
Hari terus berganti bersama waktu yang tidak bisa terhenti. Bara yang sudah menyelesaikan kuliahnya kini sudah bekerja di salah satu perusahaan milik saudaranya.
Bara dan Luna memang semakin dekat, namun belum ada kejelasan dari Bara tentang hubungannya dengan Luna.
Hari itu, Bara dan Luna menghabiskan banyak waktu bersama sejak pagi. Mereka berlibur ke pantai sampai petang lalu mengakhiri hari mereka dengan makan malam di restoran yang ada di dekat pantai.
"Menyenangkan sekali hari ini, rasanya sudah sangat lama aku tidak menikmati hariku seperti hari ini," ucap Bara setelah ia memesan makanan.
"Luna juga sangat senang kak, tapi bagi Luna setiap detik waktu yang Luna habiskan bersama kak Bara selalu menjadi saat-saat yang membahagiakan untuk Luna bahkan saat Luna hanya diam menatap kak Bara yang sibuk belajar," balas Luna.
"Terima kasih karena selalu menemaniku Luna, aku merasa sangat beruntung karena mengenalmu," ucap Bara dengan penuh senyum.
Luna hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Sepertinya kita harus pergi berlibur lagi lain kali," ucap Bara.
"Tapi Luna tidak yakin apakah kita bisa berlibur lagi," balas Luna.
"Kenapa?" tanya Bara.
"Luna....."
Luna menghentikan ucapannya saat waiters datang membawa makanan dan minuman pesanannya.
"Lebih baik kita makan dulu," ucap Luna lalu menikmati makanan pesanannya.
Luna dan Bara menikmati makanan mereka tanpa mengobrol sampai akhirnya Luna mengatakan sesuatu yang membuat Bara begitu terkejut
"Sebenarnya sudah lama Luna ingin bertanya pada kak Bara, tapi Luna memutuskan untuk menunggu kak Bara saja yang memberi tahu Luna," ucap Luna.
"Apa yang kau bicarakan Luna? memberi tahumu tentang apa?" tanya Bara.
"Tentang hubungan kak Bara dengan kak Bianca," jawab Luna yang membuat Bara begitu terkejut.
Bara diam untuk beberapa saat, ia tidak menyangka jika Luna akan menanyakan hal itu padanya.
"Sekarang tolong ceritakan pada Luna bagaimana hubungan kak Bara dengan kak Bianca, Luna tidak ingin ada kesalahpahaman yang membuat Luna berpikiran buruk tentang kak Bianca," ucap Luna.
"Apa Bianca mengatakan sesuatu padamu?" tanya Bara.
"Tidak," jawab Luna singkat
"Tidak ada hubungan apapun antara aku dan Bianca," ucap Bara.
"Baiklah jika kak Bara tidak ingin jujur, Luna anggap apa yang Luna ketahui itu benar tanpa Luna harus mengetahui cerita sebenarnya dari sudut pandang kak Bara," ucap Luna lalu beranjak dari duduknya.
Dengan cepat Bara menahan tangan Luna, meminta Luna untuk kembali duduk.
"Duduklah, aku akan menjelaskan semuanya padamu," ucap Bara.
Lunapun kembali duduk dengan menarik tangannya dari Bara.
"Sebenarnya aku memang tidak memiliki hubungan apapun dengan Bianca, tapi aku sudah mengenalnya cukup lama dan..... dan kita cukup dekat saat itu," ucap Bara.
Luna hanya diam, berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak marah ataupun sedih saat itu karena ia harus mendengar semua cerita Bara untuk memastikan bagaimana dia harus bertindak selanjutnya.
"Aku memang pernah menyukai Bianca karena dia cantik dan menyenangkan, tapi itu hanya perasaan suka yang bisa dengan mudah hilang, saat aku bertemu denganmu, aku....."
"Apa kak Bara juga memberikan harapan pada kak Bianca?" tanya Luna memotong ucapan Bara.
