
Hari itu, Arga bangun lebih pagi dari biasanya karena ada beberapa hal yang harus ia bereskan sebelum Bianca bangun.
Arga kemudian menuruni tangga untuk menggantikan bibi memasak di dapur. Setelah semua masakannya selesai, Arga meminta tolong bibi untuk menatanya di meja makan, sedangkan Arga segera kembali ke kamar untuk membangunkan Bianca.
Di kamarnya, Arga membawa dirinya duduk di tepi ranjang lalu dengan pelan membangunkan Bianca.
"Bee, bangunlah," ucap Arga sambil membelai wajah Bianca.
Untuk beberapa saat Bianca hanya mengerjapkan matanya sampai akhirnya ia benar-benar membuka matanya dan tersenyum senang melihat Arga yang ada di hadapannya.
Kecupan singkatpun segera mendarat di kening Bianca, membuat Bianca semakin bersemangat untuk segera bangun.
"Aku baru saja selesai memasak untukmu, cepat mandi dan segera turun, aku menunggumu di bawah," ucap Arga.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari ranjangnya dan berjalan masuk ke kamar mandi setelah Arga keluar dari kamar.
Setelah beberapa lama menunggu, Biancapun menghampiri Arga di meja makan.
"Apa kau yang memasak semua ini?" tanya Bianca dengan kedua matanya yang berbinar.
"Tentu saja, aku memasaknya sejak pagi tanpa bantuan bibi," jawab Arga penuh percaya diri.
Bianca dan Argapun menikmati masakan Arga. Diam-diam Arga memperhatikan Bianca sejak Bianca duduk di hadapannya.
"Sepertinya dia tidak mengetahuinya," ucap Arga dalam hati.
"Apa yang akan kita lakukan weekend ini Arga?" tanya Bianca pada Arga.
"Apa yang kau inginkan Bee? aku akan menghabiskan waktuku hanya untuk memberikan semua yang kau inginkan," balas Arga.
"Bagaimana jika kita pergi ke bioskop?"
"Ide bagus," balas Arga dengan menganggukkan kepalanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang saat Bianca sedang mempersiapkan dirinya untuk pergi ke bioskop bersama Arga.
"Rasanya aku ingin membeli topeng untukmu Bee," ucap Arga sambil memeluk Bianca dari belakang.
"Topeng? untuk apa?" tanya Bianca dengan mengernyitkan keningnya.
"Untuk kau pakai, agar hanya aku yang bisa melihat kecantikanmu," jawab Arga yang membuat Bianca tersenyum.
"Menurutmu, siapa yang lebih beruntung, aku atau kau?" tanya Bianca dengan menatap Arga yang ada pada pantulan cermin besar di hadapannya.
"Tentu saja aku," jawab Arga tanpa ragu.
"Kenapa?" tanya Bianca.
"Karena saat aku menyadari jika aku mencintaimu, aku mulai menyadari banyak kebodohan yang selama ini aku lakukan, kau membuat hidupku menjadi lebih baik Bianca dan aku benar-benar beruntung karena bisa memilikimu dalam hidupku," jawab Arga.
Bianca tersenyum lalu membalikkan badannya dan menatap Arga dengan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Arga.
"Aku yang lebih beruntung Arga, aku yang hanya perempuan sebatang kara tanpa masa depan yang pasti, bertemu denganmu, laki-laki tampan dengan segala kesempurnaan dalam dirinya," ucap Bianca.
"Aku tidak sebaik itu Bianca, kau tau bagaimana sikap burukku bukan?"
"Justru itu yang membuatmu lebih sempurna di mataku Arga," balas Bianca dengan tersenyum.
"Benarkah? jika memang begitu, apa mungkin sebenarnya kau sudah jatuh cinta padaku saat kita baru pertama kali bertemu?" tanya Arga.
"Tentu saja tidak, kau memang sangat tampan dan aku mengakui itu sejak pertama kali kita bertemu, tapi di mataku kau hanya laki-laki gila dan bodoh," jawab Bianca.
"Gila dan bodoh?" tanya Arga mengulang ucapan Bianca.
"Iya, bagaimana mungkin ada laki-laki kaya raya yang bersembunyi di kolong jembatan dan tiba-tiba mengajak perempuan asing menikah dengannya, sangat gila dan bodoh bukan?" balas Bianca.
