
Bianca masih terdiam di ruang baca. Ia berusaha untuk mengingat semua kejadian yang terjadi semalam.
Tetapi ingatan Bianca seolah terputus begitu saja. Ada sebagian memori yang seolah menghilang dari ingatannya.
Bianca kemudian beranjak dari duduknya, mengembalikan buku yang ia baca ke tempat asalnya lalu keluar dari ruang baca.
Bianca membawa langkahnya ke ruang gym dan mendapati Arga yang sedang beristirahat dengan memainkan ponselnya.
Dengan pelan Bianca membawa langkahnya masuk lalu duduk di samping Arga.
"Ada apa? apa kau sudah mengingatnya?" tanya Arga sambil menaruh ponselnya dan membawa pandangannya pada Bianca.
"Mmmm..... aku hanya mengingatnya sedikit, apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah?" jawab Bianca sekaligus bertanya.
"Menurutmu?" balas Arga bertanya.
"Aku tidak tahu apa saja yang terjadi kemarin, terakhir yang aku ingat hanya saat aku melihatmu ketika aku duduk di trotoar," ucap Bianca.
"Aku tau aku salah karena sudah mabuk kemarin, tapi aku benar-benar tidak bermaksud untuk mabuk, aku tidak tahu jika minuman yang temanku berikan padaku ternyata membuatku mabuk, aku minta maaf, aku memang bersalah," lanjut Bianca dengan menundukkan kepalanya.
"Kau memang bersalah, tapi aku tidak marah padamu," ucap Arga yang membuat Bianca segera mengangkat kepalanya, membawa pandangannya pada Arga yang tersenyum padanya.
"Kau tidak marah padaku?" tanya Bianca memastikan.
"Kau tidak sepenuhnya bersalah karena kau tidak tahu jika minuman yang kau minum ternyata membuatmu mabuk, tapi aku juga tidak bisa membenarkan tindakanmu yang kurang berhati-hati," jawab Arga.
"Aku janji lain kali aku akan lebih berhati-hati," ucap Bianca.
"Kau harus tau Bianca, dunia terkadang tidak bersikap adil pada kita, kita tidak bisa memaksa takdir untuk mengembalikan kebaikan yang sudah kita lakukan," ucap Arga.
"Kau mungkin menganggap mereka semua temanmu, kau baik dan peduli pada mereka, tetapi belum tentu mereka juga menganggapmu seperti itu, kau mengerti maksudku bukan?" lanjut Arga.
"Iya, aku mengerti," jawab Bianca dengan menganggukkan kepalanya.
"Terkadang seseorang yang kita pikir baik belum tentu benar-benar baik, kita tidak pernah tau apa yang sebenarnya ada dalam hati dan pikiran mereka," ucap Arga.
"Tapi bukan berarti kita tidak bisa mempercayai orang lain bukan?"
"Kau bisa mempercayai orang lain, tapi tidak sepenuhnya, aku yakin tidak semua hal akan kau ceritakan pada orang lain, bahkan sahabatmu sendiri," balas Arga.
Bianca menganggukkan kepalanya pelan. Apa yang Arga katakan memang benar. Sedekat apapun persahabatannya dengan Lola, ada beberapa hal yang tidak bisa Bianca ceritakan pada Lola.
"Bahkan terkadang pada orang tua pun kita tidak bisa benar-benar terbuka, bukan karena tidak mempercayai orang tua, hanya saja apa yang kita pikirkan terkadang berbeda dengan apa yang orang tua pikirkan," ucap Arga.
"Kau benar, aku sangat dekat dengan mama dan papa, tapi tidak semua hal aku ceritakan pada mereka, aku hanya tidak ingin membuat mereka khawatir," balas Bianca.
"Bagaimana denganmu? apa kau juga memiliki sesuatu yang tidak bisa kau ceritakan pada orang tuamu?" lanjut Bianca bertanya.
"Tentu saja, bukankah kau tau?" balas Arga.
"Aahh iya, tentang pernikahan kita," ucap Bianca dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Pada intinya kau harus bisa menjaga dirimu dengan lebih baik lagi Bianca, banyak mata akan memperhatikan setiap langkahmu sekarang," ucap Arga.
