
Arga masih duduk di tempatnya, memikirkan apa yang baru saja Daffa katakan padanya.
"Apa benar Bianca tau jika aku sudah berbohong padanya? tidak.... dia pasti akan mengatakan sesuatu padaku jika dia mengetahuinya," ucap Arga dalam hati.
Arga kemudian beranjak dari duduknya lalu menuruni tangga untuk menemui Bianca. Arga mengetuk pintu kamar Bianca beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka.
"Apa kau sedang sibuk?" tanya Arga.
"Tidak," jawab Bianca singkat.
"Bersiap-siaplah, kita harus ke rumah mama," ucap Arga lalu berjalan pergi begitu saja.
"Kenapa tiba-tiba harus ke rumah mama?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
Bianca kemudian bersiap-siap lalu keluar dari kamarnya dan segera mengikuti Arga berjalan ke arah mobil.
"Apa mama yang memintamu untuk datang?" tanya Bianca saat ia dan Arga sudah berada di dalam mobil.
"Tidak, aku sendiri yang ingin menemui Mama," jawab Arga.
"Kau sudah tidak marah lagi pada mama?" tanya Bianca.
"Mmmm.... aku masih kesal, tapi aku tidak bisa mendiamkan Mama seperti ini terus bukan?"
"Benar sekali, mama pasti senang melihatmu datang," ucap Bianca dengan tersenyum.
"Apa kau juga senang?" tanya Arga yang melihat Bianca tampak bersemangat saat itu.
"Tentu saja, aku sudah berjanji pada mama untuk membujukmu menemui mama, akhirnya aku berhasil," jelas Bianca.
"Kenapa kau sangat peduli pada mama, Bianca? bahkan jika mama dan papa tidak menyukaimupun aku akan tetap mempertahankan pernikahan kita sampai kontrak kesepakatan kita selesai!"
"Aku peduli pada mama dan papa bukan karena aku istrimu Arga, tapi karena mereka memberiku kasih sayang sebagai orang tua, jadi aku juga harus bisa memberikan yang sama bahkan lebih pada mereka," balas Bianca.
"Apa setelah kontrak kesepakatan kita selesai kau juga akan tetap bersikap seperti ini pada mama dan papa?" tanya Arga.
"Sudah ku bilang tidak akan ada yang berubah bahkan setelah kontrak kesepakatan kita selesai, tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya mama dan papa saat kita benar-benar ber.... cerai," ucap Bianca dengan ragu di akhir kalimatnya.
Entah kenapa satu kata yang ia ucapkan terasa begitu berat, padahal ia tau jika kurang dari 2 tahun Arga akan benar-benar menceraikannya, sesuai dengan kontrak kesepakatan yang sudah mereka sepakati.
"Jangan mengkhawatirkan hal itu, aku sendiri yang akan mengatakan alasannya pada mama dan papa," ucap Arga.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Ia sadar jika pernikahan yang terjadi bukan hanya menyangkut Arga dan dirinya, tetapi juga ada mama dan papa Arga yang sangat menyayanginya.
"Apa kau bersedih Bianca?" tanya Arga yang melihat raut wajah Bianca kini tampak murung.
"Tidak," jawab Bianca dengan mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil di sampingnya.
"Kita akan berpisah dengan baik-baik Bianca, aku berusaha agar tidak ada yang tersakiti dengan perpisahan kita nantinya," ucap Arga.
"Kau juga masih bisa menemui mama dan papa, jika kau mau kita juga masih bisa saling bertemu, berteman setelah kontrak kesepakatan kita selesai tidak ada salahnya bukan?" lanjut Arga.
"Entahlah, kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti, aku hanya bisa berharap semoga semuanya baik-baik saja," balas Bianca.
"Jangan terlalu merasa bersalah pada mama dan papa Bianca, ini bukan hanya keputusanmu, tapi juga keputusanku," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala dengan pelan oleh Bianca.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Arga dan Biancapun sampai di rumah orang tua Arga.