"Tapi kegilaan dan kebodohanku itu yang akhirnya menyatukan kita," ucap Arga.
"Kau benar," balas Bianca dengan tersenyum.
Arga kemudian mendaratkan kecupan singkatnya sebelum ia keluar dari kamar bersama Bianca untuk pergi ke bioskop.
Arga kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumahnya untuk pergi ke bioskop.
Sepanjang perjalanan Arga merasa ada sebuah mobil yang mengikutinya, membuatnya beberapa kali melihat ke arah spion mobilnya untuk memastikan dugaannya.
"Ada apa Arga?" tanya Bianca yang melihat Arga tampak gelisah saat itu
"Sepertinya ada yang mengikuti kita," jawab Arga.
Biancapun segera membawa pandangannya ke arah belakang mobilnya dan melihat sebuah mobil yang memang dari tadi mengikuti mobil Arga.
"Aku memang melihat mobil itu sejak tadi, aku pikir itu mobil orang-orang suruhanmu," ucap Bianca.
"Bukan, aku selalu meliburkan mereka saat aku libur," balas Arga.
__ADS_1
"Lalu siapa yang mengikuti kita Arga? apa sebaiknya kita pergi ke kantor polisi saja?" tanya Bianca panik.
"Jika dia memiliki niat buruk, dia tidak akan melakukannya di tempat umum, jadi tidak perlu khawatir, kita lihat saja sejauh mana dia mengikuti kita," balas Arga.
"Tapi....."
"Jangan khawatir Bianca, aku pastikan tidak akan ada yang menyakitimu," ucap Arga memotong ucapan Bianca sambil menggenggam tangan Bianca.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil sesekali melihat ke arah belakang mobil Arga.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di salah satu mall. Arga segera meraih tangan Bianca dan menggandengnya menaiki lift untuk sampai di bioskop.
"Apa dia masih mengikuti kita Arga?" tanya Bianca.
"Sepertinya tidak, mungkin dia menunggu di tempat lain," jawab Arga.
"Tenanglah Bee, nikmati waktumu tanpa perlu memikirkannya, mungkin dia memang hanya ingin membuat kita merasa tidak nyaman," lanjut Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Bianca dan Arga kemudian membeli tiket setelah mereka memilih film yang akan mereka tonton.
Hampir 2 jam berlalu, Bianca dan Argapun meninggalkan kursi bioskop.
"Aku ke toilet sebentar Bee," ucap Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Tak lama setelah Arga pergi, seorang laki-laki bertopi tiba-tiba menabrak Bianca dan Bianca begitu terkejut saat menyadari siapa laki-laki yang menabraknya saat itu.
"Kak Bara!"
"Ikut denganku," ucap Bara sambil menarik tangan Bianca, namun Bianca masih berdiri di tempatnya, enggan untuk mengikuti langkah Bara.
"Kau hanya akan menarik perhatian orang-orang jika kau tidak mengikutiku Bianca, apa kau mau mereka menghajarku disini?" ucap Bara sekaligus bertanya.
Karena tidak ingin terjadi keributan, Biancapun mengikuti langkah Bara yang memasuki sebuah ruangan gelap dan sepi yang sebenarnya hanya boleh dimasuki oleh pegawai bioskop.
"Katakan padaku Bianca, apa kau mencintaiku?" tanya Bara dengan masih mencengkeram tangan Bianca.
"Tentu saja tidak, apa maksud kak Bara? kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" balas Bianca sambil menarik tangannya dari cengkraman Bara.
"Maafkan aku Bianca, aku menyesal karena sudah bersikap bodoh kemarin, mari memulai hubungan kita dengan lebih baik lagi sekarang," ucap Bara.
Bianca hanya menggelengkan kepalanya lalu berjalan pergi, namun Bara kembali mencengkeram tangan Bianca dengan kuat.
"Lepaskan atau Bianca akan benar-benar berteriak saat ini juga?"
"Bianca tidak peduli, Bianca adalah istri Arga, tidak seharusnya Bianca disini bersama kak Bara jadi cepat lepaskan tangan Bianca!" ucap Bianca memotong ucapan Bara.
"Aku menyukaimu Bianca, aku....."
