
Bianca masih berada di ruangan Arga, entah kenapa ia begitu kesal melihat Arga yang tampak dekat dengan klien perempuannya.
Sedangkan Arga justru merasa gemas melihat sikap Bianca yang terlihat kesal saat itu, apa lagi saat Bianca memperkenalkan dirinya sebagai "istri" di depan kliennya.
"Duduklah, aku akan menjelaskannya padamu," ucap Arga sambil meminta Bianca untuk duduk di sofa.
Biancapun duduk di sofa yang ada di ruangan Arga, bersama Arga yang duduk di sampingnya.
"Perempuan yang bersamaku tadi adalah klien sekaligus saudara jauhku Bianca, itu kenapa aku akrab dengannya," ucap Arga yang membuat Bianca begitu terkejut.
"Saudara?" tanya Bianca mengulang ucapan Arga.
"Iya, papanya adalah saudara papa dan dia datang kesini sebagai perwakilan dari perusahaan papanya yang memang sudah sejak lama bekerja sama dengan perusahaan papa," jelas Arga.
"Kau pasti berbohong padaku bukan?"
"Untuk apa aku berbohong padamu Bianca, bukankah kau tau bagaimana sikapku pada perempuan bahkan pada klienku sendiri!" balas Arga.
"Tapi jika dia saudaramu, kenapa dia tidak mengenaliku?"
"Dia sudah lama tinggal di luar negeri dan baru kembali beberapa bulan yang lalu, jadi dia hanya mengetahui pernikahanku tapi tidak tau siapa istriku," jelas Arga.
"Astaga, memalukan sekali!" ucap Bianca sambil memukul keningnya.
Arga hanya tersenyum lalu beranjak dari duduknya.
"Kau mau aku mengantarmu pulang atau kau pulang bersama pak Dodi?" tanya Arga pada Bianca.
"Apa maksudmu kau baru saja mengusirku?" balas Bianca bertanya.
"Tentu saja tidak, aku akan membatalkan meetingku jika kau ingin aku mengantarmu pulang," jawab Arga.
Mendengar jawaban Arga membuat Bianca berusaha menyembunyikan senyumnya. Entah kenapa jawaban Arga membuatnya senang saat itu.
Bianca merasa dirinya masih menjadi prioritas bagi Arga dan hal itu membuatnya begitu senang.
"Aku akan pulang bersama pak Dodi," ucap Bianca.
"Baiklah, kalau begitu aku harus pergi sekarang karena akan ada meeting di perusahaan lain satu jam dari sekarang," ucap Arga yang membuat Bianca mengernyitkan keningnya.
"Apa itu artinya aku harus pulang sekarang?" tanya Bianca.
"Apa kau mau menungguku disini?" balas Arga bertanya.
Bianca menghela nafasnya kesal lalu beranjak dari duduknya.
"Baiklah, aku akan pulang," ucap Bianca lalu keluar dari ruangan Arga dengan raut wajah yang kesal.
Melihat Bianca keluar dari ruangan Arga, Daffapun menyapanya, namun Bianca mengabaikannya.
"Kenapa dia terlihat sangat kesal? apa mereka bertengkar lagi?" tanya Daffa dengan membawa pandangannya ke ruangan Arga.
Tak lama kemudian Arga keluar dengan membawa tas kerjanya.
"Apa kita berangkat sekarang?" tanya Daffa sambil beranjak dari duduknya.
"Bisakah kau saja yang berangkat, Daffa?" balas Arga bertanya.
"Kenapa hanya aku? bagaimana denganmu?" tanya Daffa.
"Sepertinya aku harus segera pulang sekarang," jawab Arga dengan penuh senyum.
"Apa karena Bianca?" tanya Daffa menerka.
Arga hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan menahan senyumnya. Ia sudah seperti anak 17 tahun yang sedang jatuh cinta saat itu.
"Baiklah, aku mengerti, aku akan berangkat meeting sendiri, lagi pula ini juga bukan meeting yang terlalu penting," ucap Daffa sambil merapikan berkas-berkas yang harus ia bawa meeting.
"Terima kasih Daffa, aku pergi dulu!" ucap Arga lalu berlari kecil ke arah lift.