Arga membukakan pintu mobilnya untuk Bianca lalu menggandeng tangan Bianca memasuki rumah orang tua Arga.
Melihat Arga yang datang bersama Bianca, bibipun segera memanggil mama Arga. Dengan penuh senyum mama Argapun segera membawa langkahnya menyambut kedatangan anak laki-laki dan menantu kesayangannya itu
"Arga, akhirnya kau mau menemui Mama," ucap Nadine sambil memeluk Arga dengan erat, seolah mereka baru saja bertemu.
"Kau sudah tidak marah lagi bukan?" Tanya Nadine sambil melepaskan Arga dari pelukannya.
"Asalkan mama tidak akan mengulanginya lagi," balas Arga lalu membawa langkahnya pada sang papa yang berjalan menghampirinya.
Nadine hanya tersenyum lalu memeluk Bianca.
"Terima kasih Bianca, kau memang bisa diandalkan," ucap Nadine yang hanya dibalas senyum oleh Bianca.
Mereka kemudian duduk di ruang tengah dengan beberapa minuman dan makanan ringan yang sudah bibi siapkan.
"Kemana mama dan papa akan berlibur bulan depan?" Tanya Arga pada mama dan papanya
"Bagaimana jika ke Paris?" Balas Nadine bersemangat
"Jangan ke luar negeri ma, Arga tidak bisa cuti terlalu lama," ucap Arga.
"Bukankah ada Daffa yang bisa menghandle pekerjaanmu?" Tanya Nadine.
"Daffa memang selalu bisa diandalkan, tapi bukan berarti Arga bisa selalu memanfaatkannya seperti itu," balas Arga.
__ADS_1
"Bagaimana menurut papa?" Tanya Nadine pada sang suami.
"Papa terserah Arga dan Bianca saja," jawab David dengan membawa pandangannya pada Arga dan Bianca.
"Kemana kau ingin pergi berlibur Bee?" Tanya Arga pada Bianca.
"Aku terserah kau saja," jawab Bianca.
Setelah beberapa lama berdiskusi, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi berlibur ke pulau Lombok.
"Jangan lupa untuk memberi tahu Daffa, Arga!" Ucap Nadine pada Arga.
"Iya ma," balas Arga.
Bianca, Arga dan mama papanya kemudian membicarakan banyak hal. Sesekali mereka tertawa dan bercanda. Hingga tiba-tiba bibi datang dan memberi tahu jika ada Clara yang baru saja datang.
"Clara? Kenapa dia kesini? Apa mama yang memintanya datang?" Tanya Arga pada sang mama.
"Tidak, dia sendiri yang ingin datang, dia sudah memberi tahu mama sejak tadi pagi," jawab Nadine.
Arga kemudian beranjak dari duduknya lalu segera berjalan keluar untuk menemui Clara, berniat untuk meminta Clara pergi dari rumahnya.
Arga tidak ingin Clara membuat masalah dengan memberi tau sang mama tentang kebersamaan Arga dan Karina.
"Arga, kau disini rupanya!" Ucap Clara yang melihat Arga berjalan menghampirinya.
"Ikut aku!" Balas Arga sambil menarik tangan Clara dan membawanya keluar dari rumah.
Clara hanya tersenyum, membiarkan Arga memegang tangannya saat itu. Saat mereka sudah berada di teras, Arga segera melepas tangan Clara darinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Arga pada Clara dengan tatapan penuh emosi.
"Aku hanya ingin menemui Tante Nadine," jawab Clara.
"Pergilah Clara, jangan membuat keributan yang hanya akan kau sesali nanti," ucap Arga.
"Keributan apa maksudmu Arga? Aku hanya ingin bertemu dengan Tante Nadine," balas Clara.
"Aahh aku mengerti, apa kau takut jika aku memberi tahu Tante Nadine tentang apa yang aku lihat tadi pagi?" Lanjut Clara yang membuat Arga semakin emosi.
"Clara, kau....."
"Arga, Clara, apa yang kalian lakukan di luar?" Tanya Nadine yang membawa langkahnya menghampiri Arga dan Clara, membuat Arga menghentikan ucapannya.
