Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 31 ibu lasmaya


__ADS_3

Dira tiba-tiba muncul di depan pria itu dengan anggun. Jarak mereka sekitar 10 meter. Walaupun tidak terlalu dekat, Pria itu menjadi sangat waspada dan sedikit ketakutan. Meski dia adalah pemimpin dari ratusan prajurit, dia tentu memiliki ketakutan melawan Dira.


Semuanya mengetahui kemampuan mengerikan dira, oleh karenanya wajar saja dia takut.


Memperlihatkan kelemahan di depan musuh adalah hal yang konyol, maka dia berusaha tidak memperlihatkannya.


Dira berdiri dengan anggun di udara. Angin yang menerpa gaunnya, membuatnya menari-nari adalah sesuatu yang menambah keanggunannya.


Dira mengangkat setengah tangannya. Akar-akar keluar dari telapak tangannya, memanjang dan melingkari tubuhnya, semakin panjang dan memanjang. Kemudian, akar-akar itu bercabang dan menari-nari.


Tanpa berkata sepatah kata pun, dia melambaikan tangan ke depan. Akar-akar itu melesat menyerang pria itu. Tentu saja, dengan kecepatannya, pria itu terkejut, tapi untungnya dia berhasil mengeluarkan pedang besarnya dan buru-buru melentangkannya di depan.


Suara dentingan pun terdengar, bersamaan dengan mundurnya Pria itu. Dia sedikit tanpa sadar menekan giginya. Dan merasakan sakit di kedua tangannya.


“Benar apa yang di rumor-rumor, ‘kan, sang ratu memang sangat kuat! Dengan satu serangan membuatku terlempar beberapa meter, memang layak mendapatkan gelar orang terkuat. Tapi sayang sekali! Kau harus mati hari ini!” Pria itu bersiul.


Kemudian 8 orang muncul dari kerumunan para prajurit, mereka berhenti di samping pria itu. Semuanya memegang senjata dan mengeluarkan semua kekuatan mereka untuk membuat musuhnya takut, tapi bagi dira ini hanya masalah kecil.


“ternyata kalian sudah mempersiapkannya dari awal. Baguslah, dengan kalian datang, aku tidak perlu membuang waktuku untuk mencari kalian. Bersiaplah untuk mati kalian semua!” Dira melambaikan tangannya ke depan.


Akar-akar bergerak cepat menerjang 8 orang itu.


“yang mulia ratu! Yang mati hari ini adalah kau bukan kami. Saudara-saudara! Kita perlihatkan kekuatan kita!” Pria itu melesat setelah mengatakan itu.


Dia mengeluarkan elemen angin untuk membuat pedangnya lebih kuat dan berusaha menyerang akar-akar itu dan bergerak mendekati Dira. Yang lainnya juga seperti itu; mereka juga bergerak maju untuk mematahkan serangan demi serangan yang datang.


“kalian terlalu percaya diri,” Gerutu Dira sambil melambaikan satu tangannya ke depan lagi. Akar-akar bergerak maju dan tambah banyak.


Menurut perkiraan dira mereka semua hanya tidak terlalu kuat. Asalkan mereka tidak bekerja sama untuk melawannya, Dira mempunyai peluang besar untuk menang.

__ADS_1


Sementara itu, di bawah, para prajurit mulai berhasil menghancurkan dinding-dinding yang di buat dira. Tentu saja para siswa dan guru tidak membiarkannya, meski mereka kelelahan; mereka menyerang para prajurit dengan sisa kekuatan yang ada.


“semuanya! Ayo kita berusaha sekuat tenaga! Yang mulia ratu sudah datang, kita pasti akan menang!” seru guru laki-laki memberi semangat bagi para siswa yang hampir menyerah.


Kilatan demi kilatan terlihat di dalam kota. Ledakan demi ledakan terus bergema. Di antara siswa yang hebat-hebat itu, ada siswa perempuan yang cantik dan sangat kuat. Dia dapat dengan mudah membunuh para prajurit. Jelas sekali dia adalah salah satu jenius.


Selain dia, ada juga yang lain, dia adalah seorang pria muda. Dengan kedua pedang petirnya dia menyusul gadis itu.


Hal ini membuat para siswa lainnya menjadi lebih bersemangat dan berusaha mengalahkan musuh-musuh mereka.


Di langit, pertarungan sengit terus terjadi. Dira tidak membiarkan orang-orang itu mendekatinya. Dia sengaja memisahkan mereka agar tidak bekerja sama. Akar-akar terus dia lontarkan dan sangat banyak. Seseorang dapat melihat sesuatu yang mengesankan terjadi di langit, tapi sayangnya tidak ada yang bisa menontonnya.


