
Plak!
“kenapa kau berkata seperti itu!” Hoshi memukul meja dengan keras, menahan amarah yang memuncak. Dia pikir aoba sudah mengetahui simo akan pergi ke pulau sijiriah dan menyiapkan mata-mata untuk mengawasinya, tapi ternyata tidak.
Awalnya dia berharap aoba akan mengatakan semuanya baik-baik saja, tapi ternya hanya ‘tidak’ yang keluar dari mulutnya. Apalagi dia terlihat tenang saja, tanpa menyiapkan apa pun. Dia juga tidak khawatir sedikit pun.
hoshi ingin bersikap sopan dan menjaga tingkah lakukan, tapi setelah mendengar itu, dia tidak bisa menahan amarah dan kekesalannya, sehingga meja di depannya yang tidak salah apa-apa menjadi sasaran amarahnya.
“Kau juga, kenapa tidak mengirimkan penjaga untuk cucumu?” Tanya aoba seraya memandang keluar jendela yang terlihat buih-buih hujan menyentuh kaca dan bergerak-gerak. Dia berkata dengan tenang, seperti tidak terpengaruh oleh amarah Hoshi yang sedang memuncak, padahal dia mengetahui apa yang akan terjadi jika Hoshi marah.
Selain itu, kedua matanya seperti terlihat sangat menikmati gerakan-gerakan buih-buih air, juga seperti tidak mendengarkan amarah dan kata-kata Hoshi lontarkan. Dia seperti tidak memiliki telinga!
“Aku sudah memberikannya sebuah benda untuk berjaga-jaga.” Jawab Hoshi menahan amarah dan menurunkan nada bicaranya. Dia sadar amarah tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya akan memperburuk situasi.
Selain itu, Hoshi tahu situasi seperti ini harus di selesaikan dengan kepala dingin.
Aoba berbalik, kemudian menyentuh bahu hoshi. “Tenang saja, dia akan baik-baik saja. Seorang yang hebat pasti terlahir dari sesuatu yang sulit.”
“Aku tahu, tapi kau terlalu tenang. Seharusnya kau mengirim seseorang untuk mengawasinya saja dan bergerak jika itu sangat di perlukan.”
Sebagai seorang kakek, Hoshi sangat berpengalaman dalam melakukan penjagaan, sebab dia selalu melakukannya saat Namila ingin kabur dari rumah. Meski beberapa kali jobol oleh kecerdikan Namila, tetap saja dia berpengalaman.
“tenanglah, aku sangat percaya dengan cucuku.” Ucap aoba dengan percaya diri.
“tapi....”
“Sudahlah, kau pulang saja, jika terjadi sesuatu dengannya kau bisa menghukumku.” Ucap aoba dengan tenang dan memberikan janji kepada Hoshi.
“aku ingat itu.” Terima hoshi tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi setelah melihat kepercayaan diri di mata aoba sangat tinggi.
Hoshi langsung saja pergi dengan kasar.
...****...
“kaisar pedang beberapa lama lagi aku bisa mengusainya?” Tanya simo seraya mengayunkan pedangnya ke segala arah sesuai instruksi kaisar pedang. Dia melakukan beberapa gerakan yang aneh. Setiap gerak yang dia lakukan, itu membuat hempasan angin di sekitarnya.
Simo sekarang berada di alam mimpi, tepatnya berada di bawah pohon besar dengan Padang rumput yang luas.
Jika setiap orang berada di sana, akan melihat hamparan savana tanpa ujung.
Sebelum masuk ke alam mimpi, dia sudah memerintahkan kaisar pedang untuk mengawasi pergerakan yang ada di luar. Awalnya dia menolak, tapi setelah simo mengancam akan membuangnya, akhirnya dia luluh dan menerima perintahnya.
Dengan begitu, simo tidak akan lagi khawatir dengan keselamatan jauzan yang sedang tidur di luar.
