Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 17 namila


__ADS_3

“Jauzan sebenarnya seorang wanita, dia menyamar ketika tiba di akademi. Alasan dia menyamar, itu masih menjadi misteri. Dan satu lagi, teknik yang dia gunakan untuk menyamar sangat misterius. Aku tidak pernah mendengar teknik yang bisa menyamar seakurat itu, bahkan di akademi tidak ada satu pun yang mengetahuinya. Apakah kau tahu soal teknik itu?”


Thomi diam sejenak, mencermati semua memori yang dia punya, dan setelah beberapa saat menggelengkan kepalanya pelan, kemudian menjawab, “maaf aku tidak tahu, tapi sepertinya ini akan menarik jika di pelajari. Dengan menyamar menjadi orang lain pasti akan memudahkan kita menyelesaikan misi nanti.”


Talina mengangguk. “kau benar, tapi bagaimana caranya mengetahuinya? Aku malu dengannya.” Saat mengatakan itu, wajah Talina merah karena teringat dia pernah menyukai namila.


“Kenapa malu? Seharusnya aku yang malu. Kau seorang wanita, seharusnya bertanya seperti itu kepada namila, yang sama-sama wanita bukan masalah, kan?” Thomi tidak mengetahui apa yang di maksud Talina.


“Bukan begitu.”


“Lalu apa?”


“hanya tidak ingin.”


“Kenap bisa begitu!?” Ujar thomi tidak percaya dengan jawaban Talina.


“Kau tidak mengerti. Ayo kita ke sana, aku ingin bertemu dengan mereka.” Talina langsung menyeret thomi ke tempat simo dan namila berada.


Melihat itu, Thomi pun menyerah dengan sikap Talina yang aneh. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Talina bersikap seperti ini, dan wajahnya memerah seperti demam, walau begitu Thomi tidak mempermasalahkannya.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka tiba di tempat namila.


Namila yang menyadari itu, langsung tersenyum manis.


Thomi yang melihat senyuman itu seketika wajahnya memerah karena malu. Dia tidak menyangka namila bisa secantik itu jika di lihat dari dekat.


“apa kalian sudah bertarung?” tanya Namila gembira.


“Belum. Ngomong-ngomong apa kalian baik-baik saja?”


Namila mengangguk. “iya. Kami baik-baik saja dan untung saja tidak ketinggalan ujian.”


Simo mengangguk. Walau dia mengetahui Talina teman namila, dia tidak pernah dekat dengannya. Apalagi dengan Thomi. Oleh karena itu, dia hanya diam.


“apa yang kalian alami?”


Namila pun menceritakan semuanya dari awal. Mulai dari mereka terjun ke lembah monster, hingga terdampar di desa padang pasir.


Saat bercerita, Talina dan Thomi menyimaknya dengan baik.

__ADS_1


“Syukurlah Kalian bisa selamat, jika tidak, maka aku akan sangat bersedih.”


“Itu tidak akan terjadi. Kami pasti bisa melewatinya.” Kata namila yang seperti menyombongkan diri, tapi nadanya ceria seperti biasa-biasa saja. Oleh karena itu baik Talina maupun thomi tidak tersinggung.


“pasti kalian mempunyai pengalaman yang lebih banyak.”


“Tidak juga. Jika kami bisa memilih, maka kami akan memilih tidak mendapatkan musibah seperti itu lagi. Untung saja kami selamat, jika tidak, aku tidak bisa membayangkannya.”


Saat Talina hendak berbicara, Hendry menyebutkan nomor 20 dengan keras, yang di mana nomor itu tidak lain nomor namila.


Mendengar itu, namila mengangguk Kepada simo. Lalu menoleh ke arah Talina dan berkata, “kau harus mendukungku. Sebagai seorang yang pernah kau suka dan menjadi temanmu, kau tidak boleh tidak mendukungku.”


Mendengar itu, wajah Talina seketika memerah seperti kepiting rebus. Dengan keras dia berujar, “aku tidak menyukaimu! Lagi pula kita sama-sama perempuan, itu adalah salah satu bentuk ketidak normalan. Jangan mengatakan itu lagi, aku tidak menyukainya!”


Mendengar itu, namila terkekeh. “baiklah. Aku pergi dulu.”


Setelah mengatakan itu, seketika tubuh namila berubah menjadi butiran-butiran air dan menuju ke tengah lapangan. Itu menyita beberapa perhatian siswa.


Melihat namila sudah berubah 160 derajat, kedua sudut bibir simo tertarik. Dia tersenyum senang melihat orang di sukainya sudah lebih ramah dan ceria.


Berbalik dengan simo, Talina merasa kesal dengan namila dan ingin sekali memukulnya. Walaupun dia pernah menyukainya, bukan berarti dia tidak berani memarahinya.


Talina memperagakan beberapa gerakan aneh seraya berkata, “itu tidak mungkin. Aku ini normal. Memikirkannya saja aku tidak pernah.”


