
Bianca dan Arga sudah sampai di restoran, tempat mereka akan makan malam bersama mama dan papa Arga.
Mereka mengobrol ringan sebelum makanan datang lalu menikmati makan malam mereka dengan tenang.
"Mama senang sekali kita bisa berkumpul seperti ini," ucap Nadine saat mereka sudah menyelesaikan makan malam mereka.
"Bianca juga ma," balas Bianca.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel David berdering, sebuah panggilan masuk dari teman kerjanya. David kemudian beranjak dari duduknya dan sedikit menjauh untuk menerima panggilan itu.
"Semoga akan ada hal baik setelah kita pulang berlibur," ucap Nadine dengan penuh senyum.
"Sepertinya mama mengingkari janji mama," ucap Arga dengan membawa pandangannya menatap sang mama.
"Apa maksudmu Arga? janji apa yang mama ingkari?" tanya Nadine tak mengerti.
"Arga mendengar semua yang mama bicarakan dengan Bianca saat di pantai tadi, Arga...."
"Arga, jangan disini," ucap Bianca sambil menggenggam tangan Arga di bawah meja.
Arga menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari duduknya sambil menggandeng tangan Bianca.
"Arga menunggu mama di hotel," ucap Arga lalu pergi dengan menggandeng tangan Bianca.
"Arga.... kenapa kita pergi?" tanya Bianca yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Arga, namun Arga semakin erat menggenggam tangan Bianca.
Arga hanya diam dengan raut wajah datar, karena tidak ingin terjadi keributan, Biancapun memilih untuk mengikuti langkah Arga tanpa banyak bertanya.
"Arga, tolong jangan menyalahkan mama, sebagai orang tua wajar mama melakukan hal itu, lagi pula mama mengatakannya padaku, bukan padamu," ucap Bianca saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Arga hanya diam, ia menatap jalan raya di hadapannya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Bianca.
Sampai akhirnya mereka sampai di hotel dan segera masuk ke kamar mereka.
"Ada apa denganmu Arga? apa kau marah padaku?" tanya Bianca pada Arga.
"Aku hanya sedang kesal pada mama Bianca, aku tidak marah padamu," balas Arga.
"Apa yang mama katakan padaku itu bukan sesuatu yang salah Arga, aku mengerti maksud Mama baik," ucap Bianca.
"Tapi itu membuatmu tidak nyaman bukan?"
Bianca terdiam untuk beberapa saat. Apa yang dikatakan Nadine padanya memang membuatnya tidak nyaman, namun Bianca bisa memahami kenapa Nadine mengatakan hal itu padanya.
"Aku sudah bilang padamu Bianca, selama dua tahun ini aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu, setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menebus kebebasan hidupmu," ucap Arga dengan berdiri di hadapan Bianca dan memegang kedua bahu Bianca.
"Kau sudah melakukan banyak hal untukku Arga, berkali-kali kau menyelamatkan hidupku dari hal buruk, itu sudah cukup bagiku, aku tidak ingin kemarahanmu membuat mama bersedih," balas Bianca.
"Jika aku tidak tegas pada Mama, mama akan terus seperti ini Bianca!" ucap Arga
"Biarkan aku sendiri yang membicarakannya dengan mama, aku akan mengatakan pada mama jika aku sendiri yang ingin menunda kehamilanku," ucap Arga.
"Tidak, jangan lakukan itu, aku tidak ingin Mama membencimu karena hal itu," ucap Arga tidak setuju.
"Aku juga tidak ingin kau bertengkar dengan mama, Arga!" balas Bianca.
Arga menghela nafasnya panjang lalu membawa dirinya duduk di tepi ranjang.
"Baiklah, kita hadapi mama sama-sama dan memberi tahu mama jika kita belum siap memiliki anak, kita beri tahu mama jika kita sudah bersepakat untuk menunda kehamilanmu selama 2 tahun," ucap Arga.
"Dua tahun?"
"Iya, itu adalah waktu dimana kontrak kesepakatan kita akan berakhir," balas Arga.
