Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Merasa Bersalah


__ADS_3

Malam yang semakin larut membawa hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Bianca masih berada dalam dekapan Arga di dasar jurang yang gelap.


Hanya ada dua lampu kecil yang berasal dari ponsel Bianca dan Arga, berharap akan ada yang menyadari keberadaan mereka dengan dua cahaya kecil itu.


Bianca masih meringkuk, menghangatkan dirinya dalam dekapan Arga. Sedangkan Arga berusaha keras agar ia tetap tersadar di tengah rasa sakit yang ia rasakan karena luka yang dialaminya.


Arga sengaja tidak memberi tahu Bianca karena tidak ingin Bianca mengkhawatirkannya. Melihat Bianca yang bisa mengendalikan traumanya saja sudah membuat Arga cukup lega, jadi ia tidak ingin merusak suasana hati Bianca dengan memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Setelah cukup lama menunggu, terlihat sorot lampu kendaraan yang berhenti. Kendaraan itu menyadari jika ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi disana saat pemilik kendaraan melihat pembatas jalan yang rusak.


Pemilik kendaraan itupun turun dari mobil dan membawa pandangannya ke arah dasar jurang, membuatnya menyadari 2 cahaya yang berasal dari ponsel Bianca dan Arga.


Seseorang itu kemudian berteriak untuk memastikan apakah ada orang di bawah sana atau tidak. Mendengar suara teriakan dalam keheningan malam itu, Bianca dan Argapun segera berteriak meminta pertolongan.


Bianca dan Arga juga menggerakkan ponsel mereka agar seseorang yang berada di atas menyadari keberadaan mereka.


Akhirnya, seseorang itupun menghubungi polisi dan ambulans. Tak berselang lama, Bianca dan Argapun berhasil dievakuasi. Salah seorang petugas ambulans yang menyadari luka Arga segera membawa Arga ke arah ambulans, sedangkan Bianca diminta untuk masuk ke mobil lain.


Saat Bianca akan masuk ke dalam mobil, Bianca melihat Arga yang tiba-tiba saja ditandu dengan kedua mata yang terpejam, Bianca begitu terkejut saat melihat darah yang ada di pakaian Arga saat itu.


"Arga!!" panggil Bianca yang hendak turun dari mobil, namun dicegah oleh beberapa orang yang ada disana.


Mereka menjelaskan jika Arga akan dibawa ke rumah sakit karena dia terluka, mereka juga meminta Bianca untuk tenang karena Bianca juga akan dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Arga untuk diperiksa keadaannya.


"Arga terluka? kenapa dia tidak mengatakannya padaku, kenapa......"


Bianca menghentikan ucapannya saat tanpa sengaja ia menyentuh bagian dalam jaket tebal Arga yang ia pakai.


Seketika Bianca menyadari jika bagian dalam jaket itu terkena noda darah yang cukup banyak.


"Arga......"


Kedua mata Bianca berkaca-kaca saat ia menyadari hal buruk yang terjadi pada Arga. Dalam hatinya ia hanya bisa berharap jika Arga akan baik-baik saja. Ia benar-benar merasa bersalah jika sampai terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merakapun sampai di rumah sakit. Arga segera dibawa ke ruang UGD, sedangkan Bianca dibawa ke ruangan lain.


Dokter memeriksa keadaan Bianca dan mengobati beberapa luka kecil yang ada di wajah dan tangan Bianca.


Setelah itu Bianca harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada polisi. Beruntung, Bianca yang bisa berbahasa Jepang bisa menjawab dengan lancar apa yang polisi tanyakan padanya.


Setelah beberapa lama berhadapan dengan banyak pertanyaan dari polisi, Biancapun segera mencari keberadaan Arga.


Salah satu dokter kemudian menunjukkan pada Bianca dimana Arga di rawat, dokter lain kemudian menjelaskan pada Bianca jika keadaan Arga baik-baik saja.