"Aku..... tidak memberikannya harapan apapun, aku hanya..... memintanya untuk menungguku kembali, hanya itu saja," jawab Bara.
Luna tersenyum dengan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Bara.
__ADS_1
"Tolong jangan salah paham Luna, aku sudah tidak menyukai Bianca sejak aku dekat denganmu, aku juga sudah menjelaskan padanya jika aku... menyukaimu," ucap Bara.
"Apa kak Bara sungguh menyukai Luna?" tanya Luna yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bara.
"Kak Bara pasti tau jika selama ini kak Bianca menunggu kak Bara, kak Bara juga pasti tau jika selama ini Luna menyukai kak Bara karena sudah berkali-kali Luna mengatakannya dengan jelas, tapi kenapa kak Bara tidak memberikan kejelasan apapun pada kak Bianca ataupun Luna?"
"Aku sedang menunggu waktu yang tepat Luna, dulu aku ingin memberi tahu Bianca jika aku menyukainya setelah aku menyelesaikan kuliahku dan tiba-tiba kau datang mendekatiku, sekarang aku memang menyukaimu tapi setidaknya aku harus mendapatkan jabatan yang baik di tempatku bekerja sebelum aku menyatakan perasaanku padamu," jelas Bara.
"Dan jika tiba-tiba ada yang mendekati kak Bara di tempat kerja, apa kak Bara juga akan melupakan Luna seperti kak Bara melupakan kak Bianca?" tanya Luna.
"Kenapa kau bertanya seperti aku, aku....."
"Lupakan saja kak, anggap Luna hanya angin lalu di hidup kak Bara, mulai sekarang kita jalani hidup kita masing-masing tanpa saling mengenal lagi," ucap Luna memotong ucapan Bara lalu segera beranjak dari duduknya dan berjalan pergi begitu saja.
Barapun segera beranjak dan mengejar Luna lalu meraih tangan Luna saat Luna masih berada di depan restoran.
"Apa maksudmu Luna? kenapa tiba-tiba kau berbicara seperti itu? apa kau marah karena masa laluku dengan Bianca? percayalah padaku Luna, itu hanya masa lalu dan aku sudah benar-benar tidak menyukai Bianca lagi sekarang!"
"Apa kak Bara tidak sadar jika ucapan kak Bara itu semakin menunjukkan betapa brengseknya kak Bara!" balas Luna dengan menarik tangannya dari Bara.
"Luna, kau......"
"Kak Bara tidak bisa menyukai perempuan dan memberikan harapan padanya lalu meninggalkannya begitu saja hanya karena ada perempuan lain yang mendekati kak Bara," ucap Luna memotong ucapan Bara.
"Tapi kau yang selalu menggodaku Luna!" ucap Bara
"Menggoda? apa serendah itu Luna di mata kak Bara? Luna memang mendekati kak Bara dengan terang-terangan dan mengatakan pada kak Bara secara jelas bagaimana Luna sangat menyukai kak Bara, tapi Luna tidak akan pernah melakukan hal itu jika Luna mengetahui hubungan kak Bara dengan kak Bianca!" ucap Luna yang mulai emosi.
"Apapun itu yang pasti aku dan Bianca sudah tidak ada hubungan apapun, lagi pula dia juga sudah menikah dengan Arga, sekarang hanya ada aku dan kau Luna, aku tidak akan menunggu lagi, aku akan menyatakan perasaanku padamu dengan bersungguh-sungguh kali ini," ucap Bara.
"Sayangnya Luna sudah tidak menyukai kak Bara lagi," balas Luna dengan tersenyum tipis.
"Tidak, kau pasti ingin aku memperjuangkanmu bukan? aku akan melakukannya, sekarang waktunya bagiku untuk berusaha mendekatimu setelah dulu kau yang selalu mendekatiku," ucap Bara.
"Kak Bara jangan melakukan hal bodoh lagi, mengkhianati kak Bianca adalah hal paling bodoh yang kak Bara lakukan, jadi lebih baik kak Bara introspeksi diri kak Bara agar berhenti menyakiti perempuan-perempuan yang menyukai kak Bara," ucap Luna dengan tegas lalu berlari pergi.