"Apa itu satu-satunya yang bisa kita lakukan? bukankah kita hanya akan memberikan harapan kosong pada mama?" tanya Bianca.
"Hanya itu yang bisa kita lakukan agar mama berhenti membahas hal itu Bianca, setelah dua tahun kita akan berpisah dan itu menjadi hal yang tidak akan pernah mama bicarakan lagi," jawab Arga.
Bianca hanya diam mendengar ucapan Arga. Ia tidak tahu apakah dia harus menyetujui apa yang Arga katakan atau tidak.
"Dari awal pernikahan kita sudah menjadi harapan kosong untuk mama dan papa Bianca, karena dari awal kita sudah membuat kesepakatan yang tidak diketahui oleh mama dan papa!" ucap Arga yang membuat Bianca seketika membawa pandangannya pada Arga.
"Kau benar, dari awal kita sudah memberikan harapan kosong pada mama dan papa," balas Bianca dengan suara yang cukup pelan.
__ADS_1
"Jangan merasa bersalah atas apa yang sudah kita sepakati, jalani saja apa yang sudah menjadi kesepakatan kita sampai semuanya berakhir," ucap Arga dengan menggenggam tangan Bianca.
"Tidak ada manusia suci tanpa dosa di dunia ini Bianca, kita semua berjuang demi hidup kita masing-masing, lagi pula apa yang kau lakukan tanpa ada niat jahat pada siapapun, jadi berhentilah merasa bersalah," lanjut Arga.
Bianca hanya diam dengan menatap Arga yang duduk di sampingnya. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Arga.
Apa yang sudah ia sepakati dengan Arga mungkin bukan hal yang benar, tapi itu adalah salah satu hal yang harus ia lakukan demi kelanjutan hidupnya.
Mungkin akan terdengar egois, tapi takdir sudah membawanya ke dalam goa kegelapan tanpa sinar selain dari celah kecil yang Arga berikan padanya.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Arga beranjak dari duduknya lalu membuka pintu kamarnya. Nadine dan Davidpun masuk lalu duduk di sofa yang ada disana.
"Ada apa Arga? sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin kau bicarakan!" tanya David pada Arga.
"Ini tentang hubungan Arga dengan Bianca pa, tentang sikap mama juga," jawab Arga dengan membawa pandangannya pada sang mama.
"Sikap mama? memangnya apa yang mama lakukan?" tanya David tak mengerti.
"Mama pasti mengerti maksud ucapan Arga saat di restoran tadi bukan? jika bukan karena Bianca yang menahan Arga, mungkin Arga sudah meluapkan kekesalan Arga pada mama disana!" ucap Arga.
"Arga..." ucap Bianca pelan dengan menggenggam tangan Arga, berusaha meredam kekesalan Arga saat itu.
"Maafkan mama, Arga," ucap Nadine yang sudah mengerti maksud dari ucapan Arga padanya.
"Mama dan papa pasti tau jika Arga sangat menyayangi mama dan papa, tapi sekarang Arga sudah menikah dan memiliki Bianca dalam hidup Arga, jadi tolong biarkan Arga menjalani pernikahan Arga sesuai dengan apa yang Arga dan Bianca inginkan," ucap Arga.
"Apa yang Arga lakukan bukan karena Arga tidak menyayangi mama, tapi Arga merasa mama terlalu banyak ikut campur dalam rumah tangga Arga dan Bianca," lanjut Arga.
"Mama hanya ingin yang terbaik untukmu Arga," ucap Nadine membela diri.
"Hanya Arga dan Bianca yang tau apa yang terbaik untuk pernikahan kita, bukankah mama ingat jika sejak kecil Arga selalu mama ajarkan untuk mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas keputusan Arga!"
"Mama ingat, memang harus seperti itu, tapi apa salahnya jika mama membantu kalian? memiliki anak di usia kalian yang sekarang adalah saat yang tepat, anak kalian juga yang akan mewarisi perusahaan papa nantinya!"