“mungkin beberapa bulan lagi.” Jawab kaisar pedang seraya bersila menyaksikan latihan Simo. Dia tersenyum melihat kemajuan simo yang terbilang cepat. Sejak kecil, kaisar pedang sangat menginginkan seorang siswa, entah itu hebat ataupun tidak yang pasti dia ingin sekali memiliki seorang siswa.
Awalnya dia sangat terpukul dengan kekalahan melawan aliansi kaisar yang kuat dan merasa tidak pernah memiliki siswa sesuai apa yang di inginkan.
Namun sepertinya tuhan mengabulkannya, dia akhirnya bertemu dengan Sakya, tapi ternyata dia hanya memanfaatkan aura pembunuhnya untuk bertarung, tanpa mengindahkannya.
Dia lagi-lagi terpukul dan bersedih, tapi lagi-lagi keberuntungan menghampirinya, dia akhirnya bertemu siswa yang baik. Apalagi dia sangat hebat.
__ADS_1
Tidak beberapa lama alis kaisar pedang merajut setelah merasakan ada dua orang yang mendekat dan sepertinya memiliki niat jahat, dia dengan cepat menyuruh simo kembali ke alam nyata.
“apakah mereka kuat?” tanya simo menghentikan latihannya dan mendekati kaisar pedang.
“Tidak, tapi kau juga harus berhati-hati dengannya dan jangan lupa kembali hidup-hidup, aku tidak ingin muridku mati.”
“Sejak kap...”
“sudah-sudah mereka sudah semakin dekat dan sedang ingin membunuh temanmu.”
“ah, benarkah.” Simo langsung menghilang.
“huh, hampir saja.”
...*****...
“kenapa tidak ada orang?” gumam simo seraya menyebarkan pandangannya ke sekeliling yang tidak ada pergerakan apa pun. Jauzan juga masih tertidur.
“apa kau mencari kami.”
Simo menengadah, tiba-tiba suman muncul dan mengayunkan pedangnya. Simo secara refleks menggulingkan tubuhnya beberapa meter dan menarik pedangnya.
“Temanku bisakah kau memberikan temanmu itu? Setelah itu kau boleh pergi tanpa repot-repot bertarung. Bagaimana?” tanya suman seraya menunjuk jauzan dengan pedangnya.
“heh, maaf aku bukan orang seperti itu.” Jawab simo tanpa berpikir.
“oh, kau tidak mau. Kak.”
Sam muncul dan mendarat di samping sumam.
Sam tersenyum, lalu mengangguk dan perlahan-lahan menarik pedangnya.
“serahkan saja kepadaku.”
Sam melesat seraya membentangkan pedang panjangnya.
“dengan begini aku bi....”
Bomm!!
Sebelum suman menyelesaikan kata-katanya sam terpental beberapa meter, lalu menabrak batu dan mengeluarkan seteguk darah segar. Dapat di pastikan beberapa tulang punggungnya retak.
“bagaimana bisa?” suman berlari membantu kakaknya.
“maaf aku tidak bisa mengalahkannya.”
“bagaimana bisa?” tanya suman yang tidak percaya kakaknya kalah tidak sampai satu detik. Apalagi jika itu adalah siswa baru masuk beberapa hari saja.
Simo hanya tersenyum melihat adegan itu. Baginya sumam maupun sam tidak ada artinya sekarang. Apalagi dia berada di tingkat bumi tahap empat sedangkan suman dan sam masing-masing hanya ada di tingkat fisik, itu sudah memperlihatkan perbedaan yang jelas dan juga di tambah beberapa teknik pedang yang simo kuasa, itu menambah jarak yang lebih jauh.
“apa kalian ingin maju lagi?” tanya simo seraya mengarahkan pedangnya.
__ADS_1
“Aku akan...”
Sebelum suman menyelesaikan kata-katanya, sam menggelengkan kepalanya pelan, bertanda tidak usah mencari gara-gara.
“Kenapa kak? kita bisa melawannya bersama-sama. Apa kakak lupa, kita sudah mencari-carinya dan menunggu waktu yang tepat. Kakak tidak ingin kan kita mencari kesempatan lagi?”
