Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
season 2


__ADS_3

Langit di penuhi gumpalan-gumpalan awan hitam yang jumlahnya tidak terhingga, menutupi setiap inci di langit dan menghalangi cahaya Matahari yang cerah.


Ombak air laut yang tadinya lebih tenang kini bergelombang tidak karuan seolah ombak itu bingung dan marah karena perubahan cuaca yang mendadak.


Angin kencang dari laut berembus membuat pohon-pohon kelapa bergoyang-goyang keras


Bersamaan dengan itu ribuan buih-buih air hujan berjatuhan dengan gerakan-gerakan bergelombang.


“Aduh, badai akan datang!” ujar dari seseorang gadis yang segera berlari ke rumahnya, mengunci pintu dan menenggelamkan wajahnya dalam selimut hangat. Tidak beberapa lama suara angin berderu-deru terdengar bersamaan menggedor-gedor pintu kemudian di susul suara petir menggelegar.


Ekspresi wajah takut kini menghiasi wajah gadis itu kemudian menenggelamkan wajahnya lebih dalam dan menutup mata seraya berdoa badai lekas reda.


Di tengah-tengah gelombang air laut yang marah terlihat kapal nelayan yang terombang-ambing seperti di hambur-hamburkan oleh angin dan gelombang air laut yang marah.


“Badai lagi, badai lagi.”


Seorang pria paru baya yang bernama Farsan tengah menatap keluar dari jendela kapal.


Wajahnya terlihat kesal oleh perubahan cuaca secara mendadak. Jika biasanya waktu sekarang dia sudah mendapatkan ikan yang banyak, sekarang berbeda dia hanya bisa meratapi nasibnya yang buruk.


Farsan menarik nafas panjang.


“kenapa badai kau sesali, sini tolong bantu.”


Bersama dengan suara itu Farsan menutup tirai jendela lalu berbalik, di depannya sudah ada dua orang temanya yang tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing, salah satu temannya duduk di ranjang membaca buku, dia adalah bagas dan satunya lagi sibuk mempersiapkan jaring ikan yang akan di gunakan, dia adalah Andros.


“Kenapa masih diam, ayo bantu.” Ucap dari Andros yang sibuk mempersiapkan jaring. Dia berbicara tanpa menoleh.


Farsan mendekatinya lalu ikut mempersiapkan jaring ikan.


Saat pria itu duduk, salah satu temannya yang membaca buku sedikit meliriknya. Dia merasa sedikit kesal saat membaca buku di ganggu seperti itu.


Saat membaca dia memerlukan konsentrasi yang penuh dan tenang, tetapi kesempatan itu tidak pernah dia dapatkan di kapal yang selalu di mainkan oleh ombak laut yang ganas.


Oleh karena itu dia terus berusaha untuk memakluminya, tetapi dia tidak bisa memaklumi jika temanya berbuat seperti itu.


Bagas menarik nafas, dia ingin menahan kekesalannya lalu melanjutkan membaca buku.


Farsan dan Andros terus mempersiapkan jaring ikan. Selama 10 menit mereka melakukan itu tanpa ada pembicaraan hingga akhirnya Farsan memulai pembicaraan.


“huh, badai lagi badai lagi.” Ucap Farsan kesal.


“Kenapa kau memusingkan badai yang tidak bisa di atur?” Tanya Andros tanpa memandangnya.

__ADS_1


“Jika badai kan kita tidak bisa menyebar jaring ini ke laut dan jika tidak bisa maka apa yang akan kita jual?”


“Mau bagaimana lagi, itu kehendak yang ada di atas.”


“tapi kan tidak bisa terus begini, misalnya jika kita tidak berusaha dan menganggap itu adalah kehendak yang ada di atas maka kita akan cepat tamat.” Ucap Farsan menyanggah. Dia mengatakan itu karena beberapa hari ini badai terus mengguncang laut sehingga membuat pendapatannya menurun.


Blak. Bagas menutup bukunya dengan kasar membuat dua temanya memandangnya bingung.


“Apa kalian tidak bisa diam, aku sedang membaca buku. Jika kalian ingin mengobrol tolong dikecilkan suara kalian. Apa kalian ingin seperti badai yang ada di luar yang selalu menggangguku?” Bagas mengatakannya dengan marah.


Andros dan Farsan ingin menjawab, tetapi mereka tidak dapat kesempatan.


“kau Farsan jika kau ingin berusaha maka kau sendiri yang keluar dan menyebar jaring itu ke laut sendirian dan jangan mengoceh di sini, apa kau tidak tahu mengoceh tidak dapat menyelesaikan masalah.” Bagas berbicara dengan nada yang lebih keras.


Farsan hanya bisa menunduk, apa yang dikatakan oleh temannya memang ada benarnya.


“maaf jika pembicaraan kami mengganggumu.” jawab Andros yang ada di samping Farsan.


“Jangan ulangi lagi. Ingat kapal ini milikku dan kalian hanya menumpang disini, jadi kalian harus mengikuti peraturan yang ada.”


Mendengar itu Farsan dan Andros hanya bisa mengangguk.


“sudahlah, aku ingin membaca buku lagi dan selesaikan itu dengan cepat, semakin cepat maka semakin kalian bisa pergi dan tidak menggangguku.”