"Lepaskan kak!" ucap Luna sambil berusaha menarik tangannya tapi Bara semakin erat mencengkeram tangan Luna.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi Luna, mulai sekarang aku akan terus memperjuangkanmu dan aku yakin tidak akan sulit bagiku untuk membuatmu kembali padaku," ucap Bara.
"Itu tidak akan pernah terjadi, lupakan Luna dan jangan pernah menemui Luna lagi atau kak Bara akan benar-benar menyesal," balas Luna yang tidak berhenti untuk berusaha menarik tangannya dari Bara, membuat Bara semakin kuat mencengkram tangan Luna.
"Jika kak Bara tidak melepaskan Luna, Luna akan berteriak sekarang!" ucap Luna mengancam.
Seketika Bara melepaskan tangan Luna dan dengan cepat Luna menghentikan taksi yang kebetulan lewat saat itu.
Lunapun segera meminta sang supir taksi untuk segera pergi. Di dalam taksi, Luna memperhatikan pergelangan tangannya yang tampak kemerahan saat itu.
"Menyedihkan sekali hidupku," ucap Luna dalam hati dengan tersenyum tipis sambil menghapus air mata dari kedua sudut matanya.
"Tolong berhenti di taman depan pak," ucap Luna pada si supir taksi.
Tak lama kemudian taksi berhenti di taman. Dengan langkahnya yang tak bersemangat, Luna membawa dirinya berjalan memasuki area taman seorang diri, tanpa dia tau jika ada seseorang yang melihatnya saat itu.
Luna duduk di salah satu bangku taman tanpa ada penerangan di sekitarnya. Luna sengaja memilih tempat itu karena ia tidak ingin jika ada orang lain yang melihatnya menangis.
Luna juga sengaja untuk tidak pulang ke rumah karena tidak ingin membuat orang tuanya khawatir jika melihatnya bersedih.
Luna duduk dengan menundukkan kepalanya, menangis dalam diam dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba seorang laki-laki berdiri di depan Luna, Luna yang merasakan kehadiran seseorang di hadapannya segera mengangkat kepalanya dan begitu terkejut saat ia melihat siapa yang ada di hadapannya saat itu.
"Kakak....."
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Arga dengan menatap sang adik yang tampak tidak baik-baik saja saat itu.
Luna hanya menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya.
"Duduklah!" ucap Arga sambil menekan kedua bahu Luna agar kembali duduk.
"Kenapa kakak bisa ada disini? apa kakak bersama kak Bianca?" tanya Luna berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya dari Arga.
"Kakak sendirian, kakak melihatmu keluar dari taksi dan berjalan kesini sendirian, jadi kakak mengikutimu, sudah kakak duga, pasti terjadi sesuatu," jawab Arga sambil membawa dirinya duduk di samping Luna.
"Tidak terjadi apa-apa pada Luna kak, Luna hanya ingin duduk disini," ucap Luna.
"Kakak sangat mengenalmu Luna, meskipun kita tidak tinggal bersama tetapi kakak sangat tahu bagaimana kebiasaanmu yang selalu menyembunyikan kesedihanmu dari semua orang," ucap Arga.
Luna menghela nafasnya panjang lalu membawa pandangannya pada Arga.
"Apa Luna boleh menangis kak?" tanya Luna dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Arga kemudian menggeser posisi duduknya dan membawa Luna ke dalam dekapannya.
"Kau sama persis seperti Bianca, kalian berdua selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan semua orang, kalian menganggap menangis adalah hal yang salah padahal itu sama sekali tidak benar," ucap Arga.
Luna hanya diam, ia menumpahkan kesedihannya dalam dekapan Arga.
"Jika kau tidak bisa menceritakan masalahmu pada mama dan papa, kau bisa menceritakannya pada kakak Luna," ucap Arga.