“ukh...ukh.... ukh.... Kita lakukan lain kali saja. Meski kita berdua melawannya, kita tidak akan bisa mengalahkannya. Lebih baik kita mundur saja.” Jawab sam dengan lirih. Walau hanya baru bertarung tidak lebih sedetik saja, itu sudah memberikan dampak yang besar bagi tumbuhnya.
“Baiklah, kak” jawab Suman terpaksa, lalu memandang tajam simo dan mengepalkan tangannya erat-erat.
“lihat saja nanti aku pasti akan membunuhmu!” ujar Suman sebelum akhirnya pergi.
Simo menarik nafas. “mengganggu saja.”
“Kenapa kau bisa ada di sini!?” saat simo berbalik, jauzan sudah berada di belakangnya dan membuatnya sedikit terkejut, lalu bertanya-tanya apakah suman dan sam lari, karena melihat jauzan.
“maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa tidur lagi dan juga waktu tidurku sudah habis, sekarang kau yang tidur aku akan menjagamu. Apakah ada monster yang mendekat?”
“tidak ada monster yang mendekat sepertinya para monster sedang tidur .” Jawab simo apa adanya.
Jauzan tidak melanjutkan pembicaraan, dia sebaliknya mendekati bekas api unggun dan memerintahkan simo untuk menyalahkan. Setelah menyalakannya, jauzan memintanya untuk tidur, tapi simo menolaknya dengan tegas dan mengatakan dia tidak ingin tidur.
“apa kau bodoh, lihatnya kau sudah kelelahan, jika kau tidak tidur, maka kau hanya akan menjadi beban untuk besok!” Ujar jauzan yang sedikit marah.
“tidak mungkin, aku masih bisa kok, seharusnya kau yang tidur. Aku masih kuat, apa kau tidak lihat, aku bisa mengalahkan sam dalam beberapa detik.” Simo tidak mau mengalah.
“tidur.”
“tidak.” jawab simo.
Mendengar itu, jauzan menghela nafas kesal, lalu berkata, “baiklah, jika itu yang kau mau. Lagi pula apa hak ku untuk menyuruhmu tidur.”
Setelah itu, mereka duduk berseberangan dengan api unggun berada di tengah-tengah seolah-olah api unggun itulah yang menjadi pembatas merek berdua.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya ada suara api melahap kayu bakar hingga habis sampai akhir jauzan bertanya apakah kedatangan sam dan suman karena dirinya.
Simo mengangguk. “ iya, tapi tenang saja aku sudah membereskannya.”
“Begitu ya, aku pikir ada hal lain selain itu.” Ucap jauzan.
...*****...
keesokkan harinya, simo dan jauzan memutuskan untuk mencari monster yang lebih kuat sesuai rencana yang telah di sepakati. Mereka mulai menelusuri hutan yang lebih dalam.
Semakin dalam mereka masuk, Semakin tinggi, besar pohon-pohon di sana dan juga semakin mengecil cahaya-cahaya matahari yang lolos, sehingga membuat mereka semakin kedinginan.
Jauzan sudah memprediksi suhu dingin dan sebelum pergi, dia sudah menyiapkan ramuan penghangat jadi dia tidak perlu khawatir dengan suhu yang lebih dingin.
Dia juga memberikannya kepada simo. Simo dengan senang hati menerimanya. Apalagi dia sangat membutuhkannya.
Setelah beberapa jam berjalan, suara-suara monster terdengar dari beberapa arah, sehingga simo ingin memeriksanya, tapi sebelum itu, Jauzan menghentikannya dan menyarankan untuk mencarinya di sekitar lembah, karena di sana bisanya ada monster-monster kuat sesuai dengan apa yang di harapkan simo. Apalagi jarak dari tempatnya sekarang sudah dekat dari tempatnya berdiri sekarang.
__ADS_1
Tanpa banyak berpikir, simo menyetujuinya begitu saja, tanpa pertimbangan. Baginya apa yang dikatakan jauzan ada benarnya. Selain itu, dia juga selalu membaca buku, pasti memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas.
“ apakah ini lembah yang kau katakan?”