
Di tempat lain Arga mengendarai mobilnya meninggalkan rumah ke arah rumah sakit dimana Karina sedang dirawat saat itu.
Ya, Karinalah seseorang yang menghubungi Arga beberapa kali sampai akhirnya ia mengirimkan pesan pada Arga karena Arga tidak menerima panggilannya.
Arga yang memang selalu mengkhawatirkan Karina tanpa banyak berpikir segera meninggalkan Bianca begitu saja.
Jika bukan karena Karina sedang berada di rumah sakit mungkin Arga akan tetap berada di rumah, menyelesaikan makan malamnya bersama Bianca.
Tapi Arga tetaplah Arga yang dulu, baginya Karina adalah satu-satu perempuan yang selalu bisa berhasil merebut perhatiannya.
"Jangan sampai apa yang terjadi padamu kali ini adalah perbuatan Bian, aku benar-benar tidak akan tinggal diam jika kali ini dia menyakitimu lagi sampai membuatmu dirawat di rumah sakit," ucap Arga geram.
Sudah beberapa kali Arga mendapati Bian yang memperlakukan Karina dengan kasar, tapi ia tidak mengerti kenapa Karina tetap bertahan dengan Bian.
Sebagai seseorang yang dianggap masa lalu oleh Karina, Arga tidak bisa melakukan banyak hal selain meyakinkan Karina jika dirinya adalah laki-laki yang terbaik untuk Karina, dengan memberikan perhatian yang selama ini tidak ia berikan pada Karina.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan Argapun sampai di rumah sakit. Ia segera mencari ruangan Karina lalu masuk ke dalam setelah ia menemukannya.
Arga menghela nafasnya panjang saat ia melihat kepala Karina yang terbalut perban.
"Apa Bian yang melakukannya?" tanya Arga menerka.
"Tidak, tolong jangan selalu berpikiran buruk tentang Bian, aku hanya terjatuh dari tangga karena terpeleset," jawab Karina.
"Kau tidak berbohong padaku bukan?" tanya Arga.
"Untuk apa aku berbohong padamu, apa kau tidak mempercayaiku?"
"Bukannya aku tidak percaya padamu, tetapi sudah berapa kali kau seperti ini karena Bian," balas Arga.
"Sudahlah Arga jangan membahasnya, lagi pula dia tidak tahu jika aku berada disini sekarang," ucap Karina.
"Kenapa? apa kalian sedang bertengkar?" tanya Arga.
"Dia sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaannya, aku sengaja tidak memberitahunya agar dia tidak mengkhawatirkanku," jawab Karina.
"Bukankah dia seharusnya mengetahui keadaanmu? bagaimanapun juga kau adalah kekasihnya!"
"Aku tidak ingin mengganggu pekerjaannya Arga dan seperti yang kau tahu aku tidak suka berada di rumah sakit sendirian, aku tidak tahu harus menghubungi siapa selain menghubungimu, maaf jika aku mengganggu waktumu," ucap Karina.
"Tidak, kau tidak menggangguku, aku akan disini menemanimu," balas Arga.
"Terima kasih Arga, setidaknya tetaplah disini sampai aku tertidur lalu pulanglah, aku tidak mungkin memintamu untuk menemaniku disini sampai besok pagi," ucap Karina.
"Aku akan menemanimu sampai besok," balas Arga.
"Apa kau serius?" tanya Karina memastikan.
Arga menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, ia tidak mungkin meninggalkan Karina berada di rumah sakit seorang diri karena ia tahu bagaimana Karina selalu merasa takut jika dia berada di rumah sakit sendirian.
"Bagaimana dengan istrimu? apa dia tidak akan mencarimu?" tanya Karina.
"Jangan memikirkan hal itu, fokus saja pada kesembuhanmu," ucap Arga tanpa menjawab pertanyaan Karina.
"Terima kasih banyak Arga," ucap Karina dengan menggenggam tangan Arga.
Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum sambil membalas genggaman tangan Karina.
"Tidurlah, aku akan disini menemanimu," ucap Arga.
