
Pangeran itu berbalik ketika simo sudah menjauh. Dia menjadi marah dan semakin membenci sosok simo. Dia akan berusaha keras untuk menghancurkannya.
Kedua alisnya berkerut karena marah. Dia bisa memerintahkan pria berotot menyerang simo dari belakang saat ini. Namun, dengan pendidikannya yang baik, dia tidak akan melakukan itu, yang hanya membuat reputasinya buruk.
“Tuan, apakah aku harus melawannya nanti?” tanya pria berotot dengan nada hormat. Namun sebenarnya, di dalam hatinya, dia takut berakhir seperti temannya itu. Kekuatan anak muda di depannya sangat mengerikan. Jika temannya bisa di taklukan seperti itu, berarti, dia memiliki kekuatan yang mengerikan.
Dia sekarang mengerti, mengapa aura kekuatan anak muda itu lebih lemah dari mereka dan mampu mengalahkan mereka berdua, itu tidak lain adalah pancingan yang mematikan.
Dalam peristiwa itu, dia menjadi sadar untuk tidak bertindak gegabah, meski sudah menjadi kuat.
Pangeran menghela nafas seolah sebagai simbol kekalahannya. “ kau tidak perlu melakukannya. Aku akan membayar setengah setelah apa yang kau dan rekanmu lakukan.” Pangeran mengeluarkan sekantong uang dan menyerahkannya. “Pergilah bersama rekanmu.”
Orang itu mengangguk dan melompat ke lantai bawah. Membawa temannya kemudian pergi.
“Sungguh sayang sekali!” rina tiba-tiba muncul di pintu dekat sana. Mungkin dia mendengar percakapan dan semua peristiwa yang terjadi.
Mendengar itu, wajah pangeran menjadi lebih tajam dan mengerutkan kening.
“Dasar pangeran tidak tahu diri! Bagaimana anda bisa membandingkan temanku dengan dua pria berotot jelek seperti itu. Pangeran, aku katakan, anda lebih buruk dari cacing yang tidak pernah menggali lubang keluar tanah. Meski cacing itu tidak pernah keluar, mereka setidaknya tahu jika di luar ada hujan dan merasa lembabnya tanah. Sungguh bodoh! Pangeran yang bodoh. Pergi sana, belajar kembali di sekolah, aku percaya, anda pasti sering bolos, atau mungkin menyuap para guru agar Anda tidak belajar.”
Mendengar itu, kemarahan lagi-lagi meluap di hati pangeran, namun dia tidak membalasnya.
“Mungkin anda memberikan uang kepada para guru itu agar mengikuti apa kehendak anda. Sungguh sayang sekali jika uang yang anda berikan berasal dari orang tua anda dan upeti yang telah di kumpulkan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana malunya jika aku berada di posisi anda. Sungguh memalukan.”
“Apakah kau datang hanya untuk berbicara omong kosong saja? Jika iya, aku harus pergi. Aku banyak pekerjaan yang harus aku lakukan.”
“Jika itu menurut anda, maka akan seperti itu. Tapi, bagiku, ini adalah hal yang menyenangkan. Tidak ada yang lebih menyenangkan melihat muka marah anda.”
“Maaf, aku tidak ada waktu.” Pangeran pergi melintasi rina dengan wajah acuh tak acuh.
Rina tersenyum puas melihat kepergian pangeran.
...****************...
Setelah pergi dari sana simo langsung pergi mencari Safia. Gadis itu tidak seperti biasanya, yang selalu bersamanya. Dia kini suka bermain dengan Delisa dan Putri Dhiya kharya. putri Dhiya selalu senang ketika Safia mengunjunginya. Dan Delisa juga cukup menyukai seorang gadis.
Hari ini tidak seperti biasanya mereka lakukan. Mereka pergi ke ibu kota melihat-lihat dan berbelanja.
__ADS_1
Setelah simo melangkah turun, Naria menghampirinya. Dia menjadi senang melihatnya.
“Simo, apa yang terjadi denganmu? Apakah pangeran matahari terbit mengganggumu?”
Simo mengangguk. “Hanya masalah kecil, aku bisa mengatasinya.”
“Aku percaya. Kau akan ke mana?”
“aku akan pergi ke kota mencari Safia. Dia pergi bersama Delisa dan Dhiya kharya. Aku tidak tahu, mengapa dia lebih sering bersama mereka.”
“Dia sudah besar. Seharusnya kau tahu itu. Dia sudah keluar dari sarangnya.”
“Kau benar.”
“kalau seperti itu, aku akan ikut. Aku juga sudah lama tidak melihatnya.”
