Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Kebimbangan Arga


__ADS_3

Di sisi lain, Bianca memutar kursi rodanya ke arah Arga dan Daffa mengobrol. Bianca sengaja mendekati Arga dan Daffa dengan sembunyi-sembunyi agar Arga tidak mengetahui jika dirinya menguping pembicaraan mereka karena Bianca tahu jika sedang ada masalah yang terjadi.


Setelah dirasa cukup mendengar obrolan Arga dan Daffa, Bianca memutar kursi rodanya untuk kembali ke tempat ia seharusnya menunggu.


Tak lama kemudian Arga dan Daffa datang. Daffa kemudian berpamitan pada Bianca, meninggalkan dirinya dan Arga yang masih berada disana.


"Ada apa Arga? apa ada masalah?" tanya Bianca pada Arga.


"Tidak ada," jawab Arga dengan menggelengkan kepalanya.


Ia sengaja berbohong pada Bianca agar tidak membuat Bianca terlalu memikirkan tentang masalah yang dihadapinya.


"Kenapa kau berbohong padaku Arga? jelas-jelas aku melihatmu sangat bimbang, aku tidak tahu kenapa itu menjadi pilihan yang sangat berat untukmu, padahal selama ini pekerjaan adalah prioritas utama bagimu dan aku tidak tahu kenapa kau sangat ingin menemaniku melakukan terapi terakhirku," ucap Bianca dalam hati.


"Katakan padaku tentang apapun masalahmu Arga, keadaanku sekarang mungkin tidak bisa banyak membantumu tapi...."


"Tidak ada apapun yang terjadi Bianca, ini hanya masalah kecil dan aku akan segera menyelesaikannya," ucap Arga memotong ucapan Bianca sambil menggenggam tangan Bianca.


"Apa kau yakin?" tanya Bianca yang di balasan anggukan kepala dan senyum oleh Arga.


"Kau tidak perlu memikirkan apapun, fokus saja pada kesembuhanmu agar kau bisa segera meninggalkan rumah sakit!" ucap Arga.


Arga kemudian memutar kursi roda Bianca dan berdiri di hadapan Bianca lalu mengulurkan kedua tangannya pada Bianca.


Bianca yang mengerti maksud Arga hanya menggelengkan kepalanya, namun Arga masih mengulurkan tangannya seolah memaksa Bianca untuk meraih kedua tangannya.


"Ayolah Bee, bukankah dokter Galih bilang semakin sering kau berlatih semakin cepat kau akan terbiasa dan kekuatan kakimu juga akan lebih cepat pulih!" ucap Arga.


"Tapi disini banyak orang Arga, bagaimana jika aku terjatuh disini?" tanya Bianca yang memperhatikan sekitarnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu terjatuh Bianca, percaya padaku!" balas Arga.


Bianca menarik nafasnya dalam-dalam lalu meraih kedua tangan Arga dan dengan pelan menurunkan kedua kakinya dari kursi roda.


"Lakukan dengan santai Bianca, jangan terlalu tegang!" ucap Arga yang dibalas anggukan pelan oleh Bianca.


Dengan pelan Bianca mulai mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya yang masih memegang erat kedua tangan Arga.


Setelah berhasil berdiri tegak di hadapan Arga, Bianca mulai mengangkat kakinya dan melangkah pelan-pelan mendekati Arga yang terus berjalan mundur di hadapannya.


"Ternyata cukup menyenangkan belajar berjalan seperti ini, aku seperti anak balita yang belajar berjalan bersama papanya," ucap Bianca dengan tersenyum pada Arga.


"Jadi apa menurutmu aku setua itu?" protes Arga.


"Aku tidak sedang membicarakan umurmu, aku hanya merasa seperti sedang bersama papa, satu-satunya laki-laki yang aku percaya mencintaiku dengan sangat tulus," balas Bianca penuh senyum dengan membawa pandangannya menatap Arga.


"Baiklah mulai sekarang aku akan menjadi papamu, jadi jangan pernah membantah ucapan papamu ini, oke!" ucap Arga yang dibalas tawa oleh Bianca.


