Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Kecemburuan Bianca


__ADS_3

Bianca masih duduk di tempatnya, ia memikirkan apa yang baru saja Arga katakan padanya.


"Kenapa dia berkata seperti itu? apa itu artinya dia sudah melupakan perasaannya padaku? apa mungkin dia baru sadar jika dia sebenarnya tidak mencintaiku?" batin Bianca bertanya dalam hati.


Entah kenapa tiba-tiba ada rasa kecewa yang menyelinap ke dalam hatinya setelah ia mendengar apa yang Arga katakan.


"Biarkan saja, aku tidak peduli, aku hanya harus menjalani kehidupanku seperti biasanya sampai kontrak kesepakatanku dengannya selesai," ucap Bianca dengan menghela nafasnya lalu kembali membaca bukunya.


Setelah cukup lama Bianca membaca bukunya, ia kemudian beranjak dari duduknya dan meninggalkan balkon.


Saat akan masuk ke kamarnya, Bianca melihat Arga yang berjalan keluar dengan membawa kunci mobilnya.


"Kemana dia akan pergi? kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku?" batin Bianca bertanya dalam hati.


Namun lagi-lagi ia hanya menghela nafasnya lalu masuk ke kamar.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Bianca berjalan ke dapur untuk menemui bibi.


"Apa Arga sudah pulang bi?" tanya Bianca pada bibi.


"Belum non," jawab bibi sambil memasak.


"Kemana dia pergi? apa dia mengatakan sesuatu pada bibi?" tanya Bianca.


"Tidak non, tuan Arga tidak mengatakan apapun pada bibi," jawab bibi.


Entah untuk ke berapa kali Bianca menghela nafasnya hari itu.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan masuk dari Lola.


"Halo Bianca, apa kau ada di rumah?" tanya Lola setelah Bianca menerima panggilannya.


"Iya aku di rumah," jawab Bianca.


"Aku baru pulang kerja dan sedang menunggu bus untuk ke rumahmu, jadi tunggu aku disana, oke?"


"Oke," balas Bianca singkat.


Setelah beberapa lama menunggu, Lolapun tiba di rumah Bianca.


"Kenapa kau terlihat murung sekali? apa kau masih bertengkar dengan Arga?" tanya Lola saat ia baru saja bertemu Bianca.


"Apa aku terlihat seperti itu?" balas Bianca bertanya.


"Tentu saja sangat terlihat Bianca," jawab Lola.


"Aaahh ya, kenapa kau tiba-tiba pergi semalam? kau bahkan tidak membangunkanku sebelum kau pergi," lanjut Lola bertanya.


"Sepertinya aku sudah memberi tahumu jika aku harus pergi," balas Bianca.


"Aku pikir kau kembali tidur setelah aku memintamu tidur, tapi kenapa kau pergi? apa karena mimpi burukmu?" ucap Lola sekaligus bertanya.


"Sebenarnya aku tidak tahu, apakah itu mimpi buruk atau bukan, tapi yang pasti karena mimpi itu, aku dan Arga sudah menyelesaikan masalah kita," balas Bianca.


"Apa itu artinya kalian berdua sudah tidak bertengkar?" tanya Lola memastikan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Baguslah kalau begitu, tapi bagaimana sebenernya mimpimu semalam Bianca? ceritalah!" tanya Lola penasaran.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Ia akan membiarkan dirinya saja yang tau tentang mimpi yang semalam dialaminya.


"Aaahh Bianca... kau menyebalkan sekali," ucap Lola sambil memukul pelan lengan tangan bianca.


Bianca hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya, membuat Bianca segera berjalan cepat ke arah pintu rumah karena berpikir jika mobil yang berhenti adalah mobil Arga.


Namun Bianca hanya menghela nafasnya saat ia tau jika mobil yang berhenti bukanlah mobil Arga.


"Apa ada seseorang yang datang?" tanya Lola yang berjalan mendekati Bianca.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya lalu membawa langkahnya duduk di sofa ruang tamu diikuti oleh Lola yang duduk di samping Bianca.


Tak lama kemudian, gadis cantik berjalan memasuki rumah Bianca dengan penuh senyum sambil membawa sebuah paper bag.


