Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Cerita Lola


__ADS_3

Di bawa langit malam dan keramaian pasar malam di lapangan luas itu, Bianca dan Arga seolah memiliki dunia mereka sendiri.


Mereka hanya saling menatap dengan debar jantung keduanya yang semakin memacu cepat.


Hingga tiba-tiba Lola datang membuyarkan lamunan keduanya. Menyadari kedatangan lola, Bianca segera mengembalikan minuman milik Arga lalu melepas penjepit rambut yang baru saja Arga pakaikan padanya.


"Aku tidak suka," ucap Bianca sambil mengembalikannya pada Arga.


"Kenapa? ini cocok untukmu Bianca!"


"Sangat menggelikan," balas Bianca yang memaksa Arga untuk menerima kembali penjepit rambut itu.


"Kau membeli itu untuk Bianca, Arga?" tanya Lola yang baru menyadari apa yang terjadi.


"Iya, aku pikir ini bagus dan cocok untuk Bianca," jawab Arga.


"Cocok, tapi tidak sesuai dengan style-nya, bukankah kau tau itu!" ucap Lola.


"Setidaknya simpan saja," ucap Arga sambil memakaikan sekenanya di rambut Bianca lalu pergi begitu saja.


"Pakai saja Bianca, itu memang terlihat cocok untukmu!" ucap Lola.


"Sejak kapan aku suka memakai barang seperti ini Lola," balas Bianca lalu menaruh benda itu di kantong pakaiannya.


Bianca dan Lola lalu mengitari jejeran stand makanan yang ada disana. Mereka menghabiskan cukup banyak waktu untuk memilih makanan dan minuman yang mereka suka, tentunya Arga yang membayar semua yang mereka beli.


"Aaahh ya, kau belum memberi tahuku tentang apa yang terjadi saat kau pulang ke rumah!" ucap Bianca pada Lola.


"Aaahh tentang itu....." balas Lola yang seketika menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang tiba-tiba bersedih.


"Ada apa Lola? apa terjadi sesuatu?" tanya Bianca yang menyadari kesedihan Lola.


Lola menghela nafasnya panjang lalu mengangkat kepalanya dan menatap hamparan gelap langit malam itu.


"Mereka memberi tahuku fakta yang selama ini mereka sembunyikan, fakta yang pada akhirnya membuatku tau kenapa mereka memperlakukanku seperti itu," ucap Lola.


"Fakta seperti apa yang kau tau Lola?" tanya Bianca.


"Sebenarnya...... aku..... bukan anak kandung mereka, Bianca," jawab Lola dengan suara bergetar.


Seketika Bianca terdiam lalu menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Lola.


"Apa kau yakin tentang hal itu?" tanya Bianca dengan menggenggam tangan Lola.


"Mereka bahkan memperlihatkan dokumen-dokumen saat mereka memutuskan untuk mengambilku dari panti asuhan Bianca," jawab Lola.


"Mereka sengaja mengadopsiku sejak aku masih bayi karena mereka memiliki masalah kesehatan yang membuat mereka kesulitan untuk mempunyai anak, mereka merawatku seperti anak mereka sendiri dan memenuhi semua kebutuhanmu dengan baik, tapi semua itu berubah saat aku sudah mulai memasuki masa SMA," lanjut Lola menjelaskan.


"Apa yang terjadi Lola? kenapa sikap mereka berubah?" tanya Bianca.


"Saat aku mulai masuk SMA, papa mulai menjadi pejabat daerah, banyak mata yang mulai menyorot kehidupan mama dan papa, saat itulah mereka menganggap jika keberadaanku dalam keluarga mereka adalah aib," jawab Lola.


"Sejak saat itu aku sudah tidak diperlakukan selayaknya anak bagi mereka, mereka menegaskan padaku jika mereka hanya akan memenuhi kebutuhanku sampai aku lulus kuliah dan tentunya mereka akan sangat marah padaku jika aku menunjukkan diriku di publik karena mereka takut jika aku akan menjadi ancaman bagi karir mereka," lanjut Lola.


Bianca hanya diam dengan menggenggam tangan Lola, ia bisa mengerti betapa hancurnya hati Lola saat itu.


