasi, menahan rasa sakit di kaki dan tangannya. Meski kakinya sudah terpotong, dia masih bisa berdiri dengan baik, meski harus merasakan sakit.
“siluman jelek sekarang matilah!” namila mengeluarkan 10 pedang air, melayang-layang di belakangnya seperti matahari. Dia mengatakan itu sambil menunjuk dengan pedang besarnya.
“Jika seperti ini, mari mati bersama-sama...! Ha ha ha!” Tubuh mahkluk itu membesar, semakin membesar
Namila dengan cepat membuat pelindung, sebelum mahkluk itu meledak. Dia menumpuknya dengan beberapa lapisan dia yakin dengan kemampuan siluman itu, ledakannya pasti akan besar.
Booommmm!!!
Ledakan pun bergema di ruangan itu, lantai yang tadinya indah, hancur seketika seiring membesarnya ledakan dari tubuh siluman itu. Patung-patung di sekitarnya terhempas dan menabrak dinding. Ruangan yang semula indah, kini hancur dan porak-poranda.
Perlahan-lahan bola air namila hancur, memperlihatkan namila yang sudah kelelahan. Dadanya naik turun tidak beraturan. Dia mengusap keringat di dahinya.
“akhirnya aku berhasil.” Dengan nafas yang masih tidak teratur, dan tubuh yang kelelahan, dia berjalan mendekati pintu. Tidak ada waktu untuk beristirahat, dia harus cepat. Rasa khawatirnya menjalar di hatinya sebelum bisa melihat teman-temannya dalam keadaan baik-baik saja.
Ketika namila menyentuh pintu, tidak ada reaksi pada pintu seperti pintu pertama. Dia sedikit aneh, namun dia tidak bisa memikirkan hal itu untuk sekarang. Dia mendorong lembut pintu tersebut.
Suara pintu bergema seiring pintu itu di buka.
Tidak berselang lama, akhirnya pintu terbuka.
Ruangan itu terlihat putih, sangat putih, sebelum akhirnya samar-samar memperlihatkan pemandangan air terjun yang indah dengan air yang jernih. Batuan-batuan hitam menghiasi sekitarnya. Pohon-pohon besar turut ada di sana.
Namila mengerut keningnya, dia heran, bagaimana bisa pintu ini menuju hamparan hutan seperti ini, bukankah seharusnya ini tempat jiwa Azka di kurung. Dan juga bagaimana bisa ada hutan yang subur seperti ini di sini, bukankah saat ini musim dingin.
Seraya memikirkannya, namila berjalan Melihat-lihat. Dia menghirup udara segar di sekitar. ‘ini bukan ilusi,' batinya. Dia dapat mendengar deru angin, merasakan panasnya matahari, mendengar kicauan burung-burung.
“Tidak ada waktu, aku harus cepat mencari jiwa Azka.” Namila melompat-lompat dan pergi menelusuri hutan tropis yang indah itu.
Sepanjang perjalanan, dia melihat-lihat pemandangan di sekitar yang hanya hutan lebat yang hijau. Namun, tidak beberapa lama, akhirnya dia melihat gubuk di atas bukit. Gubuk itu menjorok ke permukaan tebing. Letaknya sangat indah, namun sangat berbahaya. Gubuk itu terbuat dari kayu dan dengan atap jerami.
Ada jendela di sana, dan juga seorang nenek tua yang sedang menikmati pemandangan. Ketika namila melihatnya, nenek itu sudah kembali ke dalam.
Namila melompat-lompat ke atas tebing dan berjalan-jalan. Pohon pinus yang berbunga ungu lebat ada di halaman rumahnya. Beberapa buah-buahnya berjatuhan. Di sana juga ada tempat duduk. Namila mengetuk pintu beberapa kali, hingga suara seorang berjalan ke luar.
__ADS_1
Ketukan lantai terdengar dari lantai kayu di gubuk tersebut. Suaranya semakin mendekat. Lalu, ketika terdiam, perlahan-lahan pintu kayu yang indah itu terbuka secara perlahan-lahan. Seorang nenek, memakai kain batik dan selendang muncul dari balik pintu. Rambutnya beruban, keriput-keriput terlihat di wajahnya. Dia berjalan sedikit membungkuk seraya memegang tongkat kayu sebagai penyanggah tubuhnya yang tua dan rapuh itu. Dia memakai kebaya yang lusuh dan sudah lama, kain batiknya juga.