"Kak Bianca!" sapanya dengan berlari kecil ke arah Bianca.


Biancapun tersenyum lalu beranjak dari duduknya, menyambut kedatangan Luna dengan memeluknya.


"Halo kak," sapa Luna pada Lola yang masih duduk di sofa.


Lola hanya tersenyum dengan sedikit menganggukan kepalanya.


"Duduklah, apa kau kesini mencari Arga?" ucap Bianca sekaligus bertanya.


"Tidak, Luna hanya mampir kesini untuk memberikan ini pada kakak dan kak Arga," jawab Luna sambil memberikan paper bag pada Bianca.


"Apa ini?" tanya Bianca sambil membuka paper bag yang sudah ada di tangannya.

__ADS_1


"Ini adalah barang yang kak Bara beli untuk kakak dan kak Arga, sebenarnya kak Bara akan memberikannya saat kita makan malam, tapi karena kakak pulang dulu jadi kak Bara lupa memberikannya dan baru ingat setelah dia kembali ke luar negeri," jelas Luna.


Mendengar penjelasan Luna membuat Bianca sedikit terkejut, namun ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


Begitu juga Lola, ia begitu terkejut saat Luna menyebut nama Bara di hadapannya. Terlebih saat Lola sadar jika raut wajah Bianca tiba-tiba menjadi canggung saat itu.


"Kak Bara? apa mungkin Bara yang sama?" batin Lola bertanya dalam hati.


"Terima kasih Luna, sampaikan juga terima kasihku pada kak Bara," ucap Bianca pada Luna.


"Luna akan menyampaikannya, sekarang Luna harus pergi, bye kak, bye kak!" balas Luna sambil berjalan pergi dengan melambaikan tangannya pada Bianca dan Lola.


"Bye," balas Bianca dengan membalas lambaian tangan Luna.


"Siapa dia Bianca?" tanya Lola pada Bianca setelah memastikan Luna meninggalkan rumah Bianca.


"Dia Luna, adik kandung Arga," jawab Bianca sambil menaruh paper bag itu di atas meja.


"Adik kandung? aku baru tau jika Arga memiliki adik kandung perempuan, selama ini aku pikir dia anak tunggal," ucap Lola.


"Aku juga baru mengetahuinya," balas Bianca.


"Lalu Bara siapa yang dia maksud, tidak mungkin Bara......"


"Ayo makan malam, bibi baru saja selesai memasak," ucap Bianca memotong ucapan Lola sambil membawa langkahnya ke arah meja makan.


Lolapun beranjak dari duduknya lalu berjalan mengikuti Bianca.


"Kau belum menjawab pertanyaanku Bianca, siapa kak Bara yang dia maksud?"


"Jangan membahasnya disini Lola, makan saja dulu," ucap Bianca tanpa menjawab pertanyaan Lola.


Namun melihat sikap dan cara berbicara Bianca, Lola sudah bisa menerka jika apa yang ia pikirkan benar.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Lola menagih jawaban Bianca tentang nama Bara yang Luna sebut.


"Sepertinya lebih baik kita bicara di kamarku saja," ucap Bianca lalu berjalan masuk ke kamarnya bersama Lola.


Di dalam kamarnya Bianca menjelaskan pada Lola tentang hubungan Luna dengan laki-laki yang bernama Bara. Bianca juga menjelaskan jika Bara yang Luna maksud adalah Bara yang sama dengan Bara yang selama ini Bianca tunggu.


Lola yang terkejutpun hanya bisa diam mendengar penjelasan Bianca. Bianca juga menjelaskan bagaimana ia pertama kali bertemu dengan Bara yang datang bersama Luna.


Bianca memberi tahu Lola bagaimana sikap Bara padanya bahkan saat Bara berada di rumah itu. Hal itu tentu saja membuat Lola begitu marah, mengingat bagaimana Bianca selama ini menunggu kembalinya Bara.


"Dia benar-benar laki-laki brengsek!" ucap Lola kesal.


