
Hari-hari berlalu, bulan berganti bersama perut Bianca yang semakin terlihat besar. Semakin bertambah usia kehamilan Bianca, Bianca sudah lebih bisa mengendalikan emosinya. Ia kembali menjadi Bianca yang ceria dan menyenangkan.
Pagi itu, Bianca dan Arga sedang duduk di taman setelah beberapa lama mereka berjalan-jalan di sekitar taman.
"Apa ini terasa sangat berat Bee?" tanya Arga sambil mengusap perut Bianca yang sudah membuncit semakin besar.
"Terkadang memang terasa berat dan cukup melelahkan, tetapi aku menikmati setiap detiknya," jawab Bianca dengan tersenyum.
"Aku yakin kau pasti akan menjadi ibu yang hebat untuk anak kita," ucap Arga.
"Bukan hanya aku tapi kita, kita berdua akan menjadi orang tua yang terbaik untuk anak kita," balas Bianca.
Arga tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan lalu mendaratkan kecupan singkatnya di kening Bianca.
Setelah beristirahat beberapa lama, Bianca dan Argapun meninggalkan taman untuk kembali pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, mereka segera mandi dan berganti pakaian lalu menikmati sarapan mereka di meja makan.
"Apa ada hal lain yang ingin kau lakukan hari ini Bee?" tanya Arga.
"Mmmm..... sepertinya tidak," jawab Bianca.
"Baiklah kalau begitu, kita hanya akan bersantai di rumah hari ini," ucap Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Tak lama setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka, bibi datang dan memberi tahu jika mama dan papa Arga datang.
Bianca dan Argapun segera beranjak dari duduk mereka untuk menemui Nadine dan David.
"Selamat pagi sayang," sapa Nadine lalu memeluk Bianca.
"Pagi ma," balas Bianca dengan penuh senyum.
"Kedatangan kita tidak mengganggu bukan?" tanya David.
"Tentu saja tidak, tapi tidak biasanya Mama dan papa datang kesini pagi-pagi sekali," jawab Arga lalu mempersilakan mama dan papanya untuk duduk.
"Mama sudah tidak sabar untuk memberitahu kalian tentang apa yang sudah mama dan papa putuskan," ucap Nadine.
"Apa itu menyangkut Bianca dan Arga, ma?" tanya Arga yang di balas anggukan kepala oleh Nadine.
"Mama dan papa sudah menyiapkan rumah sakit yang terbaik untuk persalinan Bianca, mama dan papa sengaja menyewa satu lantai rumah sakit agar Bianca merasa lebih nyaman dan private," jelas Nadine yang membuat Bianca begitu terkejut.
"Kau tidak keberatan bukan jika persalinanmu nanti akan dilakukan disini bukan di luar negeri?" lanjut Nadine bertanya pada Bianca.
"Bianca sama sekali tidak merasa keberatan ma, justru Bianca merasa menyewa satu lantai rumah sakit itu sedikit berlebihan," jawab Bianca.
"Itu sama sekali tidak berlebihan Bianca, sebelum mama dan papa memutuskan hal itu aku juga sudah memikirkannya dari jauh-jauh hari," sahut Arga.
"Tapi bukankah satu ruangan saja sudah cukup? bukankah aku bisa berada di ruangan VIP nanti?" tanya Bianca.
"Ini tidak hanya demi kebaikanmu Bianca, tapi juga demi kebaikan bayi dalam kandunganmu, kita berharap semuanya akan baik-baik saja dan melakukan tindakan preventif papa rasa bukan hal yang salah," jelas David.
"Pihak rumah sakit sudah mengizinkan kita untuk melakukan hal itu, jadi sama sekali tidak ada peraturan rumah sakit yang kita langgar disini, jadi kau tidak perlu khawatir Bianca," ucap Nadine.
"Kita hanya berusaha melakukan yang terbaik Bianca, kau tidak akan menolaknya bukan?" ucap Arga sekaligus bertanya dengan menggenggam tangan Bianca.