Nenek itu tersenyum setelah melihat gadis cantik di depannya. Dia mengangguk beberapa kali sembari melihat tubuh namila.
Namila hanya bisa terdiam, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh wanita tua asing di depannya.
“nenek sudah lama menunggumu!” seru wanita tersebut. Dia lalu menarik tangan namila, membuatnya dengan paksa mendekati wanita itu. Dia dapat mencium bau khas dari wanita tersebut; bau yang selalu wanita tua miliki.
Tok!
Dengan mengetok lantai di bawahnya, perlahan-lahan seluruh ruangan yang ada di sekitar Namila memudar. Keris-keris dan aneka wayang yang berada di dinding juga ikut memudar. Selain itu, yang paling menarik perhatian namila, saat nenek itu membuka pintu, adalah lukisan yang berada jauh di ujung.
Lukisan itu sangat besar. Di sana ada seorang wanita telanjang tengah mandi. Dia menghadap ke belakang dan memperlihatkan punggungnya yang besar dan putih. Di tengah -tengah punggung ada rambut hitam legam yang sangat terawan. Dia menoleh ke depan, memperlihatkan wajah oval yang sempurna.
Hidungnya mancung, sepasang alis yang tajam dan indah, mata yang jernih dan mengandung keberanian yang tinggi. Setengah punggungnya di balut kain batih merah muda yang indah.
Pemandangan di belakang juga tidak kalah indah. Ada deretan pegunungan dengan kabut tipis menghiasi. Cahaya oranye datang dari sana dengan indah.
Setelah beberapa saat, akhirnya warna putih itu samar-samar menghilang, Namila kini berada di gua. Sebuah gua yang gelap, namun masih bisa melihat. Gua itu di hiasi bebatuan hitam dan lumut-lumut hijau yang indah. Beberapa bunga putih juga ada di sana. Tetesan-tetesan air bergema di gua tersebut, seperti musik penyambut namila dan nenek itu
Sebelum sempat dia bertanya, nenek itu langsung menariknya.
Ekspresi serius terlihat di wajah nenek itu, seolah ada sesuatu yang penting dan tergesa-gesa.
Namila ingin bertanya, namun nenek itu langsung menoleh ke arahnya dan memperlihatkan ekspresi tidak senang dan sangat dingin. Namila memalingkan wajahnya. Dia merasa merinding setelah melihat wajah nenek itu.
Akhirnya mereka tiba di sebuah danau yang jernih dengan lubang di atas. Cahaya matahari masuk tanpa halangan dari sana, dan menyentuh air yang biru nan jernih di sana. Jika kamu berada di sana, kamu akan melihat betapa indah dan cantiknya pemandangan di sana.
Di atas danau tersebut ada seorang gadis telanjang bulat dengan beberapa selendang merah menyelimutinya. Selendang itu terpaku pada di dinding sekitar, Seolah sedang mengurung gadis itu.
Wajahnya tidak terlihat karena dia menunduk dan di tutupi rambut peraknya yang berkilauan. Namun, dengan tubuh mungil dan indah tanpa goresan sedikit pun, orang akan tahu dia gadis yang cantik.
‘apa itu jiwa Azka?’ batin namila setelah nenek yang memegang tangannya berhenti di pinggir danau.
Nenek itu melepaskan tangannya.
Dengan wajah sopan dan penuh hormat, nenek itu berkata kepada gadis di atas danau tersebut, “Nona, aku sudah membawanya kesini.”
__ADS_1
“bagus.” Suara yang berat dan penuh kebencian terucap dari mulut gadis di atas danau tersebut. “bagus, bagus. Setelah penantian beberapa tahun, akhirnya aku mendapatkannya. Nenek tua kerja Bagus!” saat dia berkata ‘nenek tua' dia dengan cepat mengangkat kepalanya.
Dari rambutnya yang perak, terlihat mata merah seperti tidak pernah tidur. Namila yang melihatnya merasa ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi.