
Waktu berlalu, hari-hari telah terlewati, banyak momen yang tercipta antara Bianca dan Arga selama mereka berada di Tokyo.
Dari semua momen sedih, kesal dan bahagia, Bianca lebih banyak merasa bahagia selama ia berada di Tokyo bersama Arga.
Arga benar-benar menunjukkan bagaimana sikapnya sebagai seorang suami yang baik pada Bianca, meskipun sebenarnya hubungan suami istri di antara mereka berdua tidak didasari oleh cinta sama sekali.
Rasa nyaman yang perlahan muncul tanpa sadar membuat Arga dan Bianca semakin dekat, membuat mereka saling memahami satu sama lain, meskipun tak jarang mereka masih memperdebatkan beberapa hal kecil.
Kini tiba waktu bagi Bianca dan Arga untuk meninggalkan Tokyo. Dalam hatinya Bianca akan menyimpan semua momen yang pernah terjadi antara dirinya dan Arga saat mereka berada di Tokyo.
Tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika Bianca akan benar-benar menikmati takdirnya sebagai istri Arga yang hanya sebatas kontrak pernikahan selama 2 tahun.
Bianca mulai menyadari jika takdir hidup yang tidak diinginkannya itu tidak terlalu buruk baginya, mengingat bagaimana Arga memperlakukannya dengan sangat baik.
Setelah lebih dari 7 jam perjalanan pesawat yang mereka akhirnya mendarat dengan selamat.
Saat Bianca dan Arga baru saja keluar dari bandara, mereka disambut oleh Nadine dan David yang sudah menunggu kepulangan mereka sejak 1 jam yang lalu.
Bianca dan Argapun segera berpelukan pada Nadine dan David dengan bergantian. Mereka saling mengucapkan rindu meski Bianca dan Arga hanya pergi selama satu minggu.
Pak Dodi yang juga ikut menjemput segera membawa koper Bianca dan Arga ke dalam mobil lalu mengendarai mobil pulang ke rumah Arga dan Bianca, diikuti oleh mobil orang tua Arga.
Sesampainya di rumah, Pak Dodi segera mengeluarkan koper Arga dan Bianca namun merasa enggan untuk membawa masuk ke dalam kamar, mengingat Arga dan Bianca berada di kamar yang berbeda.
"Tolong letakkan di ruang tamu saja Pak, Arga sendiri yang akan membawanya masuk ke kamar," ucap Arga yang seolah mengerti kebingungan Pak Dodi.
"Baik Tuan, saya permisi," balas Pak Dodi lalu berjalan keluar setelah menaruh koper milik Arga dan Bianca di ruang tamu.
"Bagaimana bulan madu kalian? semuanya berjalan dengan lancar bukan?" tanya Nadine pada Arga dan Bianca.
Arga tersenyum lalu membawa pandangannya pada Bianca, seolah meminta Bianca untuk menjawab pertanyaan sang mama.
"Semuanya menyenangkan ma, Bianca dan arka menikmati waktu kita disana," jawab Bianca.
"Baguslah kalau begitu, sekarang kalian berdua beristirahatlah, kalian pasti lelah!" ucap Nadine.
"Jika kau masih perlu waktu untuk beristirahat kau bisa kembali ke kantor lusa Arga!" ucap David pada Arga.
"Beristirahat satu hari sudah cukup untuk Arga pa, besok Arga akan kembali ke kantor," balas Arga.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu sayang, kau harus menjaga kesehatanmu," ucap Nadine.
"Arga mengerti, Mama tidak perlu khawatir," balas Arga.
"Aaahh ya, Bianca membeli sesuatu untuk Mama dan papa," ucap Bianca lalu membuka salah satu kopernya kemudian mengeluarkan barang yang ia beli khusus untuk Mama dan papa Arga.
"Bianca tidak tahu apa yang seharusnya Bianca berikan pada mama dan papa karena Arga bilang Mama dan papa sudah sering pergi ke Jepang, jadi Bianca hanya bisa memberikan ini, semoga mama dan papa menyukainya," ucap Bianca sambil memberikan barang yang dibawanya pada mama dan papa Arga.
