Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Kemarahan Bianca


__ADS_3

Bianca membiarkan dirinya berada dalam pelukan Bara hingga tiba-tiba bibi yang tidak sengaja melihat kejadian itu begitu terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga yang membuat Bara segera melepaskan Bianca dari pelukannya.


Bibi segera berjalan pergi setelah membereskan pecahan vas bunga yang terjatuh.


"Maafkan aku Bianca," ucap Bara dengan menatap kedua mata Bianca.


"Tolong jelaskan pada Bianca kenapa kak Bara tiba-tiba menghilang begitu saja, Bianca bahkan sudah tidak bisa menghubungi kak Bara lagi sekarang," ucap Bianca yang juga menatap kedua mata Bara yang berdiri di hadapannya.


"Aku..... aku tidak bisa berlama-lama sendiri Bianca, pada awalnya aku memang tidak menyukai keberadaan Luna tapi semakin lama Luna perlahan membuatku nyaman dan aku..... aku rasa aku menyukainya," ucap Bara ragu.


"Lalu bagaimana dengan Bianca kak? apa maksud kak Bara meminta Bianca untuk menunggu kakak? apa maksud kak Bara memberikan cincin itu pada Bianca jika kak Bara tidak memiliki perasaan apapun pada Bianca?" tanya Bianca dengan air mata yang menggenang di kedua sudut matanya.


"Maafkan aku Bianca, sebenarnya aku memang pernah menyukaimu tetapi setelah aku mengenal Luna aku rasa aku lebih menyukai Luna, itu kenapa perlahan aku mulai menjauh darimu," balas Bara.


"Semudah itu kak Bara menyukai perempuan lain setelah Bianca menunggu kakak?" tanya Bianca.


"Kau menungguku tetapi kau sudah menikah dengan laki-laki lain, lalu apa maksud dari kata menunggu yang kau bicarakan itu Bianca?" balas Bara bertanya.


"Banyak hal yang terjadi yang tidak kak Bara tahu dan Arga adalah satu-satunya laki-laki yang ada saat Bianca tidak mempunyai harapan lain dalam hidup Bianca, dia yang memberikan kesempatan hidup kedua pada Bianca," jelas Bianca.


"Lalu sekarang apa yang kau inginkan dariku? kau sudah memiliki suami dan aku sudah menyukai perempuan lain yang selalu menghiburku saat aku kesepian disana!"


"Kenapa semudah itu kak Bara berpaling dari seseorang yang sudah kak Bara minta untuk menunggu?" tanya Bianca sambil menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan kasar.


"Jangan selalu menyudutkanku Bianca, bukankah kau juga tidak bisa menjaga janjimu untuk menungguku!" balas Bara yang tidak ingin disudutkan oleh Bianca.


"Jika Bianca tidak menikah dengan Arga, apakah kak Bara bisa menjamin jika kak Bara akan tetap kembali pada Bianca? bukankah kak Bara akan tetap kesepian disana dan menyukai perempuan yang datang pada kak Bara?"


"Aku......"


"Sudah sangat lama Bianca menunggu kakak tapi ternyata ini ujung dari penantian Bianca," ucap Bianca memotong ucapan Bara dengan suaranya yang bergetar.


Bianca kemudian mengambil cincin dari dalam sakunya lalu meraih tangan Bara dan menaruh cincin itu dalam genggaman Bara.


"Cukup Bianca yang menunggu kakak dengan sangat lama, jangan biarkan Luna terlalu lama menunggu kakak dan jangan pernah membuatnya kecewa karena dia sangat menyukai kakak," ucap Bianca lalu berjalan pergi begitu saja.


Bianca berjalan cepat ke arah kamarnya lalu masuk ke kamarnya dengan membanting pintunya.


Sedangkan Bara hanya diam membiarkan Bianca pergi, karena memang ia sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Bianca, gadis cantik yang dulu pernah disukainya.


Apa yang terjadi pada hidup memang tidak pernah bisa diterka alurnya. Bara yang dulu menyimpan perasaan pada Bianca dan akan mengungkapkan perasaanya pada Bianca setelah 2 tahun kepergiannya, tiba-tiba saja berubah haluan dan menyukai perempuan lain yang tiba-tiba datang dalam hidupnya.


