Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Berdamai


__ADS_3

Arga terdiam untuk beberapa saat setelah dia mendengar semua penjelasan Daffa. Ada sebuah rasa penyesalan dalam dirinya karena ia tidak mempercayai ucapan Bianca padanya, terlebih setelah dia melihat bagaimana sikap Bianca pada sang mama membuat Arga semakin merasa bersalah.


"Sepertinya aku sudah keterlaluan," ucap Arga dalam hati lalu membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.


Namun ia sudah tidak mendapati Bianca di ruang tamu. Arga kemudian membawa langkahnya ke arah kamar Bianca dan mengetuk pintunya beberapa kali namun tidak ada jawaban.


"Maaf tuan, sepertinya non Bianca pergi ke lantai 2," ucap bibi pada Arga.


"Terima kasih Bi," ucap Arga lalu segera membawa langkahnya ke lantai 2.


Arga berjalan ke arah balkon untuk mencari keberadaan Bianca, namun ternyata Bianca tidak berada disana.


"Kemana dia?" tanya Arga sambil membawa langkahnya ke arah ruang baca.


Saat ia akan membukanya, ternyata pintu ruang baca itu terkunci dari dalam. Arga kemudian mengetuknya dan memanggil nama Bianca.


"Bianca, apa kau di dalam?" tanya Arga sambil mengetuk pintu.


Tak ada jawaban, sama sekali tidak ada suara yang ia dengar. Argapun kembali mengetuk pintu beberapa kali


"Bianca, keluarlah, kita harus bicara!" ucap Arga.


"Bianca......"


CEKLEEKK


Arga menghentikan ucapannya saat pintu ruang bacanya terbuka dari dalam.


"Ada apa? aku juga tidak boleh berada disini?" tanya Bianca pada Arga yang berdiri di depan pintu.


"Boleh, maafkan aku.... sepertinya aku sedikit keterlaluan tadi," ucap Arga.


Bianca hanya tersenyum tipis namun dengan raut wajah kesal, ia kemudian keluar dari ruang baca dan berjalan pergi begitu saja, namun dengan cepat Arga menahan tangan Bianca.


"Kita harus bicara Bianca!" ucap Arga


"Apa lagi yang ingin kau bicarakan, apa kau mau memarahiku lagi?"


"Tidak, aku minta maaf soal itu, aku tau aku salah karena sudah tidak mempercayaimu dan sekarang aku tau jika kau berkata jujur padaku, tidak bisakah kau memaafkanku?"

__ADS_1


Bianca menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya menatap Arga.


"Aku tidak peduli pada semua yang kau lakukan Arga, aku bahkan tidak peduli apa kau pulang ke rumah atau tidak, aku memang menikah denganmu karena uang tapi bukan berarti aku sudah menjual diriku padamu, jika bukan karena hutang papa aku tidak akan mungkin menikah dengan laki laki angkuh dan egois sepertimu!" ucap Bianca.


"Aku memang bersalah karena tidak mempercayai ucapanmu, tapi kau juga bersalah karena pergi tanpa izinku, apa lagi kau pergi ke tempat seperti itu!"


"Kenapa kau masih menyalahkanku? kau yang tidak menerima panggilanku, kau juga yang tidak membalas pesanku, kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri Arga!" balas bianca.


"Aku minta maaf, tapi bisakah kita bicarakan hal ini dengan tenang? kita harus benar benar berbicara dengan kepala dingin agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi!"


Bianca hanya diam lalu membawa langkahnya ke arah balkon diikuti oleh Arga.


"Aku minta maaf atas kesalahanku hari ini, tapi ada satu hal yang harus kau pikirkan sebelum kau melakukan sesuatu di luar sana!" ucap Arga.


Bianca hanya diam, membiarkan Arga melanjutkan ucapannya


"Kau adalah istriku, kau pasti tau bagaimana kehidupanku dan keluargaku, dari awal aku sudah memperingatkanmu untuk lebih berhati hati saat berada di luar karena bisa jadi kecerobohanmu akan dimanfaatkan oleh rival perusahaan untuk menjatuhkan perusahaan dan keluargaku!" ucap Arga.