Arga segera meninggalkan kantor, mengendarai mobilnya ke arah rumahnya dengan pandangannya memperhatikan mobil-mobil di jalan raya.
Arga melakukan hal itu untuk mencari mobil pak Dodi yang membawa Bianca pulang hingga akhirnya ia melihat mobil pak Dodi.
Arga mendekatkan mobilnya pada mobil yang dikendarai pak Dodi, membuat pak Dodi menepikan mobilnya.
Arga kemudian turun dari mobilnya dan berlari kecil menghampiri Bianca.
"Ikutlah bersamaku!" ucap Arga pada Bianca yang masih berada di dalam mobil.
"Bukankah kau akan pergi meeting?" tanya Bianca.
"Tidak, aku meminta Daffa yang pergi," jawab Arga dengan tersenyum.
Bianca tersenyum lalu keluar dari mobil dan masuk ke mobil Arga, meninggalkan pak Dodi yang mengendarai mobilnya pulang seorang diri.
Arga kemudian mengendarai mobilnya ke arah pantai bersama Bianca yang duduk di sampingnya.
"Ini bukan arah ke rumah," ucap Bianca.
__ADS_1
"Aku ingin mengajakmu ke pantai," balas Arga.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di pantai. Sebelum turun dari mobilnya, Arga melepas jasnya lalu keluar dari mobil bersama Bianca.
Bianca dan Arga kemudian berjalan di atas pasir pantai lalu duduk di tepi pantai yang sedikit jauh dari bibir pantai.
"Kenapa kau tiba-tiba mengajakku kesini?" tanya Bianca saat mereka sudah duduk bersebelahan.
"Hanya ingin membuat momen indah bersamamu," jawab Arga dengan membawa pandangannya pada Bianca.
Bianca yang saat itu juga menatap Arga, hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya dari Arga.
Mereka terdiam untuk beberapa saat bersama angin pantai yang berhembus pelan.
"Bianca!"
"Arga!"
Mereka berdua tersenyum saat mereka saling memanggil dengan bersamaan.
"Kau dulu," ucap Arga.
"Mmmm..... sebenarnya..... aku ingin minta maaf," ucap Bianca.
"Kau sudah meminta maaf padaku Bianca, tidak perlu mengulanginya lagi, lagi pula aku tidak pernah menganggapmu bersalah," balas Arga.
"Bukan hanya tentang apa yang aku lakukan saat aku mabuk, aku meminta maaf karena aku sudah menamparmu waktu itu," ucap Bianca.
"Kau melakukan hal yang benar Bianca, aku memang sudah keterlaluan saat itu," balas Arga.
"Tapi itu membuatmu marah padaku, benar bukan?"
"Marah? tentu saja tidak, kenapa kau berpikir seperti itu?" balas Arga bertanya.
"Sejak kemarin kau mengabaikanku, pasti karena kau marah padaku bukan?"
Arga tersenyum tipis lalu menggeser posisi duduknya agar berhadapan dengan Bianca.
"Apa kau merasa aku mengabaikanmu?" tanya Arga dengan menatap kedua mata Bianca.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
Arga kemudian meraih kedua tangan Bianca dan menggenggamnya.
"Aku minta maaf jika sikapku terlihat seperti sedang mengabaikanmu, aku memang sedikit menjaga jarak karena aku takut jika kau merasa tidak nyaman padaku setelah kejadian itu, tapi sungguh aku tidak pernah berniat untuk mengabaikanmu Bianca," ucap Arga bersungguh-sungguh.
Bianca kemudian menarik tangannya dari genggaman Arga lalu beranjak dari duduknya.
"Apa kau tidak mempercayaiku?" tanya Arga yang ikut beranjak dari duduknya.
"Aku tidak tau apa yang sebenarnya aku rasakan, tapi aku merasa sangat kesal dan sedih saat kau mengabaikanku, aku..... aku takut perasaanmu padaku sudah berubah," ucap Bianca dengan menundukkan kepalanya.
Mendengar apa yang Bianca katakan tentu saja membuat Arga terkejut, sebagai seseorang yang sudah dewasa tentu ia bisa mengerti kenapa Bianca memiliki perasaan seperti itu.
Arga kemudian memegang kedua bahu Bianca, satu tangannya kemudian memegang dagu Bianca dan membawa pandangan Bianca ke arahnya.
