Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Menemukan Bianca


__ADS_3

Di tempat lain, Arga sedang mengendarai mobilnya di jalanan hutan. Lokasi dari mobil yang ia curigai berada tidak jauh dari jalanan yang Arga lewati saat itu, namun ia tidak tahu pasti dimana letak mobil itu.


"Semoga Bianca baik baik saja, aku yakin dia pasti bisa melawan orang orang jahat itu!" Ucap Arga sambil terus fokus dengan jalanan daerah pegunungan yang berliku.


Tiba tiba Arga menghentikan laju mobilnya dengan mendadak. Arga melihat ke arah spion untuk memastikan apa yang baru saja ia lihat.


"Bianca!"


Dengan cepat Arga memutar balik mobilnya lalu kembali ke arah Bianca yang berjalan tertatih di tepi jalan dengan melambaikan tangannya.


Setelah memastikan jika perempuan yang tampak sangat kacau itu adalah Bianca, Argapun segera keluar dari mobilnya.


Gadis cantik dengan rambut berantakan yang terdapat beberapa helai daun dan ranting di rambutnya, tersenyum manis padanya dengan luka yang ada pada hampir semua tubuhnya.


Yang membuat Arga lebih terkejut adalah dari satu tangan Bianca yang memegangi kepala tampak menetes darah segar di ujung sikunya.


"Aku pasti hanya berhalusinasi melihatmu disini," ucap Bianca dengan senyum yang masih terlihat cantik meski keadaannya benar benar sangat kacau saat itu.


"Siapa yang melakukan ini padamu Bianca? Siapa yang......"


Arga menghentikan ucapannya saat tiba tiba Bianca ambruk di hadapannya, beruntung Arga dengan sigap menahan Bianca dalam dekapannya.


Arga kemudian membawa Bianca masuk ke dalam mobilnya. Arga melepas dasi yang ia kenakan kemudian ia ikatkan tepat pada luka di kepala Bianca.


"Bertahanlah sebentar lagi Bianca!" Ucap Arga yang tampak panik saat itu.


Arga kemudian mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit terdekat sambil menghubungi salah satu orang suruhannya untuk segera menyisir tempat dimana ia menemukan Bianca.


"Cari gedung atau tempat apapun yang mencurigakan disana dan dapatkan petunjuk apapun yang bisa kalian temukan!" Ucap Arga lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.


Sesekali Arga membawa pandangannya ke arah Bianca yang terpejam. Entah luka separah apa yang ada di kepala Bianca tapi yang pasti kini dasi milik Argapun telah berubah warna karena darah Bianca.


"Aku tau kau gadis yang kuat Bianca, bertahanlah sebentar lagi!" Ucap Arga sambil menggenggam tangan Bianca yang sudah berlumuran darah.


"Siapa yang tega melakukan hal ini padamu Bianca? Siapa bajingan brengsek itu?" Tanya Arga dengan raut wajah penuh emosi.


Hingga akhirnya Argapun sampai di salah satu rumah sakit. Biancapun segera dibawa ke ruang UGD untuk mendapatkan perawatan darurat.


Setelah beberapa lama menunggu, Dokterpun keluar dari ruang UGD dan menjelaskan pada Arga tentang keadaan Bianca.


"Tidak ada luka yang serius pada pasien, hanya luka luka kecil yang....."


"Bagaimana mungkin tidak ada luka yang serius, apa dokter tidak melihat kepalanya yang berdarah? Tolong periksa lagi dok, lakukan apapun yang terbaik untuknya!" Ucap Arga memotong ucapan dokter.


"Pendarahan yang ada di kepalanya terjadi karena adanya robekan di bagian belakang kepalanya, tetapi robekan itu tidak sampai mengenai bagian vital kepalanya jadi....."


"Apakah dia bisa dipindahkan ke rumah sakit lain sekarang juga?" Tanya Arga yang lagi lagi memotong ucapan dokter.


Dokter menghela nafasnya melihat sikap Arga, dengan senyum penuh kesabaran dokterpun mengizinkan Arga untuk memindahkan Bianca dari rumah sakit itu.


