
Melihat perlakuan Tristan, simo seketika marah. Dia dengan cepat menarik tangan Tristan dan membantingnya dengan keras. Dia tidak peduli dengan orang-orang sekitarnya.Walaupun dia tahu ada orang kuat di sekitarnya, dia tidak mempedulikannya lagi.
Beberapa bawahan Tristan terkejut melihat itu, mereka tidak menyangka simo akan melakukan tindakan seperti itu.
Beberapa orang yang lalu-lalang juga ikut terkejut dan melihat -lihat apa yang terjadi.
“kau berani melakukan itu kepada tuan kami!” ujar Salah satu bawahannya seraya menunjuk simo.
Orang yang berkumis mengangkat kepalanya dan memandang simo dengan tajam. Kedua tangannya bersiap-siap meraih pedangnya.
“maaf tuan-tuan, aku hanya refleks, aku kira tuan kalian ingin melakukan tindakan senonoh kepada majikanku.” Jawab simo setelah menyadari perbuatannya.
Seraya mendengar simo berbicara, bawahan Tristan membantu Tristan berdiri. Tristan kini merasa punggungnya sangat sakit dan wajahnya bengkak karena mengenai tanah dengan keras.
Seraya memegang pipinya yang bengkak, Tristan mengumpat, “ bajingan! Kau pikir dengan meminta maaf masalah ini sudah selesai? Kalian berdua maju hajar dia sampai babak belur!”
Dua bawahan Tristan menarik pedangnya, dan mulai berjalan mendekati simo.
Simo dengan tajam memperhatikan dua bawahan Tristan dan melihat-lihat orang-orang sekitarnya. Dia baru menyadari tindakannya telah membuat orang-orang berkerumunan. Seketika ide muncul dalam benak simo.
Tangannya yang sudah ingin menarik pedang, dia lepaskan. Simo kemudian tersenyum, lalu berkata, “ apa kalian ingin bertarung dengan pemuda biasa sepertiku?”
“Tentu saja. Kau pikir kami tidak akan menyerang seorang pemuda sepertimu, apalagi hanya orang biasa.”
“jika satu orang, itu tidak masalah, tapi jika dua lawan satu, itu sangat tidak adil. Lihatlah di sekeliling Kalian, beberapa orang sedang menonton. Di manakah rasa malu kalian?”
Mendengar itu, beberapa orang mulai berbisik-bisik. Apa yang dikatakan simo ada benarnya. Usia dua bawahan Tristan sekitar 40 tahun, yang berarti itu sangat tidak adil, apalagi dua orang di depannya memiliki kekuatan setara tingkat fisik tahap 9.
Bawahan Tristan memperhatikan beberapa orang yang berbisik-bisik. Ekspresi malu terlihat di wajahnya setelah menyadarinya.
“Jangan dihiraukan! Kalian adalah bawahanku, bekerja untukku. Perintahku, perintah mutlak, Kalian harus melaksanakannya. Ingat, kalian dibayar.” Ujar Tristan dengan suara keras seraya memegang pipinya yang memerah.
Dua bawahan Tristan mengangguk dam mulai berjalan lagi.
Melihat rencananya tidak berhasil, simo hanya bisa menarik pedangnya. Walaupun dia tidak mempunyai tenaga, dia hanya bisa berpura-pura.
“Paman sekalian, sebelum kita bertarung, mari kita perkenalan diri kita masing-masing, siapa tahu ada penonton yang ingin bertaruh.”
Dua orang itu saling pandang, kemudian mengangguk.
“baiklah. Namaku haris.”
“namaku ian.”
“Baiklah paman, namaku simo.”
Saat hendak mulai pertarungan, simo berkata setelah membanting pedangnya ke tanah.
“Paman, apa paman tahu mengapa aku memperban pedangku ini?”
Keduanya mulai memikirkan apa yang dikatakan simo. Setelah beberapa saat, ian menjawab, “karena kau tidak punya sarungnya.”
“Bisa di katakan begitu.”
__ADS_1
Simo melanjutkan, “baiklah. Hari ini kita akan bertarung dengan sangat sengit, jadi, aku tidak mau mendengar ada orang yang berteriak. Apa paman mengerti?”
Keduanya menelan ludah dan mengangguk. Pasalnya, simo mengatakan itu dengan sangat serius dan aura membunuh menyebar dari kedua matanya.
“Baiklah, sekarang paman bisa bertanya.”
“aku akan bertanya,” ucap ian. “ mengapa kami ingin bertarung denganmu?”
“Karena ingin menghajarku.”
“ Benar.”
Ian dan Haris berlari. Saat di depan simo, mereka melompat dan menebaskan pedangnya ke arah simo. Simo dengan cepat menghindar. Walau kecepatan sangat menurun drastis, simo masih bisa menghindarinya.
Setelah melihat simo menghindar, ian dan haris menghela nafas lega. Mereka pikir apa yang dikatakan simo benar, tapi ternyata itu hanya gertakan saja.
Saat ian dan Haris melanjutkan serangannya, namila berteriak keras, menyuruh mereka berhenti.
