Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 25 gunung berapi


__ADS_3

Bagus, dengan seperti ini, semuanya akan menjadi lebih mudah.”


Simo menggandeng tangan Naria yang membuat wajahnya memerah, kemudian memegang tangan Safia.


Simo memejamkan mata dan di ikuti oleh Safia dan Naria.


Lalu kekuatan energi alam keluar dari tubuh Safia dan putri Naria.


Energi itu menyelubungi tubuh mereka dan perlahan-lahan masuk ke dalam tubuh simo melalui tangan mereka.


Simo memegang erat tangan Safia dan Naria. Dia mengerutkan kening karena proses perpindahan energi sangat sakit. Bahkan dia harus menekan giginya karena sakit yang luar biasa.


Naria dan rina yang melihat ekspresi simo merasa khawatir, namun mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk saat ini.


Sejenak kemudian, akhirnya prosesnya selesai. Simo melepaskan tangan Safia dan Naria.


Simo lalu menginstruksikan rina untuk menjauh.


Walaupun kesulitan untuk mendengar, rina dapat mengerti dan menjauh.


Simo melompat mundur, menjaga jarak, dan di ikuti yang lainnya.


Simo memperagakan sedang memegang busur dan anak panah.


Dia menggunakan pedangnya sebagai anak panah. Perlahan-lahan api biru muncul dan membentuk busur yang sudah di tarik.


Aura hitam, merah, putih dan biru bercampur aduk di bilah pedang simo.


Setelah menargetkan beberapa saat, dia akhirnya melepaskannya, membuat pedang itu meluncur cepat. Siulan angin terdengar ketika pedang itu melesat.


Ledakan pun terjadi. Angin seperti di pentalkan ketika pedang itu menyentuh dinding perisai.


Awalnya simo pikir tidak bisa menembusnya, tapi setelah beberapa saat, pedangnya akhirnya bisa membuat retakan di sana.


Semakin besar dan membesar sebelum akhirnya hancur.


Ledakan kaca bergema di udara. Perisai itu samar-samar menghilang dan akhirnya tidak tersisa.


Simo langsung menarik pedang ke arah sisinya.


Ini belum selesai, simo menduga pasti akan ada penyergapan setelah ini.


“hahahaha! Benar-benar pertunjukan yang memukau!”


Benar saja, apa yang di perkirakan simo. Orang yang sama seperti pria sebelumnya datang. Mereka berjumlah dua orang. Masing-masing membawa pedang di tangannya.


Tanpa mempedulikannya, simo langsung melesat, menarik tangan Naria dan Safia, lalu membawanya pergi.


“Ingin kabur? Maaf tidak bisa!”

__ADS_1


Dia tahu tidak mudah untuk melawan pria itu. Rencananya yang dia lakukan ini adalah langkah awal dari rencana yang akan dia lakukan. Simo akan pergi sejauh mungkin untuk memancing dua orang itu.


Alasan dia menghancurkan perisai itu tidak lain karena ingin membebaskan orang-orang dan mengalihkan perhatian dua orang yang sedang mengejarnya.


Dia yakin, rina akan pergi mencari bantuan untuk mereka.


Tapi sayangnya, hal yang tidak simo ketahui adalah semua prajurit menjadi pemberontak dan begitu pun penjaga keamanan. Mungkin ada yang tidak bergabung tapi kemungkinannya kecil.


Simo berlari dengan sekuat tenaga yang dia bisa.


Terus menjauh ke dalam hutan.


Naria dan Safia yang mengerti situasinya, tidak berkata apa-apa. Mereka berusaha terus berlari, Meski tubuh mereka sangat kelelahan.


Tapi kedua pria itu bergerak cepat dan menghadang mereka dari samping dan depan.


Simo ingin bergerak ke samping, namun dua pria itu membuat dinding-dinding yang tebal melingkari mereka.


“Hehehe! Ke mana kau akan pergi?” salah satu pria berkata dengan bangga.


Simo mengerutkan kening, dan mencari-cari cara untuk pergi dari kejaran ini.


Dia tentu saja tidak bisa bertarung hari ini, karena kekuatannya sudah terkuras, maka Simo memutuskan untuk meminta saran kaisar pedang.


Kaisar pedang menggelengkan pelan dan mengatakan tidak bisa membatu simo hari ini, karena dia juga ikut serta dalam penyerangan simo dan membantunya melawan pria itu.


