Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Sebuah Panggilan


__ADS_3

Di depan area pemakaman, Bianca membiarkan dirinya menangis dalam dekapan Arga.


Entah untuk ke berapa kali Bianca menangis di hadapan Arga. Bianca yang selalu menyembunyikan kesedihannya kini membiarkan dirinya tampak lemah di hadapan Arga.


Ada sesuatu yang membuat Bianca nyaman berada dalam dekapan Arga, sesuatu yang membuat Bianca percaya dan yakin untuk membiarkan dirinya menangis di hadapan Arga.


Setelah Bianca lebih tenang, Arga membuka pintu mobilnya untuk Bianca. Arga kemudian mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Arga dan Bianca segera masuk ke dalam rumah.


"Beristirahatlah di kamar, jangan memikirkan apapun yang membuatmu bersedih, kau harus bisa benar-benar bahagia Bianca, orang tuamu ingin melihat kau benar-benar bahagia, bukan berpura-pura bahagia," ucap Arga sambil membelai Bianca dengan lembut.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya.


Bianca membaringkan dirinya di atas ranjangnya, memikirkan apa yang baru saja terjadi padanya.


Mulai dari Lola yang berbohong padanya, Arga yang menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya, bagaimana Arga menenangkan dirinya hingga akhirnya Arga membawanya pergi ke makam kedua orang tuanya.


Ia tidak mengerti kenapa Arga melakukan hal yang sejauh itu untuknya, tetapi yang pasti semua hal yang Arga lakukan itu membuatnya lebih tenang.


"Maafkan Bianca ma, pa, ternyata selama ini Bianca tidak pernah benar-benar bahagia, Bianca hanya berpura-pura bahagia agar tidak terlihat lemah, agar Bianca memenuhi keinginan mama yang ingin melihat Bianca selalu ceria," ucap Bianca dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca.


"Bianca tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi, tapi Bianca akan berusaha untuk bisa menjalani kehidupan Bianca dengan lebih baik, Bianca akan berusaha untuk benar-benar bahagia mulai sekarang."


Tanpa sadar waktu membawa Bianca terpejam sampai akhirnya ia tertidur. Dalam tidurnya samar-samar Bianca mendengar seseorang memanggil namanya.


Suara halus dan lembut yang sudah lama tidak pernah ia dengar kini dengan jelas menyapa telinganya.


Bianca mengerjapkan matanya, membuka matanya pelan dan mendapati dua orang tengah berdiri di samping ranjangnya. Biancapun segera beranjak dari tidurnya karena begitu terkejut dengan apa yang ia lihat saat itu.


Dua orang itu kemudian berjalan mendekati Bianca, duduk di samping Bianca dan memeluk Bianca dengan erat seolah mencurahkan kerinduan yang selama ini terpendam.


"Mama.... papa....." ucap Bianca dengan suara bergetar.


Untuk beberapa saat Bianca menikmati waktunya memeluk kedua orang tua yang selama ini begitu dirindukannya.


Baginya tak ada rindu yang lebih berat selain merindukan seseorang yang sudah tidak akan pernah kita temui lagi dan Bianca sudah menyimpan kerinduan yang menyakitkan itu cukup lama.


Sebagai anak satu-satunya yang selalu merasakan keutuhan kasih sayang orang tua membuat Bianca semakin terpuruk saat ia kehilangan orang tuanya.


Namun banyak hal mengajarkannya untuk tetap melanjutkan hidupnya, meskipun sebenarnya kesedihan dan ketakutan masih tersimpan dengan rapi dalam dirinya.


Sosok mama dan papa Bianca kemudian mencium kening Bianca lalu tersenyum pada Bianca. Senyum yang sudah sangat lama tidak Bianca lihat, senyum penuh ketenangan yang selalu menghangatkan suasana dalam rumahnya.