"Ini tidak hanya menyangkut tentangku, tapi juga tentang perusahaan dan keluargaku, mama dan papa yang sangat menyayangimu," lanjut Arga


Mendengar ucapan Arga membuat Bianca terdiam. Ia sadar jika dirinya juga bersalah atas apa yang sudah terjadi.


"Hanya untuk 2 tahun ini Bianca, aku mohon jaga nama baik keluargaku, mungkin tidak mudah untukmu merubah banyak hal tentangmu tapi aku yakin pelan pelan kau pasti bisa merubahnya," ucap Arga


Binaca menghela nafasnya panjang lalu menganggukkan kepalanya pelan.


"Aku mengerti," ucap Bianca yang membuat Arga tersenyum lega.


"Tunggu disini bentar, aku akan segera kembali!" ucap Arga lalu segera berlari pergi dan tak lama kemudian kembali ke balkon dengan membawa obat untuk menghilangkan memar di pergelangan tangan Bianca


Arga kemudian duduk di samping Bianca, saat ia meraih tangan Bianca, dengan cepat Bianca menarik tangannya.


"Aku hanya ingin mengobatinya," ucap Arga.


"Tidak perlu," balas Bianca lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Arga begitu saja.


Arga hanya menghela nafasnya lalu ikut beranjak dan berjalan meninggalkan balkon.


"Dia selalu menolak saat aku sentuh, padahal aku hanya ingin mengobatinya," ucap Arga dengan menggelengkan kepalanya pelan lalu berjalan naik ke lantai 3 dan masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Di sisi lain, Bianca yang juga masuk ke kamarnya segera menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


Ia mengangkat tangan kanannya, memperhatikan memar yang ada di pergelangan tangan kanannya.


"Dia benar benar sangat marah padaku, tapi aku juga bersalah karena pergi ke tempat seperti itu, dia hanya tidak ingin apa yang aku lakukan berakibat buruk bagi keluarga dan perusahannya."


**


Malam yang panjang telah berlalu, pagipun tiba. Dengan malas Bianca membuka gorden kamarnya, membiarkan sinar matahari masuk ke dalam kamarnya.


Setelah membasuh wajah Biancapun keluar dari kamarnya. Saat ia akan pergi ke dapur ia begitu terkejut melihat Arga yang sedang menata makanan di meja makan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Bianca.


"Apa kau baru bangun? kemarilah, aku baru saja selesai memasak," balas Arga.


"Memasak? kau yang memasak semua ini?" tanya Bianca yang tidak mempercayai ucapan Arga.


"Tentu saja, asal kau tau aku dulu prnah menjadi asisten Chef saat masih kuliah di luar negeri," jawab Arga meyakinkan Bianca.


"Huh, sombong sekali!"


"Hahaha..... sebelum aku makan, buka ini dulu, untukmu," ucap Arga sambil memberikan sebuah paper bag pada Bianca.


Biancapun membuka paper bag itu dan begitu terkejut saat melihat isinya.


"Kau serius memberikan ini untukku?" tanya Bianca tak percaya.


"Tentu saja serius, simpan saja hadiahmu, sekarang nikmati makanan yang sudah aku siapkan," ucap Arga lalu memberikan piring untuk Bianca.


Biancapun menaruh sepatu sneakers dengan harga puluhan juta itu di sampingnya, ia masih tidak mengerti kenapa Arga tiba tiba memberinya sepatu itu.


"Aku tau kau suka memakai sepatu seperti itu, jadi aku sengaja membelinya untukmu," ucap Arga.


"Tapi itu terlalu mahal untuk dipakai Arga, aku akan menyimpannya saja, aku tidak akan membiarkannya kotor!"


"Hahaha..... terserah kau saja," balas Arga.


"Aku tidak tau kenapa kau tiba tiba memberiku sepatu ini, tapi terima kasih," ucap Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.

__ADS_1


Untuk pertama kali, mereka menikmati sarapan mereka berdua karena kebetulan hari itu adalah hari Sabtu dan Arga tidak pergi ke kantor.


__ADS_2