Tanpa Bianca dan Bara tahu, diam-diam Arga mendengar dan melihat apa yang terjadi pada Bianca dan Bara.


Arga sengaja mengunci Luna di dalam ruang kerjanya dengan alasan pintu ruang kerja Arga bermasalah.


Setelah melihat Bianca yang masuk ke dalam kamar, Arga kemudian membuka pintu ruang kerjanya.


"Akhirnya terbuka, lebih baik kakak cepat perbaiki pintunya atau akan ada orang lain yang terperangkap di dalam seperti Luna!" ucap Luna yang merasa lega karena bisa keluar dari ruang kerja Arga.


Arga hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lalu berjalan menuruni tangga bersama Luna.


"Dimana kak Bianca? kenapa Luna tidak melihatnya dari tadi?" tanya Luna pada Arga.


"Dia sedang kurang sehat, jadi kakak membiarkannya tidur di kamar," jawab Arga beralasan.


"Aaahh ya, Luna sengaja datang kesini bersama kak Bara karena besok kak Bara harus kembali ke kampus," ucap Luna.


Setelah berbasa-basi cukup lama, Luna dan Bara kemudian meninggalkan rumah Arga. Sepeninggalan Luna dan Bara, Arga segera membawa langkahnya ke arah kamar Bianca.


"Bianca," panggil ada dengan mengetuk pintu kamar Bianca.


Tidak ada balasan dari Bianca, tapi Arga bisa mendengar isak tangis meskipun cukup pelan.


Arga kemudian membuka pintu kamar Bianca yang tidak terkunci dan mendapati Bianca yang duduk di lantai dengan menundukkan kepalanya diantara kedua kakinya yang ditekuk.

__ADS_1


Dengan pelan Arga membawa langkahnya mendekati Bianca lalu berjongkok di depan Bianca.


Arga hanya diam tanpa mengatakan apapun, tetapi tangannya mengusap lembut punggung Bianca, berusaha menenangkan Bianca.


"Pergilah Arga, aku sangat kacau sekarang," ucap Bianca pelan dengan suaranya yang bergetar.


"Aku tidak akan pergi, aku akan tetap disini menemanimu," balas Arga.


"Aku malu Arga, jadi pergilah dari sini," ucap Bianca.


"Aku tidak akan mengatakan apapun Bianca, aku hanya ingin menemanimu disini, aku hanya ingin kau tau jika aku akan selalu ada untukmu, meskipun kau tidak mengharapkan keberadaanku," balas Arga.


Bianca kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Arga yang duduk di hadapannya.


"Kau sangat jelek saat menangis seperti ini," ucap Arga sambil menghapus air mata di pipi Bianca.


"Mungkin itu yang membuat kak Bara berpaling dariku," balas Bianca yang tidak bisa menahan air matanya.


"Tidak ada yang berpaling darimu Bianca, mungkin dari awal Bara memang tidak benar-benar menyukaimu," ucap Arga.


"Tapi....."


Bianca menghentikan ucapannya. Ia tidak punya banyak tenaga untuk sekedar berbicara. Membicarakan tentang Bara seperti kembali mengoyak luka yang sudah ada dalam hatinya.


Bianca kemudian menundukkan kepalanya dengan menghapus air matanya dengan kasar. Ia kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa berhenti menangis saat itu.


Arga kemudian mendekatkan dirinya pada Bianca lalu membawa Bianca ke dalam dekapannya.


"Menangislah sepuasmu Bianca, luapkan semua rasa sedih dan kekecewaanmu, tapi setelah ini aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi, aku pastikan kau akan selalu bahagia bersamaku," ucap Arga.


Bianca hanya terdiam, menumpahkan tangisnya dalam dekapan Arga. Perlahan rasa nyaman yang Arga berikan membuat Bianca lebih bisa mengendalikan dirinya meskipun masih ada rasa sedih dan kecewa dalam hatinya.