Kedua sosok itu kemudian beranjak dari ranjang Bianca, berdiri di hadapan Bianca lalu mengusap pelan kepala Bianca sebelum mereka berjalan menjauh dari Bianca.


"Mama..... papa.....!" teriak Bianca seolah tidak ingin kedua orang tuanya meninggalkannya.


"Bianca, bangunlah Bianca!" ucap Arga sambil menyentuh pipi Bianca yang sudah dibasahi oleh air mata.


Seketika Bianca terbangun dari tidurnya dan menyadari jika apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi.


Bianca berusaha mengatur nafasnya, menghapus air mata di kedua sudut matanya lalu beranjak dari tidurnya.


"Apa kau memimpikan orang tuamu?" tanya Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Apa yang mereka katakan padamu?" tanya Arga.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya lalu turun dari ranjangnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Bianca berusaha untuk bisa mengendalikan dirinya, ia tidak ingin selamanya terlihat lemah dan bersedih di hadapan Arga.


Setelah dirinya lebih tenang, Bianca kemudian keluar dari kamar mandi dan mendapati Arga yang masih duduk di tepi ranjangnya.


"Kenapa kau masih ada disini?" tanya Bianca pada Arga.


"Aku tadi mengetuk pintu kamarmu beberapa kali tapi kau tidak menjawab, lalu aku mendengarmu berteriak kemudian aku masuk dan sepertinya kau sedang bermimpi," jelas Arga.


"Aku hanya ingin mengajakmu makan siang, kau belum makan siang bukan?" lanjut Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Arga dan Bianca kemudian keluar dari kamar lalu menuju ke meja makan dimana sudah banyak makanan disana.


"Kau yang memasak semua ini?" tanya Bianca.


"Tidak, bibi yang memasaknya aku tidak sempat karena sibuk dengan pekerjaanku di ruang kerja," jawab Arga.

__ADS_1


Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu menikmati makan siangnya bersama Arga.


"Apa yang ingin kau lakukan setelah ini?" tanya Arga pada Bianca.


"Tidak ada," jawab Bianca tak bersemangat.


"Kalau begitu bersiap-siaplah, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Arga.


"Kemana?" tanya Bianca.


"Kau akan tahu nanti," balas Arga tanpa menjawab pertanyaan Bianca.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Bianca kemudian masuk ke kamarnya untuk bersiap sesuai dengan perintah Arga.


Setelah mempersiapkan dirinya dengan baik, Bianca kemudian keluar dari kamarnya lalu berjalan ke ruang tamu dimana Arga sudah menunggunya.


"Aku sudah siap," ucap Bianca pada Arga.


Arga menganggukkan kepalanya pelan lalu menggandeng tangan Bianca untuk keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil, Arga kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah.


"Sebenarnya kita mau kemana Arga?" tanya Bianca penasaran karena ia belum pernah melewati jalanan yang Arga lewati saat itu.


"Kau akan tahu nanti, aku yakin kau akan menyukainya," jawab Arga.


"Lalu bungkusan apa yang ada di belakang? apa kau akan memberikannya pada seseorang?" tanya Bianca saat ia menyadari banyak bungkusan yang ada di bangku belakang.


Arga hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Bianca. Setelah beberapa lama dalam perjalanan merekapun sampai di tempat tujuan Arga.


"Panti asuhan," ucap Bianca membaca papan yang tertulis di depan bangunan yang ada di hadapannya.


Tak lama setelah Arga memarkirkan mobilnya beberapa orang datang menghampiri Arga. Mereka menyapa Arga seperti sudah mengenal Arga dengan baik.


Arga kemudian memperkenalkan Bianca sebagai istrinya pada beberapa orang itu. Arga dan beberapa orang itu kemudian mengambil bingkisan yang dibawa Arga untuk dipindahkan ke dalam salah satu ruangan yang ada disana.


"Sepertinya sudah hampir dua bulan mereka belum bertemu nak Arga," ucap seorang wanita yang tampak begitu akrab dengan Arga.


