
Bianca yang sedari tadi sudah gugup begitu terkejut saat ia melihat Luna berjalan bersebelahan dengan seorang laki-laki yang Bianca kenal.
Bianca seketika terdiam membeku saat Luna dan laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya.
"Kak Arga, kak Bianca, ini kak Bara yang sering Luna ceritakan," ucap Luna memperkenalkan Bara pada Arga dan Bianca.
Bara yang saat itu berdiri di samping Luna tampak terdiam menatap perempuan cantik yang duduk di hadapannya.
Ia tidak menyangka jika gadis cantik yang duduk di hadapannya saat itu adalah gadis cantik yang selama ini dia kenal dengan baik dan sangat dekat dengannya.
Penampilan Bianca yang asing di matanya membuatnya sempat tidak mengenali Bianca, namun ia bisa mengenali wajah cantik itu saat ia sudah berada tepat di hadapan Bianca.
Menyadari Bara yang tengah menatap Bianca, Arga segera beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Bara.
"Hai, Arga, ini istriku, Bianca," ucap Arga memperkenalkan dirinya sendiri dan Bianca yang duduk di dekatnya.
Bara menganggukkan kepalanya dengan tersenyum sambil menjabat tangan Arga. Apa yang Arga katakan benar-benar membuat Bara terkejut, namun ia berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya dan mengulurkan tangannya pada Bianca, gadis cantik yang sebenarnya sudah dikenalnya dengan baik.
"Bara," ucap Bara memperkenalkan dirinya pada Bianca.
"Bianca," balas Bianca dengan menjabat tangan Bara.
Bianca berusaha keras untuk bisa mengendalikan dirinya di tengah segala macam rasa yang membuatnya bersedih malam itu.
Ia tidak ingin mengacaukan rencana Luna, terlebih saat ia melihat bagaimana Luna sangat bahagia malam itu.
"Kak Bara, kak Arga dan kak Bianca sudah satu tahun menikah, tapi mereka menyembunyikannya dari Luna, jahat sekali bukan?" Ucap Luna pada Bara.
"Satu tahun?" Tanya bara mengulang ucapan Luna.
"Iya, satu tahun," jawab Luna dengan menganggukkan kepalanya.
"Waaahh sudah cukup lama ternyata," ucap Bara dengan tersenyum tipis sambil membawa pandangannya pada Bianca yang duduk di hadapannya.
Bianca hanya terdiam. Ia tidak tahu apa yang sedang dia rasakan saat itu, ia merasa bersedih, marah, kecewa sekaligus merasa bersalah.
Tapi yang pasti semua perasaan dalam hatinya itu membuatnya ingin menangis saat itu juga.
"Arga, aku ke toilet sebentar," ucap Bianca pada Arga lalu segera beranjak dari duduknya dan berjalan pergi ke arah toilet.
Di dalam toilet Bianca hanya terdiam dengan mendongakkan kepalanya menatap langit-langit, berusaha untuk menahan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya.
"Jangan menangis Bianca, jangan menangis," ucap Bianca pelan sambil mengibaskan tangannya di depan kedua matanya yang sudah terasa perih.
"Aku harus membicarakannya dengan kak Bara, aku harus menanyakan semuanya padanya, kak Bara pasti punya alasan, semua ini pasti hanya salah paham," ucap Bianca dalam hati dengan berusaha untuk mengendalikan pikirannya agar tidak kacau.
Namun seberapa besarpun Bianca berusaha, air matanya tetap tumpah juga. Laki-laki yang selama ini ia tunggu kedatangannya, tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar selama berbulan-bulan dan muncul begitu saja bersama seorang perempuan.
Hal itu tentu saja meninggalkan perih dalam hati Bianca. Namun ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Bara, karena ia sendiri sadar jika ia juga bersalah karena sudah menikah saat ia berjanji untuk menunggu Bara.
"Ayolah Bianca, jangan menangis seperti ini," ucap Bianca sambil terus menghapus air mata yang membasahi pipinya.
