
“au!”
Seorang wanita paru baya tidak sengaja menusuk telunjuknya dengan jarum. Dia lalu mengisap darah yang keluar, kemudian menghela nafas.
Wanita itu sendirian di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Di sana ada meja kecil dengan pakaian yang dijahit olehnya.
Setelah darahnya tidak keluar lagi, wanita itu menghela nafas, lalu memandang ke arah jendela yang masih terbuka lebar.
Angin segar berembus dari luar, membawa wangian pepohonan di luar jendela.
Tok, tok, tok.
Ketukkan pintu menyita perhatian dira. Dia lalu mengizinkan orang itu untuk masuk.
Seorang wanita datang membawa segelas minuman. Wanita itu dengan anggun menghidangkannya di atas meja.
Dira mengangguk, lalu berkata, “ Citra, apa kau sudah menyelidikinya?”
“Iya yang mulia. Dalam beberapa tahun terakhir ini, perkembangan kekaisaran gunung salju tidak terlalu signifikan. Perkembangan melambat dalam beberapa tahun. Walau begitu, kita masih jauh di bawahnya, dan bisa di katakan penurunannya tidak terlalu besar. Dalam kekuatan, kekaisaran itu masih menyandang kekuatan terkuat di semua daerah, tapi anda tenang saja, hamba yakin tidak lama lagi, kekuatannya akan menurun.”
“apa kau punya rencana untuk itu?” saat mengatakan itu, dira sudah berdiri dan memandang ke luar jendela.
“ jika menyerangnya secara langsung masih belum, kekuatan kekaisaran itu masih kuat. Tapi jika menghancurkan dengan cara lain, hamba punya.”
“Coba katakan.”
“Kita bisa mengirim beberapa orang untuk melakukan huru hara di sana untuk menurunkan reputasi kaisar Galen. Menurut informasi yang hamba dapatkan, terdengar kabar beberapa kejahatan di lakukan oleh kaisar, seperti membangun tempat penelitian ilegal yang tidak berperikemanusiaan dan.... Tentu saja melakukan kudeta.” Saat mengatakan itu, citra sedikit takut. Apa yang dia katakan mengenai masa kelam Dira.
Dira yang mendengar itu, tidak terpengaruh oleh perkataannya. Meski itu adalah kenangan buruk, sekarang baginya itu hanya masa lalu yang harus dilupakan. Dia dengan lembut berkata, “lanjutkan.”
Ekspresi Citra terlihat lega setelah mendengar perkataan Dira. Dia pun melanjutkan, “ menaikkan pajak secara bertahap, meski ini tidak terlalu berpengaruh, tapi menurut hamba ini akan secara bertahap membebani rakyat, Yang terakhir, mengumpulkan penjahat dari segala tempat, menurut hambai ini dia lakukan untuk memperkuat dirinya. Mungkin dirinya merasa terancam oleh bahaya besar, sehingga merekrut para penjahat itu.”
“apa ada orang hebat di antara penjahat itu?”
“Hamba tidak tahu yang mulia, tapi....”
Kata-kata citra di berhentikan oleh suara langkah kaki seseorang dari luar. Langkahnya cepat, namun kecil.
Tok, tok, tok.
“bibi Dira! apa bibi berada di dalam!?” suara kecil yang ceria terdengar dari balik pintu.
__ADS_1
“iya! bibi di dalam.” Jawab Dira.
Pintu perlahan-lahan di buka. Dari celah pintu, terlihat kepala seorang gadis cilik mengintip. Kedua matanya besar dan cerah, rambutnya di ikat oleh tali merah, dan di kedua telinganya ada sepasang anting-anting giok hijau yang berkilauan.
“Kenapa anda di sana, putri Dhiya kharya?” Ucap Dira lalu tersenyum melihat gadis itu.
“Um....apa, aku boleh masuk?” tanya Dhiya kharya ragu-ragu.
“Tentu saja, anda tuan putri di sini, siapa pun tidak akan boleh melarangnya.”
Dhiya seketika senang dan berlari ke arah Dira seraya tertawa kecil.
Dira langsung membungkuk.
“bibi, lihat ini.” Dhiya memperlihatkan beberapa batu yang di bungkus kain warna-warni. “Aku melihatnya saat membersihkan gudang. Bibi tahu, ibu sampai terbatuk-batuk oleh debu di sana, tapi aku tidak. Meski aku kecil, aku tidak akan terbatuk-batuk oleh debu itu. Aku kuat, ‘kan?” Dhiya dengan ceria mengatakan itu.
Melihat itu, Dira teringat dengan masa kecilnya. Saat masih bebas dulu, dia selalu memainkannya. Cara bermainnya sangat mudah, hanya perlu memasukkannya ke dalam toples apa pun selain bening, lalu mengambilnya secara acak. Jika warna putih terambil, maka harus menyebutkan benda warna putih. Itu di lakukan beberapa kali.
Benda yang telah di sebutkan tidak boleh di sebutkan lagi. Oleh karena itu, permainan ini semakin lama semakin sulit. Dibutuhkan orang berpengetahuan luas untuk bertahan lama.
“Bibi, kenapa bibi diam?”
“bibi punya masa lalu yang indah? Bisa bibi ceritakan?”
Saat dira hendak berbicara, suara seseorang menghentikannya.
“Maaf sayangku, bibi sekarang sedang sibuk. Kau bisa menanyakannya lain waktu saja, ya.”
Seorang wanita paru baya datang. Wanita itu memakai gaun ungu yang menawan. Dia adalah salah satu selir raja dan merupakan seseorang yang mempunyai anak raja yang ketiga.