Di sisi lain, simo akhirnya kembali sadar. Dengan tubuhnya yang lemah, dia berdiri dan mengamati sekitarnya. Semua penduduk selamat, mereka hanya pingsan, termasuk rina.


Simo berdiri di bantu Naria. Gadis itu melukiskan senyuman tipis ketika menyadari pemuda di depannya ini telah sadar. Dia dengan lembut membantunya berdiri. Selain senang, dia juga merasa heran, bagaimana bisa pemuda di depannya bisa siuman dalam waktu singkat seperti itu.


Simo mengangguk.


“Ayah! Apa ayah ada yang sakit?”


“tidak.” Simo mengelus-elus rambut Safia, membuatnya tersenyum gembira. Simo tersenyum memperhatikan gadis di depannya. Dia tidak pernah menyangka, gadis di depan yang dulunya mengeluarkan aura mengerikan bisa menjadi sosok periang seperti ini. Dia mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi ketika waktu itu.


“Simo, kau jangan melakukan itu lagi.” Tiba-tiba Naria di samping simo berkata.


Simo mengangguk. “aku menjadi heran, kenapa kau bisa mengkhawatirkanku hingga seperti ini? Padahal kita baru bertemu beberapa kali.”


“apa salahnya!? Kau seharusnya bersyukur aku seorang gadis cantik memperhatikanmu. Huh! Dasar Pria tidak tahu untung!” Naria memalingkan wajahnya seolah dia sedang marah.


Simo tersenyum memperhatikan Naria yang merajuk di sampingnya. Dia ingin menikmati wajahnya di saat seperti ini. Dia sudah menemukan kekasihnya! Dia tidak lain adalah Naria. Walaupun dia tidak mempunyai bukti langsung mengenali dugaannya, dia yakin, tidak ada gadis lain yang memperhatikan dirinya hingga seperti ini selain Namila.

__ADS_1


“Kita harus pergi ke kota. Aku khawatir dengan keadaan ibu kota,” ucap simo, dia merasa khawatir dengan ibu kota. Instingnya merasa ada kekacauan yang sedang terjadi. Dia menduga pengurungan para penduduk bukan tanpa sebab.


“Kau itu keras kepala ya. Aku sudah bilang, kau jangan memaksakan diri. Aku tidak mengizinkanmu pergi! Tidak akan! Selain itu, kita harus menjaga para penduduk di sini. Siapa tahu nanti ada musuh yang datang dan membahayakan para penduduk,” seru Naria tidak setuju.


“Aku tahu. Oleh karena itu, aku harus memanggil temanku.” Simo mengeluarkan kerincingan dan menyembunyikannya.


Tidak lama kemudian muncul Lasmaya dan ibunya. Simo menduga Lasmaya membawa ibunya untuk berjaga-jaga. Mungkin saja dia belum pulih dari pertarungan sebelumnya.


“kakak, apa kakak menginginkan sesuatu?”


Simo mengangguk. “apa kau bisa menjaga para warga? Aku akan pergi ke pusat kota untuk memeriksa keadaan ke sana.”


“tentu saja kak, tapi... Aku tidak tahu seberapa lama aku bisa melakukannya, karena .....” Lasmaya menghentikan kata-katanya ketika ibunya memegang bahunya.


“Kita bertemu lagi, anak muda. Kau tampaknya sudah lebih kuat dari sebelumnya. Aku kagum melihat pencapaianmu.”


“Ah... Bibik bisa saja. Aku masih seperti dulu.” Jawab simo tidak tahu apa yang bisa dia jawab.


Safia dan Naria hanya bisa diam memperhatikan percakapan mereka. Mereka tidak tahu apa yang harus di bicarakan.


“Kau terlalu merendahkan diri,” jawab ibu Lasmaya. “Serahkan saja di sini kepadaku. Tidak akan ada yang berani mendekati ke sini, bahkan sejengkal sekali pun.”


“Ibu...” mendengar ucapan ibunya, Lasmaya tidak tahan memanggilnya.


“Dia sudah menolongmu, kenapa ibu tidak membantunya. Jangan pernah lupa, meski ibumu galak, ibumu tetap menepati janjinya.” Ibu Lasmaya mengusap-usap rambut anaknya.


“aku tahu. Ibu memang terbaik!”


“Kalian pergi lah dengan aman, tidak usah khawatir dengan di sini, serahkan saja kepada ibu dan anak ini,” suruh ibu Lasmaya setelah menatap anaknya

__ADS_1


__ADS_2