Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Salju Pertama


__ADS_3

Bianca masih duduk di tempatnya, memperhatikan pasangan yang sedang bermesraan di bawah lampu temaram malam.


Bianca tiba-tiba teringat Arga. Ia mengkhawatirkan Arga yang sendirian di ruangannya saat itu.


"Sepertinya aku terlalu berlebihan menanggapi candaannya, bagaimanapun juga aku harus menemaninya, dia juga terluka karenaku," ucap Bianca kemudian beranjak dari duduknya.


Bianca membawa langkahnya kembali masuk ke ruangan Arga. Saat ia baru saja membuka pintu, terlihat Arga yang masih terbaring dengan pandangannya ke arah pintu.


Bianca berusaha mengalihkan pandangannya, berusaha menjaga sikapnya agar tidak bersikap berlebihan pada Arga.


"Kau masih marah padaku?" tanya Arga yang membawa pandangannya mengikuti Bianca yang duduk di sofa kecil yang ada disana.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap layar ponselnya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu kesal, aku hanya merasa bersalah karena sudah membuat liburan kita berantakan," ucap Arga.


Bianca hanya diam. Ia mendengarkan semua yang Arga katakan, tetapi ia mencoba untuk tidak mempedulikannya, ia menemani Arga hanya untuk memastikan jika Arga baik-baik saja.


"Bianca, tolong jangan seperti ini, aku....."


"Tidurlah Arga, ini sudah malam," ucap Bianca memotong ucapan Arga


"Aku tidak akan tidur jika kau masih marah padaku," ucap Arga.


"Terserah, aku tidak peduli," balas Bianca yang masih fokus dengan ponselnya meskipun sebenarnya ia hanya membuka tutup folder di galeri ponselnya.


Arga menghela nafasnya panjang. Tak lama kemudian Arga tersenyum tipis karena mendapatkan ide yang bisa membuat Bianca mendekat padanya.


Dengan menahan sakit di bagian samping perutnya, Arga berusaha untuk beranjak dari posisinya yang berbaring.


Arga sedikit merintih yang tentu saja membuat Bianca segera membawa pandangannya pada Arga.


"Apa yang kau lakukan Arga?" tanya Bianca sambil membawa langkahnya ke arah Arga.


"Aku hanya ingin duduk bersamamu," jawab Arga.


"Apa kau gila? dokter sudah melarangmu untuk banyak bergerak, diamlah di atas ranjang jika kau ingin segera keluar dari rumah sakit!" ucap Bianca kesal.


Bianca kemudian membantu Arga untuk kembali berbaring, meskipun ucapannya terdengar kesal, tetapi sebenarnya Bianca mengkhawatirkan Arga saat itu.


"Tetaplah disini Bianca, jangan meninggalkanku," ucap Arga dengan menggenggam tangan Bianca.


Bianca segera menarik tangannya lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang Arga.


"Tidurlah!" ucap Bianca.


"Kau tidak akan pergi bukan?" tanya Arga memastikan.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Argapun bisa bernafas lega lalu memejamkan matanya, bersiap untuk tertidur.


Entah kenapa keberadaan Bianca di sampingnya membuatnya tenang. Untuk beberapa saat ia tidak ingin terlalu memikirkan apa yang sedang terjadi pada dirinya dan hatinya.


Ia hanya membiarkan dirinya mengikuti kata hatinya dan hatinya berkata untuk selalu ada di dekat Bianca.


Bersama Bianca, Arga menjadi sosok yang sangat berbeda, bahkan ketika ia bersama Karina. Bersama Bianca, Arga merasa lebih bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus mengkhawatirkan banyak hal seperti saat ia bersama Karina.


Entah karena Bianca yang tidak pernah menuntut apapun darinya atau karena ia merasa sudah nyaman dengan Bianca.


Tapi yang pasti, kebersamaan Arga dan Bianca kini sudah tidak seperti saat mereka pertama bertemu.


Ada getaran dalam hati yang terkadang memberikan rasa gugup, ada detakan dalam dada yang tiba-tiba membuat nyaman satu sama lain.


Namun Bianca dan Arga seolah mengabaikan hal itu, mengingat jika hubungan mereka hanya sebatas kontrak pernikahan.


