Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Pulang Berlibur


__ADS_3

Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan masuk dari Lola.


"Mengganggu saja!" Gerutu Bianca lalu menerima panggilan Lola.


"Halo, ada apa?" Tanya Bianca setelah ia menggeser tanda panah hijau di ponselnya.


"Apa aku mengganggumu? Sepertinya kau sedang sibuk berbulan madu, kau bahkan tidak sempat mengabariku sama sekali!"


"Apa maksudmu, siapa yang sedang berbulan madu?"


"Tentu saja kau dan Arga, kalian tidak tidur dalam satu kamar bukan? Apa jangan jangan..... Kalian....."


"Lola stop, apa maksud ucapanmu? Aku dan Arga tidak sedang berbulan madu!" Ucap Bianca memotong ucapan Lola.


"Kau tidak bisa menyembunyikannya dariku Bianca, hampir semua media memberitakan keromantisanmu dengan Arga di Bali," ucap Lola yang membuat Bianca begitu terkejut.


"Apa kau serius Lola?" Tanya Bianca tak percaya.


"Tentu saja serius, dari mana aku tahu jika kau sedang berada di Bali jika bukan dari media, kau bahkan tidak memberi tahuku sama sekali, sepertinya kau mulai melupakanku!"


"Bukan begitu Lola, Arga tiba tiba saja mengajakku pergi, aku tidak tau jika dia mengajakku ke Bali, semuanya serba tiba tiba dan aku lupa mengabarimu, maafkan aku!" Ucap Bianca.


"Tidak perlu minta maaf, aku senang kau bisa pergi ke tempat yang sangat ingin kau datangi dari dulu, akhirnya kau bisa menikmati udara Bali Bianca!" Balas Lola.


"Jika aku bisa disini bersama kak Bara pasti rasanya lebih menyenangkan," ucap Bianca.


"Selesaikan dulu hubunganmu dengan Arga, baru kau bisa memikirkan kak Bara!" Balas Lola yang membuat Bianca terkekeh.


"Aku harus pergi, jaga dirimu baik baik disana, selamat menikmati bulan madumu Bianca hahaha....."


Panggilan berakhir, Bianca hanya tersenyum tipis lalu membuka media sosialnya.


Benar saja, banyak media yang memberitakan tentang dirinya dan Arga. Meskipun ia dan Arga tidak pernah membuat statement "bulan madu", tetapi hampir semua media menyebut jika kebersamaan mereka di Bali adalah untuk berbulan madu.


Bahkan ada beberapa foto dan video yang menunjukkan kedekatannya dengan Arga. Dari foto dan video itu, semua orang akan berpikir jika ia dan Arga adalah pasangan suami istri yang penuh cinta dan bahagia.


Tanpa mereka tau jika semua itu hanyalah kebohongan belaka. Bianca kemudian melihat komentar para warganet dan tidak sedikit dari mereka yang iri melihat kebersamaan Bianca dengan Arga.


Mereka menyebut Bianca adalah perempuan yang beruntung karena bisa mendapatkan Arga.


"Ternyata ini tujuannya," ucap Bianca dengan tersenyum tipis.


"Memang hubungan kita hanya sebatas kontrak pernikahan, seperti yang dia katakan, apapun yang dia lakukan hanya karena kontrak yang sudah kita sepakati," ucap Bianca dengan menghela nafasnya panjang.


"Bianca!" Panggil Arga dengan melambaikan tangannya, membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga yang masih berada di tepi pantai.


Bianca kemudian menaruh ponselnya di dalam tas kemudian berjalan ke arah Arga.


"Apa kau tidak ingin mencobanya?" Tanya Arga sambil menepuk papan selancarnya.


"Tidak," jawab Bianca.


"Ayolah, ini menyenangkan," ucap Arga berusaha membujuk Bianca.


"Aku lelah Arga, aku lelah mengikuti semua permainanmu," batin Bianca dalam hati.


"Aku akan menunggumu disana saja!" Ucap Bianca lalu berjalan pergi.


Arga kemudian keluar dari air dan berjalan mengikuti Bianca.


"Ada apa? Apa kau bosan?" Tanya Arga yang melihat raut wajah Bianca yang tampak masam.