Terdapat goresan tajam yang mengenai bagian samping perut Arga, namun goresan itu tidak terlalu dalam jadi tidak begitu membahayakan.


Arga juga sudah melakukan hal yang tepat dengan menahan lukanya menggunakan syal miliknya agar darahnya tidak semakin banyak keluar.


Bianca sedikit bisa bernafas lega mendengar penjelasan dokter, Bianca kemudian meminta suster yang ada disana untuk memindahkan Arga ke ruangan VIP, karena ia tau Arga tidak akan suka berada di ruangan yang sama dengan pasien lain.


Setelah menunggu beberapa saat, Argapun selesai dipindahkan ke ruangan VIP. Bianca kemudian masuk ke dalam ruangan itu lalu duduk di samping ranjang Arga, menatap Arga yang masih terpejam di hadapannya.


Bianca hanya terdiam sampai beberapa lama, hingga akhirnya ia tertidur dengan kepalanya yang berada di atas ranjang.


Malam yang panjang telah berlalu, Arga mengerjapkan matanya dan menyadari Bianca yang tertidur di kursi yang ada di samping ranjangnya.


Arga tersenyum tipis melihat Bianca yang tampak terlelap di sampingnya. Perlahan Arga menyentuh rambut Bianca yang menghalangi wajahnya lalu menyibakkannya ke belakang telinga.


"Seperti ini lebih cantik," ucap Arga.


Tiba-tiba Bianca membuka matanya lalu segera mengangkat kepalanya saat ia menyadari pergerakan Arga.


"Arga, kau sudah bangun? aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu!" ucap Bianca yang hendak beranjak dari duduknya, namun Arga menahan tangan Bianca.


"Kenapa? apa ada yang sakit?" tanya Bianca.


"Tidak, duduklah," jawab Arga.


"Tapi aku harus memanggil dokter agar memeriksa keadaanmu Arga!" ucap Bianca.


"Duduklah Bianca, dokter akan segera datang tanpa kau memanggilnya," ucap Arga sambil menarik tangan Bianca.


Biancapun menurut, ia kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang Arga. Bianca terdiam, ia menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan kedua matanya yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Dalam hatinya ia merasa bersalah karena ia berpikir jika Arga terluka karenanya, karena dia yang ingin melihat salju malam itu.


"Hei, ada apa denganmu?" tanya Arga sambil menarik dagu Bianca.


Bianca segera mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin menangis di depan Arga.


"Bianca, ada apa? katakan padaku," tanya Arga tak mengerti.


Bianca masih terdiam, ia berusaha menahan gejolak kesedihan yang menguasai hatinya saat itu.


"Bianca, apa kau marah padaku?" tanya Arga sambil meraih tangan Bianca.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya dengan pandangannya yang masih teralihkan dari Arga.


Arga menghela nafasnya lalu berniat untuk beranjak dari posisinya berbaring, namun saat ia baru saja menggerakkan badannya, ia sedikit merintih menahan sakit yang ia rasakan pada lukanya.


Menyadari hal itu, Biancapun segera membawa pandangannya pada Arga. Ia takut sesuatu yang buruk yang terjadi pada Arga.


Melihat raut wajah Bianca yang khawatir, membuat Arga tersenyum. Ia kembali meraih tangan Bianca lalu menggenggamnya.


"Apa kau mengkhawatirkanku?" tanya Arga dengan senyum di kedua sudut bibirnya.


"Kau sangat bodoh Arga, benar-benar bodoh!" ucap Bianca dengan menarik tangannya dari genggaman Arga.


"Kenapa? kau terlihat sangat mengkhawatirkanku, kau....."


"Kau sangat bodoh karena membiarkan dirimu terluka tanpa memberi tahuku, apa kau tau betapa khawatirnya aku?"


Arga menghela nafasnya dengan tersenyum lalu meraih tangan Bianca dan kembali menggenggamnya


"Aku hanya tidak ingin kau mengkhawatirkanku Bianca, kau sudah bisa menguasai ketakutanmu saat itu, aku tidak ingin kau kembali panik saat melihatku terluka, lagi pula ini hanya luka kecil," ucap Arga.