**


Hari-hari telah berlalu, tiba hari dimana Arga diperbolehkan meninggalkan rumah sakit oleh dokter.


Saat berada di rumah sakit, Arga sudah menyelesaikan masalah mobil yang rusak, ia juga memastikan orang yang bekerja atas perintah sang mama tidak memberi tahu tentang keadaan Arga pada sang mama.


"Kau tidak boleh terlalu banyak beraktivitas Arga, ingat kata dokter!" ucap Bianca saat ia dan Arga berjalan keluar dari rumah sakit.


"Kita sedang berlibur Bianca, bagaimana mungkin aku tidak banyak beraktivitas!" protes Arga.


Bianca menghentikan langkahnya, menatap Arga dengan tatapan tajam yang membuat Arga akhirnya mengiyakan ucapan Bianca.


"Oke baiklah, aku tidak akan banyak beraktivitas, tapi bukan berarti aku hanya berbaring di ranjang bukan?"


"Kita bisa berjalan-jalan di dekat hotel," balas Bianca.


"Kita juga bisa pergi ke tempat lain Bianca, aku sudah meminta seseorang menyiapkan mobil untuk kita," ucap Arga.

__ADS_1


"Kau tidak diperbolehkan untuk mengendarai mobil Arga, kau....."


"Ada supir yang akan mengendarainya," ucap Arga memotong ucapan Bianca lalu menggandeng tangan Bianca dan membawanya pada seseorang yang sudah menunggunya.


Arga kemudian memperkenalkan seseorang itu pada Bianca, seseorang yang akan mengantar kemanapun Arga dan Bianca pergi selama mereka berada di Tokyo.


"Sepertinya kau terlalu berlebihan Arga, lagi-lagi kau menghamburkan uangmu untuk sesuatu yang tidak penting," ucap Bianca saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Ini penting Bianca, bukankah kau bilang aku tidak boleh mengendarai mobil?"


"Tapi bukan berarti harus menggunakan supir Arga, kita....."


"Bianca, dengarkan aku," ucap Arga memotong ucapan Bianca sambil memegang kedua pipi Bianca dan membawanya menghadap padanya.


"Kita disini untuk berlibur, bersenang-senang dan menyimpan memori indah selama kita disini, kita hanya bersama selama 2 tahun Bianca, jadi aku ingin liburan kita berkesan untukmu, setidaknya kau punya memori indah selama kau menjadi istriku," lanjut Arga dengan menatap kedua mata Bianca.


Bianca terdiam untuk beberapa saat lalu melepaskan kedua tangan Arga dari pipinya dan mengalihkan pandangannya.


"Terserah kau saja," ucap Bianca.


"Kau tidak marah bukan? aku hanya ingin memperlakukanmu dengan baik selama kau menjadi istriku!"


Bianca hanya diam tanpa mengatakan apapun, matanya menatap jalanan lengang yang ia lewati.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di hotel. Bianca dan Arga kemudian berjalan masuk ke dalam hotel.


"Beristirahatlah, aku akan memesan makanan untukmu," ucap Bianca kemudian meraih gagang telepon yang ada di meja.


Setelah beberapa lama menunggu, makanan pesanan Biancapun datang. Arga dan Bianca menikmati sarapan mereka di dalam kamar.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Bianca memaksa Arga untuk tetap beristirahat di atas ranjang, meskipun Arga sebenarnya ingin beranjak dari ranjang yang sudah sangat membuatnya bosan.


Berada di atas ranjang selama lebih dari 3 hari tentu saja membuat Arga bosan, tetapi ia terpaksa harus menuruti ucapan Bianca untuk menjaga suasana hati Bianca agar tidak kesal padanya.


"Kau terlihat sibuk sekali," ucap Arga pada Bianca yang tampak sibuk dengan ponselnya.


"Memang, ini penting, jadi jangan menggangguku," balas Bianca.


"Apa kau sedang berkomunikasi dengan Bara?" tanya Arga menerka.


Bianca tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya. Padahal sebenarnya ia sedang menulis artikel saat itu.