"Tidak ada yang salah jika mama membantu sesuai dengan apa yang kita butuhkan ma, tapi untuk saat ini apa yang mama lakukan itu salah," balas Arga.
David yang sedari tadi hanya memperhatikan istri dan anak laki-lakinya berbicara kini mengerti permasalahan apa yang sebenarnya terjadi.
"Pertama, Arga kau harus memahami jika apa yang mama inginkan adalah apa yang menurut mama baik, kedua mama juga harus memahami jika apa yang menurut mama baik belum tentu baik juga untuk Arga dan Bianca, kita sebagai orang tua tidak bisa memaksakan kehendak kita pada Arga ataupun Bianca," ucap David.
"Tapi pa...."
"Tolong dengarkan papa dulu ma, biarkan pernikahan Arga dan Bianca menjadi tanggung jawab mereka berdua, sebagai orang tua kita hanya bisa memberi saran dan nasihat secukupnya, selebihnya biarkan mereka sendiri yang memutuskan," ucap David memotong ucapan sang istri.
"Dan sekarang Arga, Bianca, katakan pada papa dan mama, bagaimana keputusan kalian tentang hal yang kalian perdebatkan sejak tadi!" lanjut David.
"Sebelumnya Bianca minta maaf jika keputusan Bianca dan Arga ini tidak sesuai dengan apa yang mama dan papa harapkan, tapi Bianca dan Arga sudah memikirkan semuanya dengan matang sebelum kita mengambil keputusan ini," ucap Bianca.
"Arga dan Bianca memutusakan untuk menunda kehamilan Bianca sampai 2 tahun ke depan, Arga masih ingin menikmati waktu Arga berdua dengan Bianca, jadi Arga harap mama tidak akan membahas hal itu lagi selama 2 tahun ke depan," ucap Arga.
"Arga harap mama dan papa bisa menerima keputusan Arga dan Bianca," lanjut Arga.
Nadine menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya pada Bianca.
"Kau juga menyetujui hal ini Bianca?" tanya Nadine pada Bianca.
"Iya ma, ini adalah kesepakatan Bianca dan Arga, kita belum cukup lama menghabiskan waktu sebelum menikah, jadi sekarang kita masih ingin menghabiskan banyak waktu berdua dan 2 tahun sepertinya cukup untuk itu," jawab Bianca.
"Papa mengerti, kalian belum lama berhubungan sebelum menikah, jadi memang banyak hal yang harus kalian berdua lakukan sebelum kalian memiliki anak," ucap David.
"Bagaimana menurut mama?" lanjut David bertanya pada sang istri.
"Apa lagi yang bisa mama katakan, itu sudah menjadi keputusan mereka berdua," jawab Nadine tak bersemangat.
"Tapi ingat, setelah dua tahun kalian harus segera memberi kabar gembira pada mama!" ucap Nadine dengan menatap Arga dan Bianca.
Bianca dan Arga kompak menganggukkan kepala mereka dengan tersenyum, meskipun sebenarnya dalam hati Bianca ada rasa bersalah yang mengganggunya.
"Baiklah kalau begitu, nikmati waktu kalian berdua dengan baik, ada hal lain yang harus papa dan mama lakukan," ucap David lalu beranjak dari duduknya.
Bianca kemudian ikut beranjak lalu menahan tangan Nadine dan memeluk Nadine dengan erat
"Bianca harap keputusan ini tidak membuat mama marah pada Bianca," ucap Bianca.
__ADS_1
"Mama tidak marah padamu sayang, mama akan berusaha memahami keputusan kalian berdua," balas Nadine.
"Terima kasih banyak ma," ucap Bianca dengan melepaskan Nadine dari pelukannya.
"Kau memang anak baik, Arga beruntung memilikimu," ucap Nadine dengan membelai rambut Bianca lalu berjalan keluar mengikuti sang suami.
Kini hanya ada Arga dan Bianca di dalam kamar. Bianca menghela nafasnya panjang dengan tersenyum lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
"Akhirnyaaaa......." ucap Bianca lega.
"Apa kau mau melakukan sesuatu yang menyenangkan?" tanya Arga pada Bianca.