Setelah mengurus beberapa prosedur yang diharuskan, Biancapun dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar di kota. Sesampainya di rumah sakit kota, Bianca kembali di periksa oleh dokter dan dokterpun menjelaskan hal yang sama seperti dokter sebelumnya.


"Jangan khawatir, luka yang ada di kepalanya sama sekali tidak membahayakan nyawanya, beruntung dia mendapatkan penanganan pertama dengan cepat jadi tidak banyak darah yang keluar," jelas dokter setelah mendapat beberapa perdebatan dengan Arga.


"Mungkin sebentar lagi dia akan sadar, jadi tunggu saja, suster akan memindahkannya ke ruang rawat!" Lanjut Dokter.


"Tolong bawa dia ke ruang VIP dok, saya tidak ingin dia berada satu ruangan bersama pasien lain," ucap Arga.


"Baiklah, saya akan meminta suster untuk membawanya ke ruang VIP," balas dokter.


"Terima kasih dok," ucap Arga yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh dokter.


Setelah Bianca dipindahkan ke ruang rawat VIP, Argapun menemani Bianca dengan duduk di samping ranjang Bianca.


"Bianca, bangunlah, kau membuatku sangat khawatir padamu!" Ucap Arga.


Arga kemudian membawa pandangannya ke arah tangan Bianca yang ada di dekatnya. Dengan sengaja Arga menyentuh tangan Bianca dan menggenggamnya.


"Kau pasti sangat marah jika aku memegang tanganmu bukan? Sekarang bangunlah dan marahlah padaku!" Ucap Arga.


Benar saja, tak lama kemudian Bianca tampak mengerjap, Argapun segera melepas tangan Bianca dari genggamannya.


"Bianca, apa kau bisa melihatku?" Tanya Arga dengan menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri di hadapan Bianca.


"Tentu saja bisa, kau pikir aku buta!" Balas Bianca dengan nada suara yang masih lemah.


"Hahaha.... Syukurlah kalau begitu!" Ucap Arga lega.

__ADS_1


"Tapi..... Kau siapa?" Tanya Bianca yang seketika membuat raut wajah Arga berubah.


"Bianca, kau tidak mengenaliku? Apa kau mengingat siapa namamu? Apa kau sama sekali tidak mengingat hubungan kita?" Tanya Arga panik yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Bianca.


"Tidak mungkin, Dokter harus memeriksamu lagi!" Ucap Arga yang hendak memencet tombol di dekat ranjang Bianca untuk memanggil Dokter, namun tiba tiba Bianca menahan tangan Arga dengan menahan tawanya.


"Kenapa? Kau tertawa?" Tanya Arga.


"Aku hanya bercanda Arga hmmmmppp!" Jawab Bianca dengan berusaha menahan tawanya.


"Biancaaa..... Kau..... Aaargghhh....."


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu marah," ucap Bianca.


"Bagaimana aku bisa marah padamu Bianca, aku sangat mengkhawatirkanmu, aku bahkan memindahkanmu dari rumah sakit pertama karena aku ragu dengan penjelasan dokter disana, tapi dokter disini juga mengatakan hal yang sama tentangmu," balas Arga.


"Pasti dokter mengatakan aku baik baik saja bukan?" Tanya Bianca yang dibalas anggukan kepala oleh Arga.


"Aku memang baik baik saja, aku hanya sedikit pusing setelah aku berguling dari atas bukit," ucap Bianca.


"Berguling dari atas bukit?" Tanya Arga mengulangi ucapan Bianca.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.


"Dengan keadaanmu yang seperti itu bisa bisanya kau masih tersenyum padaku, apa kau gila?"


"Aku hanya tidak menyangka melihatmu disana, rasanya sangat lega saat aku melihatmu di depanku," balas Bianca.


"Aku tidak akan bertanya apapun tentang kejadian itu sekarang, tapi setelah kau keluar dari rumah sakit, kau harus menjelaskan semuanya padaku," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Arga berdering, sebuah panggilan dari orang suruhannya yang memberi tahu Arga jika mereka menemukan sebuah bangunan tua yang ada di ujung bukit.


"Kami menemukan beberapa jejak ban mobil yang berbeda disana, kemungkinan ada beberapa mobil yang baru saja pergi dari tempat ini!"


