Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 8 istana part 2


__ADS_3

Ya! Safia yang setengah mengantuk menarik-narik celana simo. Gadis ini muncul seperti hantu. Dia mengusap-usap kedua matanya dan sesekali menguap karena mengantuk. Entah bagaimana bisa dia berjalan dengan kondisi seperti ini, apalagi di malam hari.


“Ayah ... Aku ingin tidur dengan ayah.” Setelah mengatakan itu Dia lagi-lagi mengusap-usap kedua matanya yang mengantuk.


Simo langsung mengangkatnya dan menggendong di depan. Tidak beberapa lama, Safia tertidur lelap. Suara nafasnya sangat imut dan lembut. Simo tersenyum memandangnya. Ada rasa bahagia melihatnya seperti ini. Entah mengapa dia merasa demikian. walaupun Safia bukan anak kandungnya, perlahan-lahan tapi pasti, ada ikatan yang tumbuh di antara mereka.


“apa gadis itu tidak menanyakan orang tuanya?” Tanya Dira membuat simo mengalihkan pandangannya.


“Tidak. Ibu pasti merasa aneh bukan? Aku juga. Dia selalu memanggilku ayah, bahkan untuk pertama kali aku bertemu dengannya.”


“Jika itu anakmu, maka ibu bisa menganggapnya cucu bukan?”


“tentu saja ibu.”


“ayah .... aku kedinginan.” Tiba-tiba Safia berceloteh.


“cepatlah pergi. Anakmu sudah kedinginan.”


Simo mengangguk lalu pergi meninggalkan Dira sendiri. Dia ingin lebih lama bersama ibunya, akan tetapi dia juga tidak akan membiarkan Safia kedinginan.


Setelah beberapa saat putri Dhiya kahrya datang. Dia memandang lama bibinya. Rasa bersalah dan menyesal karena telah pergi diam-diam muncul di hatinya. Dia yakin, pasti bibinya khawatir dengannya, bahkan ibunya pun tersiksa karena kehilangannya. Dia gadis yang nakal dan egois.


Dengan bibir yang sedikit gemetar, dia berkata, “bibi ...”


Dira perlahan-lahan menoleh. Dia tersenyum dan berkata, “ah, putri Dhiya kahrya, kenapa anda di sini. Ayo kita ke dalam, di luar dingin.”


Sebelum dira menghampirinya, putri Dhiya kahrya langsung berlari dan memeluknya. Dia menangis dan meminta maaf karena telah membuat bibi dan ibunya khawatir. Dia tidak ingin melakukan itu, dia hanya ingin bersama bibinya. Ingin mengetahui ke mana bibinya pergi.


Walaupun putri Dhiya kahrya masih muda, dia selalu belajar menjadi gadis yang baik sejak dini. Di istana ada peraturan etika dan sikap yang harus di patuhi. Oleh karena itu, sikapnya lebih cepat dewasa.


Dira tersenyum seraya mengelus-elus rambut hitam gadis itu. Dia membiarkan air matanya mengalir deras membasahi bahu. Dia tahu, gadis sepertinya harus di perlakukan seperti itu, bukan di marahi, tapi di beri petunjuk. Gadis seusianya, memang memiliki sikap rasa ingin tahu yang tinggi.


...****************...

__ADS_1


Di sebuah penjara yang terisolasi, terlihat seorang wanita duduk di dalam jeruji besi. Dia duduk dan memandang ke depan. Mungkin sedang menunggu seseorang.


Wanita itu terlihat kotor dan berantakan. Rambutnya kusut, dan wajahnya sedikit pucat.


Di sampingnya, tidak ada tetangga, hanya ada jeruji besi yang kosong. Membuatnya lebih terisolasi dan kesepian. Meski ada beberapa penjaga di luar, penjaga itu tidak mau berbicara dengannya, mereka hanya tetap melaksanakan tugas masing-masing.


Jika setiap pagi, mereka menyodorkan makan dan minum lalu pergi tanpa berbicara sedikit pun. Kemudian, di siangnya pun begitu, hanya melakukan tugas.


“Kalian! Apa kalian tidak mau berkhianat?” tiba-tiba wanita itu mengangkat wajahnya. Wajahnya mengkerut dan sedikit memperlihatkan lekukan di dahinya.


Tidak ada Jawaban.


“dasar prajurit tidak berguna!” Gerutunya.


Tidak ada jawaban.


Wanita itu berhenti berteriak ketika mendengar suara langkah kaki banyak. Mereka mungkin tiga orang. Seorang pemuda berusia 12 tahun datang bersama dua pria kekar di belakangnya. Saat bertemu dengan penjaga, penjaga itu memberi hormat. Pemuda itu hanya mengangguk anggun.