Cukup lama Bianca berada di dalam toilet untuk menenangkan dirinya. Namun ia tidak yakin jika dia akan baik-baik saja saat ia kembali menemui Bara dan Luna.
Ia merasa tidak siap melihat Bara bersama perempuan lain yang jelas-jelas Bianca tahu jika perempuan itu menyukai Bara.
Sebagai seseorang yang sangat mengenal Bara, Bianca tau jika Bara tidak mudah dekat dengan perempuan karena sejauh yang ia tau hanya dialah perempuan yang dekat dengan Bara.
Namun melihat Luna bersama Bara, sangat jelas terlihat bagaimana kedekatan mereka berdua yang tentunya membuat Bianca tidak nyaman melihatnya.
Setelah cukup lama Bianca berusaha menenangkan dirinya, Bianca akhirnya keluar dari toilet dan begitu terkejut saat melihat Arga yang sudah berdiri di depan lorong toilet perempuan.
"Arga, kau....."
"Apa kau mau kita pulang sekarang?" tanya Arga memotong ucapan Bianca.
"Tapi bagaimana dengan Luna?" balas Bianca bertanya.
"Aku sudah memberi tahunya jika kau sedang tidak enak badan, jadi lebih baik kita pulang sekarang," ucap Arga lalu meraih tangan Bianca, menggenggamnya dan membawanya meninggalkan restoran.
Arga dan Bianca kemudian masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan Bianca hanya diam tanpa mengatakan apapun. Ia masih berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terlihat bersedih di hadapan Arga saat itu.
"Katakan padaku jika ada yang ingin kau ceritakan Bianca," ucap Arga yang mengetahui jika Bianca sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Bianca hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Merekapun kembali diam sampai akhirnya mereka sampai di rumah.
Bianca segera keluar dari mobil Arga dan berjalan cepat memasuki rumah dan membawa langkahnya ke arah kamarnya.
Arga yang berlari mengejar Biancapun tidak sempat menahan Bianca karena Bianca sudah menutup pintu kamarnya dengan cepat.
Di dalam kamarnya, Bianca segera menjatuhkan dirinya di atas ranjang dengan menenggelamkan kepalanya di bawah bantal.
Bianca membiarkan air matanya luruh dalam isak tangis yang berusaha ia redam agar tidak terdengar dari luar kamarnya.
Tanpa Bianca tahu, Arga yang masih berada di depan kamar Bianca samar-samar mendengar isak tangis Bianca saat itu.
Namun Arga memilih untuk membiarkan Bianca menangis lalu membawa langkahnya menaiki tangga sambil mengambil ponsel yang ada di sakunya untuk menghubungi seseorang.
"Cari tau semua hal tentang laki-laki itu dan segera berikan laporannya padaku!" ucap Arga dengan penuh ketegasan di setiap kalimatnya.
"Siap bos!"
Arga membuka pintu kamarnya, melempar ponselnya ke atas ranjang lalu membawa dirinya duduk di tepi ranjang.
Arga memikirkan apa yang terjadi pada Bianca karena saat pertama kali Luna datang bersama Bara, Arga melihat Bianca yang tiba-tiba mematung dan menyembunyikan pandangannya dari Bara saat mereka berkenalan.
Sama halnya dengan Bianca, Arga juga memperhatikan Bara yang menatap Bianca saat mereka baru saja bertemu.
Hal yang membuat Arga lebih curiga adalah saat Bianca berada di toilet cukup lama. Arga kemudian memberi tahu Luna jika Bianca sedang tidak baik-baik saja dan akan mengajak Bianca pulang.
Benar saja, saat melihat Bianca keluar dari toilet, Arga dengan jelas melihat kedua mata Bianca yang sudah merah, tampak seperti baru saja menangis.
"Aku yakin, dia adalah Bara yang selama ini Bianca tunggu," ucap Arga meyakini apa yang ia pikirkan saat itu.
**
Hari telah berganti, jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi saat Arga keluar dari kamarnya.
"Apa Bianca sudah keluar kamar Bi?" tanya Arga pada bibi yang berada di dapur.