"Hai Tante," sapa Clara lalu memberikan cipika cipiki pada mama Arga.
Arga hanya menghela nafasnya kesal lalu membawa langkahnya mengikuti sang mama dan Clara yang berjalan ke ruang tengah.
"Halo om, hai Bianca!" Sapa Clara pada David dan Bianca.
Bianca hanya tersenyum membalas sapaan Clara.
"Apa sebaiknya kita pulang sekarang Bee?" Tanya Arga sambil menyandarkan kepalanya di bahu Bianca dengan manja.
"Kenapa?" Tanya Bianca.
"Jangan pulang dulu, lebih baik kita makan siang bersama disini," Sahut Nadine.
"Ide bagus, Clara setuju, Tante," balas Clara.
"Bagaimana denganmu Bianca?" Tanya Nadine pada Bianca.
Bianca membawa pandangannya pada Arga sebelum ia menjawab pertanyaan mama Arga. Sedangkan Arga hanya menghela nafasnya kesal lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Bianca setuju ma," ucap Bianca.
"Baguslah kalau begitu, mama akan memberi tahu bibi agar memasak makan siang lebih banyak," ucap Nadine lalu membawa langkahnya pergi untuk menemui bibi.
"Kalian mengobrol saja disini, ada yang harus papa kerjakan sebentar di ruang kerja," ucap David lalu beranjak dari duduknya.
Kini hanya ada Bianca, Arga dan Clara disana.
"Apa kabar Bianca? Sepertinya sudah cukup lama kita tidak bertemu," tanya Clara pada Bianca.
"Aku baik, bagaimana denganmu?" Balas Bianca.
"Seperti yang kau lihat, aku memang terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya tidak," ucap Clara.
"Aku masih kecewa karena Arga lebih memilihmu," lanjut Clara dengan tersenyum tipis.
Mendengar hal itu, Bianca dan Arga hanya saling pandang tanpa mengatakan apapun. Sebenarnya keberadaan Clara disana memang membuat Bianca dan Arga merasa tidak nyaman.
Arga yang takut jika Clara akan mengatakan tentang pertemuannya dengan Karina pada Bianca dan mama papanya.
__ADS_1
Sedangkan Bianca yang merasa tidak nyaman karena sejak awal hubungannya dengan Clara memang tidak baik.
Namun mereka berdua tidak bisa menghindari Clara karena tidak ingin membuat orang tua Arga berpikir jika mereka bertiga memiliki hubungan yang kurang baik.
"Aku tadi sangat terkejut saat melihatmu disana Arga, tapi mungkin Bianca dan orang tuamu akan lebih terkejut saat mereka mengetahuinya," ucap Clara yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Clara.
Bianca yang tidak mengerti maksud ucapan Clara seketika membawa pandangannya pada Arga dengan raut wajah penuh tanda tanya.
Namun Bianca memilih untuk menyimpan semua pertanyaan itu di kepalanya dan tidak menanyakannya pada Arga ataupun Clara.
"Tenang saja, aku tidak akan memberi tahu siapapun, rahasiamu aman di tanganku," ucap Clara dengan tersenyum penuh kemenangan.
Melihat Arga yang tampak gugup sudah cukup membuat Clara tersenyum senang. Clara berpikir jika memang apa yang ia ketahui membuat Arga takut, ia bisa memanfaatkan hal itu untuk menarik Arga mendekat padanya.
"Jaga ucapanmu Clara, jangan membual di depan semua orang!" ucap Arga yang berusaha untuk tetap tenang, meskipun sangat jelas terlihat kegugupan dan kemarahan yang terpendam dari raut wajahnya.
"Hahaha.... membual? mari kita lihat saja, apa Bianca dan orang tuamu akan berpikir jika aku membual, atau mereka....."
"Makanan sudah siap!" ucap Nadine yang keluar dari dapur sambil membawa makanan di tangannya, membuat Clara menghentikan ucapannya.