"Terima kasih sayang, Mama dan papa pasti menyukai apapun yang kau berikan pada kami, kau memang menantu yang sangat baik, aahh tidak.... kau anak yang sangat baik, bagi Mama dan papa kau sudah seperti anak kandung mama dan papa," ucap Mama Arga sambil membelai wajah cantik Bianca.
"Tidak ada kata menantu di keluarga kita Bianca, kau adalah bagian dari keluarga Narendra, mama dan papa akan berusaha untuk memperlakukanmu dengan baik sebagaimana kita memperlakukan anak kita sendiri," ucap David.
"Terima kasih banyak ma pa, Bianca benar-benar bersyukur bisa diterima dengan baik di keluarga ini," ucap Bianca.
Mereka saling berpelukan sebelum akhirnya Nadine dan David meninggalkan rumah Arga.
"Bagaimana dengan lukamu? bukankah kita harus ke rumah sakit untuk memeriksakannya?" tanya Bianca pada Arga setelah kepergian orang tua Arga.
"Aku akan meminta dokter keluarga untuk datang, kau beristirahatlah!" jawab Arga.
Bianca menganggukkan kepalanya lalu membuka pintu kamarnya. Sebelum Bianca mengangkat dua koper besar miliknya, Arga sudah terlebih dahulu mengangkatnya dan membawanya masuk ke dalam kamar Bianca.
"Kau tidak boleh mengangkat benda berat Arga!" ucap Bianca.
"Aku sudah baik-baik saja Bianca, bukankah kau juga tahu jika lukaku sudah sembuh," balas Arga lalu keluar dari kamar Bianca kemudian membawa naik koper miliknya ke lantai tiga.
Bianca hanya menghela nafasnya lalu menutup pintu kamarnya dan segera membaringkan badannya di atas ranjang.
"Rasanya sudah lama sekali aku tidak tidur disini," ucap Bianca sambil berguling di atas ranjangnya.
Kamar yang dulu terasa sangat asing baginya kini sudah seperti tempat paling nyaman untuknya. Setelah berbaring beberapa saat Bianca kemudian beranjak untuk mandi dan berganti pakaian.
Tak lama setelah berganti pakaian, Bianca mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya.
__ADS_1
Bianca kemudian melihatnya dari jendela kamarnya dan mendapati dokter keluarga yang berjalan masuk ke dalam rumah.
Bianca kemudian keluar dari kamarnya lalu duduk di ruang tamu untuk menunggu dokter yang sedang berada di kamar Arga.
Setelah beberapa lama menunggu, dokter itupun terlihat menuruni tangga. Bianca segera beranjak dari duduknya untuk menanyakan keadaan Arga pada sang dokter.
Dokter kemudian menjelaskan jika luka Arga sudah sembuh, hanya tinggal menunggu bekas lukanya menghilang.
Setelah kepergian dokter, Bianca kembali masuk ke dalam kamarnya. Dalam hatinya ia lega karena luka Arga benar-benar sudah sembuh.
Bianca kemudian menatap pantulan dirinya yang ada di cermin, ia memperhatikan beberapa titik bekas luka yang ada di wajah dan tangannya.
Beruntung luka yang ada di wajah dan tangan Bianca hanya luka kecil yang sudah sembuh bahkan saat Bianca masih berada di Tokyo.
Bianca hanya perlu menutup bekas luka itu dengan make up agar orang tua Arga tidak menyadari hal itu.
Meskipun tidak terlalu pandai menggunakan make up tetapi Bianca bisa mengelabuhi orang tua Arga, membuat mereka tidak menyadari bekas luka yang ada di wajah Bianca.
Bianca kemudian mengambil ponselnya lalu mencari nama Lola di penyimpanan kontaknya.
"Halo Bianca, akhirnya kau menghubungiku, apa kau sudah sampai di rumah?" tanya Lola setelah Lola menerima panggilan Bianca.
"Aku baru saja sampai, apa besok pagi kau sibuk? jika tidak aku ingin pergi ke tempatmu!"
"Aku tidak sibuk, aku juga ingin bertemu denganmu karena ada paket dari kak Bara untukmu," ucap Lola.
"Paket dari kak Bara? apa isinya?" tanya Bianca penasaran.