Argapun tersenyum senang melihat Bianca yang sudah kembali tertawa ceria, setelah lebih dari 3 bulan Bianca hanya terbaring di atas ranjang dengan kedua matanya yang tertutup rapat.


"Sudah Arga, aku merasa lelah," ucap Bianca setelah ia cukup jauh berjalan dengan menggenggam kedua tangan Arga.


"Baiklah kita kembali ke kursi roda," balas Arga yang dengan cepat mengangkat tubuh Bianca, menggendong Bianca dengan kedua tangannya untuk kembali ke arah kursi roda Bianca.


Entah kenapa Bianca hanya terdiam meskipun ia begitu terkejut dengan apa yang Arga lakukan, ia sama sekali tidak menolak ataupun meronta, ia bahkan menikmati setiap detik langkah Arga yang berjalan ke arah kursi roda.


Sampai akhirnya Arga mendudukkan Bianca di atas kursi rodanya dengan pelan dan hati-hati.


"Kita kembali ke ruanganmu, kau tidak boleh terlalu lelah!" ucap Arga sambil mendorong kursi roda Bianca untuk kembali ke ruangan Bianca.


Sesampainya di ruangan Bianca, Arga kembali menggendong Bianca dan membaringkan Bianca di atas ranjangnya.


"Beristirahatlah Bianca, aku akan duduk di sofa agar kau tidak merasa terganggu jika aku disini," ucap Arga pada Bianca.


Namun saat Arga baru saja membalikkan badannya, tiba-tiba Bianca menahan tangan Arga.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Bianca pada Arga.


"Ada apa Bianca? apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Arga yang kembali duduk di samping ranjang Bianca.


"Sepertinya aku sudah tidak ingin pergi ke pantai," jawab Bianca.

__ADS_1


"Kenapa? bukankah kau sangat bersemangat sejak dokter Galih bilang kita akan melakukan terapi di pantai?" tanya Arga.


"Aku sudah berubah pikiran karena ternyata melakukan terapi di taman juga tidak begitu buruk," jawab Bianca beralasan.


"Kita pergi ke pantai bukan hanya karena kau suka tetapi karena dokter Galih yang menyarankan kita untuk melakukan terapi terakhirmu disana, tekstur pasir pantai akan membantu terapimu dengan lebih maksimal Bianca," ucap Arga.


"Kalau begitu bagaimana jika kita melakukannya lain kali?" tanya Bianca.


"Kenapa harus lain kali? besok adalah waktu yang sudah kita sepakati dan kau juga sudah tidak sabar untuk pergi ke pantai besok pagi bukan!"


"Tidak Arga, aku sudah tidak ingin pergi ke pantai, lagi pula bukankah aku bisa pergi ke pantai di hari lain?" balas Bianca.


"Ada apa sebenarnya denganmu? kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran seperti ini?" tanya Arga.


"Lebih baik kita tunda terapi di pantai, kita....."


"Menunda terapi terakhirmu sama dengan menunda kesembuhanmu Bianca dan aku tidak mungkin melakukan hal itu, apapun yang terjadi kau harus tetap melakukan terapimu di pantai besok pagi!" ucap Arga memotong ucapan Bianca.


"Apa kau akan menemaniku besok pagi?" tanya Bianca.


"Tentu saja, aku tidak mungkin membiarkanmu berdua dengan dokter Galih," jawab Arga tanpa ragu.


"Kenapa? bukankah ada pertemuan penting yang seharusnya kau datangi besok pagi?" tanya Bianca.


"Aku bisa meminta Daffa untuk menggantikanku," jawab Arga.


"Tidak bisa, Daffa juga ada pekerjaan lain yang tidak bisa ditinggalkan di luar kota," ucap Bianca yang membuat Arga begitu terkejut.


"Dari mana kau tahu? apa kau mendengar pembicaraanku dengan Daffa?" tanya Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Aku mendengar semuanya," ucap Bianca.


"Katakan padaku apa yang kau dengar Bianca, aku tidak ingin kau salah paham!"


"Aku tahu besok pagi kau harus menghadiri pertemuan penting yang tidak bisa digantikan oleh Daffa karena Daffa juga harus melakukan pekerjaannya di luar kota yang tidak bisa ditunda, tetapi kau ragu untuk menghadiri pertemuan itu karena besok pagi aku harus melakukan terapi di pantai," jelas Bianca.