"Apa kakak sangat mencintai kak Bianca?" tanya Luna yang sudah melepaskan dirinya dari dekapan Arga.
"Tentu saja, kenapa kau bertanya seperti itu?" balas Arga.
"Luna sudah mendengarnya dari mama dan kak Daffa bagaimana kakak sangat mencintai kak Bianca, tapi bagaimana jika kak Bianca tidak mencintai kakak? atau mungkin kak Bianca lebih menyukai laki-laki lain?"
"Semua orang memiliki masa lalu Luna, kakak menerima semua masa lalu Bianca dan Bianca juga menerima semua masa lalu buruk kakak, sekarang kakak dan Bianca sudah sama-sama melupakan masa lalu kita dan menjalani hidup kita dengan bahagia, itu yang kakak percaya," ucap Arga.
"Termasuk masa lalu kak Bianca dengan kak Bara?" tanya Luna yang membuat Arga begitu terkejut.
"Luna sudah mengetahui semuanya kak," ucap Luna.
"Apa yang kau ketahui Luna?" tanya Arga.
"Sebenarnya nama 'Bianca' tidak asing buat Luna karena Luna sering melihat nama itu menghubungi kak Bara saat kita masih di luar negeri, Luna sempat terkejut saat mendengar nama istri kak Arga 'Bianca', tapi Luna berusaha berpikir positif karena pasti pemilik nama itu tidak hanya satu orang," ucap Luna.
"Tapi Luna mulai curiga saat pertama kali kak Bara bertemu dengan kak Bianca saat kita makan malam, mereka terlihat sama-sama terkejut saat itu, apa lagi kak Bianca tiba-tiba harus pulang," lanjut Luna.
"Kau jangan salah paham Luna, kakak bisa jelaskan semuanya padamu," ucap Arga.
"Apa yang akan kakak jelaskan pada Luna? Luna sudah mendengar sendiri dari kak Bianca dan kak Lola saat kita berada di kafe, jadi Luna sudah tau bagaimana hubungan kak Bara dan kak Bianca di masa lalu," ucap Luna.
"Atau mungkin kak Arga mau memberi tahu Luna tentang kontrak kesepakatan kak Arga dan kak Bianca? tentang uang 50 miliar yang kak Arga berikan pada kak Bianca jika kak Bianca bersedia menikah dengan kakak!" lanjut Luna yang membuat Arga semakin terkejut.
"Sejauh mana yang kau tau Luna? apa kau memberi tahu hal itu pada orang lain?"
"Luna tidak sengaja menemukan kontrak kesepakatan itu di ruang kerja kakak saat kakak mengunci Luna disana, tapi setelah mendengar dan melihat semuanya Luna mengerti jika sekarang kak Arga dan kak Bianca saling mencintai, kakak tidak perlu khawatir, Luna akan menjaga rahasia ini selamanya," jelas Luna.
"Lalu, apa sekarang kau marah pada Bianca karena hubungannya dengan Bara di masa lalu?" tanya Arga.
"Tentu saja tidak, justru Luna bersyukur karena kak Bianca tidak bersama kak Bara, karena kak Bara bukan laki-laki yang baik," jawab Luna.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Arga.
"Luna sudah mengakhiri semuanya, Luna sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan kak Bara, Luna ingin melupakannya dan membuangnya jauh-jauh dari hidup Luna," jawab Luna dengan menundukkan kepalanya dan segera menghapus air matanya yang tumpah begitu saja.
"Kau berhak bahagia Luna, bukan bersama Bara, tapi bersama laki-laki yang akan mencintaimu dengan tulus, kakak yakin kau pasti akan segera bertemu laki-laki yang akan memberi banyak kebahagiaan dalam hidupmu," ucap Arga sambil menarik Luna ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Maafkan Luna kak, maaf karena kedatangan Luna membawa masalah dalam hidup kakak dan kak Bianca," ucap Luna dengan terisak.
"Tidak Luna, kau sama sekali tidak bersalah," balas Arga yang semakin erat memeluk sang adik.