Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Menyelamatkan Bianca


__ADS_3

Arga masih berusaha untuk menemukan Bianca. Berdasarkan hasil rekaman CCTV yang ia dapatkan dari orang suruhannya, Arga mendapat laporan jika ada beberapa mobil yang melintas yang jejak bannya sama dengan jejak ban yang mereka temukan di tempat Bianca menghilang.


Arga kemudian meminta orang suruhannya untuk mencari tahu tentang pemilik beberapa mobil itu dan setelah mereka memeriksanya mereka mendapati jika dua mobil itu adalah mobil sewaan yang disewa dari salah satu tempat penyewaan mobil yang ada di pinggir kota.


Arga dan beberapa orang suruhannya kemudian mendatangi tempat penyewaan mobil itu untuk menanyakan identitas penyewa mobil.


Meskipun pada awalnya pemilik persewaan mobil itu tidak memberitahu informasi apapun pada Arga, pada akhirnya pemilik itupun memberitahu apa yang Arga inginkan setelah Arga memberi beberapa lembar uang pada pemilik persewaan mobil itu.


"Cari tahu dengan detail siapa mereka dan cepat laporkan padaku!" ucap Arga pada orang suruhannya.


Arga juga mendapat laporan dari orang suruhannya yang lain yang memberitahunya jika tidak ada jejak apapun yang mereka temukan di tempat dulu Bianca pernah disekap yang artinya Bianca tidak dibawa ke tempat itu lagi.


Setelah beberapa lama menunggu, Arga akhirnya mendapat hasil laporan dari orang suruhannya yang memberitahunya jika orang-orang yang menyewa mobil itu adalah orang-orang yang bekerja di bawah seorang pria yang bernama Ardi Nugroho.


Arga begitu terkejut saat ia mendengar nama pria yang disebut oleh orang-orang suruhannya karena ia sangat mengenal pria yang bernama Ardi Nugroho itu.


Ardi Nugroho adalah CEO dari perusahaan besar yang namanya cukup diperhitungkan dalam dunia bisnis, dia jugalah pria yang hampir menjatuhkan perusahaan orang tua Arga tanpa alasan.


Orang suruhan Arga juga memberitahu Arga jika Ardi Nugroho adalah seorang pria yang gemar berjudi, selain itu Ardi Nugroho juga memiliki kebiasaan yang tidak biasa yaitu membawa seorang gadis cantik untuk menemaninya berjudi di tempat perjudian.


Namun beberapa gadis cantik itu tidak hanya ditugaskan untuk sekedar menemani, jika Ardi Nugroho merasa gadis itu terlampau cantik maka ia akan memberikan uang lebih pada gadis itu agar si gadis mau melayaninya dengan lebih jauh.


Setelah mendengar semua penjelasan orang suruhannya, Arga terdiam untuk beberapa saat memikirkan tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Aku yakin ini bukan hanya tentang bisnis, pasti ada hal lain yang membuatnya menyekap Bianca dan kata-kata yang ada di surat itu....."


Arga menghentikan ucapannya dan mengingat surat yang Pak Dodi perlihatkan pada Arga saat Pak Dodi terjebak di dalam mobil.


"Bianca ada bersamaku, dia sedang melakukan apa yang harus dia lakukan sejak dulu, setelah dia melakukannya aku akan mengembalikannya padamu, tapi jangan coba-coba untuk melibatkan polisi dalam masalah ini atau kau akan kehilangan Bianca selamanya!"


Seketika Arga teringat tentang pertemuan pertamanya dengan Bianca di daerah pinggiran kota yang sangat sepi.


Arga ingat jika Bianca pernah memberitahunya tentang alasan kenapa Bianca bisa berada di tempat itu.


"Temanku memintaku untuk datang ke tempat ini hanya untuk menemani om-om yang sedang berjudi, tetapi ternyata om-om genit itu mulai menyentuhku, membuatku seketika menendang bagian tengahnya, tentu saja dia marah dan meminta para pengawalnya untuk menangkapku, itu kenapa para pria itu mengejarku."