"Tapi....."


"Aaargghh sial, wajah cantikmu terluka lagi, apa ada luka yang lain lagi?" tanya Arga memotong ucapan Bianca.


"Ini hanya luka kecil Arga, seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri!" balas Bianca kesal.


"Terserah kau saja," balas Bianca kesal yang membuat Arga terkekeh.


Tak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa keadaan Arga. Dokter kemudian menjelaskan jika Arga tidak boleh banyak bergerak setidaknya untuk 2 hari ke depan.


Di hari ke tiga, Arga baru diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit. Pada awalnya Arga tidak setuju, ia meyakinkan Dokter jika dirinya akan baik-baik saja jika ia diperbolehkan keluar dari rumah sakit hari itu juga.


Tetapi dokter tetap melarang Arga karena itu akan membahayakan Arga dan membuat lukanya semakin memburuk.


Bianca juga memaksa Arga agar tetap berada di rumah sakit sampai dokter mengizinkannya pulang. Hingga akhirnya Argapun tidak bisa lagi membantah.


"Maafkan aku Bianca," ucap Arga setelah dokter keluar dari ruangan Arga.


"Justru aku yang seharusnya minta maaf, jika bukan karena aku yang ingin melihat salju malam itu, kau tidak akan seperti ini," balas Bianca dengan berusaha menahan kedua matanya yang mulai terasa perih.


"Tidak Bianca, jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini sepenuhnya salahku yang kurang berhati-hati," ucap Arga.


"Mama Nadine dan papa David pasti akan sangat marah padaku jika mereka tahu apa yang terjadi padamu sekarang," ucap Bianca.


"Kau tidak memberi tahu mereka bukan?" tanya Arga yang dibalas gelengan kepala oleh Bianca.


"Bagus, kau tidak perlu memberi tahu mama dan papa, lagi pula aku baik-baik saja," ucap Arga.


"Andai saja waktu bisa diputar kembali, aku akan memilih untuk kembali ke hotel daripada melihat salju," ucap Bianca.


"Aku tidak setuju denganmu, aku tetap akan memilih apa yang sudah terjadi, karena dengan kejadian itu kau bisa mengatasi ketakutanmu," balas Arga.


"Tapi itu membuatmu terluka," ucap Bianca.


"Bianca..... sudahlah jangan membahas luka ini, ini hanya luka kecil, tidak akan membuatku mati," ucap Arga.


"Justru aku yang merasa bersalah karena selama 2 hari ini aku harus berada disini, padahal kita kesini untuk berlibur, untuk bersenang-senang!" lanjut Arga.


"Aku sudah tidak peduli dengan hal itu, aku hanya ingin kau sembuh!" ucap Bianca.


"Apa kau sangat mengkhawatirkanku?" tanya Arga dengan tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Aku khawatir karena aku takut mama dan papamu akan marah padaku," balas Bianca beralasan.


"Hanya karena itu?"


"Iya!" jawab Bianca singkat lalu beranjak dari duduknya.


"Kau mau kemana Bianca? jangan pergi!"


Bianca tidak menjawab, Bianca hanya tersenyum tipis lalu masuk ke toilet. Bianca membasuh wajahnya beberapa kali lalu mengeringkannya dengan tissue yang ada disana.


"Apa aku mengkhawatirkannya dengan berlebihan? dia baik-baik saja, hanya luka kecil yang tidak membahayakan nyawanya, tapi kenapa aku sangat bersedih? rasanya seperti ada sesuatu yang..... tidak..... aku hanya bersedih karena merasa bersalah!"


Bianca menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan.


"Sadarlah Bianca, tidak perlu terlalu bersedih, dia baik-baik saja, dia bukan siapa-siapa untukmu Bianca," ucap Bianca pada dirinya sendiri.


Setelah menenangkan dirinya, Bianca kemudian keluar dari toilet dan kembali duduk di samping ranjang Arga.