"Apa jejak ban mobil itu sesuai dengan mobil yang aku curigai itu?" Tanya Arga.


"Sepertinya itu jenis mobil yang sama, tapi ada satu jenis mobil yang berbeda, sedangkan 2 mobil lainnya berjejak sama dengan mobil yang kita curigai!"


"Lalu apa yang kalian temukan di bangunan tua itu?" Tanya Arga.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih!" Ucap Arga kemudian mengakhiri panggilan itu.


Arga kemudian membawa pandangannya pada Bianca yang tampak baik baik saja di atas ranjang.


"Apa yang kau rasakan sekarang Bianca? Apa ada yang sakit!" Tanya Arga


"Tidak ada, hanya sedikit pusing saja," jawab Bianca.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Kali ini sebuah pesan masuk dari Daffa.


"Arga, bagaimana dengan meeting penting bersama klien dari luar negeri? Jika kita membatalkannya sekarang mereka akan kembali ke Negera mereka sekarang juga!"


Arga terdiam untuk beberapa saat, ia memang mengkhawatirkan Bianca tetapi ia juga tidak bisa membatalkan meeting pentingnya begitu saja.


"Apa kau yakin baik baik saja?" Tanya Arga pada Bianca.


"Iya aku baik baik saja, pergilah jika kau ingin pergi," jawab Bianca.


"Aku.... Aku harus menemui klien penting ku dari luar negeri," ucap Arga ragu.


"Pergilah, aku tau itu pasti sangat penting untuk perusahaanmu," balas Bianca.


"Baiklah aku pergi dulu, akan segera kembali setelah aku menyelesaikan pekerjaanku!" Ucap Arga kemudian berjalan pergi.


"Arga tunggu!" Panggil Bianca yang membuat Arga menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Bianca.


"Kau tidak memberi tahu orang tuamu tentang keadaanku bukan? Aku tidak ingin mereka mengkhawatirkanku dan bertanya banyak hal padaku!"


"Tenang saja, ini hanya tentang kita," balas Arga.


"Baiklah, kau jangan lupa untuk berganti pakaian, kau terlihat sangat kacau sekarang!" Ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Arga.


"Senyumnya......" Batin Bianca mengagumi senyum Arga yang terlihat lain dari biasanya.

__ADS_1


"Bianca, apa yang kau pikirkan!" Ucap Bianca sambil memukul pelan kepalanya.


"Aaawww.... Bodoh sekali, kepalaku kan masih sakit!" Ucap Bianca merutuki kebodohannya sendiri.


Setelah beberapa lama berdiam diri di atas ranjang, Biancapun mulai bosan. Namun tiba tiba seseorang masuk ke dalam ruangannya.


"Lola, kenapa kau bisa tau aku disini?" tanya Bianca yang begitu terkejut melihat keberadaan Lola disana.


"Bianca......"


Lola berlari kecil lalu memeluk Bianca begitu saja. Sejak Daffa memberi tahunya jika Bianca menghilang, Lola begitu khawatir dan hanya bisa menunggu kabar baik dari Daffa.


Sampai akhirnya Arga menghubunginya, bermaksud untuk meminta Lola menemani Bianca di rumah sakit agar tidak bosan.


Tanpa banyak bertanya, Lolapun segera pergi ke rumah sakit dimana Bianca di rawat saat itu.


"Lola, kau menangis?" tanya Bianca yang menyadari jika Lola memeluknya sambil menangis.


"Kau membuatku khawatir Bianca," balas Lola dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


"Aku baik baik saja Lola, berhenti mengkhawatirkanku seperti itu!"


"Jika sampai Arga membuatmu celaka, aku pasti akan menghajarnya tanpa ampun, bisa bisanya dia membuat sahabatku seperti ini!" ucap Lola sambil menghapus air mata di pipinya.


"Justru Arga yang membantuku untuk bisa kabur dari orang orang jahat itu, entah bagaimana jadinya jika tidak Arga saat itu," balas Bianca.


"Tapi siapa yang menculikmu Bianca? tidak mungkin orang orang yang menagih hutang itu bukan?"