Bianca menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum lalu berterima kasih pada Nadine dan David yang sudah sangat baik padanya.
"Terima kasih banyak ma pa, Bianca benar-benar sangat bersyukur karena bisa menjadi bagian dari keluarga mama dan papa," ucap Bianca.
"Mama dan papa juga sangat bersyukur karena memilikimu Bianca, keberadaanmu benar-benar membuat kebahagiaan keluarga Narendra menjadi lebih lengkap," balas Nadine.
**
Waktu berlalu, malampun tiba. Bianca sedang berada di kamar bersama Arga. Bianca membaringkan kepalanya di atas paha Arga, sedangkan Arga duduk dengan membaca buku sambil mengelus perut Bianca.
"Kau sudah membaca banyak buku tentang parenting Arga, apa kau tidak bosan membacanya?" ucap Bianca sekaligus bertanya.
"Tentu saja tidak, aku harus banyak belajar agar bisa menjadi orang tua yang terbaik untuk anak kita sekaligus menjadi suami yang baik untukmu," jawab Arga.
Bianca kemudian menggeser posisi tangan Arga, membiarkan Arga merasakan tendangan dari bayi yang ada dalam kandungan Bianca.
Seketika Arga segera menaruh bukunya lalu menempelkan telinganya di atas perut Bianca.
"Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin segera melihat dunia luar," ucap Arga.
__ADS_1
"Dia bisa mendengar betapa kau sangat mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya, Arga," balas Bianca.
"Dia membuatku semakin tidak sabar untuk menunggu kehadirannya, membuatku ingin selalu ada di dekatmu dan tidak ingin berada jauh darimu meskipun hanya pergi ke kantor," ucap Arga.
"Kau tidak bisa seperti itu Arga, kau juga harus bertanggung jawab dengan pekerjaanmu," ucap Bianca.
"Iya aku mengerti, aku akan tetap berangkat ke kantor walaupun aku tidak pernah bisa benar-benar fokus dengan pekerjaanku," balas Arga dengan terkekeh
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Arga berdering, sebuah panggilan masuk dari Daffa yang segera diterima oleh Arga.
"Halo Daffa, ada apa?" tanya Arga setelah ia menerima panggilan Daffa.
"Apa kau sudah melihat breaking news hari ini?" balas Daffa bertanya.
"Belum, aku akan melihatnya nanti," jawab Arga.
"Tidak Arga, kau harus melihatnya sekarang!" ucap Daffa yang terdengar panik.
Daffa kemudian mengirim pesan pada Arga yang berisi link breaking news yang Daffa maksud.
Setelah panggilan berakhir, Arga kemudian membuka link yang Daffa berikan padanya dan ia begitu terkejut setelah ia membaca seluruh artikel breaking news itu.
"Ada apa, Arga?" tanya Bianca yang melihat Arga hanya terdiam untuk beberapa lama dengan menata ponselnya.
"Tidak ada apa-apa, hanya.... laporan biasa," jawab Arga berbohong.
"Aku sempat berpikir, apa ada pegawai di kantormu yang bekerja sekeras Daffa? bahkan di jam seperti inipun dia masih melakukan pekerjaannya," ucap Bianca.
"Tidak ada, dia memang yang terbaik dan karena sekarang sudah malam ini waktunya kau untuk tidur," balas Arga sambil memindahkan posisi kepala Bianca ke atas bantal.
"Kau juga akan tidur bukan?" tanya Bianca.
"Tentu saja," jawab Arga dengan tersenyum lalu menarik selimut dan menutup tubuh Bianca dengan selimut kemudian memeluk Bianca.
Waktu berlalu, Arga yang berpura-pura tidur akhirnya membuka matanya. Setelah memastikan jika Bianca sudah nyenyak dalam tidurnya, Argapun segera keluar dari kamarnya dengan pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan Bianca.
Arga berjalan masuk ke ruang kerjanya, membuka laptopnya lalu mencari berita tentang apa yang Daffa beritahu padanya.