"Sesuatu yang menyenangkan seperti apa?" balas Bianca bertanya sambil beranjak dari ranjang.
"Ikut saja," ucap Arga lalu berjalan keluar dari kamar diikuti oleh Bianca.
Arga kemudian mengendarai mobilnya ke arah sebuah bar yang berada tidak terlalu jauh dari hotel tempatnya menginap.
"Kita akan pergi kemana Arga? apa mama dan papa juga ikut?" tanya Bianca.
"Tidak, hanya kita berdua, jangan bertanya lagi, kau akan tau saat kita sudah sampai," jawab Arga.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di tempat tujuannya. Arga menggandeng tangan Bianca dan mengajak Bianca memasuki sebuah gedung 2 lantai.
Di lantai satu gedung itu adalah sebuah kafe dengan cahaya yang cukup remang, sedangkan di lantai dua samar-samar terdengar dentuman musik yang berasal dari balik pintu yang ada disana.
"Tempat apa ini Arga?" tanya Bianca dengan menghentikan langkahnya.
"Tempat yang menyenangkan," jawab Arga dengan tersenyum.
"Tidak, aku tidak mau kesini, aku pergi saja," ucap Bianca yang akan pergi namun ditahan oleh Arga.
"Kau bersamaku Bianca, tidak akan ada yang mengganggumu disini," ucap Arga dengan menggenggam tangan bianca.
"Tapi...."
"Ssssttt.... ayo masuk!" ucap Arga lalu menarik tangan Bianca dan segera masuk ke dalam ruangan yang ada di hadapannya.
Seketika dentuman musik keras menggema di telinga Bianca, lampu warna warni menyorot ke beberapa titik bersama beberapa orang yang terlihat menari-nari di tengah kerumunan.
Mereka semua tertawa dengan memegang alkohol di tangan mereka, sama sekali tidak tampak kesedihan dan kegelisahan dari raut wajah semua yang ada disana.
Arga kemudian membawa Bianca duduk di depan meja bartender kemudian memesan 2 gelas alkohol berjenis whisky untuknya dan Bianca.
"Aku tidak mau," ucap Bianca sambil menggeser gelas di hadapannya ke arah Arga.
"Apa kau yakin akan meminumnya? bagaimana jika kau mabuk disini?" tanya Bianca khawatir.
"Tenang saja, aku tau batas alkoholku," jawab Arga.
Arga kemudian meminum alkohol miliknya lalu mengambil gelas milik Bianca dan memberikannya pada Bianca.
"Lihatlah, aku baik-baik saja bukan? jadi cobalah, sedikit saja!" ucap Arga yang tidak menyerah untuk membujuk Bianca.
Dengan ragu Bianca menerima gelas dari Arga lalu sedikit menyeruputnya.
"Aaahh rasanya aneh sekali," ucap Bianca yang segera menaruh gelasnya di atas meja.
"Apa kau yakin itu rasa aneh? cobalah untuk merasakan rasa lain di lidahmu!"
"Aku hanya merasakan pahit, sedikit manis dan.... entahlah....."
"Coba lagi, kau akan merasakan rasa lain setelah kau meminumnya sedikit lebih banyak," ucap Arga sambil kembali memberikan gelas milik Bianca.
Tanpa ragu Bianca kembali mencoba alkohol di gelas miliknya. Ia diam beberapa saat, mencoba mencari tau rasa apa yang ada di lidahnya saat itu.
Bianca kemudian mencobanya lagi sampai beberapa teguk.
"Sudah sudah, kau terlalu banyak meminumnya," ucap Arga sambil merebut gelas Bianca.
"Kembalikan milikku Arga," ucap Bianca yang berusaha merebut gelas miliknya dari tangan Arga.
"Tidak, kau sudah cukup mencobanya," balas Arga yang segera meminum alkohol yang ada di gelas Bianca sampai habis tak bersisa.
"Arga.... kau jahat sekali...." ucap Bianca sambil merengek seperti anak kecil yang direbut mainannya.
__ADS_1