"Iya aku mengerti, aku akan lebih berhati-hati sekarang," balas Bianca.
"Good, anak baik hahaha....." ucap Arga sambil beranjak dari duduknya lalu menepuk pelan kepala Bianca kemudian berjalan pergi begitu saja.
Bianca hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya dan membawa langkahnya keluar dari ruang gym, menuruni tangga dan masuk ke kamarnya.
**
Waktu berlalu, langit gelap mulai menyapa. Bianca sedang mengerjakan artikelnya di kamarnya.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Bianca beranjak dari duduknya lalu membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Bianca saat ia melihat Arga yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Bersiap-siaplah, aku akan mengajakmu keluar malam ini," jawab Arga.
"Sekarang? kemana?" tanya Bianca.
Arga tidak menjawab pertanyaan Bianca, ia hanya menunjukkan layar ponselnya pada Bianca.
"Ke bioskop?" tanya Bianca memastikan.
"Iya, filmnya akan mulai satu jam dari sekarang jadi lebih baik kita berangkat sekarang sebelum terlambat," jawab Arga.
"Oke baiklah, tunggu sebentar," balas Bianca lalu menutup pintu kamarnya untuk segera berganti pakaian.
"Akhirnya aku bisa kembali ke bioskop lagi, rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah ke bioskop," ucap Bianca sambil menyisir rambut panjangnya.
Dengan mengenakan mini dress dan atasan yang dikombinasi dengan jaket jeans crop top Bianca membawa langkahnya keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Aku sudah, siap ayo berangkat!" ucap Bianca penuh semangat.
Bianca dan Arga kemudian masuk ke dalam mobil, Arga segera mengendarai mobilnya meninggalkan rumah menuju ke bioskop.
"Sepertinya kau senang sekali," ucap Arga pada Bianca.
"Tentu saja, sudah sangat lama aku tidak pernah pergi ke bioskop, aku bahkan lupa film apa yang terakhir kali aku tonton," balas Bianca.
"Kenapa? apa karena kau sibuk?" tanya Arga.
"Sejak aku tahu jika papa meninggalkan banyak hutang aku sudah tidak pernah benar-benar menikmati kehidupanku, aku hanya sibuk mencari uang, belajar dan kuliah aku tidak sempat untuk sekedar menyenangkan diriku sendiri," jawab Bianca.
"Bagaimana dengan tantemu?" tanya Arga.
"Tentu saja tante Felly hanya membebankan semuanya padaku, tante Felly hanya menerimaku karena papa memberikan rumah itu pada tante Felly, jika bukan karena rumah itu mungkin tanpa Felly tidak akan menerimaku," jawab Bianca.
"Ternyata hidupmu berat juga," ucap Arga.
"Setiap orang pasti memiliki masalah hidupnya sendiri dan bisa jadi masalah hidupku tidak seberat masalah hidup orang lain di luar sana," balas Bianca.
"Kau benar," ucap Arga dengan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
"Aaahh ya aku sering melihatmu sibuk dengan laptopmu, apa yang sebenarnya kau kerjakan?" tanya Arga penasaran.
"Hanya menulis untuk mengisi waktu luang," jawab Bianca.
"Apa kau merasa sangat bosan selama menjadi istriku?" tanya Arga.
"Tidak banyak kegiatan yang bisa aku lakukan dan jujur itu membuatku merasa sedikit bosan," jawab Bianca.
"Bersabarlah Bianca, dua tahun tidak akan lama, setelah ini kau bisa melakukan apapun yang kau mau bahkan mungkin kau bisa melanjutkan kuliahmu," ucap Arga.
Bianca hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, ia bahkan sudah tidak memikirkan tentang kuliahnya yang tidak bisa ia selesaikan.
Tanpa Arga tahu setiap hari Bianca sibuk dengan website pribadinya, belajar dan berusaha untuk mengembangkan website pribadinya dengan lebih baik.
