Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Kebodohan Arga


__ADS_3

Hari berganti, Arga meninggalkan rumah lebih pagi dari biasanya. Arga menyempatkan waktunya untuk pergi ke minimarket sebelum ia berangkat ke kantor.


Berkali-kali Arga tampak menguap saat ia tengah mengendarai mobilnya. Sesampainya di minimarket Arga segera membawa langkahnya ke arah deretan cooler untuk mencari minuman kaleng yang mengandung kafein.


Arga sebenarnya tidak menyukai minuman yang mengandung kafein, tetapi pagi itu ia terpaksa harus meminumnya untuk menghilangkan rasa kantuknya.


"Aarrghhh sepertinya pekerjaanku akan kacau lagi hari ini!" ucap Arga lalu meneguk minuman kaleng yang ada di tangannya.


Sejak semalam Arga sama sekali tidak bisa tertidur, berkali-kali ia berusaha untuk memejamkan matanya namun otaknya seolah memaksanya untuk tetap terjaga.


Banyak hal yang mengganggu pikirannya sejak semalam, bukan tentang Karina melainkan tentang Bianca, Daffa dan juga tentang dirinya sendiri.


Arga sudah mengkonsumsi obat tidur namun tetap saja ia sama sekali tidak bisa sedetikpun tertidur. Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya, tapi yang pasti pikirannya benar-benar kacau sejak semalam.


Setelah menghabiskan minumannya, Arga segera mengendarai mobilnya untuk berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor, Arga segera masuk ke ruangannya lalu menjatuhkan dirinya di atas kursi kerjanya.


Arga menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya dan tanpa sadar hal itu membuatnya tertidur.


Tak lama kemudian pintu ruangan Arga terbuka, Daffa berjalan masuk dan hanya berdiri di tempatnya saat melihat Arga yang tampak tertidur di hadapannya.


"Arga!" panggil Daffa.


Arga yang sudah sangat mengantuk, tertidur dengan pulas di kursi kerjanya, membuatnya tidak mendengar panggilan Daffa.


"Arga, apa kau tidur?" tanya Daffa dengan sedikit meninggikan suaranya yang membuat Arga begitu terkejut dan segera terbangun dari tidurnya.


Seketika Arga memegang kepalanya yang terasa pusing karena terbangun dengan tiba-tiba.


"Ada apa denganmu? apa kau sakit?" tanya Daffa yang memperhatikan raut wajah Arga yang sama sekali tidak terlihat segar.


"Tidak, aku hanya mengantuk," jawab Arga sambil menguap.


"Sampai kapan kau akan bersikap bodoh seperti ini? Karina....."


"Ini tidak ada hubungannya dengan Karina, pergilah jika kau hanya ingin menggangguku!" ucap Arga memotong ucapan Daffa sambil membaringkan kepalanya di atas meja kerjanya.


"Lalu apa yang membuatmu mengantuk di pagi hari seperti ini? apa kau tidak tidur semalam?" tanya Daffa penasaran.


"Obat tidur bahkan sama sekali tidak bisa membuatku tertidur," balas Arga sambil menguap entah untuk yang ke berapa kali.


"Kenapa? pada masalah?" tanya Daffa.


"Ada," jawab Arga sambil mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah Daffa.


"Kau masalahnya," lanjut Arga lalu kembali membaringkan kepalanya di atas meja kerjanya.


"Aku? kesalahan apa yang sudah aku buat sampai membuatmu tidak tertidur semalaman?" tanya Daffa.


"Pergilah Daffa, kedatanganmu hanya menggangguku!" ucap Arga tanpa menjawab pertanyaan Daffa.


"Baiklah kalau begitu tidur saja aku akan menghandle semuanya, lagi pula tidak ada hal penting yang harus kau kerjakan hari ini," ucap Daffa lalu berjalan keluar dari ruangan Arga.


Arga hanya tersenyum tipis dengan kedua mata yang sudah tertutup.


"Dia mulai bersikap seperti teman yang baik sekarang, padahal dia berniat untuk menikungku dari belakang, dia benar-benar teman yang jahat," gerutu Arga dengan nada suara yang malas dan sesekali menguap.