Judul artikel itu terpampang nyata di layar laptop Arga dan tentu saja hal itu membuat Arga marah serta khawatir, takut jika tiba-tiba Karina datang dan mencelakakan Bianca.
Arga kemudian menghubungi seluruh anak buahnya untuk siaga menjaga Bianca selama 24 jam.
Arga meminta beberapa orang untuk berjaga di rumahnya serta beberapa orang lainnya mengikuti kemanapun Bianca pergi.
Arga juga meminta beberapa orang anak buahnya yang lain untuk mencari keberadaan Karina dan segera menyerahkan Karina pada polisi jika sudah menemukannya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Arga berdering, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Arga kemudian membuka pesan itu dan mendapati sebuah foto yang menunjukkan bagian depan rumahnya.
Argapun segera keluar dari ruang kerjanya, berlari menuruni tangga lalu keluar dari rumahnya.
Arga keluar dari gerbang rumahnya dan mendapati seseorang yang berdiri di seberang rumahnya, seseorang yang menggunakan jaket besar berwarna hitam serta masker hitam yang menutup wajahnya.
Tanpa ragu Arga segera berjalan mendekatinya karena ia sudah bisa menerka jika seseorang itu adalah Karina.
Benar saja, saat Arga mendekatinya seseorang itu melepaskan tudung jaketnya serta menurunkan masker yang menutup wajahnya dan memberikan senyum manisnya pada Arga.
"Akhirnya kita bertemu lagi Arga," ucap Karina dengan penuh senyum.
"Apa yang kau lakukan disini Karina? aku ingatkan padamu agar kau tidak mengganggu Bianca atau....."
"Atau apa? atau kau akan menghancurkan hidupku?" tanya Karina memotong ucapan Arga.
"Aku yakin kau bahkan tidak menghubungi polisi saat kau tahu jika aku berada di depan rumahmu, karena jika kau melakukannya sedikit banyak kau akan terlibat dengan kaburnya aku dari penjara," lanjut Karina.
"Sekarang apa maumu? kenapa kau datang kesini menemuiku?" tanya Arga.
"Aku hanya ingin melihatmu karena aku merindukanmu, apa kau tidak ingin memelukku Arga? apa kau tidak merindukan kebersamaan kita?" ucap Karina sekaligus bertanya.
"Jangan mengatakan hal bodoh Karina, sekarang cepat pergi atau aku akan benar-benar menghubungi polisi!" ucap Arga.
"Kau tidak mungkin melakukannya, aku tahu itu!" balas Karina.
__ADS_1
"Aaahhh ya, aku dengar Bianca sedang hamil, kau pasti sudah tidak sabar untuk menunggu Bianca melahirkan anakmu bukan? tapi bagaimana jika anakmu tidak berhasil lahir dengan selamat? apa kau akan sangat bersedih? apa kau akan sangat hancur sehancur diriku saat ini?"
Arga seketika mendekat dan mencengkeram leher Karina dengan sangat kuat. Ia begitu marah dengan apa yang baru saja Karina katakan padanya.
"Jaga ucapanmu Karina, aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada Bianca dan bayi dalam kandungannya, aku tidak hanya akan membuatmu masuk ke dalam penjara tapi aku juga akan benar-benar mengakhiri hidupmu!" ucap Arga dengan menatap tajam Karina yang sudah kesulitan bernafas saat itu.
"Arga..... kau....."
"Aku bahkan bisa membunuhmu saat ini juga jika aku mau, jadi aku harap kau tidak bertindak bodoh Karina!" ucap Arga yang semakin erat mencengkeram leher Karina lalu melepaskannya sambil mendorong Karina.
Karina terjatuh dengan nafasnya yang tersengal-sengal sambil memegang lehernya yang terasa begitu sakit saat itu.
"Aku tidak akan ragu untuk membunuh siapapun yang berusaha menyakiti orang-orang yang aku sayangi, kau tahu Karina aku bisa bertindak sejauh itu pada orang-orang jahat sepertimu!" ucap Arga lalu berjalan meninggalkan Karina begitu saja.