"Dulu aku tidak mengerti kenapa aku dianggap aib oleh orang tuaku sendiri dan sekarang mereka sudah memberi tahuku alasannya, ya.... ternyata aku bukan anak kandung mereka," ucap Lola dengan menundukkan kepalanya.


"Bagi mereka aku hanya mainan yang mereka ambil dari panti asuhan, mainan yang mereka mainkan dengan baik lalu dibuang saat mereka sudah merasa tidak membutuhkan mainan sepertiku," lanjut Lola dengan suara bergetar.


Seketika Bianca segera memeluk Lola dengan erat, membuat Lola menumpahkan air matanya dalam pelukan Bianca.


Arga yang mendengar cerita Lola hanya diam tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia merasa sedih atas apa yang sudah terjadi pada Lola.


"Tapi sekarang aku merasa lebih bebas Bianca," ucap Lola sambil melepaskan dirinya dari pelukan Bianca.


"Lebih bebas kenapa?" tanya Bianca tak mengerti.


Lola menghela nafasnya panjang lalu menghapus air mata di pipinya.


"Kedatanganku ke rumah kemarin adalah untuk menandatangani surat pernyataan yang menyatakan jika aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan mereka, aku juga harus merahasiakan semua ini selamanya tapi sekarang aku menceritakannya padamu," ucap Lola.


"Surat pernyataan macam apa itu Lola? kau....."


"Aku sudah dibuang Bianca, mereka sudah tidak menginginkanku lagi," ucap Lola memotong ucapan Bianca.


Bianca menggelengkan kepalanya pelan, tidak mengerti dengan jalan pikiran dua orang yang sudah memutuskan untuk mengadopsi Lola namun tiba-tiba membuang Lola begitu saja.


"Semua hal tentangku sudah tidak berhubungan lagi dengan mereka Bianca, walaupun itu hal yang sangat menyedihkan tapi aku berusaha menerimanya dan menganggapnya sebagai kebebasan baru bagiku," ucap Lola.


"Mereka tidak bisa didiamkan Lola, mereka sudah sangat keterlaluan, kita harus melakukan sesuatu untuk membalas perbuatan mereka padamu!" ucap Bianca.

__ADS_1


"Tidak Bianca, tolong jangan melakukan apapun, aku sudah menerima semua yang terjadi padaku dan aku tidak ingin menyimpan dendam dalam hidupku," balas Lola.


"Apa kau tidak marah pada mereka Lola?" tanya Bianca.


"Tentu saja aku sempat marah karena aku berpikir jika mereka sudah mempermainkan hidupku, tapi aku tidak mungkin melakukan hal yang buruk pada mereka Bianca, bagaimanapun juga mereka pernah merawatku dengan sangat baik, mereka bahkan tetap membiayai kuliahku sampai aku lulus," jelas Lola.


Bianca menghela nafasnya panjang lalu kembali memeluk Lola sambil mengusap punggung Lola.


"Apapun yang terjadi padamu jangan pernah merasa sendiri Lola, aku akan selalu ada untukmu," ucap Bianca.


"Aku tau, kau satu-satunya yang aku miliki saat ini Bianca, terima kasih sudah datang dalam kehidupanku," balas Lola dengan tersenyum namun air matanya tetap menetes membasahi pipinya.


Lola kemudian melepaskan dirinya dari pelukan Bianca dan menggenggam kedua tangan Bianca.


"Berjanjilah padaku untuk merahasiakan semua ini Bianca dan berjanjilah untuk melupakan masa laluku dengan mereka yang pernah menjadi orang tuaku, aku tidak ingin kau merasa terbebani dengan semua masa laluku itu," ucap Lola pada Bianca.


"Bagaimana denganmu Lola? apa kau akan tetap menganggap mereka orang tuamu?"


"Tidak, bagiku mereka adalah orang baik yang pernah memberikan keindahan hidup padaku, meskipun hanya sementara, sekarang aku hanya perlu menjalani hidupku sendiri tanpa mereka dan aku baik-baik saja," jawab Lola dengan tersenyum.


"Kau sungguh baik-baik saja?"


"Tentu saja, untuk sesaat aku memang merasa hancur dan sangat bersedih, tapi sekarang aku sudah bisa menerima semua takdirku dan aku akan memulai hidup baruku dengan lebih bahagia sekarang," jawab Lola.