"Apa yang aku rasakan padamu tidak akan pernah berubah Bianca, apapun yang terjadi dan sampai kapanpun, aku akan tetap mencintaimu," ucap Arga lalu membawa Bianca ke dalam dekapannya.
Arga mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam saat kedua tangannya mendekap Bianca dengan erat.
Kini ia merasa Bianca sudah benar-benar menjadi miliknya. Meskipun belum mengatakannya dengan pasti, tapi Arga yakin jika kini Bianca mulai membuka hati untuknya.
"Aku sangat mencintai Bianca," ucap Arga pelan dengan masih memeluk Bianca erat.
Di sisi lain, Bianca hanya diam dalam dekapan Arga. Rasa nyaman yang ia rasakan membuatnya terpejam bersama detak jantung yang bergejolak namun menenangkan.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Arga berdering, membuat Bianca segera tersadar dari rasa nyamannya dan segera melepaskan dirinya dari dekapan Arga.
Bianca segera berlari kecil ke arah bibir pantai, sedangkan Arga segera memeriksa ponselnya dengan kesal.
"Daffa sialan," gerutu Arga kesal lalu menerima panggilan Daffa.
"Tidak bisakah kau tidak menggangguku Daffa? kau benar-benar merusak momen!"
"Hahaha maafkan aku, aku hanya ingin memberi tahumu jika meeting dibatalkan karena pimpinan meeting tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit," balas Daffa.
"Sekali lagi kau menghubungiku untuk hal tidak penting seperti ini, aku akan benar-benar melemparmu ke perusahaan cabang yang ada di luar negeri!" ucap Arga kesal.
"Ampun bos hahaha.....," balas Daffa lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
Arga kembali menyimpan ponselnya lalu berjalan menghampiri Bianca yang berada di bibir pantai.
"Apa kau mau pulang sekarang?" tanya Arga pada Bianca.
"Bisakah kita disini sampai matahari terbenam, Arga? aku ingin melihat magic hour disini," balas Bianca.
"Baiklah," ucap Arga dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Bianca dan Argapun hanya berdiri dengan sesekali berjalan menyusuri tepi pantai. Entah kenapa sore itu pantai sangat sepi, hanya ada Arga dan Bianca disana.
"Bagaimana hubunganmu dengan Clara, Arga?" tanya Bianca pada Arga.
"Tidak ada yang berubah selain dia yang sudah tidak pernah menggangguku lagi," jawab Arga.
"Baguslah kalau begitu, itu artinya dia benar-benar menepati ucapannya," ucap Bianca.
"Kau benar, semua itu karena kau Bianca, aku sangat berterima kasih untuk itu," balas Arga.
"Aku tidak melakukan apapun, kau yang merubah keputusanmu saat itu dan itu yang membuat Clara seperti sekarang," ucap Bianca.
"Bagaimana dengan hubunganmu dan Bara, Bianca?" tanya Arga.
Bianca menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya pada Arga dengan tersenyum.
"Seperti yang kau bilang, aku sudah mendapat jawaban atas penantianku selama ini," ucap Bianca.
"Aku tau ini tidak mudah untukmu Bianca, kau....."
"Tidak, ini sangat mudah, jauh lebih mudah dari yang aku bayangkan," ucap Bianca memotong ucapan Arga.
"Apa maksudmu?" tanya Arga tak mengerti.
"Aku memang sempat merasa sangat hancur saat itu, tapi setelah aku memikirkannya, aku mulai sadar jika ternyata aku hanya menyukainya karena dia berbeda dari kebanyakan laki-laki yang mendekatiku, setelah aku tau bagaimana dia sekarang, aku dengan mudah melupakan perasaanku padanya," jelas Bianca.
"Seperti yang pernah kau bilang padaku dulu, ternyata aku hanya menyukainya, bukan mencintainya dan sekarang rasa suka itu sudah benar-benar hilang," lanjut Bianca.
"Apa kau yakin Bianca?" tanya Arga.
"Tentu saja, aku sudah tidak peduli lagi pada kak Bara, aku hanya akan menganggapnya sebagai laki-laki yang pernah singgah dalam hidupku, sama seperti kebanyakan laki-laki lain yang menjadi temanku," jawab Bianca.