"Belum tuan, makanan sudah hampir dingin tetapi non Bianca belum keluar dari kamar," jawab bibi.
Arga kemudian membawa langkahnya ke arah kamar Bianca, mengetuk pintunya beberapa kali sambil memanggil Bianca.
Tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar Bianca sampai beberapa kali Arga memanggilnya.
"Kau harus keluar untuk makan Bianca, kau akan sakit jika kau terlambat makan," ucap Arga namun lagi-lagi tidak ada jawaban dari Bianca.
"Aku akan membuka paksa pintu kamarmu jika kau tidak segera membukanya," ucap Arga yang mulai mengancam.
Tak lama kemudian pintu kamar Bianca terbuka, namun bukannya keluar dari kamar, Bianca justru kembali membaringkan badannya di atas ranjang.
"Bibi sudah menyiapkan sarapan untukmu dari tadi Bianca," ucap Arga yang masih berdiri di depan pintu kamar Bianca yang terbuka.
"Aku sedang tidak berselera makan," balas Bianca.
Arga kemudian membawa langkahnya masuk ke kamar Bianca lalu duduk di tepi ranjang Bianca.
"Apa ada makanan yang ingin kau makan? aku akan membelinya untukmu," tanya Arga yang dibalas gelengan kepala oleh Bianca.
"Ayolah Bianca, kau harus makan," ucap Arga sambil menarik tangan Bianca.
Namun saat itulah Arga menyadari jika tangan Bianca terasa hangat. Arga kemudian menempelkan telapak tangannya di kening Bianca untuk memastikan keadaan Bianca.
"Kau demam Bianca," ucap Arga.
"Sepertinya begitu," balas Bianca dengan kedua matanya yang masih terpejam.
"Aku akan mengambil obat untukmu," ucap Arga lalu segera beranjak dari duduknya.
Tak lama kemudian Arga kembali dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat mangkok yang berisi air, kain kotak P3K dan juga makanan buatan bibi.
"Kau harus makan sebelum minum obat," ucap Arga sambil membantu Bianca untuk duduk di atas ranjang.
"Aku bisa makan sendiri," ucap Bianca saat Arga akan menyuapinya.
Bianca kemudian menyuapkan beberapa sendok makanan ke mulutnya lalu mengembalikannya pada Arga.
__ADS_1
"Sudah cukup," ucap Bianca.
Arga kemudian mengambil obat dan air minum lalu memberikannya pada Bianca.
Setelah meminum obatnya, Bianca kembali membaringkan badannya dengan memejamkan kedua matanya.
Sedangkan Arga segera membasahi kain dengan air dingin lalu menaruhnya di kening Bianca.
Saat kain itu hampir kering, Arga kembali mencelupkannya pada air dingin lalu menaruhnya lagi di kening Bianca.
Begitu seterusnya sampai perlahan suhu tubuh Bianca mulai menurun.
"Apa kau seperti ini karena Bara, Bianca?" batin Arga bertanya dalam hati dengan menatap Bianca yang terpejam di hadapannya.
Pagi tadi saat Arga baru saja bangun dari tidurnya, ia sudah mendapat laporan tentang Bara, laki-laki yang disukai Luna yang ternyata adalah laki-laki yang juga disukai Bianca.
Sekarang Arga dihadapkan pada pilihan yang sulit karena istri yang sangat dicintainya dan adik yang sangat disayanginya menyukai satu laki-laki yang sama.
Melihat bagaimana Bara memperlakukan Bianca tanpa kejelasan dan melakukan hal yang sama pada Luna membuat Arga merasa ragu untuk membiarkan Luna berhubungan lebih dekat dengan Bara.
Namun Arga tidak mungkin memberitahu Luna jika Bara adalah laki-laki yang disukai Bianca.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang saat perlahan Bianca menggeliat. Bianca kemudian mengerjapkan matanya dan membuka matanya setelah ia menyadari jika Arga masih ada di dalam kamarnya.
"Arga, kau masih disini?" tanya Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Arga.