BRAAAAKKKKK BUUUUGGGGHHH
Tiba-tiba saja Arga datang dengan menendang Bara tanpa aba-aba, membuat Bara jatuh tersungkur di depan Bianca.
"Arga!"
Dengan cepat Arga berjongkok dan meraih kerah kemeja Bara lalu melayangkan tinjunya berkali-kali pada Bara.
"Arga, sudah, lepaskan Arga!" ucap Bianca sambil berusaha menarik Arga agar menghentikan kebrutalannya.
"Arga stop, kau bisa membunuhnya!" ucap Bianca yang membuat Arga menghentikan tinjunya lalu segera beranjak.
"Apa kau merasa kasihan padanya Bee? apa kau sedih karena aku memukulnya?" tanya Arga pada Bianca.
"Tidak Arga, aku hanya tidak ingin kau mengotori tanganmu hanya untuk menghajarnya, aku tidak ingin kau terlibat masalah hanya karena kak Bara," balas Bianca.
"Keluarlah Bee, ada satu hal yang harus aku bicarakan dengannya!" ucap Arga.
"Tidak, aku hanya akan pergi bersamamu," balas Bianca menolak.
"Jika kau tidak pergi, aku anggap kau masih menyimpan perasaan padanya," ucap Arga.
Bianca menggelengkan kepalanya pelan lalu berjalan pergi meninggalkan Arga dan Bara.
"Bangunlah!" ucap Arga pada Bara setelah Bianca pergi.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Bara beranjak dari lantai dengan darah yang mengucur dari kening dan sudut bibirnya.
"Sepertinya peringatan pertamaku belum membuatmu sadar," ucap Arga.
"Apa maksudmu?" tanya Bara sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
"Anggap ini adalah peringatan kedua dariku Bara, jangan pernah lagi mendekati Luna ataupun Bianca atau kau akan benar-benar kehilangan semua yang kau miliki lebih dari apa yang saat ini terjadi padamu," ucap Arga dengan penuh ketegasan.
"Jadi kau....."
"Jangan pernah bermain-main dengan keluarga Narendra jika kau belum mengenal siapa keluarga Narendra dan jangan pernah berani melawan jika kau belum tau sejauh apa aku bisa menghancurkanmu dan keluargamu,!" ucap Arga memotong ucapan Bara lalu berjalan pergi begitu saja.
__ADS_1
Bara hanya diam di tempatnya berdiri. Kini ia mengerti jika kekacauan yang terjadi padanya adalah karena ulah Arga, karena kemarahan Arga padanya atas apa yang sudah ia lakukan pada Luna dan Bianca.
"Aaargghhh kenapa aku sangat bodoh? kenapa aku harus berurusan dengan keluarga Narendra!"
Di sisi lain, Arga segera mencuci tangannya di wastafel dan merapikan pakaiannya sebelum ia menemui Bianca.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Bianca mengkhawatirkan Arga.
"Seharusnya Bara yang kau khawatirkan Bee," balas Arga lalu berjalan meninggalkan Bianca begitu saja.
"Aku mengkhawatirkanmu Arga, aku sama sekali tidak mengkhawatirkan kak Bara," ucap Bianca sambil berlari kecil mengejar Arga, tidak peduli beberapa mata yang melihat dirinya.
Arga hanya diam dengan mempercepat langkahnya diikuti Bianca yang berlari kecil mengejarnya sampai mereka masuk ke dalam mobil.
Sepanjang jalan Arga hanya diam dengan raut wajahnya yang menegang, sedangkan Bianca beberapa kali berusaha berbicara pada Arga, namun Arga hanya diam mengabaikannya.
Sampai akhirnya mereka sampai di rumah, Bianca segera menahan tangan Arga saat Arga akan keluar dari mobil.
"Katakan padaku apa yang membuatmu marah padaku, jangan hanya diam dan mengabaikanku seperti ini Arga," ucap Bianca.
"Aku tau, pasti sulit bagimu untuk benar-benar melupakan laki-laki yang sejak dulu kau sukai," balas Arga.
"Aku sudah melupakan kak Bara, Arga, apa kau tidak mempercayaiku?"
"Lalu kenapa kau bisa ada di ruangan itu bersamanya Bianca? kenapa kau mengikutinya kesana dan kenapa kau menghentikanku untuk menghajarnya?" tanya Arga tanpa membawa pandangannya pada Bianca.