Arga menghela nafasnya kesal dengan mengepalkan kedua tangannya penuh amarah.


Kni ia mengerti apa yang membuat Ardi Nugroho tiba-tiba menyerang perusahaan sang papa.


"Targetnya sebenarnya bukan aku ataupun perusahaan papa tetapi Bianca, dia masih menyimpan dendam pada Bianca, itu kenapa dia menculik Bianca dan mengganggu pekerjaanku di perusahaan papa," ucap Arga yang mulai mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku tidak akan pernah membiarkannya menyentuh Bianca sedikitpun, aku akan benar-benar membuatnya menyesal atas apa yang sudah dia lakukan," ucap Arga dengan penuh emosi.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 6 petang saat Arga mendapat informasi kemana dua mobil yang dicarinya pergi.


Bersama dengan beberapa orang suruhannya Argapun segera mengendarai mobilnya ke arah lokasi dimana mobil yang membawa Bianca berada.


Arga sengaja tidak melibatkan polisi dalam pencarian Bianca karena ia tidak ingin hal itu menarik perhatian media dan membuat Bianca dalam bahaya.


Setidaknya Arga harus memastikan terlebih dahulu di mana keberadaan Bianca dan bagaimana keadaan Bianca sebelum ia melibatkan polisi untuk membantunya membebaskan Bianca dari tempat ia disekap.


"Aku yakin kau pasti bisa menjaga dirimu dengan baik Bianca, aku percaya padamu," ucap Arga dalam hati sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Arga kemudian berhenti saat ia sampai di daerah padat penduduk yang ada di pinggiran kota.


Karena berada di lokasi padat penduduk, tidak ada CCTV yang terpasang disana, membuat Arga cukup kesulitan untuk menemukan lokasi pasti keberadaan mobil yang membawa Bianca.


Namun tak lama kemudian, sebuah mobil mewah tampak memasuki salah satu gang yang ada disana.


Karena merasa curiga, Argapun meminta salah satu anak buahnya untuk diam-diam mengikuti mobil itu sampai mobil itu berhenti di salah satu rumah lantai 3 yang ada disana.

__ADS_1


Di halaman rumah 3 lantai itu, anak buah Arga melihat mobil yang mereka cari sedang terparkir bersama beberapa penjaga yang berjaga di beberapa sudut halaman rumah itu.


Iapun segera melaporkan hal itu pada Arga dan menunggu perintah Arga selanjutnya. Mendapat laporan pasti keberadaan Bianca, Argapun berusaha untuk menyusun strategi dengan baik agar ia bisa menyelamatkan Bianca tanpa membuat Bianca berada dalam bahaya.


Arga kemudian menghubungi Daffa untuk meminta bantuan Daffa.


"Halo Arga, kau dimana? apa kau sudah menemukan Bianca?" tanya Daffa setelah ia menerima panggilan Arga.


"Aku sudah menemukan dimana dia berada, tetapi aku belum berhasil membawanya kembali," jawab Arga.


"Aku menghubungi karena aku ingin meminta bantuanmu Daffa," lanjut Arga.


"Apa yang bisa aku lakukan untukmu Arga? katakan padaku!"


"Aku sudah berada di dekat tempat mereka menyekap Bianca, aku akan segera masuk dengan beberapa orang suruhanku tetapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam nanti, jadi jika dalam waktu 1 jam aku tidak menghubungimu segera hubungi polisi agar datang ke lokasi yang akan aku kirimkan padamu," jelas Arga.


"Tapi kau tidak sendirian disana bukan?" tanya Daffa khawatir.


"Jangan khawatir, aku bersama dengan beberapa anak buahku, mereka pasti akan membantuku," jawab Arga.


"Baiklah, segera kirim lokasimu padaku, akan aku pastikan jika dalam satu jam kau tidak menghubungiku aku akan segera meminta polisi terdekat untuk segera datang ke tempatmu," ucap Daffa.