"Apa kau seperti ini karena Bara, Bianca?" tanya Arga.
Bianca nafasnya lalu beranjak dari tidurnya dan duduk di atas ranjangnya.
"Kau pasti sudah mengetahuinya bukan?" tanya Bianca.
"Aku sudah mengetahui semuanya, dia laki-laki yang selama ini memberimu harapan, laki-laki yang selama ini kau tunggu dan sekarang dia juga memberikan harapan yang sama pada Luna," jawab Arga.
"Aku....."
Bianca menghentikan ucapannya saat ia mendengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah.
Bianca kemudian beranjak dari ranjangnya untuk melihat siapa yang keluar dari mobil yang baru saja terparkir di halaman rumahnya.
"Luna datang bersamanya," ucap Bianca pada Arga.
"Kau harus menemuinya, katakan apa yang harus kau katakan dan tanyakan apa yang perlu kau tanyakan padanya, aku akan membawa Luna pergi," ucap Arga lalu keluar dari kamar Bianca.
Bianca kemudian berganti pakaian dan merapikan rambutnya setelah ia membasuh wajahnya lalu mengikuti Arga keluar dari kamarnya untuk menemui Luna dan Bara.
"Bantu kakak mencarinya, bukankah perempuan selalu pandai menemukan barang?" ucap Arga sambil menarik tangan Luna untuk diajak menaiki tangga.
"Kakak menyebalkan sekali, Luna baru saja datang dan sudah harus mencari barang kakak yang hilang!" protes Luna namun tetap mengikuti langkah Arga menaiki tangga ke lantai 3.
"Tunggu sebentar kak Bara, Luna akan segera kembali," ucap Luna setengah berteriak pada Bara yang duduk di ruang tamu.
Tak lama kemudian Bianca datang menghampiri Bara, untuk beberapa saat Bianca hanya berdiri tidak jauh dari tempat Bara duduk.
"Sangat mengejutkan sekali kak, Bianca tidak menyangka ini akan terjadi," ucap Bianca dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Aku seperti tidak mengenalmu Bianca, kau bukan Bianca yang aku kenal, kau bahkan sudah menikah dengan laki-laki lain setelah kau berjanji akan menungguku kembali," balas Bara.
"Lalu bagaimana dengan kak Bara sendiri? kak Bara tiba-tiba menghilang begitu saja, berbulan-bulan Bianca menunggu kabar dari kak Bara tapi tiba-tiba kak Bara datang bersama perempuan lain tanpa memberi kabar pada Bianca," ucap Bianca dengan suaranya yang mulai bergetar.
"Aku sama sekali tidak ada hubungan apapun dengannya, aku......"
"Bagaimana mungkin kalian tidak memiliki hubungan apapun sedangkan kalian terlihat sangat dekat, Luna bahkan mengetahui semua hal tentang kak Bara dan dia..... dia juga menyukai kak Bara," ucap Bianca memotong ucapan Bara.
Bara menghela nafasnya lalu membawa langkahnya mendekat pada Bianca dan memegang kedua bahu Bianca.
"Apa yang membuatmu menikah dengannya Bianca? apa yang membuatmu mengingkari janjimu padaku? apa karena dia lebih kaya dariku? apa karena dia memiliki banyak uang yang bisa memberikan segalanya untukmu?" tanya Bara dengan menatap kedua mata Bianca.
Mendengar pertanyaan Bara seketika Bianca melepaskan tangan Bara dari kedua bahunya lalu melayangkan tamparannya pada Bara tanpa ragu.
"Apa di mata kak Bara, Bianca serendah itu? bertahun-tahun Bianca menunggu kak Bara, berbulan-bulan Bianca menunggu kabar dari kak Bara yang tiba-tiba menghilang dan sekarang kak Bara datang dengan mengatakan hal itu pada Bianca!" ucap Bianca dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
__ADS_1
Melihat Bianca menangis, membuat Bara seketika membawa dirinya mendekat pada Bianca dan memeluk Bianca dengan erat.