"Iya Bu, Arga sedang sibuk dengan pekerjaan dan pernikahan Arga," balas Arga.


Wanita itu kemudian membawa pandangannya ke arah Bianca meraih kedua tangan Bianca dan menggenggamnya.


Arga dan Bianca hanya tersenyum tipis dengan sedikit menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.


Tak lama kemudian beberapa anak berlarian menghampiri Arga dan memeluk Arga satu persatu. Argapun terlihat sangat akrab dengan anak-anak itu.


Saat Arga sedang sibuk dengan anak-anak kecil disana, wanita itu menjelaskan pada Bianca jika Arga adalah salah satu donatur tetap di panti asuhan itu sejak lama.


Arga bahkan beberapa kali menyempatkan waktunya untuk mengajar atau sekedar bermain-main disana.


Tidak hanya memberikan bantuan secara materiil, Arga bahkan membayar beberapa guru yang menjadi pengajar tetap di panti asuhan itu.


Mendengar hal itu membuat Bianca semakin kagum pada Arga, di balik kesombongan dan keangkuhannya Arga adalah sosok laki-laki yang benar-benar nyaris sempurna.


Tidak hanya karena kekayaan dan ketampanannya tapi juga karena kepeduliannya pada banyak orang di sekitarnya.


Semakin lama mengenal Arga membuat Bianca semakin melihat banyak hal baik dari sosok Arga yang dulu dinilainya angkuh dan sombong.


Arga kemudian mengajak Bianca untuk bercengkrama dengan anak-anak yang ada di panti asuhan itu, Arga memperkenalkan pada mereka jika Bianca adalah istrinya.


Mereka semuapun mendoakan hal-hal baik untuk pernikahan Bianca dan Arga, berharap agar Bianca dan Arga bisa bersama selamanya.


Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, tak terasa langit barat mulai diterangi oleh sinar senja.


Arga dan Biancapun meninggalkan panti asuhan itu setelah mereka berpamitan pada para pengurus dan juga anak-anak yang ada disana.


"Bagaimana? menyenangkan bukan?" tanya Arga pada Bianca saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Sangat menyenangkan," jawab Bianca dengan menganggukkan kepalanya.


"Apa yang aku lihat membuatku lebih bersyukur atas hidup yang sudah aku jalani, terima kasih sudah mengajakku kesini Arga," lanjut Bianca.


"Aku selalu menyempatkan waktuku untuk kesini setiap satu atau dua bulan sekali, jika kau mau aku akan mengajakmu untuk kembali lagi kesini bulan depan," ucap Arga.


"Tentu saja aku mau," balas Bianca bersemangat.


Melihat Bianca yang sudah kembali ceria membuat Arga lega, Arga kemudian menepuk pelan kepala Bianca dengan tersenyum.

__ADS_1


Perempuan cantik yang ada di sampingnya itu ternyata menyimpan banyak kesedihan dalam hidupnya. Kesedihan yang selalu tersimpan rapi oleh keceriaan yang selalu ia tunjukkan pada semua orang.


"Dua tahun ini aku akan membuat hidupmu lebih bahagia Bianca, benar-benar bahagia bukan sekedar berpura-pura bahagia," ucap Arga dalam hati.


"Ibu panti sudah memberitahuku apa saja yang sudah kau lakukan untuk panti asuhan itu, maaf karena selama ini selalu berpikiran buruk tentangmu, aku tidak tahu jika kepedulianmu pada orang lain sangat besar," ucap Bianca.


"Tidak banyak yang aku lakukan Bianca, Mama dan papa yang mengajariku banyak hal baik dan aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan, aku tidak berharap apapun selain apa yang aku lakukan memberi manfaat untuk mereka," balas Arga.


"Apa yang sudah kau lakukan adalah hal besar untuk mereka Arga," ucap Bianca.