"Entahlah, bukankah kak Bara sudah memberitahumu?" balas Lola.
"Kak Bara hanya memberitahuku jika dia akan mengirimkan sesuatu padaku, tetapi dia tidak menyebutkan apa yang dia kirimkan padaku," jawab Bianca.
"Kalau begitu besok aku saja yang ke rumahmu, kau tunggu saja di rumah!" ucap Lola.
"Oke baiklah," balas Bianca.
Baru saja panggilan berakhir, Bianca mendengar suara ketukan pintu yang membuatnya segera membuka pintu kamarnya.
Bianca begitu terkejut saat ia membuka pintu kamar dan mendapati sebuah boneka besar yang berada tepat di depan wajahnya.
Ia sudah menduga jika Bianca akan terkejut karena ia sengaja tidak memberitahu Bianca jika ia membeli boneka besar itu saat ia berada di Tokyo.
"Hi, i'm Olaf, i like warm hugs!" ucap Arga menirukan dialog Olaf sambil menggerakkan kedua tangan boneka besar yang ia bawa.
"Arga....."
Arga kemudian menunjukkan dirinya dengan tersenyum pada Bianca sambil memberikan boneka yang ia bawa.
"Kenapa aku tidak tahu jika kau membeli boneka ini?" tanya Bianca sambil memeluk boneka besar pemberian Arga.
"Ini adalah hal konyol yang pernah aku lakukan seumur hidupku, jadi aku harus menyembunyikannya dari orang lain," jawab Arga.
"Bagaimana kau menyembunyikannya boneka sebesar ini?" tanya Bianca penasaran.
"Kau tidak perlu tahu, yang penting sekarang boneka ini sudah ada di tanganmu," ucap Arga menjawab pertanyaan Bianca.
"Apa kau menyukainya?" lanjut Arga bertanya yang segera dibalas anggukan kepala dengan cepat oleh Bianca.
"Tentu saja aku menyukainya Arga, sangat menyukainya," ucap Bianca dengan semakin erat memeluk boneka berbentuk manusia salju yang Arga berikan padanya.
"Aku tidak menyangka jika perempuan sepertimu menyukai boneka," ucap Arga.
"Aku sudah jatuh cinta pada boneka ini sejak pertama kali aku melihatnya, tapi aku tidak berani menginginkannya karena aku tahu boneka ini sangat mahal dan ukurannya juga sangat besar untuk aku bawa pulang," balas Bianca.
Arga tersenyum tipis melihat bagaimana Bianca tampak begitu menyukai boneka pemberiannya.
Tanpa Bianca tahu Arga memang sudah berniat membeli boneka itu untuk Bianca saat Arga melihat Bianca yang tampak sangat menyukai boneka itu ketika mereka melewati toko boneka yang ada di dekat hotel tempat mereka menginap.
Arga segera mencari waktu yang tepat untuk membeli boneka itu dan mengirimnya tanpa sepengetahuan Bianca.
Kini rencananya berhasil, ia sukses membuat Bianca terkejut dan senang atas apa yang ia berikan pada Bianca.
Entah kenapa Arga merasa gadis cantik yang barbar dan terkesan galak itu kini terlihat lebih manis saat ia sedang memeluk boneka, membuat aura kecantikannya semakin terpancar.
__ADS_1
"Apa kau hanya jatuh cinta pada boneka ini?" tanya Arga yang membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.
Bianca terdiam untuk beberapa saat tanpa mengatakan apapun, karena pertanyaan Arga bisa jadi membuatnya salah paham.
"Aku..... aku menyukai beberapa boneka lainnya, tetapi boneka inilah yang paling aku inginkan," ucap Bianca berusaha mengendalikan debaran dalam dadanya yang tiba-tiba saja membuat jantungnya berdetak cepat.
"Baiklah, kalau begitu lanjutkan istirahatmu," ucap Arga dengan tersenyum tipis lalu berjalan meninggalkan Bianca begitu saja.
Bianca masih terdiam di tempatnya menatap Arga yang kini sudah berjalan menaiki tangga.
"Apa maksudnya? kenapa dia bertanya seperti itu?" batin Bianca bertanya dalam hati.