"Sepertinya bukan karena Arga sudah memberikan lebih dari yang mereka inginkan, aku juga tidak tau siapa dan apa maksud dari mereka menculikku, apa mereka pikir aku anak kecil yang mudah diculik?"


"Berhenti bercanda Bianca, ini bukan waktunya bercanda!"


"Hahaha.... kau jangan terlalu serius Lola, aahh ya, bagaimana kau tau aku disini? apa Arga yang memberi tahumu?"


"Iya, dia memintaku untuk datang dan menemanimu disini, padahal tanpa dia mintapun aku pasti akan datang dan menemanimu disini!" jawab Lola.


"Sepertinya dia sangat mengkhawatirkanmu Bianca, dia mencari CCTV di sekitar tempat kosku untuk mencari petunjuk tentangmu yang menghilang dengan tiba tiba," lanjut Lola


"Lola benar, Arga memang terlihat sangat mengkhawatirkanku, tapi apa dia sungguh mengkhawatirkan aku sebagai Bianca, atau hanya mengkhawatirkanku sebagai istri yang harus terlihat baik baik saja di depan banyak orang?" tanya Bianca dalam hati.


"Bukankah semua yang dia lakukan hanya untuk kontrak yang sudah kita sepakati, mungkin dia hanya tidak ingin ada media yang memberitakan tentangku yang tiba tiba menghilang, karena itu hanya akan mempengaruhi dia dan keluarganya," ucap Bianca dalam hati.


"Apa yang sedang kau pikirkan Bianca?" tanya Lola membuyarkan lamunan Bianca.


"Aku..... hanya sedang merindukan kak Bara," jawab Bianca sekenanya.


"Lagi lagi kak Bara, Arga yang sangat mengkhawatirkan keadaanmu Bianca, apa kau tidak bisa melihatnya?"


"Semua yang Arga lakukan padaku hanya demi kepentingannya sendiri Lola, semuanya hanya demi dia, keluarga dan perusahaannya," balas Bianca.


"Tapi....."


"Jadi jangan mudah terpengaruh dengan apa yang kau lihat tentang Arga, semua yang dia lakukan padaku hanya karena kontrak pernikahan yang sudah kita sepakati, tidak lebih dari itu!" ucap Bianca memotong ucapan Lola.


"Bagaimana dengan kebersamaannu dengan Arga di Bali?" tanya Lola.


"Semua itu palsu, Arga tau jika ada yang mengikuti kita selama kita berada di Bali, jadi Arga sengaja membuat seolah olah kita adalah pasangan suami istri yang saling mencintai dan penuh dengan kebahagiaan," jelas Bianca.


"Lagi pula kepergianku dengan Arga ke Bali memang untuk tujuan itu, membuat publik percaya dengan pernikahan kita," lanjut Bianca.


Untuk beberapa saat Lola terdiam. Ia merasa kasihan melihat jalan hidup sahabatnya itu.


"Bukankah aku sudah pernah memberitahumu untuk tidak mudah percaya dengan apapun yang media beritakan? karena seperti yang aku lihat sendiri, kehidupan sebenarnya dengan kehidupan di media sosial ataupun tv terkadang sangat jauh berbeda!"


"Kau benar, tetapi apapun itu aku harap kau bisa menjalin hidupmu dengan bahagia Bianca!" ucap Lola.


"Tentu saja, ada kau yang selalu di samping ku bukan?"


"Tentu saja," balas Lola dengan tersenyum.


**


Di tempat lain, Arga sedang mengendarai mobilnya bersama Daffa ke arah restoran tempat ia akan bertemu dengan kliennya.


"Bagaimana keadaan Bianca? sepertinya kau sangat mengkhawatirkannya!" tanya Daffa.


"Dia msih di rumah sakit, beruntung tidak ada luka serius yang terjadi padanya," jawab Arga.

__ADS_1


"Melihatmu yang sangat mengkhawatirkannya, apa mungkin kau sudah jatuh cinta padanya?"


"Omong kosong apa yang kau bicarakan, aku bahkan masih berusaha untuk membawa Karina kembali dalam hidupku!" balas Arga dengan tersenyum tipis.


__ADS_2