Meskipun usianya 12 tahun, dia sudah seperti berumur 50 Tahunan, dan sangat anggun. Dia berjalan tegap. Tatapannya penuh tanda tanya ketika melihat-lihat jeruji besi yang kosong di sampingnya.


“Apa kau datang ingin mengejekku?” irina menatap tajam ke arah pemuda itu.


Benito tidak menjawab, ataupun tersenyum. Meski saat ini kondisi Irina tidak baik-baik saja, tidak ada hal lucu untuk di tertawakan dan di ejek. Sebaliknya dia prihatin dengan wanita yang dulunya sangat cantik kini mendekam di jeruji besi yang dingin itu.


“kenapa aku harus menertawakanmu bibi?”


“lalu ... Apa yang ingin kau katakan?” irina tetap duduk.


Benito lalu memandang salah satu penjaganya, mengisyaratkan untuk melakukan sesuatu.


Sejurus, pria kekar itu melesat dan membuat penjaga tidak sadarkan diri.


“bibi ... Sebentar lagi, aku akan membebaskanmu.”

__ADS_1


Tiba-tiba irina terkejut. “apa kau akan melakukannya sekarang?”


“tidak, tapi nanti setelah aku menjadi raja.”


“apa ini lelucon?” melawan dira yang memiliki kekuasaan saat ini rasanya sangat mustahil. Di tambah dia sekarang memiliki kekuatan, itu sungguh sangat sulit. Selain itu, bagaimana bisa pemuda di depannya bisa melakukan itu. Irina menebak cepat atau lambat pemuda di depannya akan berakhir di penjara


“Kau akan mengetahuinya nanti bibi.” Benito lalu pergi, meninggalkan tanda tanya besar di hati irina. Meski di tahu akan sulit, tentu saja belum bisa di katakan mustahil. Oleh karena itu, dia ingin mengetahui rencana Benito.


...****************...


Hangat. Simo merasakan tubuhnya di peluk. Sangat hangat dan nyaman. Dia perlahan-lahan membuka matanya. Kedua matanya membulat dan langsung berdiri.


‘s-siapa gadis ini?” simo terkejut melihat seorang gadis tidur di sampingnya. Bau harum langsung masuk ke dalam lubang hidungnya.


Gadis mungil di depannya tidur menghadap ke samping. Kedua tangan yang sebelumnya memeluk simo terlentang. Bahunya naik turun seiring dia bernafas. Karena merasa ada sesuatu yang bangun, gadis itu perlahan-lahan membuka matanya.


“oh, kau sudah bangun.” Suara malas terdengar, dan dia kembali tertidur setelah melihat wajah simo.


Simo langsung berdiri. Dia mandi, kemudian keluar menikmati pemandangan di balkon. Cahaya matahari bersinar terang dari ufuk timur, memberikan kehangatan baginya. Simo mulai memikirkan siapa gadis itu, dan mengapa dia yang tidur di tempat tidurnya.


Kemarin malam setelah membaringkan Safia dia memilih tidur terpisah dengannya. Bukannya dia tidak suka tidur dengan anaknya. Rasanya masih aneh jika tidur dengannya. Simo butuh waktu untuk terbiasa dengan Safia.


“Simo, lama tidak berjumpa.”


Gadis tadi tiba-tiba muncul dan berdiri di samping simo.


“Siapa kau?”


Gadis itu mengerutkan keningnya. Kemudian dengan tersenyum, dia menjawab, “ah, aku lupa. Namaku rina, teman waktu kecilmu di hutan peri.”


“rina?” simo bingung. Seingatnya, rina yang dia kenal seorang peri kecil bersayap biru. Tapi di depannya, kini seorang wanita berusia sekitar 20 tahun yang cantik. Rambutnya hitam panjang dan bergoyang-goyang. Selain itu, bagaimana mungkin peri bisa tumbuh sebesar ini.


“jangan dipikirkan, aku sudah berubah menjadi manusia.”

__ADS_1


“Bagaimana bisa seperti itu?” simo tidak punya alasan yang baik untuk mempercayainya. Meski dia tidak pernah mengetahui hal itu, tapi jika di pikir-pikir itu sulit terjadi.


Rina tersenyum nakal. Dia meletakkan telunjuknya di depan bibir dan berkata ‘rahasia’ kemudian tersenyum manis. Senyuman yang membuat siapa saja tertegun sejenak karena kecantikannya. Senyumannya itu mengandung gula yang manis, atau bahkan lebih manis dari gula itu sendiri


__ADS_2