Arga menghela nafasnya lalu menundukkan kepalanya.


"Pergilah Arga, kau harus tetap menghadiri pertemuan itu, jangan lupakan tanggung jawabmu sebagai CEO di perusahaan papa," ucap Bianca.


"Tapi aku tidak mungkin meninggalkanmu berdua dengan dokter Galih," balas Arga.


"Kalau kau memang tidak mengizinkanku untuk pergi ke pantai bersama dokter Galih, maka satu-satunya jalan adalah menundanya," ucap Bianca.


"Dan itu artinya aku menunda kesembuhanmu, tidak mungkin aku melakukan hal itu Bianca," balas Arga.


"Kalau begitu aku akan meminta tolong Mama dan papa untuk menemaniku, dengan begitu aku tidak hanya berdua dengan dokter Galih disana," ucap Bianca berusaha mencari solusi.


Arga menggelengkan kepalanya, dalam hatinya ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menemani Bianca terapi, terlebih besok adalah terapi terakhir Bianca.


"Kenapa Arga? pertemuan itu sangat penting dan kau tidak bisa mengabaikannya begitu saja, kenapa kau sebegitunya ingin menemaniku terapi padahal ada Mama dan papa yang bisa menemaniku besok pagi," tanya Bianca tak mengerti.


Arga kembali menggelengkan kepalanya pelan lalu beranjak dari duduknya.


"Aku akan mencari jalan keluarnya sendiri Bianca, kau tidak perlu terlalu memikirkannya, apapun yang terjadi aku akan menemanimu untuk terapi di pantai besok pagi," ucap Arga lalu berjalan keluar dari ruangan Bianca.


"Ada apa sebenarnya dengannya? kenapa aku merasa sikap Arga sangat berubah?" batin Bianca bertanya dalam hati.


Bianca terdiam untuk beberapa saat, memikirkan segala kemungkinan yang membuat Arga tiba-tiba menjadi sosok laki-laki yang lembut dan penuh perhatian.


Meskipun sejak dulu Arga selalu memperlakukan Bianca dengan baik, namun sikap Arga terlihat sedikit berlebihan di mata Bianca.


Bianca kemudian teringat tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Arga sebelum dia koma di rumah sakit.


"Apa jangan-jangan dia merasa bersalah karena kecelakaan itu? jika saat itu aku tidak lari dan mendorong Arga di jalan raya, aku tidak akan koma selama lebih dari tiga bulan di rumah sakit dan mungkin saja Arga merasa bersalah karena hal itu, membuatnya bersikap sangat baik padaku dan sedikit berlebihan!"


Bianca menghela nafasnya panjang setelah ia meyakini tentang apa yang ia pikirkan saat itu.


"Jadi itu alasan perubahan sikapnya," ucap Bianca dengan menganggukkan kepalanya pelan.


Bianca kemudian memencet tombol yang ada di dekat ranjangnya dan tak lama kemudian susterpun datang. Bianca meminta tolong pada suster untuk membantunya turun dari ranjang lalu duduk di kursi rodanya.

__ADS_1


"Terima kasih sus, Bianca akan mendorongnya sendiri sekarang," ucap Bianca pada suster setelah ia berhasil duduk di kursi rodanya.


Suster menganggukkan kepalanya dengan tersenyum ramah lalu meninggalkan ruangan Bianca, sedangkan Bianca segera memutar kursi rodanya untuk mencari Arga di luar ruangannya.


"Kemana dia pergi?" batin Bianca bertanya dalam hati sambil terus memutar kursi rodanya melewati lorong rumah sakit dengan pandangannya yang fokus mencari keberadaan Arga.


Sampai tiba-tiba seseorang menahan kursi roda Bianca dari belakang, Biancapun segera membawa pandangannya ke arah belakang dan mendapati dokter Galih yang berdiri di belakangnya dengan tersenyum.


"Dokter Galih, apa yang dokter lakukan?" tanya Bianca.


"Justru saya yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan di luar ruanganmu?" balas dokter Galih bertanya.


