
Matahari sekarang sudah berada di puncaknya. Cahaya yang menyengat kini tertutupi oleh kawanan awan hitam keabu-abuan. Beberapa kali terlihat petir merambat ke sana sini menimbulkan suara gaduh di siang hari. Tidak kalah. Angin kecam berembus ke selatan. Angin itu memiliki kecepatan tinggi, tidak salah membuat beberapa pohon langsing bergoyang-goyang dan beberapa juga sudah tumbang karena tidak kuat menahannya.
“Sebentar lagi akan hujan.” Gumam Rina menatap kumpulan awan hitam di langit dengan lirih dan wajah yang redup seolah cahayanya menghilang. Jelas sekali Rina takut dengan badai yang akan datang; badai yang akan membawa petir yang menggelegar. Sejak kecil Rina sangat takut badai, bukan tanpa alasan. Saat dia berusia 6 tahun, dia mendapatkan pengalaman buruk yang melekat hingga saat ini. Pengalaman saat dia hampir tersambar petir, meskipun hampir saja, itu membuat Rina sangat ketakutan dengan petir, mulai hari itu dia menghindari petir, biasanya jika ada petir dia akan langsung masuk ke dalam rumah lalu menenggelamkan wajahnya dalam selimut tebal.
Sekarang Rina berada di hutan, duduk di atas batu. meskipun ada angin kencang, itu tidak mempengaruhi hutan sedikit pun bahkan angin di hutan sama seperti biasanya dan tentu karena hutan peri bukan hutan sembarangan. Hutan peri Memiliki pertahanan di luar dan selalu menahan serangan dari luar, tapi serangan itu hanya berupa serangan yang tidak terlalu kuat.
Tidak jauh dari Rina berada, Lia sedang mengamati Rina yang ketakutan seraya memandang langit yang akan memuntahkan ribuan liter-liter airnya.
Lia mendekati Rina lalu menyentuh bahunya dan duduk di sampingnya.
“tenang saja, kau akan aman, sebentar lagi kita akan berlindung. sebentar lagi simo juga akan menyelesaikan penyerapannya.” Kata Lia.
Mendengar itu rina hanya mengangguk lalu kembali memandang langit.
Tidak jauh dari mereka berdua. Simo sedang bermeditasi di atas batu. Di depan kepalanya melayang krista hijau pemberian ratu peri yang tidak henti-hentinya berputar dan menyalurkan energi hijau ke dalam kepala simo, sesekali simo terlihat mengerutkan keningnya dan sesekali juga dia menggertakkan giginya menahan sakit. Penyerapan kristal akan memakan waktu 2 jam penuh. Simo sudah bermeditasi selama 1jam 50 menit dan 10 menit lagi dia akan menyelesaikannya.
Jika orang-orang melihat simo yang bisa bertahan selama itu, mereka pasti berdecak kagum, keheranan dan tidak percaya seorang anak kecil mampu menahan rasa sakit dari proses penyerpan kristal.
Penyerahan kristal bukalah sesuatu yang sembarang orang bisa lakukan, di samping menahan sakit, mereka juga harus menyelesaikannya sampai akhir karena tidak dapat berhenti di tengah jalan. Jika berhenti di tengah jalan maka mungkin orang itu akan mati atau yang lebih ringan krista akan hancur berkeping-keping dan itu akan membuat orang rugi besar.
10 menit berlalu akhirnya simo menyelesaikan penyerapannya. Saat membuka matanya, dia merasa matanya sangat panas, jantungnya berdetak lebih kencang dan tidak stabil serta yang paling menyakitkan perutnya terasa sangat panas yang membuatnya seketika membuka mulutnya dan berteriak.
“Aghhhhh.” Teriak simo bersamaan dengan aura sedingin es menyebar dari tubuhnya membuat di area sekitarnya membeku setelah itu seketika simo tidak sadar diri dan aura dingin itu berangsur-angsur menghilang.
Lia dan Rina yang mendengar itu langsung bergegas mendekati simo lalu memeriksa keadaannya.