Karina menganggukkan kepalanya pelan lalu memejamkan matanya, setidaknya ia bisa merasa tenang karena sudah ada Arga yang menjaganya di sampingnya sampai besok pagi.
**
Waktu berlalu pagi telah tiba. Arga yang baru saja terbangun dari tidurnya segera membawa langkahnya ke toilet untuk membasuh wajahnya.
Saat ia keluar dari toilet sudah ada dokter yang baru saja memeriksa keadaan Karina. Dokter menjelaskan jika Karina sudah boleh pulang hari itu, tetapi Karina harus beristirahat total dan sering mengganti perban di kepalanya agar lukanya cepat sembuh.
"Pulanglah Arga, bukankah kau harus ke kantor!" ucap Karina pada Arga setelah dokter meninggalkan ruangannya.
"Aku memang harus pergi ke kantor, tetapi aku akan kembali lagi kesini setelah aku pulang dari kantor, aku akan mengantarmu pulang," balas Arga.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," ucap Karina.
__ADS_1
"Aku akan pulang cepat hari ini, aku janji akan segera kesini setelah aku menyelesaikan pekerjaanku, jadi aku mohon bersabarlah dan tunggulah aku datang," ucap Arga memohon.
"Baiklah aku akan menunggumu," balas Karina.
Arga tersenyum lalu membelai Karina dengan penuh perhatian, kemudian berpamitan untuk pergi karena ia harus berangkat ke kantor.
Arga mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah Arga segera membawa langkahnya masuk untuk mandi dan berganti pakaian, bersiap untuk segera berangkat ke kantor.
"Arga, kau baru pulang?" tanya Bianca saat Bianca baru saja keluar dari dapur.
"Iya dan aku harus berangkat ke kantor sekarang," jawab Arga tanpa menghentikan langkahnya.
Bianca hanya terdiam menatap langkah Arga yang sudah berjalan jauh meninggalkannya. Sejak awal pernikahannya Arga memang sering pulang larut malam atau bahkan tidak pulang sama sekali, tetapi baru kali ini Bianca penasaran tentang apa yang sebenarnya Arga lakukan di luar sana.
"Aku tidak mungkin menanyakannya secara langsung pada Daffa, dia pasti akan berpikir jika aku mengkhawatirkan Arga," ucap Bianca sambil membawa makanan masakan bibi ke meja makan.
Setelah Bianca menyelesaikan sarapannya Bianca segera membawa langkahnya ke balkon dengan laptop dan buku miliknya.
Namun saat Bianca baru saja duduk bibi datang bersama dengan seseorang yang dia kenal dengan baik.
Melihat seseorang itu Bianca hanya tersenyum tipis lalu membuka buku yang dibawanya, sedangkan seseorang itu segera membawa langkahnya mendekati Bianca.
"Bianca maafkan aku," ucap Lola yang sudah berdiri di samping Bianca.
"Duduklah," balas Bianca tanpa membawa pandangannya pada Lola.
Lola kemudian duduk di samping Bianca, membawa pandangannya menatap Bianca yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
"Aku benar-benar minta maaf Bianca, aku sangat menyesal, seharusnya aku tidak melakukan hal itu, seharusnya aku bisa meyakinkan Arga dan Daffa untuk tidak melakukannya," ucap Lola penuh penyesalan.
"Apa yang membuatmu mau melakukannya Lola? bukankah kau tahu itu adalah hal yang paling aku hindari selama ini?" tanya Bianca yang masih enggan untuk membawa pandangannya pada sahabatnya itu.
"Arga dan Daffa memaksaku, sebenarnya aku tidak bisa menyalahkan mereka karena pada akhirnya aku sendiri yang memutuskan untuk membantu mereka, Arga meyakinkanku jika dia sangat ingin memberikan kejutan untukmu, aku pikir semuanya akan berubah saat kau mendapatkan kejutan dari Arga," jelas Lola.
"Aku pikir persahabatan kita sangat dekat Lola, aku pikir kita sudah saling memahami satu sama lain," ucap Bianca.
"Aku sangat menyesal Bianca, aku janji tidak akan melakukannya lagi," balas Lola.