"Bianca mencari Arga dok, apa dokter Galih melihatnya?"


"Saya tidak melihatnya, mungkin....."


"Bianca!" panggil Arga sambil berjalan cepat menghampiri Bianca yang sedang berdua dengan dokter Galih di lorong rumah sakit.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Arga dengan membawa pandangannya pada dokter Galih dan Bianca.


"Saya tidak sengaja bertemu dengannya disini dan dia sedang mencarimu," jawab dokter Galih.


"Kau mencariku Bee?" tanya Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Baiklah karena kau sudah bertemu dengan orang yang kau cari, saya permisi dulu," ucap dokter galih dengan tersenyum pada Bianca dan sedikit menundukkan kepalanya pada Arga lalu berjalan pergi meninggalkan Bianca dan Arga.


"Lain kali jangan pernah keluar dari ruanganmu tanpa aku, apalagi berdua dengan dokter Galih," ucap Arga sambil mendorong kursi roda Bianca untuk kembali ke ruangan Bianca.


"Dia bahkan terlihat seperti seorang kekasih yang sedang cemburu jika seperti ini," batin Bianca dalam hati.


"Apa kau turun dari ranjang sendiri atau dokter Galih yang membantumu?" tanya Arga pada Bianca.


"Aku memanggil suster dan suster yang membantuku untuk turun dari ranjang, aku juga tidak sengaja bertemu dokter Galih saat aku sedang mencarimu," jelas Bianca.


Sesampainya di ruangan Bianca, Arga segera mengangkat tubuh Bianca dan membaringkan Bianca di atas ranjangnya.


"Arga, ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Bianca sambil berusaha untuk duduk yang dengan sigap dibantu oleh Arga.


"Ada apa?" tanya Arga.


"Tentang apa yang terjadi pada kita di jalan raya pagi itu, aku harap itu tidak menjadi beban untukmu, apa yang terjadi pagi itu adalah bagian dari takdir yang memang sudah seharusnya terjadi," ucap Bianca.


"Kenapa kau tiba-tiba membahas hal itu?" tanya Arga.


"Aku hanya tidak ingin kau menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi padaku selama tiga bulan terakhir ini," jawab Bianca.


Arga hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, hatinya masih terasa sakit saat bagaimana dokter akan melepaskan alat penunjang hidup Bianca.


Rasa sakit karena takut kehilangan perempuan yang dicintainya masih begitu membekas di hatinya.


Melihat Arga yang hanya terdiam Bianca kemudian meraih tangan Arga dan menggenggamnya.


"Sekarang aku sudah baik-baik saja Arga, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun tentangku dan kau tidak perlu menyalahkan siapapun atas apa yang sudah terjadi padaku," ucap Bianca.


"Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba membicarakan hal ini Bianca, tapi aku....."


"Kau harus mendatangi pertemuan pentingmu demi perusahaan papa, kau harus bertanggung jawab dengan pekerjaanmu dan kau juga harus bertanggung jawab atas kepercayaan papa padamu," ucapan Arga.


"Bagaimana dengan terapimu?" tanya Arga.


"Aku bisa menundanya, aku akan mengatakannya pada dokter Galih," jawab Bianca tanpa ragu.


Arga menghela nafasnya panjang lalu membawa satu tangannya menggenggam tangan Bianca yang menggenggam tangannya.


"Aku tidak mungkin menunda kesembuhanmu Bianca," ucap Arga dengan menatap kedua mata Bianca.


"Aku tidak boleh egois, aku tidak boleh menunda kesembuhan Bianca hanya karena aku merasa cemburu pada dokter Galih, aku juga sudah berjanji pada papa jika aku tidak akan mengecewakan papa setelah papa membatalkan surat pernyataan pelepasan alat penunjang hidup Bianca," batin Bianca bertanya dalam hati.


"Sejauh yang aku tahu Arga Narendra adalah laki-laki yang sangat profesional dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya, aku harap selamanya dia akan seperti itu," ucap Bianca dengan tersenyum.


Arga kembali menghela nafasnya panjang lalu melepaskan tangannya dari genggaman Bianca.

__ADS_1


__ADS_2