"Jika kau ingin pergi keluar, keluarlah, kau pasti sangat bosan disini!" ucap Arga pada Bianca.


"Aku tidak bosan," balas Bianca.


**


Waktu berlalu, Bianca menghabiskan waktunya hanya untuk menemani Arga di atas ranjangnya.


Ia sama sekali tidak merasa bosan karena Arga yang selalu melontarkan candaan konyolnya yang kadang membuatnya kesal.


Tak terasa malam kembali datang.


"Apa kau sungguh tidak bosan Bianca?" tanya Arga yang melihat Bianca tampak fokus dengan ponselnya.


"Tidak," jawab Bianca singkat.


Tanpa Arga tahu, Bianca sedang menulis artikel di ponselnya saat itu.


"Aku akan meminta seseorang untuk menemanimu keluar jika kau tidak ingin keluar sendirian," ucap Arga.


"Tidak perlu, aku tidak ingin keluar kemanapun," balas Bianca.


"Kenapa? kau menemaniku bukan karena kau jatuh cinta padaku bukan?" tanya Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.


"Apa kau sangat ingin aku keluar dari sini? apa keberadaanku disini sangat mengganggumu? baiklah, aku keluar sekarang juga!" balas Bianca lalu segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Arga.


"Bukan seperti itu maksudku Bianca, aku hanya bercanda, Bianca.... Bianca!"


Arga menghela nafasnya kasar saat Bianca benar-benar keluar dari ruangannya. Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk mengusir Bianca, ia hanya tidak ingin Bianca bosan karena terpaksa menemaninya di rumah sakit sepanjang hari.


Kini Arga hanya sendirian di ruangannya. Kedua matanya masih menatap pintu ruangannya, berharap Bianca akan segera kembali dan menemaninya.


"Kembalilah Bianca, aku mohon," ucap Arga dalam hati.


Di sisi lain, Bianca sedang duduk di bagian depan rumah sakit. Ia hanya diam menatap taman dengan bangku-bangku kecil di bawah lampu temaram yang ada di beberapa sudut.


Tanpa sadar sebuah senyum tergaris di bibirnya saat ia melihat seorang laki-laki dan perempuan yang tengah berpelukan di bawah lampu temaram taman.


Seketika memori Bianca mengulas apa yang terjadi antara dirinya dan Arga saat mereka berada di dasar jurang.


Bianca bisa mengingat dengan jelas bagaimana perhatian Arga padanya saat itu. Raut wajah Arga, kata-kata Arga yang terdengar lembut, genggaman tangan dan pelukan hangat Arga seolah kembali memenuhi kepalanya.


Entah kenapa semua perlakuan Arga padanya bisa menenangkan dirinya yang dipenuhi dengan ketakutan saat itu. Bianca bahkan melupakan ketakutannya dan hanya menikmati kebersamaanya bersama Arga.


Untuk beberapa saat Bianca membiarkan dirinya terjatuh dalam semua keindahan yang Arga berikan padanya. Keindahan, kehangatan dan kenyamanan yang belum pernah Bianca rasakan sebelumnya.


"Aku pasti sudah gila!" ucap Bianca saat ia tersadar dari lamunannya.


"Apa yang terjadi kemarin hanya karena kita berada dalam keadaan yang berbahaya, apa yang kita lakukan hanya untuk menjaga kesadaran kita dan menghilangkan kepanikan kita, hanya itu, sadarlah Bianca, jangan terlalu memikirkannya," ucap Bianca dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


Bianca kemudian beranjak dari duduknya, merapatkan jaket tebalnya karena udara malam yang semakin dingin.


Bianca menghela nafasnya panjang, tak dapat dipungkiri semua hal manis yang Arga lakukan membuat Bianca kembali memikirkannya.


Apa yang terjadi malam itu akan selamanya membekas dalam ingatan Bianca karena untuk pertama kalinya ia bisa melewati hal paling menakutkan dalam hidupnya bersama laki-laki yang merupakan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2