"Apa kau sangat mencintainya, Bianca?" tanya Arga setelah Bianca melepaskan dirinya dari dekapan Arga.


"Hatimu tidak akan terasa sakit jika kau tidak benar-benar mencintainya, Bianca," ucap Arga dalam hati.


"Tolong berjanjilah padaku untuk tidak memberitahu Luna tentang semua ini, aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara aku dan Luna," ucap Bianca pada Arga.


"Lalu bagaimana dengan Bara?" tanya Arga.


"Apa yang bisa aku lakukan Arga? kak Bara sudah menyukai Luna, dia bahkan sengaja menjauhiku dan dengan bodohnya aku tetap menunggunya meskipun sama sekali tidak ada kabar darinya selama berbulan-bulan," jawab Bianca dengan menundukkan kepalanya.


Arga kemudian menggeser posisi duduknya lalu duduk di samping Bianca dan membawa kepala Bianca bersandar di bahunya.


"Lupakan Bara jika dia sudah memilih perempuan lain, ini adalah kepastian yang selama ini kau tunggu, bukan kepastian untuk menjadi milikmu tetapi kepastian agar kau berhenti menunggunya," ucap Arga.


"Semua ini tidak adil untukku Arga, dia yang memintaku untuk menunggunya tetapi dia juga yang tiba-tiba menyukai perempuan lain di luar sana," balas Bianca.


"Apa kau marah pada Luna?" tanya Arga yang segera dibalas gelengan kepala oleh Bianca.


"Tentu saja tidak, Luna tidak mengetahui apapun tentang aku dan kak Bara, aku bisa juga memahami kenapa Luna menyukai kak Bara, kepribadian kak Bara yang berbeda dengan kebanyakan laki-laki pasti membuat Luna jatuh cinta pada kak Bara," ucap Bianca.


"Tapi aku tidak akan membiarkan mereka bersama," ucap Arga yang membuat Bianca terkejut dan segera mengangkat kepalanya dari bahu Arga.


"Kenapa?" tanya Bianca.


"Bara bukan laki-laki yang tepat untuk Luna, Bianca," jawab Arga.


"Apa karena aku?" tanya Bianca.


"Setelah aku tahu bagaimana Bara memperlakukanmu, aku tidak akan membiarkan Bara memperlakukan hal yang sama pada Luna seperti dia memperlakukanmu, kau tahu sendiri bukan bagaimana Bara tidak memberikan kepastian apapun pada Luna padahal mereka berdua terlihat sangat dekat!" jelas Arga.


"Tetapi kak Bara memberitahuku jika dia menyukai Luna, mungkin kak Bara hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Luna," ucap Bianca.


"Dia laki-laki yang tidak bisa menepati janjinya Bianca, jadi bagaimana mungkin aku bisa mempercayakan Luna padanya," balas Arga.

__ADS_1


"Tapi mereka saling mencintai Arga!" ucap Bianca.


"Lalu bagaimana denganmu? kau juga mencintainya Bianca, kau pasti akan tersiksa jika sering melihatnya di sekitar kita jika dia benar-benar sudah berhubungan dengan Luna!"


"Kak Bara belum menyelesaikan kuliahnya Arga, mungkin dia akan kembali satu tahun lagi dan saat itu aku sudah tidak bersamamu, aku tidak hanya akan meninggalkanmu tapi juga meninggalkan semua hal yang ada di sekitarmu termasuk kak Bara yang saat itu sudah bersama Luna," jelas Bianca.


"Jangan berbicara seperti itu Bianca, aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku," ucap Arga dengan menggenggam tangan Bianca.


"Kau hanya salah paham pada perasaanmu sendiri Arga, aku yakin kau tidak benar-benar mencintaiku, saat kontrak kesepakatan kita berakhir aku akan pergi dan semuanya akan kembali dari awal dan kau bisa menjalani kehidupanmu dengan bebas tanpa ikatan apapun denganku," balas Bianca.


"Tidak Bianca, aku......"


"Setelah aku pergi kau pasti akan menemukan perempuan yang lebih pantas untuk menjadi pendamping hidupmu, perempuan yang tentu saja sama sempurnanya sepertimu," ucap Bianca memotong ucapan Arga sambil menarik tangannya dari genggaman Arga.