Dalam hitungan detik Arga sudah pulas dalam tidurnya. Untuk pertama kalinya ia bisa tertidur dengan nyenyak meskipun ia berada pada tempat yang tidak nyaman untuk dijadikan tempat tidur.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang saat Daffa keluar dari ruang kerjanya.


Daffa membawa langkahnya keluar dari kantor lalu berjalan ke arah kafe yang berada tepat di sebelah kantor tempat ia bekerja.


Sesampainya disana ia segera menghubungi Bianca, memberitahu Bianca jika ia sudah berada di kafe.


Setelah beberapa lama menunggu, Bianca dan Lolapun datang.


"Kenapa ada dia disini? kau tidak mengajakku untuk bertemu dengannya bukan?" tanya Lola pada Bianca.


"Duduklah, aku kesini memang untuk menemui Daffa," jawab Bianca sambil menggeser kursi di sampingnya untuk Lola.


"Aku pikir kita hanya akan kesini berdua," ucap Lola.


"Apa kau sangat terganggu dengan keberadaanku disini?" sahut Daffa bertanya.

__ADS_1


"Tidak, apa aku boleh memesan makanan dan minuman sekarang?" jawab Lola sekaligus bertanya.


"Silakan saja, pesan apapun yang kau inginkan," balas Daffa.


"Baiklah, jangan menyesal karena sudah mengatakan hal itu padaku," ucap Lola lalu segera memanggil waiters dan memesan minuman serta banyak menu lainnya.


Tak lama kemudian pesanan Daffa, Bianca dan Lolapun datang.


"Sepertinya kau suka sesuatu yang manis," ucap Daffa setelah ia melihat banyak kue dan berbagai macam makanan manis pesanan Lola.


"Aku memang suka makan makanan manis agar hidupku tidak terasa pahit," balas Lola lalu menikmati kue pesanannya.


"Sepertinya kau sedikit berlebihan Lola," ucap Bianca.


"Tidak ada yang berlebihan Bianca, tapi sebenarnya ada perlu apa kalian berdua bertemu disini?" ucap Lola sekaligus bertanya dengan membawa pandangannya pada Bianca dan Daffa.


"Daffa adalah salah satu klienku, dia memintaku untuk mengerjakan artikel dan membuat review produk," jawab Bianca.


"Aahh ya tentang review produk itu, apa kau bisa membuatnya dalam bentuk video?" tanya Daffa pada Bianca.


"Video? Mmmm..... aku belum pernah melakukannya dan rasanya aku tidak percaya diri itu untuk menampilkan wajahku di depan kamera," balas Bianca.


"Apa yang membuatmu tidak percaya diri Bianca, kau cantik dan....."


"Eeheemm... uhuukk.... uhuukk....."


Mendengar Daffa memuji Bianca membuat Lola seketika berdehem dan terbatuk-batuk, membuat Daffa dan Bianca seketika membawa pandangannya pada Lola.


"Ini adalah produk kecantikan jadi sepertinya kau akan lebih berhasil jika mereviewnya dalam bentuk video daripada artikel, karena dengan video orang-orang bisa melihat secara langsung bagaimana kau mengaplikasikan produk ini," ucap Daffa.


"Kau benar, tapi maaf aku tidak bisa melakukannya, aku hanya bisa menulis artikel, me-reviewnya dengan tulisanku seperti biasanya, bagaimana jika kau mencari beauty influencer saja?" ucap Bianca sekaligus memberi saran.


"Sudah ada beberapa beauty influencer dan model yang dijadikan brand ambassador produk baru ini, aku hanya ingin melakukan promosi dengan cara yang sedikit berbeda tapi sepertinya kali ini kau benar-benar tidak bisa melakukannya," balas Daffa.


"Aku minta maaf Daffa, aku hanya bisa mengerjakan artikel jika yang kau inginkan adalah artikel," ucap Bianca.


"Baiklah kalau begitu, bagaimana jika kau yang melakukannya Lola?" tanya Daffa pada Lola yang tampak asik dengan es krim yang ada di hadapannya.


"Melakukan apa?" tanya Lola tak mengerti.


"Apa kau serius?" tanya Lola tak percaya.