Bianca memang sengaja menghindar dari pandangan Lola, karena ia tahu jika ia sudah menatap Lola ia akan segera luluh dengan semua yang Lola ucapkan padanya.
Benar saja, baru saja Bianca membawa pandangannya menatap Lola ia bisa melihat bagaimana Lola sangat menyesali apa yang sudah ia lakukan.
Bianca tersenyum lalu memeluk Lola dengan erat, bagaimanapun juga Lola adalah sahabat terbaik yang dia miliki.
"Bianca...... aku benar-benar minta maaf," ucap Lola yang tidak berhenti meminta maaf pada Bianca.
Bianca melepaskan pelukannya pada Lola lalu menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum, membuat Lola seketika memeluk Bianca dengan erat, sangat erat sampai membuat Bianca merasa kesakitan.
"Lola.... kau menyakitiku," ucap Bianca yang membuat Lola segera melepaskan pelukannya pada Bianca dengan terkekeh.
"Hehehe.... maaf, aku hanya terlalu senang," ucap Lola
"Kau tahu Lola, mungkin apa yang aku lakukan terlalu berlebihan menurut sebagian orang, tetapi aku tidak peduli karena mereka tidak tahu apa yang aku rasakan dan apa yang pernah terjadi padaku, bagaimana kesedihan, luka dan ketakutan yang pernah aku alami," ucap Bianca.
"Tidak Bianca, kau tidak berlebihan, aku bisa mengerti apa yang kau rasakan, maaf karena sempat bertindak sangat bodoh kemarin," balas Lola.
"Terima kasih sudah memahamiku Lola, kau sahabat terbaik yang aku miliki, aku tidak ingin persahabatan kita berakhir hanya karena kebodohan kecil yang kita lakukan tanpa sadar," ucap Bianca.
Lola menganggukkan kepalanya pelan, dalam hatinya ia sangat bersyukur karena bisa mengenal dan bersahabat dengan Bianca.
Mereka punmulai kembali akrab, bagi mereka persahabatan mereka lebih besar dari rasa marah ataupun benci.
"Ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang aku pikirkan Bianca, menyebalkan sekali," ucap Lola menggerutu.
"Apa kau sudah melamar pekerjaan atau baru mencari lowongan pekerjaan?" tanya Bianca.
"Aku baru mencarinya dan tidak ada yang cocok untukku," jawab Lola.
"Jangan terlalu menjadi pemilih Lola, walaupun kau tidak bekerja di tempat yang sesuai keinginanmu setidaknya kau bisa memiliki pengalaman baru di dunia kerja dan pengalaman baru itu bisa kau gunakan untuk pekerjaanmu di tempat lain," ucap Bianca.
"Tapi bagaimana aku bisa menikmati pekerjaanku jika aku tidak bekerja di tempat yang aku inginkan?"
__ADS_1
"Kau bahkan belum mencobanya, setidaknya cobalah dulu aku yakin banyak hal yang bisa kau ambil dari pengalaman kerjamu, meskipun kau bekerja di tempat yang bukan kau inginkan," balas Bianca.
Lola terdiam beberapa saat lalu menganggukkan kepalanya.
"Kau benar, sepertinya aku terlalu pemilih," ucap Lola
"Nikmati waktumu selagi kau masih bisa memilih apa yang kau inginkan Lola, kau lihat aku bukan? aku hanya bisa melakukan apa yang Arga izinkan, aku tidak bisa benar-benar melakukan apa yang aku inginkan," ucap Bianca.
"Hmmmm kasihan sekali sahabatku ini, tapi kau masih menulis artikel bukan?"
"Iya, aku bahkan bekerja sama dengan beberapa brand, hanya itulah kesibukanku setiap hari, jadi aku harus menikmatinya walaupun terkadang aku merasa bosan," balas Bianca.
"Apa Arga tahu tentang kesibukanmu ini?" tanya Lola yang dibalas gelengan kepala oleh Bianca.
**
Waktu berlalu, saat Bianca baru saja keluar dari kamarnya ia begitu terkejut karena melihat Arga berjalan memasuki rumah dengan tergesa-gesa.