"Aku penasaran, seperti apa Bara yang sangat membuatmu tergila-gila padanya itu!" ucap Arga.


**


Waktu berlalu, malam telah tiba. Arga sudah berdiri di depan cermin dengan pakaian tebalnya, sedangkan Bianca masih duduk di atas sofa, menatap Arga yang sudah bersiap untuk keluar dari hotel.


"Apa kau yakin?" tanya Bianca pada Arga.


"Bianca..... aku sudah bersiap-siap seperti ini dan kau masih menanyakan hal itu?" balas Arga kesal.


Bianca hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya. Bianca membawa langkahnya mendekati Arga kemudian merapikan syal yang melingkar di leher Arga.


"Jangan terlalu memaksakan dirimu Arga, bisa menginjakkan kaki disini saja itu sudah hal yang luar biasa untukku," ucap Bianca yang saat itu berdiri sangat dekat dengan Arga.


"Kau..... sangat mengkhawatirkanku?" tanya Arga dengan suara yang terdengar gugup.


Entah kenapa tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang saat Bianca berada di dekatnya, terlebih saat tanpa sengaja tangan Bianca menyentuh lehernya, membuat Arga terdiam dengan perasaan aneh dalam dirinya.


"Tidak hanya mengkhawatirkanmu, aku juga mengkhawatirkan mama dan papamu, mereka pasti akan sangat sedih jika melihatmu seperti ini," ucap Bianca lalu mengambil jaket tebal miliknya dan memakainya.


"Aku baik-baik saja Bianca, tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku, sekarang kita nikmati sisa hari kita disini," ucap Arga lalu meraih tangan Bianca dan menggenggamnya.


Arga menggandeng tangan Bianca keluar dari hotel. Arga sengaja tidak memanggil supir karena mereka hanya akan berjalan-jalan di sekitar hotel.


"Sepertinya malam ini lebih dingin dari biasanya," ucap Bianca saat mereka berdiri di tepi jalan untuk menunggu lampu penyebrangan menyala hijau.


Arga kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Bianca lalu menggosokkan kedua telapak tangannya kemudian menempelkan di kedua pipi Bianca.


"Bagaimana? cukup hangat?" tanya Arga dengan menatap kedua mata Bianca yang hanya terdiam menatap Arga.


Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Mereka bahkan tidak sadar jika lampu penyebarangan sudah menyala hijau, seolah mereka terlalu nyaman dengan dunia mereka sendiri.


Hingga tiba-tiba seseorang tanpa sengaja menabrak Bianca, membuat Bianca begitu terkejut dan seketika menyadarkannya dari lamunannya.


"Hei!" teriak Arga pada seseorang yang menabrak Bianca.


"Sudahlah, biarkan," ucap Bianca sambil menahan Arga yang hendak mengejar seseorang itu.


"Dia tidak berhati-hati Bianca!" ucap Arga.

__ADS_1


"Dia tidak sengaja Arga, kendalikan emosimu," balas Bianca.


Arga menghela nafasnya lalu kembali meraih tangan Bianca dan memasukkannya ke dalam saku jaket tebalnya. Tangan mereka bergandengan di dalam saku jaket tebal Arga.


"Kenapa dari tadi berwarna merah, apa jangan-jangan lampunya sedang bermasalah?" tanya Bianca.


"Bersabarlah Bianca," ucap Arga.


Setelah lampu merah penyeberangan berganti hijau, Bianca dan Argapun berjalan menyebrangi jalan raya yang cukup luas itu.


Mereka kemudian berjalan menyusuri trotoar untuk mencari kedai makanan yang sesuai dengan apa yang Bianca inginkan.


"Apa yang sebenarnya ingin kau makan Bianca? kita sudah melewati beberapa tempat makan tadi," tanya Arga pada Bianca.


"Sesuatu yang bisa menghangatkan badan," jawab Bianca.


"Hampir semua tempat yang kita lewati pasti menyediakan menu semacam itu Bianca, kau...."


"Harganya akan lebih murah jika kita makan di kedai makanan pinggir jalan Arga," ucap Bianca memotong ucapan Arga.