"Tentu saja aku serius, kau bisa membuat videonya dan Bianca membuat artikelnya, aku akan memberikan materi inti dari review produk itu jika kau setuju," jawab Daffa meyakinkan.


"Tapi aku belum pernah melakukannya sebelumnya, bagaimana jika aku tidak memberikan hasil yang baik?" tanya Lola ragu.


"Tidak masalah jika kau mau belajar dan bersedia untuk merevisi sesuai dengan ketentuan yang ditentukan oleh pihak marketing, aku dan Bianca juga akan membantumu," jawab Daffa.


Untuk beberapa saat Lola terdiam, ia membawa pandangannya pada Bianca, berusaha untuk mendapatkan saran dari Bianca.


"Tidak ada salahnya kau mencobanya Lola, bukankah kau sangat suka berada di depan kamera!" ucap Bianca pada Lola.


"Tapi aku tidak yakin bisa melakukannya dengan baik," ucap Lola tidak percaya diri.


"Cobalah dulu Lola, kau tidak akan tahu hasilnya jika kau tidak mau mencobanya," balas Bianca.


Lola terdiam beberapa saat kemudian menganggukkan kepalanya setelah ia yakin dengan keputusannya.


"Apa itu artinya kau bersedia melakukannya?" tanya Daffa memastikan.


"Iya aku bersedia, aku akan berusaha melakukan yang terbaik," balas Lola.


"Baiklah, kalau begitu kau bisa melanjutkan untuk membuat artikelmu Bianca dan Lola akan membuat videonya," ucap Daffa.


"Sepertinya aku harus ke toilet sebentar, kalian jangan meninggalkanku, oke?" ucap Lola yang dibalas senyum dan anggukan kepala oleh Bianca.


Lola kemudian berjalan ke arah toilet, meninggalkan Daffa yang berdua bersama Bianca.


Di sisi lain, Arga baru saja terbangun dari tidurnya. Dengan malas Arga mengangkat kepalanya dari atas meja lalu meregangkan leher, kedua tangan dan pinggangnya.


"Sepertinya aku tertidur cukup lama," ucap Arga sambil menguap.


Arga kemudian keluar dari ruangannya dan tidak mendapati Daffa di meja kerjanya. Arga kembali masuk ke ruangannya lalu segera menghubungi Daffa.

__ADS_1


Dua kali panggilan Arga tidak terjawab membuat Arga segera mengirimkan pesan pada Dafa.


"Daffa, kau dimana? cepat ke ruanganku!"


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Arga berdering, sebuah balasan pesan masuk dari Daffa. Arga begitu terkejut saat ia membuka pesan dari Daffa yang ternyata sebuah foto yang memperlihatkan jika Daffa sedang bersama Bianca.


Dari foto itu terlihat nama cafe tempat Daffa dan Bianca duduk. Tanpa banyak bertanya dan berpikir panjang Argapun segera beranjak dari duduknya lalu berjalan cepat keluar dari ruangannya.


"Brengsek kau Daffa!" ucap Arga penuh emosi.


Arga segera membawa langkahnya ke arah kafe yang berada di dekat kantornya. Ia segera masuk dan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Daffa dan Bianca.


Setelah beberapa saat mencari akhirnya pandangan mata Arga jatuh tepat pada bangku yang berada di sudut kafe itu, dimana ada Daffa dan Bianca yang tengah duduk berdua disana.


Yang lebih membuat Arga kesal adalah saat ia melihat Daffa dan Bianca yang tampak bercanda dan tertawa.


"Sejak kapan mereka menjadi sangat akrab seperti itu? apa memang mereka memiliki hubungan di belakangku?" batin Arga bertanya sambil membawa langkahnya ke arah Daffa dan Bianca duduk.


"Apa yang kau lakukan disini Bianca?" tanya Arga pada Bianca yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.


"Arga, kenapa kau ada disini?" tanya Bianca yang terkejut melihat kedatangan Arga.


"Jawab pertanyaanku Bianca, apa yang kau lakukan disini bersamanya? apa kau lupa jika kau adalah perempuan yang sudah beristri?" tanya Arga yang berusaha menahan emosinya saat itu.


"Tenanglah Arga jangan menarik perhatian orang lain dengan emosimu itu," ucap Bianca sambil menarik tangan Arga agar duduk di sampingnya.