"Tidak, apa kau tau jika media sekarang sedang memberitakan kita?" Jawab Bianca sekaligus bertanya.


"Waahhh secepat itu rupanya, aku sudah menduganya, tapi aku tidak tau jika akan secepat ini," balas Arga.


"Mereka berpikir jika kita sedang berbulan madu disini, apa kau tidak masalah dengan hal ini?"


"Tidak, biarkan saja mereka mengatakan apa yang mereka pikirkan tentang kita, asalkan itu bukan hal yang buruk dan tidak merugikanku, maka itu bukan masalah buatku," jawab Arga.


Bianca hanya tersenyum tipis lalu membawa dirinya duduk di atas pasir pantai.


"Apa kau terganggu dengan hal itu?" Tanya Arga.


"Aku hanya merasa tidak nyaman, seperti selalu ada yang mengawasiku sekarang, mereka tidak tahu apapun tentangku tapi mereka bebas mengatakan apapun hanya dari apa yang mereka lihat," jawab Bianca.


"Mereka tidak akan mengatakan hal buruk tentangmu Bianca, aku dan papa sudah bekerja sama dengan seluruh media di negara ini, mereka tidak akan berani untuk membuat berita buruk tentang keluargaku, termasuk tentangmu," ucap Arga.


"Waaahhh... Rupanya kau bisa mengendalikan banyak hal dengan uangmu yang sangat banyak itu!"


"Ini bukan hanya soal uang Bianca, tapi bisnis, asalkan sama sama menguntungkan dan tidak ada yang dirugikan maka tidak ada yang tidak bisa aku lakukan!" Ucap Arga.

__ADS_1


Bianca hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Pandangan matanya tertuju pada ombak yang bergulung tanpa henti.


Kini ia mengerti, banyak mata yang mulai memperhatikannya, membuatnya semakin terhimpit pada dunia baru yang dimasukinya.


Ia tidak bisa melangkah sesuka hatinya, karena ia bukan lagi Bianca yang penuh kebebasan seperti dulu.


Ia sekarang adalah Bianca, istri seorang laki laki yang memiliki kekuasaan besar bahkan atas diri Bianca sendiri.


"Aku sudah menjual kebebasanku pada Arga, hanya untuk dua tahun, aku yakin ini akan cepat berlalu," ucap Bianca dalam hati


"Apa yang sedang kau pikirkan Bianca?" Tanya Arga yang melihat Bianca hanya diam menatap ombak.


"Apa aku akan selalu menghabiskan hari hariku di dalam rumah selama aku menjadi istrimu?" balas Bianca bertanya.


"Tentu saja tidak, kau bisa pergi keluar rumah, kau bisa kemanapun kau mau asalkan kau bisa menjaga nama baikku dan keluargaku, kau pasti tau apa yang boleh dan tidak boleh kau lakukan bukan?"


"Aku tau, karena aku sekarang hidup di duniamu, jadi aku harus berusaha untuk bisa beradaptasi dengan duniamu yang sangat berbeda denganku," ucap Bianca.


"Aku tidak akan mengekang kehidupanmu Bianca, aku hanya ingin kau lebih berpikir jika kau ingin melakukan sesuatu, karena seperti yang kau tau banyak mata yang akan selalu memperhatikanmu," ucap Arga.


"Iya aku mengerti," balas Bianca.


"Pak Dodi akan selalu mengantar kemanapun kau pergi, aku harap kau tidak akan membuat pak Dodi kesusahan," ucap Arga.


"Aku sudah meminta maaf pada pak Dodi atas apa yang terjadi saat ulang tahun Lola, aku juga minta maaf padamu karena aku tidak berpikir jauh saat itu," ucap Bianca.


"Lupakan saja, asalkan kau tidak akan melakukannya lagi," balas Arga.


"Aku mengerti," ucap Bianca dengan menganggukkan kepalanya.


"Nikmati saja waktu dua tahun ini Bianca, anggap ini adalah pekerjaan baru yang membuatmu kehilangan kebebasanmu untuk sementara, setelah kontrak kita berakhir, kau akan bisa kembali pada kehidupanmu yang sebelumnya," ucap Arga.


"Bagaimana denganmu? apa yang akan terjadi setelah kontrak pernikahan kita selesai?" tanya Bianca.