"Apa kau masih tidak percaya jika aku benar-benar mencintaimu Bianca? apa kau tidak mempercayai apa yang aku katakan padamu?" tanya Arga.


"Kau sangat baik padaku Arga, kau bahkan sudah menyelamatkan hidupku saat semua orang sudah menyerah atas keadaanku waktu itu, aku sangat berterima kasih atas hal itu dan yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu hanyalah menjadi istri yang kau inginkan sampai kontrak kesepakatan kita berakhir," ucap Bianca yang membuat Arga terkejut.


"Apa kau.... sudah mengetahuinya?" tanya Arga yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.


"Jika kau sudah mengetahui semuanya bukankah seharusnya kau tahu bagaimana aku sangat mencintaimu?" tanya Arga.


"Tolong berhentilah membicarakan hal ini Arga, sama sekali tidak ada cinta di antara kita berdua, kau hanya salah paham pada perasaanmu sendiri dan aku yakin setelah semua ini berakhir kau akan melupakanku dan melupakan perasaan yang pernah kau katakan saat ini," ucap Bianca.


"Tapi aku tahu kau juga mencintaiku Bianca, kau yang mengatakannya sendiri!" ucap Arga.


"Apa yang aku katakan padamu Arga? tidak mungkin aku mengatakan hal itu," balas Bianca.


"Apa kau tidak ingat semua hal yang terjadi pada kita saat kau mabuk?" tanya Arga yang membuat Bianca mengernyitkan keningnya.


"Kenapa kau tiba-tiba membahas hal itu? apa yang sudah kita lakukan Arga?" balas Bianca bertanya.


"Kau mengatakan jika kau mencintaiku, Bianca," jawab Arga.


"Tidak mungkin, kau pasti terlalu mabuk saat itu," ucap Bianca dengan menggelengkan kepalanya.


Dengan cepat Arga meraih wajah Bianca lalu mendaratkan kecupannya pada bibir Bianca yang tentu saja membuat Bianca begitu terkejut dan segera mendorong Arga.


PLAAAAAAKKKKKK


Tamparan keras mendarat di pipi Arga.


"Kau benar-benar gila, kau gila Arga!" ucap Bianca penuh emosi sambil beranjak dari duduknya.


"Kau yang melakukan hal itu padaku lebih dulu Bianca, saat aku melakukannya padamu kau juga membalasnya dengan lebih dalam dan....."


PLAAAAAAKKKKKK


Lagi-lagi tamparan keras mendarat di pipi Arga untuk kedua kalinya.


"Cukup Arga, sudahi kegilaanmu itu, keluar dari sini atau aku yang keluar dari rumah ini!" ucap Bianca sambil membuka pintu kamarnya.


"Bianca, aku....."


"Jika kau tidak keluar dari kamar ini maka aku yang akan keluar dari rumah ini!" ucap Bianca sambil membawa langkahnya keluar, namun dengan cepat Arga menahannya.


"Jika kau keluar dari rumah ini aku anggap kau sudah melanggar kontrak kesepakatan kita dan kau tahu berapa yang harus kau bayar bukan, jadi tetap berada di rumah ini sampai kontrak kesepakatan kita berakhir!" ucap Arga dengan penuh penegasan pada setiap kalimatnya.


Bianca hanya terdiam menahan emosi dalam dirinya, sedangkan Arga segera berjalan keluar dari kamar Bianca.


Bianca kemudian menutup pintu dengan membantingnya cukup keras lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang dengan menangis.


Bianca tidak menyangka dengan apa yang baru saja Arga lakukan padanya. Setelah satu tahun ia menikah dengan Arga, Arga selalu memperlakukannya dengan baik meskipun beberapa kali Arga berbohong padanya tentang hubungannya dengan Karina.


Selama 1 tahun itu Arga selalu menjaga batas di antara mereka berdua, namun tiba-tiba Arga melakukan hal yang di luar batas dan tentu saja membuat Bianca begitu marah dan bersedih.

__ADS_1


__ADS_2