Bianca kemudian beranjak dari duduknya lalu membantu Nadine untuk menyiapkan makan siang di meja makan.
Arga yang juga akan beranjak tiba-tiba di hentikan oleh Clara.
"Kau tidak akan bisa membohongi mereka selamanya Arga, kebohonganmu pasti akan terungkap, cepat atau lambat," ucap Clara dengan tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan Arga.
"Mama akan memanggil papa, kalian duduk saja dulu!" ucap Nadine lalu berjalan pergi untuk memanggil sang suami.
"Bianca, apa tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku? aku yakin kau pasti bertanya-tanya tentang apa maksud ucapanku tadi, benar begitu bukan?" tanya Clara pada Bianca.
"Jangan dengarkan dia Bianca, kau tau seperti apa dia," ucap Arga sebelum Bianca mengatakan apapun.
"Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, Clara," ucap Bianca yang membuat Arga semakin gugup.
Arga takut jika Clara akan benar-benar memberi tahu Bianca tentang apa yang Clara lihat. Namun Arga tidak bisa bersikap gegabah karena tidak ingin membuat Bianca mencurigainya.
"Tanyakan saja Bianca, dengan senang hati akan menjawabnya," balas Clara.
"Tanyakan hal itu nanti saja Bianca, lebih baik kita makan siang dulu!" ucap Arga sambil membalik piring di hadapan Bianca.
"Tidak Arga, aku ingin menanyakannya sekarang juga," balas Bianca yang semakin membuat Arga gugup.
"Biarkan saja istrimu bertanya Arga, kau tidak perlu gugup seperti itu!" ucap Clara pada Arga.
"Tanyakan apapun yang ingin kau tanyakan Bianca, aku pasti akan memberikan jawaban terbaikku untukmu," lanjut Clara berbicara pada Bianca.
"Aku hanya ingin tau, sebenarnya....."
Bianca mengentikan ucapannya saat ia melihat Nadine dan David yang berjalan ke arah meja makan.
"Kita lanjutkan nanti saja," ucap Bianca.
"Baiklah, memang lebih baik jika kita hanya mengobrol berdua saja," balas Clara.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? sepertinya seru sekali?" tanya Nadine.
"Hanya hal kecil Tante, tapi sepertinya itu cukup membuat Arga gugup," jawab Clara dengan membawa pandangannya pada Arga.
"Jaga ucapanmu Clara," sahut Arga.
"Baiklah, aku tidak akan membuat om dan Tante salah paham disini," ucap Clara.
"Salah paham tentang apa? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Nadine penasaran.
"Tidak ma, Clara hanya membual omong kosong," ucap Arga.
"Clara, apa benar begitu? tolong katakan pada Tante jika ada sesuatu yang terjadi pada Bianca dan Arga!" tanya Nadine pada Clara.
"Tidak ada apapun yang terjadi pada Bianca dan Arga ma, kita baik-baik saja," sahut Bianca.
"Tapi....."
"Sudahlah ma, lebih baik kita nikmati saja makan siangnya sebelum semua makanan ini dingin," ucap David memotong ucapan sang istri.
Nadine hanya menghela nafasnya sambil menyiapkan makanan di atas piring sang suami sambil sesekali memperhatikan Bianca, Arga dan Clara.
Dari apa yang dia perhatikan, Nadine bisa melihat raut wajah Arga yang tampak menegang dan tidak tenang.
Sedangkan Clara tampak penuh senyum sejak dia datang, begitu juga Bianca yang bersikap seperti sedang baik-baik saja.
Namun Nadine yakin, pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya. Entah itu Bianca, Arga atau Clara bahkan mungkin mereka bertiga.
Setelah menyelesaikan makan siang itu, Arga dan Bianca berpamitan untuk pulang, begitu juga Clara.
__ADS_1
Saat baru saja berjalan keluar melewati pintu utama rumah keluarga Arga, Bianca membawa langkahnya menghampiri Clara yang akan masuk ke dalam mobil.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Bianca sambil menahan tangan Clara yang akan membuka pintu mobilnya.