Pendapatan dari website pribadinya itulah yang selama ini Bianca gunakan untuk membeli semua kebutuhannya tanpa menyentuh sedikitpun uang pemberian Arga yang selalu Arga berikan padanya.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai. Seperti biasa Arga membuka pintu mobilnya untuk Bianca lalu meraih tangan Bianca dan menggandengnya masuk ke dalam mall.
"Masih ada waktu 30 menit sebelum film dimulai, apa kau mau makan dulu?" ucap Arga sekaligus bertanya pada Bianca.
"Aku ingin makan sesuatu yang manis," jawab Bianca sambil mengedarkan pandangannya.
"Es krim?" tanya Arga yang segera dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
"Hmmm..... ini es krim pertamaku setelah kita menikah," ucap Bianca sambil menikmati es krim miliknya.
"Bukankah kau bisa membelinya sendiri? apa selama ini uang yang aku berikan padamu tidak cukup untuk membeli apa yang kau inginkan?" tanya Arga.
"Tentu saja cukup, aku hanya terlalu sibuk memikirkan kehidupan baruku, membuatku lupa untuk sekedar memenuhi keinginan kecilku," jawab Bianca.
"Apa kau merasa terlalu terbebani dengan pernikahan kita?" tanya Arga.
Bianca menghela nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan Arga.
"Apa yang terjadi benar-benar di luar dugaanku, aku tidak pernah berpikir jika hal ini akan terjadi padaku, wajar bukan jika pada awalnya aku merasa terbebani dengan semua ini?" balas Bianca.
"Aku mengerti, aku juga sedang berusaha untuk bisa lebih memahamimu, memahami apa yang sudah menjadi kesepakatan kita berdua," balas Arga.
Setelah menghabiskan es krim, merekapun berjalan memasuki bioskop. Mereka duduk di kursi yang sudah Arga pesan sebelumnya.
"Kau tidak takut film horor bukan?" tanya Arga pada Bianca yang duduk di sebelahnya.
"Tentu saja tidak," jawab Bianca yakin.
"Baiklah mari kita lihat saja nanti," ucap Arga.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya filmpun mulai ditayangkan. Menit demi menit berlalu, suasana tegang membuat Bianca hanya fokus dengan film yang ia tonton.
Sesekali Bianca menutup matanya karena terkejut dengan adegan yang ada pada film horor itu.
"Apa kau takut?' tanya Arga berbisik pada Bianca yang tampak memejamkan matanya.
"Tidak, aku hanya terkejut," balas Bianca yang juga berbisik pada Arga.
Di tengah-tengah film horor yang menegangkan itu Bianca merasa ada kegiatan lain yang terjadi pada kursi di sampingnya.
Bianca kemudian membawa ekor matanya ke arah pasangan laki-laki dan perempuan yang duduk di sampingnya dan benar saja mereka sedang melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Bianca kemudian menyentuh tangan Arga, memberikan kode pada Arga agar Arga melihat ke arah kursi yang ada di sampingnya.
Arga tersenyum tipis saat ia melihat apa yang terjadi di samping kursi Bianca.
"Apa kau juga mau melakukannya?" tanya Arga berbisik yang membuat Bianca segera menjauhkan kepalanya dari Arga.
__ADS_1
"Jangan macam-macam denganku jika kau ingin keluar dari bioskop dengan sehat," balas Bianca.
Arga hanya terkekeh tanpa suara lalu menarik bahu Bianca agar mendekat padanya.
"Aku bukan laki-laki seperti itu, jika aku mau melakukannya aku tidak mungkin melakukannya disini," ucap Arga berbisik.
"Arga......"
"Ssssstttttt"
Bianca segera menutup mulutnya saat tanpa sadar ia bersuara dengan cukup kencang, membuat pengunjung lain menegur Bianca.
Melihat hal itu Arga hanya menahan tawanya, berusaha agar tidak bersuara.
Setelah lebih dari satu jam filmpun selesai, Bianca dan Arga kemudian keluar dari bioskop dengan bergandengan tangan. Namun sesampainya di luar bioskop Bianca segera menarik tangannya dari genggaman Arga dengan kasar.
"Kau menyebarkan sekali," ucap Bianca dengan kesal.