Farsan dan Andros mengangguk lalu melanjutkan perkerjannya dengan cepat sehingga mereka dapat beristirahat, meski sekarang tidak dapat ikan setidaknya mereka bisa beristirahat, walaupun itu bukan kehendak mereka.


Huh akhirnya. Batin Farsan seraya merentangkan kedua tangannya ke atas. Saat melakukan itu dia dapat merasakan sambungan tulangnya berbunyi. dia tersenyum setelah mendengar itu, dengan begitu tulang-tulang menjadi lebih lentur dan baik.


Farsan memandang Andros di Sampingnya. “ayo kita pergi.” Kata Farsan.


Andros mengangguk. Mereka lalu pergi tanpa berpamitan dengan bagas yang masih sibuk dengan bukunya itu. Saat berjalan melintasi Bagas, Farsan dan Andros berjalan nyaris tanpa bersuara, mereka tidak mau kemarahan Bagas terulang lagi. Mereka lalu masuk ke pintu belakang.


Satu jam berlalu, Bagas memalingkan wajahnya. sebekas cahaya masuk dari jendela.


Bagas sedikit terkejut menyadari badai sudah lewat. Dia ingin berteriak memanggil teman-temannya, tetapi ada suara musik arpa yang merdu dan tenang menyita perhatiannya. Tanpa sadar dia sudah keluar dari ruangannya.


Burung-burung berterbangan di langit biru. Cahaya Matahari terik menyambutnya.


Ada rasa heran masuk ke dalam pikirannya saat melihat geladak kapal yang tidak basah sedikit pun. Dia berbalik dan ingin berteriak, tetapi lagi-lagi suara musik arpa merdu itu muncul dan membuatnya tergoda.


Dia bergegas menuju pembatasan kapal lalu menyebarkan pandangannya ke laut luas itu.


Sejenak melihat, dia sangat terkejut melihat seorang gadis cantik yang parasnya bagaikan malaikat tengah berdiri di terumpuk karang. Gadis itu sedang memainkan arpa.

__ADS_1


Wajahnya tirus dan cantik, kulitnya putih bersih. Gadis itu memakai gaun berwarna putih dan ada karangan bunga di kepalanya, yang paling menyita perhatian pria itu adalah di punggung gadis itu ada sepasang sayap putih yang berkilauan.


Pria itu memandang tidak percaya, di dalam hatinya dia sangat meronta-ronta ingin menuju gadis itu.


Sekarang dia sudah berenang menuju tempat gadis itu berdiri.


Dari geladak kapal Farsan dan andros berteriak-teriak memanggil Bagas, akan tetapi Bagas tetap menuju gadis itu berada. Dengan wajah khawatir Farsan dan Andros terus berteriak, tapi Bagas tidak mengindahkannya seperti di tidak mempunyai telinga.


“Aku harus menolongnya.” Farsan hendak melompat, tapi Andros dengan cepat memegang tangan Farsan.


“jangan, itu berbahaya, sekarang kita hanya bisa lari dari sini.”


“Tidak, aku tidak akan membiarkan bagas di bunuh oleh siren itu.”


Mendengar itu Andros lebih mempererat pegangannya.


“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Bagas sudah tidak bisa mendengarkan kita karena dia sudah terhipnotis oleh musik itu.”


“Huh andai aku bisa mencegahnya mungkin ini tidak akan terjadi. Sekarang yang kita bisa lakukan adalah mendoakannya agar dia selamat.”


“Tapi....” Farsan menghentikan kata-kata setelah melihat wajah andros pasrah dan menggelengkan kepalnya.


Andros tahu jika menolong Bagas adalah hal yang sia-sia untuk dilakukan karena dia sudah terhipnotis oleh musik petikan arpa itu, jika saja Bagas memakai penyumbat telinga sebelumnya mungkin dia bisa selamat.


“Baiklah apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Farsan.


“Kita hanya bisa kabur sebelum siren itu menyadari keberadaan kita.”


Mereka lalu pergi ke lambung kapal untuk mencari pelampung.


Gadis cantik itu menghentikan permainannya setelah melihat bagas sudah mencapai tempatnya kemudian dia berjongkok lalu menyentuh dagu bagas dengan lembut.


Bagas hanya memandang gadis itu tanpa ekspresi karena dia sudah terhipnotis oleh permainan musik gadis itu.


Gadis itu tersenyum manis. Dari dagu bagas menyebar api berwarna hijau muda yang memiliki suhu yang tinggi.


Bagas terkejut dan tersadar, tetapi sudah terlambat. Api itu membakar seluruh tubuhnya. Teriakan kesakitan dan menyedihkan keluar dari api yang membakar bagas. Dalam seperempat detik hanya menyisakan tulang belulang bagas.


Gadis itu tersenyum seraya memegang tengkorak di tangannya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Farsan dan Andros yang semakin menjauh.


“kalian ingin kabur ya.” Ucap gadis itu dengan lembut dan ceria.


Perlahan-lahan gadis itu menghilang dan dari belakangnya air meninggi seolah-olah akan muncul paus dari dalamnya. Air itu lalu membentuk ombak yang tinggi bergerak menuju tempat Farsan dan Andros.

__ADS_1


Dalam beberapa detik kapal nelayan itu hancur berkeping-keping dan hanya menyisakan pung-puingnya saja.


Tidak jelas apakah Farsan dan Andros selamat atau tenggelam.


__ADS_2