"Aku sangat marah dan kecewa pada kak Bara yang ternyata menyukai perempuan lain, hatiku juga terasa sangat sakit saat itu, tapi ada sesuatu yang aneh sekarang," lanjut Bianca.


"Aneh bagaimana maksudmu?" tanya Lola dengan mengernyitkan keningnya.


"Setelah aku dan Arga bertengkar kemarin, justru hal itu membuatku sama sekali tidak memikirkan kak Bara, aku terlalu marah dan kecewa pada Arga, membuatku melupakan masalahku dengan kak Bara," jelas Bianca.


"Lalu bagaimana dengan sekarang? apa kau masih memikirkan kak Bara? apa kau masih merasa kecewa padanya?" tanya Lola.


"Tidak, aku sudah mengembalikan cincin yang dia berikan padaku dan sekarang aku sudah tidak peduli lagi padanya, aku juga tidak tahu kenapa aku mudah sekali melupakan kak Bara yang dulu sangat aku sukai," balas Bianca.


"Mungkin karena Arga, karena Arga yang menggantikan posisi Bara dalam hatimu," ucap Lola.


"Atau mungkin karena sebenarnya aku tidak sesuka itu pada kak Bara, aku hanya menyukainya dan menunggu akhir dari penantianku, setelah aku tau akhirnya dan aku kecewa, aku memilih untuk menerimanya dan berhenti menghabiskan waktuku hanya untuk hal yang sia-sia," balas Bianca.


"Mulai sekarang aku hanya akan menjalani peranku sebagai istri Arga, setelah kontrakku berakhir dengannya, aku akan melakukan semua hal yang aku suka tanpa memikirkan laki-laki manapun," lanjut Bianca.


Lola tersenyum lalu memeluk Bianca.


"Jalani apa yang menurutmu baik Bianca, aku akan selalu ada di sampingmu," ucap Lola.


"Terima kasih Lola," balas Bianca sambil membalas pelukan Lola.


Malam semakin larut, Lola kemudian berpamitan pulang.


Setelah mengantar Lola sampai ke depan gerbang, Bianca kemudian membawa dirinya duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu kedatangan Arga.


Setelah cukup lama menunggu, suara mobil yang memasuki gerbang rumah membuat Bianca tiba-tiba berdebar.


Entah kenapa suara mobil Arga saja sudah membuatnya gugup saat itu. Tak lama kemudian terlihat Arga yang berjalan masuk ke dalam rumah.


"Kau belum tidur Bee?" tanya Arga tanpa menghentikan langkahnya atau sekedar menoleh ke arah Bianca.


"Belum, Luna tadi kesini," jawab Bianca yang membuat Arga menghentikan langkahnya.


"Luna? untuk apa?" tanya Arga dengan berdiri cukup jauh dari Bianca.


"Dia membawa ini, dia bilang ini pemberian dari kak Bara untukku dan juga untukmu," jawab Bianca sambil menunjuk paper bag yang ada di atas meja.


"Apa kau mau menyimpannya?" tanya Arga sambil berjalan menghampiri paper bag itu.


"Tidak, kau saja," jawab Bianca.

__ADS_1


"Baiklah," balas Arga lalu mengambil paper bag itu kemudian berjalan pergi begitu saja.


Sedangkan Bianca masih terdiam di tempatnya dengan menahan kekesalannya karena sikap Arga yang seolah tidak mempedulikannya.


"Baiklah jika kau mulai bersikap dingin padaku, kita lihat saja sejauh mana kau akan tetap bersikap seperti itu," ucap Bianca dalam hati lalu membawa langkahnya masuk ke kamarnya.


Di dalam kamarnya Bianca sama sekali tidak bisa tertidur karena memikirkan sikap Arga yang tiba-tiba berubah padanya.


Meskipun berusaha untuk tidak peduli, nyatanya sikap Arga yang seperti itu cukup menggangu Bianca.


**


Malam yang panjang telah berlalu, Bianca keluar dari kamarnya dan segera membantu bibi untuk menyiapkan sarapan.


"Apa Arga sudah bangun bi?" tanya Bianca pada bibi.


"Tuan Arga sudah berangkat sejak tadi non," jawab bibi yang membuat Bianca begitu terkejut.