"Aku yakin kau akan lebih bahagia setelah ini Lola, kau sudah melewati rintangan yang menyakitkan jadi kebahagiaan pasti sudah menunggumu," balas Bianca.


Lola menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu menyadarkan kepalanya di bahu Bianca.


"Mari kita sama-sama menjalani hidup kita dengan bahagia Bianca!" ucap Lola sambil menatap gelap langit malam.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Di sisi lain, Arga yang melihat kedekatan Bianca dan Lola hanya tersenyum lalu ikut menyandarkan kepalanya di bahu Bianca.


"Apa yang kau lakukan Arga?" tanya Bianca sambil berusaha menggeser kepala Arga dari bahunya.


"Mendengar cerita Lola membuatku ikut bersedih," jawab Arga.


Mendengar apa yang Arga katakan, Lola seketika mengangkat kepalanya dan membawa pandangannya pada Arga.


"Apa kau mendengar semuanya Arga?" tanya Lola.


"Tentu saja, aku dari tadi disini dan mendengar semuanya," jawab Arga yang masih membaringkan kepalanya di bahu Bianca.


"Tenang saja, kau bisa mempercayaiku," jawab Arga santai.


"Hanya kau dan Bianca yang mengetahui semua ceritaku, jadi aku harap kalian berdua benar-benar bisa menjaga rahasiaku dengan baik," ucap Lola.


"Jangan meragukanku Lola, Arga juga pasti bisa menjaga rahasiamu dengan baik," ucap Bianca pada Lola.


"Baiklah, aku mempercayai kalian," balas Lola lalu kembali menyadarkan kepalanya di bahu Bianca.


Waktu berlalu, malampun semakin larut. Mereka kemudian memutuskan untuk meninggalkan pasar malam.


"Arga, bolehkan aku menginap di tempat Lola malam ini? aku ingin menemaninya," tanya Bianca pada Arga saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tidak perlu Bianca, aku baik-baik saja, kau tidak perlu menemaniku," sahut Lola.


"Bagaimana bisa aku membiarkanmu sendirian setelah apa yang terjadi padamu Lola!" ucap Bianca.


"Itu sudah berlalu Bianca, sudah ku bilang bukan jika aku lebih bahagia sekarang, aku lebih bebas menunjukkan diriku di depan semua orang dan di semua sosial media, jadi tidak ada alasan untukku bersedih Bianca!" balas Lola.


"Apa kau yakin?" tanya Bianca memastikan.


"Tentu saja, kau hanya akan membuatku bersedih jika kau terus melihatku dengan tatapan menyedihkan seperti itu," balas Lola.


"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya mengkhawatirkanmu," ucap Bianca.


"Aku mengerti, tapi aku benar-benar baik-baik saja sekarang, jadi sebaiknya kau mengkhawatirkan Arga yang akan kesepian jika kau tidak ada di rumah!" ucap Lola sambil membawa pandangannya pada Arga.


"Mana mungkin dia kesepian karena aku tidak di rumah," balas Bianca dengan menghela nafasnya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun menghentikan mobilnya di tempat kos Lola.


"Terima kasih untuk hari ini Bianca, Arga, aku senang sekali bisa menghabiskan malam ini bersama kalian!" ucap Lola sebelum ia keluar dari mobil.


"Jika ada kesulitan jangan ragu untuk meminta tolong padaku atau pada Arga, aku dan Arga pasti akan membantu sebisa mungkin," ucap Bianca.


Lola hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu keluar dari mobil Arga.


Arga kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan tempat kos Lola setelah Bianca duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka jika jalan hidupnya semenyedihkan itu," ucap Arga pada Bianca.


"Tapi setidaknya dia sudah merasa lebih bebas sekarang dan sudah tidak ada lagi yang akan menyakitinya," balas Bianca.


"Kau benar, untuk mendapatkan kebahagiaan seseorang memang harus melalui kepahitan hidup," ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


**


Hari telah berganti. Pagi itu Bianca terbangun dari tidurnya karena suara ketukan pintu dari depan kamarnya.


Dengan rambutnya yang masih berantakan dan kedua matanya yang masih malas untuk terbuka, Bianca beranjak dari ranjangnya untuk membuka pintu.