"Terima kasih Daffa," ucap Arga lalu mengakhiri panggilannya pada Daffa.


**


Di sisi lain, Bianca masih diam di tempat ia disekap. Mulutnya kembali tertutup lakban, kedua kaki dan tangannya juga masih terikat dengan kuat.


Tidak ada apapun yang bisa Bianca lakukan saat itu bahkan hanya untuk sekedar berbicara.


Bianca hanya sesekali menggerakkan kursi tempatnya duduk sebagai bentuk kekesalannya pada orang-orang yang ada di ruangan itu


"Bersabarlah sebentar cantik, tidak lama lagi bos akan datang," ucap salah satu pria yang ada disana.


Tak lama kemudian pintu di hadapan Bianca terbuka, seorang pria berpakaian rapi masuk ke ruangan itu dengan penuh senyum lalu membawa langkahnya mendekat pada Bianca.


"Akhirnya kita bertemu lagi Bianca," ucapnya sambil bertepuk tangan kecil.


"Seharusnya kau datang saja ke bar waktu itu, jadi aku tidak perlu repot-repot melakukan rencana besar seperti ini," ucapnya sambil berjongkok di depan Bianca.


"Tapi jangan khawatir, temanmu baik-baik saja, aku hanya membutuhkan ponselnya untuk bisa membawamu kesini," ucap pria itu sambil memamerkan ponsel Lola di hadapan Bianca.


"Syukurlah jika dia tidak menyakiti Lola, setidaknya aku tau jika Lola baik-baik saja sekarang," ucap Bianca dalam hati.


"Sekarang kau milikku cantik, aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu padamu," ucap pria itu lalu melepaskan lakban yang menutup mulut Bianca.


"Aku tidak akan seperti ini jika kau tidak kabur saat itu Bianca, bukankah kita sudah bersepakat malam itu? aku akan memberikan uang yang cukup banyak padamu jika malam itu kau tidak bertindak bodoh!" ucap pria itu.


"Aku sama sekali tidak membutuhkan uangmu!" balas Bianca dengan menatap tajam pria di hadapannya.


"Waahhh waahhh waahhh sudah seperti inipun kau masih sangat galak, sadarlah Bianca tidak akan ada yang menolongmu sekarang, jadi lebih baik bersikaplah manis maka aku juga akan memperlakukanmu dengan baik malam ini," ucap pria itu sambil membelai pipi Bianca.


Seketika Bianca menggeser kepalanya dan membuang ludahnya ke arah tangan pria itu yang tentunya membuat si pria begitu marah pada Bianca.


PLAAAAKKKKK


Dalam sekejap saja tamparan keras mendarat di pipi Bianca, meninggalkan bekas kemerahan yang terasa perih.


"Baiklah jika kau memang lebih suka kekerasan, aku tidak akan melunak lagi kali ini," ucap pria itu penuh emosi sambil mencengkeram kedua pipi Bianca dengan satu tangannya.


Biancapun hanya bisa berusaha menggerakkan kursi yang ia duduki untuk menghindar dari pria yang semakin mendekatkan wajahnya pada Bianca.

__ADS_1


Sampai akhirnya kursi yang Bianca duduki tumbang, Biancapun terjatuh dengan posisi yang masih terikat di kursi.


"Gadis sialan, kau benar-benar membuatku sangat marah sekarang," ucap pria itu penuh emosi.


Dengan kasar pria itu menarik kursi Bianca agar kembali berdiri dan tanpa basa basi pria itu menarik bagian depan pakaian Bianca.


"TIIIIDAAAAKKKK, tolong jangan lakukan ini padaku, aku mohon.... aku minta maaf, aku....."


PLAAAAAAKKKKK


Untuk kedua kalinya tamparan keras mendarat di pipi Bianca saat Bianca tengah memohon. Pria itu kemudian kembali mencengkeram kedua pipi Bianca dengan satu tangannya bersama kedua mata yang menatap Bianca seperti binatang buas yang tengah kelaparan.