"Dia memaksaku ikut Arga, aku terpaksa mengikutinya karena tidak ingin membuat keributan disana dan kenapa aku menghentikanmu, karena aku tidak ingin kau mendapat masalah atas apa yang kau lakukan!" jelas Bianca.
"Seharusnya kau membiarkanku Bee, bukan menghentikanku!" ucap Arga.
"Aku tidak ingin suamiku menjadi pembunuh Arga, aku yakin banyak cara lain yang bisa kau lakukan tanpa harus mengotori tanganmu seperti apa yang kau lakukan tadi," balas Bianca.
"Aku tidak peduli aku akan menjadi seperti apa Bianca, aku akan menjadi apapun untuk melindungi istriku, walaupun ternyata istriku lebih mengkhawatirkan laki-laki lain," ucap Arga lalu keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah.
Biancapun segera keluar dari mobil dan berlari mengejar Arga, karena tidak memperhatikan langkahnya dengan baik, Bianca terjatuh saat ia akan menaiki tangga.
Bianca mengerang kesakitan yang membuat Arga segera berlari menghampiri Bianca.
"Aaahhhh kakiku sakit sekali Arga," ucap Bianca merintih.
"Bertahanlah Bee, aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Arga dengan raut wajahnya yang panik dan segera mengangkat Bianca untuk membawa Bianca masuk ke dalam mobil dengan dibantu pak Dodi.
Namun saat Arga akan menyalakan mesin mobilnya, Bianca menahan tangan Arga.
"Tidak perlu ke rumah sakit," ucap Bianca.
"Tidak Bee, kau harus ke rumah sakit," balas Arga sambil menyalakan mesin mobilnya, namun dengan cepat Bianca mematikannya.
"Apa yang kau lakukan Bee? kau...."
"Aku baik-baik saja, aku hanya terkilir, aku hanya..... sedikit berlebihan," ucap Bianca memotong ucapan Arga.
"Kau berbohong padaku?" tanya Arga.
"Tidak sepenuhnya berbohong, kakiku memang sakit, lihatlah, sepatuku juga rusak," jawab Bianca.
"Aku terjatuh karena aku mengejarmu, kau tau itu!" lanjut Bianca dengan memanyunkan bibirnya karena kesal.
"Aku tau, maafkan aku, sekarang aku akan membawamu ke rumah sakit, jadi berikan kuncinya padaku" ucap Arga.
"Tidak, aku tidak akan pergi ke rumah sakit karena kau masih marah padaku," ucap Bianca.
"Bee....."
"Arga.... aku benar-benar sudah melupakan kak Bara, aku hanya mencintaimu Arga, apa kau tidak mempercayaiku?"
Arga hanya diam dengan menghela nafasnya panjang tanpa membawa pandangannya pada Bianca.
"Aku hanya tidak ingin kau terlibat masalah Arga, aku mengkhawatirkanmu, bukan mengkhawatirkan kak Bara, apa yang harus aku lakukan agar kau mempercayaiku sekarang?" lanjut Bianca.
Bianca menghela nafasnya kesal saat Arga masih mengacuhkannya. Bianca kemudian membuka pintu mobil dan keluar dari mobil dengan berjalan tertatih-tatih.
Melihat hal itu, Arga segera keluar dari mobil dan dengan cepat mengangkat tubuh Bianca lalu membawa Bianca masuk ke dalam rumah.
"Turunkan aku, jangan menyentuhku sebelum kau berhenti marah padaku!" ucap Bianca sambil mengerakkan kedua kakinya.
Arga hanya diam, terus membawa langkahnya sampai ke kamar lalu menjatuhkan Bianca di atas ranjang.
Bianca kemudian segera berbaring dengan membelakangi Arga dengan raut wajahnya yang kesal
"Maafkan aku Bee, aku.... aku sangat cemburu melihatmu bersama Bara," ucap Arga.
"Aku pikir kau sudah percaya padaku, ternyata selama ini aku salah menilaimu," ucap Bianca.
"Jangan berbicara seperti itu Bee, aku percaya padamu, aku tau kau sudah melupakannya, maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan kecemburuanku, aku menyesal," ucap Arga sambil memeluk Bianca dari belakang.
__ADS_1