"Aku? aku akan mendapatkan kembali apa yang sedang aku usahakan," jawab Arga dengan tersenyum menatap ombak yang datang silih berganti.


Bianca hanya diam meskipun ia tidak mengerti maksud dari ucapan Arga.


Waktupun berlalu, tiba saatnya untuk Bianca dan Arga meninggalkan Bali. Tepat pada jam 9 malam, Arga dan Bianca sudah sampai di rumah tempat tinggal mereka.


Tanpa banyak berbasa basi, Bianca dan Arga masuk ke kamar mereka masing masing. Bianca segera mandi sebelum ia menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya.


Setelah ia berbaring, kedua matanya menatap laptop yang baru saja Arga belikan untuknya.


"Aku tidak mengerti, apakah aku beruntung atau tidak," ucap Bianca.


Malam telah berlalu, berganti pagi yang datang bersama sinar mentari. Seperti biasa, Bianca berjalan ke dapur setelah ia bangun dari tidurnya.


"Apa Arga sudah berangkat bi?" tanya Bianca pada bibi yang ada di dapur.


"Sudah non, sekitar 10 menit yang lalu," jawab bibi.


Bianca kemudian kembali masuk ke kamarnya, mandi dan berganti pakaian lalu mengambil laptopnya, berniat untuk kembali sibuk dengan websitenya di ruang baca.


Namun sebelum Bianca menaiki tangga ke lantai dua, ia mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya.


Bianca kemudian membawa langkahnya ke arah pintu utama rumahnya dan mendapati Nadine yang sedang berjalan ke arahnya.


"Selamat pagi sayang," sapa Nadine lalu mencium pipi kanan dan kiri Bianca.


"Pagi ma, apa mama mencari Arga?"


"Tidak, mama kesini karena memang ingin bertemu denganmu," jawab Nadine.


"Apa mama mengganggumu?" lanjut Nadine bertanya saat ia melihat Bianca yang sedang membawa buku dan laptop.


"Tidak, silakan masuk ma," jawab Bianca.


Nadine kemudian masuk ke dalam rumah bersama Bianca.


"Mama segera datang kesini setelah mama tau kau dan Arga sudah kembali dari Bali," ucap Nadine.


"Aahh iya, Bianca membeli sesuatu untuk mama dan papa," ucap Bianca lalu mengambil sebuah paper bag dan memberikannya pada Nadine.


"Waahhh, tas rajut dan dompet, terima kasih sayang," ucap Nadine yang kembali mencium pipi Bianca.


"Memang bukan sesuatu yang mahal, tapi Bianca harap mama dan papa menyukainya," ucap Bianca.


"Tentu saja mama sangat menyukainya, ini akan menjadi salah satu barang berharga mama, kau tau bukan berharga atau tidaknya suatu barang itu tidak dinilai dari harganya!"


Bianca menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum. Ia senang karena mama Arga tampak menyukai barang pemberiannya mesikpun itu bukan sebuah barang yang mahal.


"Bagaimana liburanmu bersama Arga sayang?" tanya Nadine penasaran.

__ADS_1


"Menyenangkan ma, Arga bahkan menyiapkan makan malam romantis disana," jawab Bianca.


"Mama senang sekali mendengarnya, mama selalu berdoa agar Tuhan selalu menjaga hubungan kalian berdua," ucap Nadine.


Setelah beberapa lama mengobrol, Nadinepun pulang. Sedangkan Bianca melanjutkan rencana awalnya yang ingin menulis artikel barunya di ruang baca.


Waktupun berlalu, Bianca mulai bosan. Bianca kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi Lola.


"Kau dimana?" tanya Bianca setelah Lola menerima panggilannya.


"Aku di kampus, ada apa?"


"Aku ingin bertemu denganmu, kapan kau pulang?"


"Mungkin 30 menit lagi," jawab Lola.


"Aku akan datang ke tempat kosmu saja, kau cepatlah pulang!" ucap Bianca.


Bianca kemudian bersiap-siap lalu meminta pak Dodi untuk mengantarnya pergi ke tempat kos Lola.


Sesampainya disana tentu saja tidak ada Lola, karena Lola masih berada di kampus. Tiba tiba pak Dodi memberi tahu Bianca jika ia harus segera pergi karena orang tuanya tiba tiba dilarikan ke rumah sakit.