Saat tiba di lapangan, butiran-butiran air namila kemudian bersatu, membentuk tubuh air, sebelum akhirnya sepenuhnya berubah menjadi namila. Namila tersenyum manis setelah menyadari musuhnya sudah berada di depannya


Semua perhatian tertuju pada namila, ada yang terlihat mengaguminya, menyukainya, dan ada juga iri dan membencinya. Ini terutama terjadi pada para gadis. Walaupun namila Salah satu siswa tercantik di akademi, para siswa seolah melihat sesuatu yang berbeda dari gadis lainya.


Seorang laki-laki dengan rambut coklat pirang berdiri tidak jauh dari namila. Di tangannya sudah ada palu dengan panjang 5 meter dan berat 100 kg.


Melihat itu, tidak ada ekspresi takut sedikit pun di wajah namila. Sebaliknya dia tersenyum dan berharap musuh yang sekarang dia lawan bukan musuh yang lemah.


Sedangkan pemuda itu memperlihatkan ekspresi tajam seperti elang mengintai lawanya. Sepertinya pemuda ini sangat berhati-hati.


Di tempat para wali kelas, Klarika tersenyum. “akhirnya dia bertarung juga.”


Setelah mereka berdua memperkenalkan diri, wasit memulai pertarungan. Arlo langsung berlari dengan cepat. Walau dia tahu namila adalah siswa kelas c, dia tidak terlihat meremehkan, atau menurunkan pertahanannya.


Melihat musuhnya semakin mendekat, namila kemudian menggerakkan tangannya, seperti sedang membentuk sesuatu. Pancuran air beberapa meter muncul di belakang namila. Lalu melesat menyerang Arlo.

__ADS_1


Arlo mengeratkan pegangannya. Dengan keras dia berteriak, “aku pasti bisa melakukannya!”


“Hiyah....!”


Bomm!!!


Satu pukulan palu berhasil menghancurkan satu pancuran air. Walau begitu, kemenangan tetap menjadi milik namila. Kekuatan Arlo terkuras banyak ketika melancarkan serangannya. Oleh karena itu, dia tidak lagi menyerangnya, tapi berusaha menghindarinya. Arlo juga tidak menyangka gadis di depannya begitu kuat.


Arlo bergerak ke samping kanan dan kiri menghindar pancuran air itu. Sesekali dia melompat dan berjalan di pancuran itu. Tapi sayangnya ketika hendak sampai di depan namila, sebuah tangan air muncul dan ingin menangkapnya.


Arlo secara refleks langsung melempar palunya, sedangkan dirinya melompat ke belakang.


Ledakan pun kembali terjadi. Meski awalnya telapak tangan air itu hancur, namun itu kembali beregenerasi dengan cepat, lalu dengan kecepatan yang bertambah ingin menangkap Arlo.


“Aku pasti bisa melakukannya!”


Arlo dengan sekuat tenaganya melontarkan pukulannya. Jika bukan karena dia terdesak, mungkin saja tidak akan melakukan itu.


Namila yang melihatnya, tersenyum. Dan dengan dingin berkata, “lemah.”


Bomm!!!


Di udara, setelah berhasil melontarkan pukulannya, tangan air itu berhasil menggenggam Arlo, seketika tangan itu hancur lalu jatuh. Perlahan-lahan tapi pasti, Arlo jatuh dan tidak sadarkan diri.


Sebelum menyentuh tanah, namila menyelamatkannya dengan tentakel air, kemudian dengan dingin kembali ke tempatnya.


Simo sedikit bingung dengan sikap namila, dia seolah sudah berubah tapi juga belum. Ekspresi dinginnya masih terlihat. Tapi simo senang namila berhasil memenangkan pertandingan tanpa kesulitan yang berarti.


“ternyata Namila begitu kuat.” Gumam Talina.


“kau benar, tapi ini terlalu awal untuk menunjukkan kekuatannya.” Kata simo dengan nada serius.


“tapi bukankan kah dengan menunjukkannya akan membuat musuh takut?”


“iya. untuk orang yang bodoh, tapi jika ada orang yang pintar, dia akan mengamati namila dengan cermat, dan akan mencari celah untuk mengalahkannya.”


Talina tidak berkata lagi. Dia memikirkan apa yang di katakan simo. Setelah sekian detik, Talina mengangguk, “kau benar, tapi akan berbeda jadinya, jika namila memiliki teknik kuat yang menjadi kartu asnya, dan itu tidak pernah dia perlihatkan selama pertarungan. Musuh pasti akan menganggap namila memiliki beberapa teknik kuat, jika namila terus menggunakannya, dan tentu saja ada lagi teknik yang lebih kuat, sehingga itu membuat musuh terkejut.”


“kau benar, tapi tidak sepenuhnya benar. Jika teknik yang musuh gunakan itu mampu melawan teknik terkuat itu dan Teknik terkuat itu tidak bisa menahannya, maka berakhirlah sudah pertarungan.”

__ADS_1


Mendengar itu, Talina kembali memutar otaknya untuk mencernanya. Setelah beberapa saat mengangguk. “kau benar.”


__ADS_2