Namun Arga menolak, ia malah menarik tangan Bianca, membawa Bianca berjalan keluar dari kafe. Bianca yang tidak ingin terjadi keributan hanya bisa berjalan mengikuti Arga.


Di luar kafe, Bianca segera melepas tangannya dari cengkeraman Arga.


"Apa yang kau lakukan Arga?" tanya Bianca kesal dengan sikap Arga.


"Kau sendiri apa yang kau lakukan dengan Daffa disini? kau bahkan belum meminta izin padaku untuk menemui Daffa!" balas Arga bertanya.


"Aku sudah mengirim pesan padamu dan kau tidak membaca pesanku seperti biasanya," ucap Bianca yang membuat Arga seketika terdiam lalu memeriksa ponselnya.


Benar saja, ada sebuah pesan masuk dari Bianca jika ia akan pergi untuk menemui Daffa di kafe yang ada di dekat kantor.


"Tetap saja kau yang salah, kau menemui laki-laki lain di belakangku, kau berdua dengan laki-laki lain di kafe sedangkan suamimu sedang sibuk bekerja!" ucap Arga mencari alasan.


"Suami? sejak kapan kau menganggap dirimu sebagai suamiku?" balas Bianca kesal.


"Oke terserah kau saja, tapi yang pasti tidak seharusnya kau menemui laki-laki lain di kafe, kau tahu bukan jika semua orang mengenalmu? bagaimana bisa kau berdua dengan laki-laki lain yang....."


"Aku tidak berdua dengannya Arga, aku datang kesini bersama Lola, aku dan Lola kesini untuk membicarakan tentang pekerjaan, bukan untuk sekedar duduk manis di kafe!" ucap Bianca memotong ucapan Arga.


"Lola? aku hanya melihatmu bersama Daffa, aku......"


"Bianca!" panggil Lola yang membuat Bianca dan Arga segera membawa pandangannya pada Lola yang berlari kecil ke arah mereka.


"Lola, kau bersamanya?" tanya Arga pada Bianca setelah ia melihat Lola yang berlari keluar dari dalam kafe.


"Bukankah aku sudah memberitahumu?" balas Bianca kesal.


"Aku kesini bersama Lola karena permintaan Daffa, bukankah kau tahu jika Daffa menyukai Lola? aku pikir persahabatan kalian sangat dekat tapi sepertinya aku salah," ucap Bianca lalu meraih tangan Lola dan membawa Lola pergi meninggalkan Arga.


"Ada apa Bianca? apa dia salah paham padamu? apa dia mengira jika kau hanya berdua bersama Daffa?" tanya Lola yang sama sekali tidak mendapat jawaban apapun dari Bianca.


Bianca hanya diam dengan raut wajah kesal lalu memberhentikan taksi dan segera pergi dari kafe itu menggunakan taksi bersama Lola.


Di sisi lain Arga hanya terdiam di tempatnya berdiri, menatap kepergian Bianca. Ia tidak mengerti apa yang sudah ia lakukan, ia benar-benar sangat kacau, membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih.


Tak lama kemudian Daffa datang menghampiri Arga.


"Ternyata selain bodoh kau juga sangat kekanak-kanakan!" ucap Daffa dengan tersenyum tipis lalu berjalan pergi meninggalkan Arga begitu saja.


Arga terdiam dengan memijat keningnya yang terasa pusing, dalam hatinya ia membenarkan ucapan Daffa. Beberapa hari ini ia memang melakukan banyak hal bodoh yang tidak ia mengerti.


Dengan menghela nafasnya panjang Arga berjalan kembali ke kantor tanpa bersemangat.


Arga membawa langkahnya kembali ke ruangannya, menjatuhkan dirinya di atas kursi kerjanya dengan memijit keningnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Daffa masuk ke ruangan Arga dan memberikan beberapa berkas pada Arga.


"Aku sudah menyelesaikan semuanya, kau hanya perlu memeriksanya kembali dan menandatanganinya, setelah itu kau bisa kembali tidur dan melakukan kebodohan lain sesukamu," ucap Daffa lalu berjalan keluar dari ruangan Arga.


__ADS_2