“simo, apa yang harus kita lakukan?” tanya Naria dengan wajah khawatir.


Simo hanya bisa mendengar suara angin yang membuatnya kecewa.


“Benar yang di katakan orang itu, kau ternyata menang berbakat. Aku jadi tidak tega membunuhmu, tapi karena ini adalah perintahnya, aku tidak bisa melakukan apa-apa.”


“anak muda! Bersiaplah untuk mati!” pria itu memutar pedangnya kemudian melesat mengarahkan pedangnya ke depan.


Pria yang ada di belakang, juga ikut bergerak menerjang simo.


Simo tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dia pikir dengan pergi ke hutan akan bertemu dengan hewan buas untuk menyulitkan dua orang di depannya, tapi sepertinya alam tidak mendukungnya saat ini.


Simo menekan giginya karena kesal. Dia dengan cepat menghempaskan Safia dan putri Naria di sampingnya menjauh.


Putri Naria berteriak, dia tidak menyangka simo akan mengorbankan dirinya sendiri seperti ini.


“Jangan memaksakan diri lagi! Ayo kesini!”


Seberapa cepat simo bergerak, dia tidak akan bisa menghindari dua serangan dan menyamai kecepatan dua orang di depannya ini.


Putri Naria berteriak dan berusaha berlari, dan begitu pun dengan Safia.


Tetapi jarak mereka terlalu jauh untuk menjangkau simo.

__ADS_1


Tepat ketika pedang itu menyentuh simo, aura putih mengelilinginya dan membuat dua orang yang menyerang tiba-tiba terpental.


“apa yang terjadi?” gumam salah satunya sambil menyeimbangkan tubuhnya.


Safia dan putri Naria bisa menghela nafas lega dan berkaca-kaca setelah melihat fenomena ini. Untung saja ada seseorang yang melindungi simo.


Walaupun terkejut, setidaknya simo bisa selamat dari dua orang di depannya.


Di depan simo, muncul seorang gadis cantik. Simo mengenalinya, dia tidak lain adalah gadis yang muncul dari mulut naga.


Tatapannya yang lembut gadis itu membuat siapa saja akan tenang berada di sampingnya.


“aku akan membantumu.”


Setelah mengatakan itu, gadis itu menghilang. Dia tidak peduli bagaimana reaksi simo.


Dua pria yang tadi menyerang simo menatap heran apa yang terjadi, dan siapa yang mengganggu mereka.


Namun perlahan-lahan, tatapannya menjadi terkejut. Tubuhnya seketika gemetar dan alisnya terangkat karena ketakutan.


Mereka tidak tahu siapa yang mengganggu mereka, tapi mereka tahu itu adalah orang yang sangat kuat.


Dengan tubuh gemetar, mereka berlari menjauh.


Tepat beberapa saat mereka berlari ke hutan terdengar suara jeritan kematian yang melengking dan mengerikan.


Simo menatap ke sumber suara dan tersenyum. Tidak peduli siapa dia, dia harus berterima kasih kepadanya setelah bertemu dengannya nanti.


Simo berjalan bersama Safia dan Naria.


Tidak beberapa lama, gadis itu muncul. Dia memandang lembut, seperti hamparan samudera yang tenang ada di dalam matanya.


“Terima kasih atas bantuannya,” ucap simo.


Gadis itu mengangguk. “pergi cari ibumu, dan serap kristal ini.” Wanita itu mengeluarkan kristal, “dengan ini, kau akan pulih dengan cepat. Sisanya serahkan kepadaku.”


Kristal itu melayang menuju simo, ketika mendarat di tangannya, dan hendak berterima kasih, gadis itu menghilang tiada jejak.


Simo tersenyum dan berterima kasih di dalam hatinya.


Setelah itu mereka berjalan-jalan.


...****************...


Pria itu membawa dira ke puncak gunung berapi. Dia sepertinya ingin membunuh dira.


Gunung berapi yang mereka kunjungi adalah gunung yang sangat dekat dengan kota.


Walaupun jaraknya tidak bisa di bilang dekat, dengan kereta kuda dan beberapa prajurit, mereka akhirnya mampu mencapainya.

__ADS_1


“dengan kau terjun ke sana, semua orang akan selamat, hahahaha!” pria itu mendorong dira dan pamannya ke pinggir lubang berapi.


__ADS_2