"Aahh entahlah, aku tidak peduli," ucap Bianca lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.
Bianca membaringkan badannya di atas ranjang dengan memeluk boneka pemberian Arga.
**
Hari telah berganti. Bianca baru saja keluar dari kamar saat Arga sudah bersiap untuk keluar dari rumah.
"Kau sungguh akan bekerja hari ini?" tanya Bianca yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Arga.
Bianca hanya terdiam menatap Arga yang berjalan keluar dari rumah. Ia tidak mengerti kenapa laki-laki yang merupakan suaminya itu sangat tergila-gila oleh pekerjaannya.
"Entah karena dia sangat bertanggung jawab atau karena dia memang gila bekerja," ucap Bianca lalu membawa langkahnya ke meja makan dimana bibi sudah menyiapkan sarapan untuk Bianca.
Setelah menyelesaikan sarapannya Bianca kemudian mengambil beberapa buku dan laptopnya untuk ia bawa ke balkon.
Tak lupa Bianca membawa boneka besar pemberian Arga untuk menemaninya mengerjakan artikel.
Setelah beberapa lama berkutat dengan laptop di hadapannya, bibi kemudian datang memberi Bianca jika ada tamu untuknya.
Bianca kemudian meminta bibi untuk membiarkan tamunya masuk karena ia tahu jika kamu yang bibi maksud adalah Lola.
Benar saja, tak lama kemudian Lola datang menghampiri Bianca di balkon.
"Biancaa....."
"Lolaaa....."
Bianca dan Lola kemudian berpelukan dengan erat, melepas rindu karena sudah satu minggu mereka tidak bertemu.
"Sudah cukup berpelukannya, aku ingin memberikan sesuatu padamu," ucap Bianca lalu melepas pelukannya pada Lola.
"Apa yang ingin kau berikan padaku Bianca? apa boneka ini?" tanya Lola sambil menunjuk boneka pemberian Arga.
"Tentu saja bukan," jawab Bianca dengan cepat sambil memeluk boneka itu.
"Bantu aku membawa buku-buku ini ke kamar," ucap Bianca pada Lola kemudian berjalan meninggalkan balkon dengan membawa boneka dan laptop miliknya, sedangkan Lola membawa beberapa buku milik Bianca.
Bianca kemudian mengambil hadiah yang sudah ia siapkan untuk Lola. Sebuah lampu tidur dengan cahaya remang yang di dalamnya dihiasi dengan salju yang tidak berhenti turun.
"Aaahhh ini cantik sekali Bianca," ucap Lola senang saat ia menerima hadiah pemberian Bianca.
"Aku senang jika kau menyukainya," balas Bianca.
"Tentu saja aku sangat menyukainya, ah ya aku membawa paket untukmu dari kak Bara," ucap Lola lalu mengeluarkan sebuah paket dari dalam tasnya kemudian memberikannya pada Bianca.
"Kak Bara benar-benar membuatku penasaran," ucap Bianca sambil membuka paket di tangannya.
Setelah paket itu terbuka Bianca begitu terkejut melihat apa yang ada di hadapannya. Ia kemudian membawa pandangannya pada Lola yang juga terkejut melihat apa yang Bara berikan pada Bianca.
"Kenapa kak Bara memberikanku ini Lola?" tanya Bianca sambil memegang cincin pemberian Bara.
"Ada surat di bawahnya Bianca, bukalah!" balas Lola.
Bianca kemudian menaruh cincin itu di tempatnya lalu mengambil surat yang ada di bagian bawah kotak cincin itu.
Biancapun membuka surat itu lalu membacanya dalam hati.
"Dear Bianca
Maaf karena sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Aku janji ini tidak akan lama lagi, setelah 2 tahun aku akan benar-benar kembali. Aku akan segera datang kepadamu dan menyampaikan apa yang selama ini tidak berani aku sampaikan padamu.
__ADS_1
Aku harap kau masih bersedia menungguku Bianca. Ini memang bukan cincin yang mahal, tapi setelah aku kembali nanti aku akan menggantinya dengan cincin yang lebih baik, semoga kau bersedia memakainya sampai aku kembali.
Bara."