Biancapun mengizinkan pak Dodi untuk pergi dengan menggunakan mobil yang dibawanya. Alhasil, Bianca hanya duduk sendiri di depan tempat kos Lola.


"Sepi sekali, pasti semua orang sedang sibuk bekerja ataupun kuliah!" ucap Bianca yang merasa tidak ada kehidupan selain dirinya di tempat itu.


Tiba tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan Bianca. Beberapa orang pria kemudian keluar dari dalam mobil dan segera menghampiri Bianca.


"Ada apa? siapa kalian?" tanya Bianca yang sedikit gugup.


"Jangan banyak bertanya, masuk ke dalam mobil sekarang juga atau kita akan memaksamu dengan kekerasan," jawab salah satu pria itu.


"Baiklah, tidak perlu ada kekerasan di antara kita," balas Bianca lalu beranjak dari duduknya.


Saat Bianca akan masuk ke dalam mobil, dengan cepat Bianca menginjak kaki salah satu pria itu, membuat Bianca memiliki celah untuk kabur.


Karena terlalu panik, tanpa sadar Bianca berlari ke arah gang sempit yang jauh dari keramaian.


"Bodoh sekali, kenapa aku malah lari kesini!" ucap Bianca merutuki kebodohannya sendiri.


Sedangkan para pria itu berlari mengejar Bianca.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? apa aku harus menghubungi Arga?" tanya Bianca pada dirinya sendiri sambil berlari.


"Aku tidak punya pilihan lain," ucap Bianca kemudian mencari nama Arga di penyimpanan kontaknya.


Panggilan terhubung, namun Arga belum juga menerima panggilan Bianca.


"Ayolah Arga, cepatlah... "


"Halo Bianca, ada apa?"


Bianca bernapas lega setelah Arga menerima panggilannya.


"Arga, aku......"


"Kena kau sekarang!" ucap seorang pria yang sudah menunggu Bianca di ujung gang sempit itu.


Bianca kemudian menoleh ke belakang dan beberapa pria lainnya sudah berdiri di belakangnya.


"Siapa kalian? apa masalah kalian denganku?" tanya Bianca dengan memegang ponselnya yang masih terhubung dengan Arga.


"Masalahmu dengan bos kita, kita disini hanya menjalankan tugas untuk membawamu padanya," jawab salah satu pria itu.


"Memangnya siapa bos kalian?" tanya Bianca yang berusaha mencari celah untuk kembali kabur.


"Kau tidak perlu tahu, sekarang cepat masuk ke dalam mobil jika kau tidak ingin aku memaksamu!"


"Maaf, tapi aku tidak suka dipaksa dan aku tidak suka masuk ke dalam mobil orang yang tidak aku kenal," ucap Bianca kemudian menendang bagian bawah salah satu pria di dekatnya.


Bianca kemudian berlari, namun dengan cepat salah satu pria lain berhasil menangkapnya.


"Lepaskan aku, tooloooong!!!" teriak Bianca sambil meronta.


Namun dengan cepat salah satu pria itu membungkam Bianca dengan kain yang sudah diberi obat bius sebelumnya, membuat Bianca seketika kehilangan kesadarannya dan ponsel yang dibawanyapun terjatuh.


Para pria itu kemudian membawa Bianca masuk ke dalam mobil, membiarkan ponsel Bianca yang masih tergeletak dan tersambung dengan Arga.


"Bianca..... cepat jawab Bianca.... kau dimana? apa yang terjadi padamu?" tanya Arga yang begitu panik saat ia mendengar suara para pria yang mengancam Bianca, terlebih saat Arga mendengar suara teriakan Bianca yang meminta tolong.


Arga kemudian menghubungi pak Dodi untuk menanyakan pada pak Dodi keberadaan Bianca.


"Dimana pak Dodi sekarang? apa pak Dodi bersama Bianca?"

__ADS_1


"Saya baru saja mengantar non Bianca ke tempat kos temannya dan saya sekarang sedang berada di rumah sakit karena ibu saya tiba tiba masuk rumah sakit," jawab pak Dodi.


"Sial!" ucap Arga panik kemudian mengakhiri panggilannya pada pak Dodi begitu saja.


__ADS_2