"Kenapa? apa kau tidak menyukai filmnya?" tanya Arga.
"Bukan karena itu," balas Bianca.
"Apa karena kau ingin melakukan apa yang dilakukan pasangan di sampingmu?" tanya Arga yang sengaja menggoda Bianca.
"Tentu saja tidak," jawab Bianca cepat.
"Hahaha..... lain kali kau tidak boleh berisik jika di dalam bioskop atau seseorang akan menegurmu seperti tadi," ucap Arga yang membuat Bianca semakin kesal.
Arga kemudian mengajak Bianca untuk makan malam di salah satu tempat makan yang ada disana.
Tak lama setelah memesan, makanan merekapun datang. Mereka menikmati makan malam mereka tanpa banyak berbicara lalu segera meninggalkan tempat makan itu setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau beli?" tanya Arga pada Bianca saat mereka sudah berjalan menuruni eskalator dengan bergandengan tangan.
"Tidak ada," jawab Bianca singkat.
"Apa kau marah padaku?" tanya Arga dengan membawa pandangannya menatap Bianca yang berdiri di sampingnya
"Tidak," jawab Bianca singkat.
Arga kemudian turun satu langkah dan berdiri di hadapan Bianca dengan mendongakkan kepalanya menatap Bianca.
"Maafkan aku," ucap Arga dengan meraih kedua tangan Bianca dan menggenggamnya.
"Arga, apa yang kau lakukan?" tanya Bianca dengan suara pelan sambil membawa pandangannya ke sekitarnya.
"Meminta maaf padamu," jawab Arga dengan tersenyum.
"Kau membuat semua orang melihat ke arah kita Arga," ucap Bianca pelan lalu mempercepat langkahnya saat ia sudah turun dari eskalator.
"Memangnya kenapa? apa kau merasa terganggu dengan mereka?" tanya Arga.
Bianca hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, ia tahu jika Arga memang sengaja menggodanya saat itu. sengaja membuat Bianca kesal adalah salah satu hobi Arga yang baru.
Arga hanya terkekeh melihat sikap Bianca lalu kembali meraih tangan Bianca dan menggandengnya.
Tiba-tiba Arga melihat seseorang yang tidak asing di matanya, seseorang yang selama ini meninggalkannya tetapi masih ada dalam hatinya.
Seketika Arga menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Bianca dari genggamannya.
"Kenapa?" tanya Bianca pada Arga yang tiba-tiba terdiam dan melepaskan genggaman tangannya.
Arga masih terdiam menatap Karina yang berada tidak jauh darinya.
"Ada apa Arga?" tanya Bianca sambil memegang lengan tangan Arga yang membuat Arga segera tersadar dari lamunannya.
"Siapa yang kau lihat? apa kau melihat seseorang yang kau kenal?" tanya Bianca sambil membawa pandangannya ke arah Arga memandang.
Arga hanya menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Bianca begitu saja.
"Sepertinya dia memang melihat seseorang," ucap Bianca lalu segera membawa langkahnya berlari kecil mengikuti Arga.
"Arga kau sengaja meninggalkanku?" tanya Bianca saat ia sudah berada di dalam mobil bersama Arga.
"Tidak, jalanmu saja yang terlalu lambat," jawab Arga.
Dalam hatinya Arga sedang menahan kekesalannya setelah ia melihat Karina bersama Bian.
Arga masih tidak mengerti kenapa Karina bisa melanjutkan hubungannya dengan Bian setelah hal buruk yang Bian lakukan padanya.
"Kenapa dia terlihat bahagia bersama Bian? apa semudah itu dia melupakan hal buruk yang Bian lakukan padanya?" batin Arga bertanya dalam hati.
Di sisi lain Bianca hanya diam tanpa mengatakan apapun saat ia melihat raut wajah Arga yang tampak kesal.
Meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Arga tetapi ia bisa melihat dengan jelas raut wajah Arga yang tiba-tiba berubah kesal.
__ADS_1
"Siapa yang sebenarnya dia lihat tadi dan kenapa dia tiba-tiba kesal seperti ini?" batin Bianca bertanya dalam hati.