"Hmmm.... baiklah terserah kau saja," balas Arga pasrah.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merakapun sampai di kedai makanan yang Bianca inginkan. Bianca kemudian memesan makanan dan menikmatinya bersama Arga.


"Enak, mengenyangkan, menghangatkan dan yang paling penting tidak mahal," ucap Bianca saat mereka sudah menghabiskan makanan mereka.


"Kau benar, rasanya tidak jauh berbeda dengan yang ada di restoran," balas Arga.


"Sudah ku bilang, aku tidak akan salah mencari tempat makan," ucap Bianca.


"Baiklah, kau memang selalu bisa diandalkan!" balas Arga.


Bianca dan Arga kemudian melanjutkan perjalanan mereka untuk menikmati malam di kota Tokyo.


Sesekali terdengar tawa diantara mereka dua. Candaan ringan dan tingkah konyol Arga membuat suasana malam yang dingin itu menjadi cukup hangat bagi Bianca.


Hanya dengan berjalan-jalan di trotoar jalan raya seperti sudah memberikan banyak energi positif bagi Arga dan Bianca.


Mereka saling bercerita, bercanda dan tertawa.


"Lihat, sepertinya ada sesuatu yang menyenangkan disana!" ucap Bianca sambil menunjuk ke arah kerumunan.


"Itu hanya live musik dari pemusik jalanan Bianca," balas Arga.


"Aku ingin kesana, jika kau tidak suka, pulanglah!" ucap Bianca lalu berjalan ke arah kerumunan diikuti oleh Arga.


Benar saja, di tengah kerumunan itu ada beberapa orang yang memainkan alat musik. Beberapa dari orang yang berkerumun tampak memasukkan lembaran uang ke dalam sebuah kotak yang ada di depan salah satu pemain musik.


Bianca kemudian membawa pandangannya pada Arga dengan tersenyum, seolah memberikan kode pada Arga.


Arga yang mengerti maksud dari senyum Bianca segera mengambil beberapa lembar uang lalu memberikannya pada Bianca.


Bianca kemudian segera memasukkan uang itu ke dalam kotak yang ada di depan salah satu pemusik.


Menyadari jika Bianca menaruh uang dengan nilai yang cukup banyak, para pemusik itupun kompak merubah alunan musik mereka yang sebelumnya ceria menjadi alunan musik yang terdengar romantis.


Salah seorang pemusik itu kemudian mengulurkan tangannya pada Bianca dengan sedikit membungkukkan badannya.


Bianca yang terkejut segera membawa pandangannya pada Arga. Argapun hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan.


Dengan ragu, Bianca menerima uluran tangan pemusik itu. Bukannya mengajak Bianca berdansa, pemusik itu justru menarik tangan Arga kemudian membawa Arga dan Bianca ke tengah kerumunan.


Semua yang ada disanapun bertepuk tangan. Pemusik itu kemudian menempatkan tangan Arga di pinggang Bianca, seolah meminta Bianca dan Arga untuk berdansa.


"Arga, aku tidak bisa, aku malu," ucap Bianca berbisik.


"Tenanglah, nikmati saja, anggap hanya ada kita berdua disini," balas Arga yang kemudian melangkahkan kakinya dengan pelan diikuti oleh langkah Bianca.


Bersama alunan melodi yang indah dan romantis, Arga dan Bianca berdansa dengan banyak pasang mata yang menatap iri pada keromantisan mereka berdua.


Hingga tiba-tiba butiran dingin menyentuh tangan Bianca.


"Salju," ucap Bianca.


"Salju pertama di Tokyo," ucap Arga dengan tersenyum.


Biancapun tersenyum senang. Salju pertama malam itu semakin menambah keromantisan Bianca dan Arga yang membuat seolah dunia hanya milik mereka berdua.


Musik mengalun indah di tengah malam bersama salju pertama yang membuat semua orang bergembira malam itu.


Banyak harapan yang terucap saat salju pertama turun, harapan yang membuat mereka yakin jika apa yang mereka harapkan akan terwujud.

__ADS_1


Salju memang turun setiap tahun di negara 4 musim, namun salju pertama yang turun adalah saat paling sakral bagi sebagian orang yang mempercayainya.


__ADS_2