"Aku juga tidak menyangka jika aku akan melupakan kak Bara dengan semudah ini," lanjut Bianca dengan tersenyum.
"Mungkin karena kau mulai sadar jika ternyata kau mencintaiku," ucap Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.
"Jangan berpikir terlalu jauh Arga!" ucap Bianca.
"Kau tidak akan merasa cemburu jika kau tidak jatuh cinta padaku," ucap Arga.
"Cemburu? memangnya kapan aku merasa cemburu?"
"Saat berada di kantor tadi, kau cemburu karena melihatku akrab dengan perempuan bukan?" balas Arga.
"Hahaha.... kau berlebihan sekali, aku bahkan tidak peduli jika kau akrab dengan semua perempuan di kantormu," ucap Bianca dengan tawa yang dipaksakan sambil membawa langkahnya menjauh dari Arga.
"Jujurlah Bianca, aku tau kau memang cemburu padanya," ucap Arga sambil berlari kecil mengejar Bianca.
"Tidak, aku tidak cemburu," balas Bianca yang semakin mempercepat langkahnya untuk menghindar dari Arga.
Argapun ikut mempercepat langkahnya, membuat Bianca segera berlari agar Arga tidak melihat raut wajahnya yang sedang gugup saat itu.
Alhasil, merekapun berlarian di sepanjang pasir pantai sampai matahari perlahan tenggelam di ujung langit barat.
Menyadari hal itu, Bianca segera menghentikan langkahnya dan berdiri dengan terdiam, menatap goresan jingga yang masih tersisa di langit barat.
"Cantik sekali," ucap Arga yang berdiri di belakang Bianca.
"Benar, sinar jingga yang tidak bisa kita lihat setiap waktu," balas Bianca.
"Bukan sinarnya, tapi kau," ucap Arga dengan berbisik pada Bianca.
Biancapun hanya diam dengan berusaha menahan senyumnya. Ucapan Arga yang kekanak-kanakan itu nyatanya mampu membuat Bianca berseri-seri.
Perlahan langit mulai terlihat gelap bersama munculnya bulan yang bersinar penuh malam itu.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu Bianca," ucap Arga saat mereka berdua sudah duduk di tepi pantai.
"Apa?"
"Kau pernah mengatakan padaku jika kau takut untuk jatuh cinta padaku, kenapa Bianca?" tanya Arga.
"Apa aku mengatakan hal itu saat aku mabuk?" balas Bianca bertanya.
"Iya, kau juga pernah bertanya padaku, apakah kau boleh jatuh cinta padaku dan aku yakin semua yang kau tanyakan dan kau katakan saat kau mabuk adalah apa yang sebenarnya ada dalam hatimu yang tidak kau sadari," ucap Arga.
Bianca menghela nafasnya panjang dengan menatap hamparan laut di hadapannya.
"Sejak awal, pernikahan kita adalah hanya untuk kepentingan kita masing-masing Arga, aku tidak tau apakah kita boleh jatuh cinta, apakah aku boleh mencintaimu dan apakah kau boleh mencintaiku, karena hubungan kita dimulai dengan kebohongan," ucap Bianca.
"Biarkan itu menjadi bagian dari cerita cinta kita Bianca, karena tidak akan ada yang tau bagaimana waktu akan tiba-tiba membuat kita saling jatuh cinta dan setelah aku sadar jika aku mencintaimu, aku sudah memutuskan untuk selalu menjaga cinta ini untukmu dan aku harap kaupun begitu," balas Arga.
"Tapi aku bukan siapa-siapa Arga, aku bahkan menikah denganmu demi bisa mendapatkan uang darimu, aku hanya perempuan rendahan yang....."
"Stop Bianca, jangan pernah mengatakan hal itu lagi," ucap Arga memotong ucapan Bianca.
"Tapi aku memang seperti itu, jika suatu saat nanti akan ada yang mengetahui tentang hal itu, maka aku tidak dapat membantahnya," ucap Bianca.
"Aku pastikan apa yang sudah kita sepakati hanya akan menjadi rahasia kita, Lola dan Daffa juga pasti akan menjaga rahasia kita dengan baik," balas Arga dengan membawa kepala Bianca bersandar dibahunya.
__ADS_1