"Semoga saja begitu," balas Arga sambil membawa pandangannya pada Bianca dengan tersenyum.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Arga dan Biancapun sampai di rumah saat langit benar-benar sudah gelap.


Arga dan Bianca kemudian keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Saat Bianca akan masuk ke dalam kamarnya, Bianca menghentikan langkahnya di depan pintu kamarnya lalu membawa pandangannya menatap Arga yang berjalan ke arah tangga.


"Arga!" panggil Bianca yang membuat Arga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Bianca.


"Terima kasih untuk hari ini," ucap Bianca dengan tersenyum


"Kau semakin cantik jika tersenyum seperti itu," balas Arga dengan tersenyum yang membuat Bianca segera membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamar begitu saja.


Sedangkan Arga hanya terkekeh melihat sikap Bianca lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.


Di dalam kamarnya, Bianca segera masuk ke kamar mandi.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Arga mengetuk pintu kamar Bianca, meminta Bianca untuk keluar dari kamar.


"Aku sudah memasak makan malam untukmu," ucap Arga setelah Bianca membuka pintu kamarnya.


Biancapun segera mengikuti langkah Arga yang berjalan ke meja makan. Arga dan Bianca menikmati makan malam mereka yang sudah disiapkan oleh Arga.


Di tengah-tengah menikmati makanannya, Bianca terdiam memikirkan sesuatu.


"Ada apa Bianca? apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Arga yang melihat Bianca tiba-tiba terdiam.


"Aku sedang berpikir apa kekuranganmu selain kau yang tak terkadang terlihat angkuh dan sombong," jawab Bianca yang membuat Arga terkekeh.


"Aku tidak sombong Bianca, aku hanya memperlihatkan apa yang aku punya hahaha...." balas Arga.


Bianca hanya menghela nafasnya lalu kembali melanjutkan makannya.


Tiba-tiba bibi berjalan cepat ke arah Arga sambil memegang ponsel yang sedang berdering saat itu.


"Permisi tuan, sepertinya ini ponsel Tuan Arga yang tertinggal di dapur," ucap bibi pada Arga.


"Aahhh ya terima kasih Bi," ucap Arga.


Arga terdiam beberapa saat setelah ia melihat layar ponselnya. Ia lalu membawa pandangannya pada Bianca, ragu untuk menerima panggilan yang ada di ponselnya saat itu.


"Kenapa?" tanya Bianca yang merasa Arga sedang menatapnya.


Arga hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum lalu menaruh ponselnya di atas meja dan kembali melanjutkan makan malamnya bersama Bianca.


Namun ponselnya terus berdering meskipun Arga tidak menerima panggilan itu.


"Angkat saja Arga, siapa tahu penting," ucap Bianca.


"Nanti saja," balas Arga.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Setelah beberapa panggilan tidak diterima oleh Arga tiba-tiba ponselnya kembali berdering karena sebuah pesan masuk.


Pesan masuk itu berisi sebuah foto yang memperlihatkan ruangan rumah sakit. Arga yang terkejut segera menghubungi seseorang yang mengirimkan pesan itu padanya.


"Kau dimana sekarang?" tanya Arga setelah seseorang itu menerima panggilannya.


Setelah seseorang itu memberitahu dimana ia berada, Arga segera mengakhiri panggilannya lalu beranjak dari duduknya.


"Bianca, aku harus pergi, lanjutkan makan malammu," ucap Arga lalu berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Bianca di meja makan.


Bianca bahkan belum sempat bertanya apapun tetapi Arga sudah menghilang dari pandangannya.


"Siapa yang menghubunginya? sepertinya penting sekali? Arga juga menanyakan keberadaan seseorang itu lalu segera meninggalkan makan malamnya," batin Bianca bertanya dalam hati.

__ADS_1


"Apa mungkin terjadi sesuatu pada orang terdekatnya? apa mungkin itu Daffa?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.


__ADS_2