Namila kini berada tidak jauh dari area pertarungan. Dia pergi ke sana saat simo menyuruhnya menyamping, karena mungkin saja akan ada pertarungan. Setelah mengamati beberapa saat, namila menyadari simo sedang mengulur waktu, oleh karena itu, dia berteriak.
“ada apa nona?” tanya Haris.
“aku belum mengatakan mulai, bagaimana bisa Kalian memulai pertarungan tanpa wasit. Kalian tidak ingin, kan ada kecurangan dalam pertarungan ini? dan penonton juga menginginkan hal itu, jadi aku akan menjadi wasitnya.”
Ian, Haris dan simo mengangguk.
Namila tersenyum, lalu berkata, “pertarungan akan sangat adil jika kalian menggunakan batu kertas gunting. Jika kalian menang, maka kalian akan menyerang, dan jika kalah, Kalian akan menahan serangan. Apa kalian paham?”
Walau pun ini aneh, mereka bertiga mengeluarkan semua barang yang mereka bawa. Ian hanya membawa pedang. Simo juga begitu. Haris membawa beberapa barang-barang yang tidak diperlukan.
Setelah mengeluarkan semua itu, namila memulai pertarungan.
Tapi lagi-lagi, Namila menghentikannya.
“ada apa lagi!” haris mulai marah.
“Kalian lupa batu kertas gunting.”
Mendengar itu, semuanya terkejut, lalu melakukan batu kertas gunting.
Pertama yang menang adalah simo.
“kalian harus bertahan.”
Simo melesat dan mengayunkan pedangnya.
Haris dan ian langsung melakukan formasi untuk menahan serangan simo. Walau itu hanya serangan biasa dan tidak memiliki kekuatan sedikit pun, mereka tetap melakukannya, karena mereka tahu jika bersama-sama segala sesuatu akan lebih mudah di lakukan.
Satu serangan berhasil ian dan Haris tahan. Mereka kemudian melakukan batu kertas gunting lagi.
Melihat ini, Tristan menjadi geram. Dia tidak menyangka dua bawahannya bisa di permainkan seperti ini. Dia yang duduk seketika berdiri.
“Kalian! Cepat pukul dia, aku tidak ada waktu mengurusi permainan kanak-kanak kalian.”
__ADS_1
Mendengar itu, ian dan Haris terkejut. Lalu mengingat apa yang tuanya perintahkan. Mereka dengan serius berkata, “baik tuan.” lalu melesat secara bergantian menyerang simo.
Simo yang memang tidak punya kekuatan hanya bisa menjaga jarak dan menghindar.
Melihat situasi seperti ini, Namila mendekati Tristan.
Melihat Wanita cantik mendatanginya, Tristan tersenyum. “ada apa nona?”
“aku ingin mengendalikan jalannya pertarungan.” Pinta Namila dengan wajah marah.
“Maaf nona, aku tidak bisa melakukannya.”
“Mengapa?”
“dia sudah tidak sopan denganku, Apakah aku harus membiarkannya selamat setelah itu?”
“meski dia seorang pelayan, hukuman berlaku bagi semua orang, kau tidak bisa menghentikannya. Aku tahu alasan kau melakukan itu, karena ingin menyelamatkannya, tapi maaf aku tidak bisa menerimanya.”
“Jika kau menghentikan menyerangnya, aku akan berkunjung ke rumahmu.”
“Baiklah. tapi aku akan membawanya. Bagaimana? Apa kau mau?”
Mendengar itu, Namila semakin marah. Tentu saja jika simo berhasil masuk ke dalam rumah Tristan akan lebih sulit menyelamatkannya, apalagi belum tentu Tristan akan melepaskannya semudah itu. Dia pasti akan memanfaatkan hal itu untuk meraih keuntungan yang lebih banyak.
Melihat ekspresi marah namila, Tristan menambahkan, “kau tenang saja, aku akan melayaninya dengan baik. Bagaimana?”
“tidak kusangka anak Jendral theo ada di sini hanya demi seorang wanita.” Ujar seorang gadis di balik kerumunan.
Perlahan-lahan seorang gadis cantik dengan rambut merah muncul seraya tersenyum.
“dia....” namila mengingatnya. Dia tidak lain adalah gadis yang ditemuinya saat berada di taman belakang akademi.
“Wow, sekarang ada dua wanita cantik di sini. Perkenalkan dirimu.”
“namaku delisa.”
“Delisa? Hemmm, nama yang bagus.”
Delisa kemudian melesat ke arah ian dan haris. Dia mengeluarkan selendangnya, kemudian menghentakkannya ke arah ian.
Ian yang menyadari itu, seketika terkejut dan menghindar, tapi siapa sangka selendang itu memanjang. Ian berusaha memotongnya, tapi selendang itu terlalu keras.
Tidak lama kemudian, baik ian ataupun haris di gulung olehnya dengan mudah dan tidak bisa melepaskan diri.
Simo menghela nafas, dia akhirnya bisa bertahan dan dibantu oleh seseorang.
“kenapa kau menolongnya!” ujar Tristan marah.
“kau tidak malu, menyerang orang biasa sepertinya?”
“dia yang salah, aku berhak menghukumnya. Kau jangan halangi aku.”
“Aku tidak mempedulikannya
__ADS_1