“apa simo baik-baik saja?” tanya Rina yang sangat khawatir dengan keadaan simo. Wajahnya terlihat sangat panik.
Setelah memeriksa simo, Lia menghela nafas lega. “Semuanya baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan teriakan itu di sebabkan oleh pergolakan energi dalam tubuhnya yang sedang berlawanan dengan energi luar yang masuk. Sekarang simo sudah menerobos ke tahap bumi tingkat satu, bintang satu.”
Mendengar itu rina berdecak kagum, jika seseorang yang menggunakan kristal itu pastinya akan mengalami satu tingkat atau jika lebih beruntung satu tingkat lebih sedikit, tapi simo di hadapnya bisa naik dua tingkat sekaligus. Itu adalah kejadian yang langka. “bagaimana dia bisa....” Rina menghentikan kata-kata setelah mendengar suara petir di langit yang langsung merenggut perhatiannya.
“ada apa Rina?” tanya Lia yang melihat ekspresi wajah Rina yang ketakutan, bahkan terlihat buih-buih keringat di pelipis. Tapa menunggu jawaban, Lia pun memandang ke arah di mana rina menatap dan benar saja ada sesuatu yang aneh terbentuk di langit mendung itu. Awan-awan yang sebelumnya hitam keabu-abu kini berubah menjadi hitam legam membentuk makhluk yang sangat besar, memiliki empat kaki dengan kuku yang panjang. Tubuhnya memiliki panjang 500 meter dengan lebar 10 meter. Makhluk itu menatap kedua peri itu dengan tatap dingin.
__ADS_1
“i-i-itu naga!” ujar Rina dengan ketakutan seraya menelan ludahnya. Wajahnya sangat panik dan ketakutan.
Ya itu Seekor naga raksasa yang sedang melingkar di langit mendung!
Seperti mendengar apa yang di katakan Rina, naga itu lalu meraung keras.
“Uagghhhhh.” Raungannya sangat keras membuat semua gendang telinga seseorang akan pecah seketika. Angin berembus kencang menghampiri kedua peri itu, tapi sebelum mengenainya dengan cepat Lia menarik tangan Rina lalu bersembunyi di balik batu.
Rina dan Lia yang hanya peri kecil harus bertahan dari raungan naga itu dengan susah payah. 10 detik berlalu akhirnya raungan naga itu tidak terdengar lagi.
Saat membuka mata kedua peri itu memperlihatkan ekspresi wajah yang bingung dan keheranan. Mereka melihat seberkas cahaya kuning dari balik batu. Mereka lalu keluar dari persembunyiannya.
“bagaimana bisa?” tanya mereka berdua di dalam hati setelah melihat langit cerah yang seperti baik-baik saja dan seolah tidak ada sesuatu yang terjadi sebelumnya, Setelah melihat langit cerah kedua padangan mereka tertuju pada tubuh simo yang melayang tepat di depan mereka yang perlahan-lahan turun. Mereka bergegas ke sana.
Di sekelilingnya mereka bahkan tidak ada pohon yang roboh dan hanya beberapa dedaunan yang terlihat berserakan di rumput—memang kejadian yang sangat aneh!
Setelah memeriksanya sekali lagi, mereka dapat menghela nafas lega karena simo hanya pingsan dan tidak ada cedera sedikit pun di tubuhnya. Mereka lalu membawanya dan merebahkan tubuhnya di atas batu.
“aku mencari makanan dulu ya.” Ucap rina yang di jawab anggukan oleh Lia.
Simo sekarang tidak bisa mengucapkan apa pun, dia hanya bisa melihat energi hijau yang melimpah masuk ke dalam tubuhnya bahkan mengerakkan bibir sedikit saja rasanya perlu semua energi dalam tubuhnya. Dia sekarang hanya bisa diam menatap semua keanehan yang ada di sekitarnya.
...****...