"Kesombonganmu itu yang akan menghancurkanmu Bianca, aku benar-benar tidak akan memberimu ampun kali ini!" ucapnya penuh emosi.


"Maa..... afffkan.... aku," ucap Bianca terbata-bata karena ia kesulitan berbicara saat itu.


"Kalian semua keluarlah, biarkan aku menikmatinya sendiri malam ini," ucap pria itu pada beberapa pria yang ada disana.


Para pria yang ada disanapun segera keluar dari ruangan itu, meninggalkan Bianca berdua bersama pria yang sudah merasa menang di atas awan saat itu.


Karena sudah dipenuhi nafsu dan emosi, pria itu kemudian menarik pakaian Bianca dengan semakin kasar sampai pakaian Bianca benar-benar koyak dan memperlihatkan apa yang tidak seharusnya Bianca perlihatkan pada orang lain.


Bianca hanya bisa menangis saat itu. Ia tidak berhenti memohon saat pria itu mendekatkan wajahnya pada Bianca.


Hingga tiba-tiba terdengar kericuhan dari luar ruangan itu. Pria itupun segera beranjak dan membawa langkahnya ke arah pintu ruangan yang tertutup, namun tiba-tiba pintu terbuka dengan dari depan.


"Arga!"


Arga yang melihat Bianca sangat kacau saat itu tanpa menunggu lama segera melayangkan tinjunya pada pria di hadapannya.


"Aku tidak akan memaafkanmu kali ini, kau harus membayar semua yang sudah kau perbuat pada Bianca," ucap Arga dengan memberikan pukulan bertubi-tubi pada pria itu.


Karena tidak bisa mengimbangi tenaga Arga, pria itupun hanya bisa menerima pukulan Arga yang hampir membuat wajahnya hancur saat itu.


Namun tak lama kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan itu dan segera mendorong Arga dengan keras.


Dengan wajahnya yang sudah penuh darah, pria yang merupakan CEO perusahaan besar itupun berlari keluar dari ruangan itu.


Sedangkan Arga masih bergulat dengan pria yang mendorongnya. Arga berhasil melayangkan beberapa pukulannya pada pria itu, namun Arga tidak sadar jika pria itu ternyata membawa pisau dan dalam sekejap pisau itu menggores bagian perut Arga.


Seketika darah mengucur membasahi kemeja putih Arga dan pria itupun segera berlari pergi dari ruangan itu.


Melihat apa yang terjadi pada Arga, Biancapun hanya bisa berteriak histeris.


"ARGAAAA!!!!"


Arga yang terduduk dengan memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah berusaha untuk tetap menjaga kesadarannya.


Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Arga berjalan ke arah Bianca dengan tertatih sambil memegang perutnya yang tidak berhenti mengeluarkan darah.


"Aku akan membawamu keluar dari sini Bee," ucap Arga sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangan Bianca.


Bianca hanya menangis melihat apa yang Arga lakukan, lidahnya seolah tidak mampu mengatakan apapun saat dia melihat bagaimana keadaan Arga saat itu.


"Apa yang mereka lakukan padamu Bee? katakan padaku," tanya Arga sambil melepas kancing kemejanya satu per satu.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, ia hanya menangis sambil melepas pakaiannya yang sudah koyak.


Bianca sudah tidak peduli jika Arga melihat dirinya yang sudah hampir setengah polos saat itu. Ia hanya memikirkan cara yang bisa ia lakukan untuk menahan darah yang keluar dari perut Arga yang terluka.


Arga yang sudah melepas kemejanya kemudian memakaikannya pada Bianca. Sedangkan Bianca segera mengikat perut Arga dengan pakaian miliknya yang sudah koyak untuk menahan darah Arga agar tidak semakin banyak yang keluar.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan siapapun melihatnya, apa lagi menyentuhnya," ucap Arga dengan tersenyum sambil mengancingkan kemejanya yang sudah Bianca pakai.


__ADS_2