"Arga, kau sudah pulang?" tanya Bianca.
Arga hanya menganggukkan kepalanya tanpa menghentikan langkahnya, ia terus berjalan menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.
Arga mengambil beberapa map dan laptopnya lalu memasukkannya ke dalam tas kerja miliknya, Arga juga membawa tas ransel yang berisi beberapa pakaian dan barang pribadinya kemudian segera berjalan keluar dari kamarnya.
Sebelum pergi arka menghampiri bibi yang berada di dapur saat itu.
"Bi tolong pastikan agar Bianca tidak telat makan, hubungi Arga jika terjadi sesuatu padanya," ucap Arga pada bibi.
"Baik Tuan," balas bibi.
Arga kemudian membawa langkahnya ke arah kamar Bianca lalu mengetuk pintu kamar Bianca beberapa kali hingga akhirnya pintu terbuka.
"Ada apa?" tanya Bianca setelah ia membuka pintu kamarnya.
"Aku harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan mungkin selama 2 atau 3 hari, jaga dirimu baik-baik dan hubungi aku jika terjadi sesuatu," ucap Arga pada Bianca.
"Kenapa tiba-tiba keluar kota? apa terjadi sesuatu di kantor?" tanya Bianca khawatir.
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, aku hanya harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku disana, aku pergi dulu jaga dirimu baik-baik," jawab Arga lalu berjalan pergi meninggalkan Bianca.
Arga kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah ke arah rumah sakit tempat Karina dirawat.
Arga sengaja berbohong pada Bianca karena sebenarnya ia berniat untuk menemani Karina sampai Karina benar-benar sembuh.
Sesampainya di rumah sakit Arga segera membawa langkahnya ke ruangan Karina, setelah mengurus semua biaya administrasi Argapun meninggalkan rumah sakit bersama Karina
"Apa kau baru saja pulang dari bekerja?" tanya Karina saat ia sudah berada di dalam mobil bersama Arga.
"Iya aku baru pulang dan segera kemari setelah mengambil beberapa barang-barangku," jawab Arga.
"Kenapa kau juga membawa tas ransel?" tanya Karina yang melihat tas ransel yang berada di bangku belakang.
"Aku akan menemanimu sampai kau sembuh, kau tidak keberatan bukan?" jawab Arga sekaligus bertanya.
"Menemaniku? apa maksudmu?" tanya Karina tak mengerti.
"Kepalamu terluka, kau harus sering mengobati dan membersihkan lukamu, sepertinya itu akan sangat menyulitkanmu jadi aku akan menemanimu untuk bisa membantu mengobati dan membersihkan lukamu," jelas Arga.
"Apa maksudmu kau akan menginap di rumahku?" tanya Karina yang dibalas anggukan kepala oleh Arga.
"Apa kau serius Arga? bagaimana dengan istrimu? bagaimana jika dia...."
"Sudah kubilang jangan memikirkan hal itu, fokus saja pada kesembuhanmu, semakin cepat kau sembuh semakin cepat aku akan kembali pulang," ucap Arga memotong ucapan Karina.
"Bagaimana jika ada yang melihatmu di rumahku? apa kau tidak takut jika media akan memberitahukan hal itu?" tanya Karina khawatir.
"Jangan khawatir, itu tidak akan terjadi," jawab Arga.
"Aaahh ya aku lupa, memang hanya kau yang bisa mengendalikan media," ucap Karina dengan mengangguk-anggukan kepalanya pelan
Arga tersenyum, membawa pandangannya pada Karina lalu meraih tangan Karina dan menggenggamnya.
"Mulai sekarang jangan mengkhawatirkan apapun, kau harus cepat sembuh dan jangan pernah terluka lagi," ucap Arga dengan menatap kedua mata Karina saat Arga tengah menghentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas menyala merah.
__ADS_1
Karina menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Ia tahu Arga masih mengharapkannya tetapi ia tidak akan menerima Arga dengan mudah, terlebih ada Bian yang saat itu sudah menjadi tunangannya.