Simo mengangguk. Ketika mulai melangkah, tiba-tiba suara keras muncul dari belakangnya.
“simo! Aku juga ikut, tunggu aku!”
Meski begitu, kecantikannya sangat terlihat dan terpancar. Orang-orang di sekitarnya tidak bisa tidak memandangnya. Wajah yang halus dan rambut yang berterbangan. Itu sungguh pemandangan yang sangat indah.
“Tunggu.... Aku.... Aku,.... Mau ikut. Boleh ‘kan?” Rina berkata sambil mengatur nafasnya. Dia memegang kedua lututnya dan sedikit berjongkok. Rambutnya sedikit acak-acakan.
Setelah beberapa saat, akhirnya dia bisa berdiri dan merapikan rambutnya.
Simo mengangguk sebagai tanggapan dia mengizinkannya.
“Baiklah, ayo kita berangkat!” Rina gembira dan langsung melingkar tangannya di lengan simo seperti sepasang kekasih.
Simo merasa tidak nyaman, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa. Jika dia menolaknya dan melarangnya, mungkin Rina akan kecewa dan sedih.
Sementara itu, Naria yang melihatnya, hanya tersenyum getir. Di hatinya muncul sedikit kecemburuan, namun dia berusaha menyembunyikannya. Bagaimana pun juga, dia percaya terhadap simo.
Meski suka melanggar janji, dia yakin, simo tidak akan mengkhianatinya.
Saat mereka hendak melangkah, tiba-tiba suara perempuan terdengar dari belakang.
__ADS_1
“Sudah menghancurkan salah satu koridor, kau ingin pergi begitu saja?”
Simo terkejut dan ketakutan ketika berbalik. Itu tidak lain adalah ibunya. Kali ini, ibunya pasti akan memarahinya.
“I-ibu.” Kedua alis simo menurun dan perlahan-lahan wajahnya sedikit pucat. Dia menunduk karena mengetahui dirinya bersalah.
Meski dia tidak sengaja melakukannya, tetap saja, dia ikut bersalah dalam melakukannya.
Dira menatap tajam ke arah mata simo, namun simo tidak berani memandangnya. Kedua tangan dira tersilang di depan. “Bisa kau jelaskan, mengapa koridor itu bisa hancur seperti itu?” ketika dira berkata seperti itu, dia menunjuk ke atas tepat di mana koridor itu hancur.
“I-ibu, itu karena aku di ganggu, oleh karena itu, aku melindungi diri. Namun tidak di sangka, aku terlalu mengeluarkan banyak tenaga.”
Ketika Rina mendengar simo memanggil dira ibu, dia sedikit terkejut, Namun tidak bereaksi sama sekali. Sementara Naria hanya bisa tersenyum. Ternyata, simo sangat takut dan patuh terhadap ibunya.
“Kenapa kau menunduk!? Cepat angkat wajahmu. Ini tidak seperti biasanya.”
Simo perlahan-lahan mengangkat wajahnya. “ibu, apa ibu, memaafkanku?”
“Kenapa ibu harus memaafkanmu? Dan kenapa juga harus menghukummu? Itu bukan salahmu. Sekarang, kau mau ke mana?” Dira memandang rina yang memegang lengan simo. “ Apakah ini yang kau katakan pacarmu?”
Simo ingin menjawab tidak, Namun rina tiba-tiba memotong, dan mengatakan, “Ya! Yang mulia, aku adalah pacarnya. Kami sudah lama saling mengenal.”
Mendengar itu, simo dan Naria terkejut.
Simo ingin berbicara untuk menjelaskannya, Namun dira mendahului, “oh, baiklah. Ternyata cantik juga. Kalian sangat serasi. Besok, kalian akan pergi ke akademi, aku ingin lihat seberapa kuat kemampuanmu simo.”
Meski dira sudah mengetahui kemampuan simo, dia tentunya belum mengetahui semua kemampuannya. Oleh karena itu, dia ingin memeriksa semua kekuatan simo.
Sementara itu, hati Naria seperti tersambar petir, jantung berdegup kencang. Perasaan yang aneh dan tidak bisa di ucapkan muncul tiba-tiba membuat suasana hatinya tiba-tiba sangat tidak baik.
Hal itu tidak lain pasti karena ucapan dira. Dira terlihat sangat menyukai Rina, dan dia seolah tidak ada di sana.
Ketika dia hendak pergi, simo menghentikannya.
“kau mau ke mana?”
“Terserah! Aku ingin pergi lebih awal!” Naria melepaskan tangan simo kasar dan pergi dari sana.
__ADS_1