"Berangkat sejak tadi? tapi ini masih pagi!"


"Iya non, sepertinya memang sengaja berangkat lebih awal," balas bibi yang membuat Bianca menghela nafasnya kesal.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang saat Bianca baru saja selesai mengerjakan artikelnya.


Sejak pagi ia berusaha menyibukkan dirinya untuk membuang kekesalannya pada Arga.


"Apa dia menghindar dariku? tapi kenapa? apa dia marah karena aku menamparnya? apa mungkin dia dan Karina......."


Bianca menghentikan ucapannya, membayangkannya saja sudah membuatnya ingin menangis.


"Tidak, tidak mungkin Arga seperti itu," ucap Bianca dengan menggelengkan kepalanya.


Bianca kemudian mengambil ponselnya dan mencari nama Daffa lalu menghubunginya.


"Halo Daffa, apa kau sedang berada di kantor?" tanya Bianca setelah Daffa menerima panggilannya.


"Iya, aku dan Arga baru saja selesai meeting," jawab Daffa.


"Apa kau sedang bersamanya sekarang?" tanya Bianca memastikan.


"Tidak, aku sudah kembali ke ruanganku dan Arga masih ada di ruangan meeting bersama klien," jawab Daffa.


"Oke baiklah, bye!" ucap Bianca lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.


Bianca kemudian segera bersiap lalu meminta pak Dodi untuk mengantarnya pergi ke perusahaan papa Arga.


Sebelum itu Bianca membeli kue kesukaan Arga di kafe tempatnya dulu berkerja.


Sesampainya di kantor, Bianca segera membawa dirinya ke ruangan Arga, namun tidak menemukan siapapun disana.


"Kemana dia? apa dia masih ada di ruang meeting?" tanya Bianca lalu membawa langkahnya ke arah ruang meeting.


Namun saat ia berada di persimpangan, ia menghentikan langkahnya dan hanya diam melihat Arga yang sedang mengobrol bersama seorang perempuan cantik.


Mereka terlihat sangat dekat bahkan sesekali terlihat tertawa bersama saat mereka baru saja keluar dari ruangan meeting.


"Siapa perempuan menyebalkan itu? kenapa Daffa tidak memberi tahuku jika kliennya perempuan?" tanya Bianca dengan kesal.


"Kau tidak bertanya," sahut Daffa yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Bianca.


"Daffa, kau mengejutkanku!" ucap Bianca yang terkejut dengan keberadaan Daffa.


Arga yang mendengar suara Bianca segera membawa pandangannya ke arah sumber suara dan begitu terkejut saat melihat Bianca disana.


"Bianca, apa yang kau lakukan disini?" tanya Arga pada Bianca.


"Aku.... aku hanya ingin memberikan ini," jawab Bianca sambil memberikan kue yang dibawanya pada Arga.


"Waahh siapa gadis cantik ini, Arga? apa dia....."


"Bianca, istri Arga," ucap Bianca memotong ucapan klien Arga sambil mengulurkan tangannya tanpa ragu.


Perempuan itupun membalas uluran tangan Bianca dengan tersenyum lalu berpamitan untuk pergi.


"Terima kasih kuenya," ucap Arga pada Bianca lalu berjalan pergi ke ruangannya diikuti oleh Bianca.


"Terima kasih? apa artinya aku tidak boleh berada disini? apa aku harus pergi sekarang?" tanya Bianca dengan kesal.


"Aku tidak bilang seperti itu, kau memberi kue ini padaku jadi aku berterima kasih padamu," balas Arga.


"Kau menyebalkan sekali Arga, benar-benar sangat menyebalkan, apa karena sudah ada perempuan lain yang menggantikan Karina?"


"Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu?" tanya Arga tak mengerti.


"Selama ini aku tidak pernah melihatmu dekat dengan perempuan manapun bahkan pada partner kerjamu dan apa yang baru saja aku lihat sangat berbeda dari kau yang biasanya," jelas Bianca.


Arga hanya tersenyum mendengar apa yang Bianca katakan, terlihat jelas bagaimana Bianca sangat kesal atau bahkan cemburu saat itu.

__ADS_1


__ADS_2