Siklus malam dan siang terus berlanjut. Sudah 7 hari sejak simo tidak sadarkan diri dan sudah selama itu kedua peri itu harus berjuang membangunkannya, tapi usaha mereka masih belum membuahkan hasil; simo tetap tidak sadarkan diri. Sudah beberapa kali mereka memeriksa tubuh simo yang memang normal-normal saja bahkan nafasnya stabil dan oleh karena itu mereka merasa heran, bagaimana bisa dia tidak sadar-sadar?
Tapi mereka tidak menyerah dan terus berusaha, terutama rina yang selalu menjaga simo meskipun dia sudah kekalahan dan kekurangan tidur, terlihat jelas dari kantum matanya yang menghitam.
“Rina, kau beristirahat lah sebentar, biarkan aku yang menjaga simo sekarang.” Ucap Lia di malam hari yang dingin.
Rina menggeleng kecil. “tidak, aku harus menjaga terus.” Ucapnya dengan suara lirih.
“rina kau tidak perlu seperti ini, menyiksa tubuhmu seperti ini, yakinlah simo akan baik-baik saja. Kita sudah memeriksanya beberapa kali bukan dan semuanya normal.”
__ADS_1
“aku tidak menyiksa tubuhku! aku hanya ingin berdiam menjaganya hingga dia siuman.”
Lia mendesah kecil. Sebagai seorang teman tentu saja Lia tahu jika temanya itu sangat kelelahan bahkan dengan matanya sendiri dia melihat Rina beberapa kali menahan kantuknya, dia ingin sekali membantunya dan menolongnya, tapi Rina selalu keras kepala dan ingin tetap menunggu simo sadarkan diri.
“baiklah, jika seperti itu.” Kata Lia lalu meninggalkan Rina sendirian.
10 menit berlalu, Lia kembali dengan membawa sekuntum bunga biru di tangannya. “kau sebaiknya memakan ini dulu.” Ucapnya seraya menggapai tangan Rina dan menaruh bunga itu di tangannya
“Ini....” ucap Rina yang tidak percaya dengan bunga yang ada di tangannya.
“ya, ini Bunga teratai biru, kau makanlah.”
“tapi...”
“Tidak ada tapi-tapian, jika kau tidak mau memakannya Jangan harap kau bisa berdiam di sini lagi.” Ucap Lia dengan tegas.
Bunga teratai biru adalah tumbuhnya yang sangat penting, bunga yang bisa menyembuhkan seseorang peri yang terluka sangat parah dan kembali keadaan semulanya. Jumlah bunga itu bisa di bilang sudah sedikit dan jika makhluk hutan mendapatnya, mereka tidak akan segan- menyembunyikan di tempat yang aman dan di luar jangkauan semuanya. Karena jumlahnya yang sedikit dan sangat bermanfaat wajar saja rina ingin menolaknya.
Rina langsung memakan bunga itu meskipun masih ada keraguan di wajahnya. Dengan perlahan namun pasti bunga itu seluruhnya masuk ke dalam tubuh Rina.
Setelah memakannya ada cahaya biru yang muncul dari kakinya lalu naik ke atas dan bersamaan kulit Rina kembali segar dan tubuhnya terlihat sehat dan bugar seperti dulu.
“terima kasih Lia.” Ucap Rina pelan.
“Tidak usah berterima kasih, melihatmu seperti ini jauh lebih berharga dari memiliki bunga itu.”
“Lia kau tenang saja aku akan menggantinya.”
Lia langsung memegang kedua bahu temanya itu. “tidak perlu, aku sudah bilang melihatmu seperti ini lebih baik daripada memiliki bunga itu.”
“ta-tapi.”
“apa kau tidak menganggapku temanmu?” ujar Lia.
__ADS_1
“tidak, tapi....”
“tidak ada tapi-tapian lagi, sekarang kau jaga simo, aku akan mengumpulkan makanan terlebih dahulu, meski makanan sudah banyak, kita tidak akan tahu seberapa besar rasa lapar simo setelah dia siuman, apalagi dia sekarang sedang masa pertumbuhan.” Tanpa menunggu jawaban dari Rina, Lia langsung terbang menjauh.