Setelah wanita yang di cintai raja mati, raja memutuskan untuk tidak menikah lagi. Walaupun dia belum mempunyai anak laki-laki, dia tidak mempedulikannya. Bagi raja, dia tidak memerlukan anak laki-laki, sebab kedua anak gadisnya bisa memerintah. Dia memutuskan untuk memilih irina, kakak tiri Dira untuk menggantikannya. Raja juga memutuskan hanya memiliki tiga istri dan dua anak saja di dalam hidupnya.
Namun, hal tidak terduga terjadi, raja terlalu banyak minum dan tanpa sadar menghamili salah seorang selirnya. Akhirnya lahirlah Dhiya kharya, putri bungsu raja. Walaupun kejadian itu bukan sesuatu yang diinginkannya raja, raja tetap merawatnya.
Awalnya selir yang dihamili raja tidak menyukainya, karena saat pernikahan mereka dulu, raja memaksanya menikah, tapi seiring waktu berjalan, dia akhirnya mulai menikmatinya dan mengikhlaskan semuanya yang terjadi.
Nama dari selir itu adalah lestari, seorang wanita yang tidak pernah mengharapkan banyak di dalam hidupnya. Dia adalah selir ketiga dan terakhir raja.
Memang sangat aneh jika raja memiliki tiga istri saja, namun itulah kenyataannya.
Dengan wajah cemberut, dhiya berkata, “ibu, kau tidak datang di waktu yang tepat.”
__ADS_1
Alasan dhiya memanggil Dira sebagai bibi karena Dira terlalu tua untuk di panggil kakak. Dira juga tidak mempermasalahkannya asalkan itu panggil yang sopan.
“sayangku, lihatlah bibi citra ada di sini, yang artinya bibi Dira sedang sibuk hari ini. Kau bisa mengunjunginya di malam hari.” Kata lestari seraya memandang pelayan yang berada tidak jauh dari Dira.
Citra yang menyadari tatapan selir lestari hanya bisa tersenyum.
Dhiya memandang sekilas Citra, lalu kembali memandang ibunya. “ibu, kau bodoh. Bibi itu sedari tadi tidak melakukan apa pun, dia hanya berdiri di sana seperti patung, bagaimana bisa ibu bilang dia sedang sibuk dengan bibi Dira. Dan lihatlah di meja itu, jika bibi sibuk pasti tidak akan menjahit. Bukankah menjahit adalah pekerjaan ibu rumah tangga? Bibi Dira, ‘kan seorang ratu, pasti tidak akan melakukan hal-hal sepele seperti itu.
Lestari ingin menjawab, tapi Dhiya melanjutkan, “seorang ratu harusnya memerintahkan, bukan menjahit seperti itu.”
Bukan menjadi rahasia, putri raja bungsu ini memiliki pengetahuan di atas rata-rata, tapi semua pengetahuan itu masih dibilang awam. Namun, meski begitu, baik ibunya lestari ataupun yang lainnya terkagum-kagum dengan kecerdasan dan pengamatan putri Dhiya kahrya cantik jelita ini.
“Bukan begitu nak. Kau salah pengertian. Memang benar bibi Dira adalah ratu sekarang, tapi kau Ingat, tubuhmu tidak hanya bisa melakukan satu hal dalam satu hari, kau memerlukan aktivitas lainya, bukan?”
Mendengar itu, kedua alis Dhiya kharya menurun bersamaan dengan wajahnya. Dia dengan sedih berkata, “tapi.... bisakah aku menghabiskan waktu dengan bibi Dira sekarang ini.” Dhiya kahrya mengangkat wajahnya. “Aku janji akan tidak melakukan apa pun yang mengganggu bibi Dira.”
Mendengar ucapan putrinya, lestari langsung memandang Dira, seperti mengisyaratkan sesuatu.
Seperti tahu apa yang selir lestari inginkan, Dira langsung berkata, “maaf putri dhiya, hari ini bibi sedang sibuk, putri bisa mengunjungi bibi saat malam tiba.”
“Tapi....”
“tuan putri cantik, jika anda ingin menjaga kecantikan anda, anda harus menuruti perintah ibumu, ya.”
Dira mendekat, lalu mengusap-usap kepala gadis itu dan mencium keningnya.
Dhiya kharya tertegun sejenak. Setelah itu, dia mengusap dahinya yang dicium.
“Apa bibi menciumku?” Dhiya kahrya tidak mempercayai apa yang tengah dia rasakan.
“Tentu saja, bagaimana, apa anda menyukainya?”
Di lain sisi lestari yang melihat itu tertawa kecil, dia tidak menyangka anaknya bisa bersikap seperti itu jika dicium oleh orang lain.
Citra yang melihatnya hanya bisa tersenyum. Wanita ini beberapa kali mengalihkan perhatian kepada hal-hal lain. Dia pasti sudah bosan menunggu. Dira sudah menginstruksikan untuk pergi, tapi dia tidak mau.
“Baiklah bibi, aku akan pergi dulu. Aku akan ke kamar bibi saat malam tiba.”
Gadis itu melambaikan tangannya sebelum akhirnya pergi bersama ibunya.
Alasan Putri kecil itu tidak membenci Dira, Walaupun ayah di kudeta olehnya. Ini berhubungan dengan masa lalunya ketika saat kecil. Kini gadis itu berumur 9 tahun. Ketika dia berumur 7 tahun dia selalu melihat ibunya menangis dan ingin pergi. Lestari juga selalu mengatakan membenci raja. Oleh karena itu, gadis kecil ini menganggap dira sebagai pahlawannya
__ADS_1