"Selamat pagi, sarapan sudah siap," ucap Arga dengan penuh senyum.


"Aku masih mengantuk Arga," balas Bianca hanya hendak menutup pintu, namun ditahan oleh Arga.


"Kau harus makan sekarang sebelum makanannya dingin," ucap Arga sambil menarik tangan Bianca ke meja makan.


Arga kemudian menyiapkan makanan untuk Bianca lalu mereka menikmati sarapan mereka bersama.


"Apa rencanamu hari ini?" tanya Arga.


"Mmmm.... sebenarnya aku ingin mengajak Lola ikut bersama kita, tapi ternyata dia sudah ada janji dengan Daffa," jawab Bianca sambil menguap.


"Jadi?"


"Hari ini aku akan mengajakmu menikmati pengalaman baru," jawab Bianca sambil mengunyah makanannya.


Setelah selesai sarapan, merekapun bersiap untuk keluar dari rumah.


"Hari ini tidak perlu memakai mobil," ucap Bianca sambil merebut kunci mobil dari tangan Arga lalu meletakkannya di meja.


"Apa pak Dodi yang akan mengantar kita?" tanya Arga.


"Tentu saja tidak, ikut saja dan jangan banyak bertanya," jawab Bianca lalu berjalan keluar dari rumah diikuti oleh Arga.


Mereka berjalan keluar dari kompleks perumahan lalu menyusuri trotoar beberapa meter sampai akhirnya mereka berhenti di halte.


"Kenapa kita disini?" tanya Arga.


"Itu dia, ayo cepat!" ucap Bianca sambil menarik tangan Arga untuk segera masuk ke dalam bus yang baru saja berhenti.


"Kenapa kau mengajakku naik bus Bianca? kemana kita akan pergi?" tanya Arga tak mengerti tujuan Bianca.


"Jangan banyak bertanya Arga, kau hanya harus memberi semua yang aku inginkan bukan!"


"Oke baiklah," balas Arga pasrah lalu memasang airpods di kedua telinganya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di tempat tujuan Bianca.


"Cepat sebelum kita kehabisan!" ucap Bianca sambil berlari kecil di trotoar.


Tak lama kemudian mereka sampai di tempat dengan banyak orang yang berkerumun disana.


Meskipun tempat itu tidak cukup bersih dan nyaman bagi Arga, tapi banyak orang yang berjualan makanan dan jajanan yang diserbu banyak pembeli, termasuk Bianca.


Bianca kemudian membeli banyak jajanan pasar lalu membawanya pergi setelah Arga membayarnya.


"Kenapa kita harus kesini Bianca? bukankah ada tempat lain yang lebih bersih?" protes Arga.


"Disini juga bersih Arga, lihatlah kau bisa mendapatkan banyak makanan dengan mengeluarkan uang yang tidak seberapa," balas Bianca.


"Apa kau akan memakan semua makanan itu sendirian?" tanya Arga.


"Tentu saja tidak, ikut aku," jawab Bianca lalu membawa langkahnya mendekati beberapa pemulung yang tampak berkumpul di sudut TPA lalu memberikan satu kantong besar jajanan pada salah satu pemulung yang ada disana untuk dibagikan pada pemulung yang lain.


"Apa kita kesini hanya untuk melakukan hal ini?" tanya Arga.


"Tentu saja tidak, aku sudah merencanakan banyak hal yang harus kita lakukan hari ini," jawab Bianca.


"Salah satunya itu!" lanjut Bianca sambil menunjuk kedai ice cream yang ada di sebrang jalan.


"Apa kau mau membeli ice cream?" tanya Arga yang dengan cepat dibalas anggukan oleh Bianca.


"Baiklah, tunggu disini!" ucap Arga lalu berjalan meninggalkan trotoar.


Karena suara musik dari airpods yang ia dengar cukup keras, Arga tidak menyadari mobil yang melaju kencang tanpa kendali ke arahnya.


Di sisi lain, Bianca yang melihat hal itu segera berlari sambil memanggil nama Arga.


"Arga!!!!"

__ADS_1


Sepersekian detik saja suara decitan ban mobil menggema di pagi hari itu disusul dengan darah yang sudah mengucur deras setelah seseorang terpental cukup jauh hingga menghantam tepi trotoar.


__ADS_2