Arga yang sudah masuk ke dalam rumah segera membawa langkahnya ke kamar mandi lalu membasuh tangannya di wastafel karena ia merasa sudah mengotori tangannya dengan menyentuh Karina.
Tooookkk tooookkk tooookkk
"Arga, apa kau baik-baik saja?" tanya Bianca dari depan pintu kamar mandi.
Setelah mengeringkan tangannya, Argapun segera keluar dari kamar mandi.
"Aku baik-baik saja Bee, kenapa kau bangun?" jawab Arga sekaligus bertanya.
"Aku terbangun karena haus dan tidak melihatmu di sampingku, apa kau baru saja pergi?"
"Aku..... aku lupa jika ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, jadi aku pergi ke ruang kerja sebentar," jawab Arga beralasan.
"Apa kau sudah menyelesaikannya sekarang?" tanya Bianca.
"Sudah, ayo kembali tidur!" jawab Arga.
Bianca dan Argapun kembali berbaring di atas ranjang, namun Arga tidak bisa tidur dengan nyenyak karena masih memikirkan Karina.
Malam yang panjangpun berlalu, Arga sudah bersiap untuk berangkat ke kantor hari itu.
"Aku tidak punya alasan apapun agar aku bisa tetap menemani Bianca hari ini, Bianca pasti akan curiga jika aku memaksa untuk tidak berangkat ke kantor," ucap Arga dalam hati sambil memeluk Bianca.
"Hari ini kau memelukku terlalu lama Arga, ada apa? apa ada yang kau pikirkan?" ucap Bianca sekaligus bertanya yang membuat Arga segera melepaskan Bianca dari pelukannya.
"Tidak ada, aku hanya ingin selalu ada di dekatmu Bianca," jawab Arga.
"Tapi kau harus berangkat ke kantor Arga, cepat pergi sebelum kau terlambat!" ucap Bianca sambil mendorong Arga agar keluar dari rumah.
Arga kembali memeluk Bianca lalu mendaratkan kecupannya di kening Bianca sebelum ia benar-benar meninggalkan rumah.
Saat Arga baru saja mengendarai mobilnya meninggalkan rumah, ia menghubungi semua orang suruhannya untuk memastikan jika mereka sudah siaga di tempat untuk menjaga Bianca.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 siang saat Bianca baru saja beranjak dari balkon setelah ia mengerjakan artikelnya.
Di sisi lain satpam sedang menghentikan seorang kurir yang mengirimkan paket untuk Bianca.
Kurir yang menggunakan jaket kulit dengan topi dan masker hitam itu memaksa untuk bertemu langsung dengan Bianca.
"Saya harus meminta tanda tangan si penerima langsung pak, jadi tolong izinkan saya untuk bertemu langsung dengan penerima paket yang bernama Bianca!" ucap si kurir beralasan.
Satpam kemudian memberitahu bibi tentang hal itu. Bibipun segera memberitahu Bianca apa yang satpam katakan pada bibi dan Biancapun mengatakan pada bibi untuk membiarkan kurir itu masuk ke dalam rumah.
"Sepertinya Arga mengirim kejutan untukku," ucap Bianca penuh senyum sambil membawa langkahnya keluar dari rumah untuk menunggu si kurir di teras.
Tak lama kemudian kurir itupun datang dan memberikan sebuah kotak pada Bianca. Setelah memberikan tanda tangannya, Biancapun menerima kotak itu.
Setelah kurir itu pergi, Bianca membawa paket itu masuk ke dalam rumah dan segera membukanya.
"Waaahhh kue kesukaanku!" ucap Bianca senang.
Sebelum memakannya, Bianca mengambil foto kue itu dan mengirimkannya pada Arga.
"Kau memang selalu tahu apa yang aku inginkan, terima kasih Arga."
Tulis Bianca pada pesannya, karena ia berpikir jika Arga yang memberikan kue itu padanya.
Tanpa ragu Biancapun memakan beberapa potong kue itu dan tiba-tiba dia merasa perutnya sakit dan semakin lama semakin terasa begitu sakit.
__ADS_1