Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Kecurigaan Nadine


__ADS_3

Arga masih berada di ruangan Lola, menunggu Bianca keluar dari toilet. Setelah beberapa lama menunggu, Biancapun kembali.


"Sudah, kau bisa pulang sekarang!" ucap Bianca pada Arga.


"Baiklah, jangan lupa makan malam dan segera hubungi aku jika terjadi sesuatu," balas Arga diikuti anggukan kepala oleh Bianca.


Setelah Arga keluar, kini kembali hanya ada Bianca dan Lola disana.


"Dia sangat perhatian padamu Bianca," ucap Lola.


"Itu karena aku sangat merepotkan jika sakit," balas Bianca.


"Apa saja yang kalian bicarakan tadi? dia tidak mengatakan sesuatu yang menyebalkan bukan?" lanjut Bianca bertanya.


"Tidak, dia bahkan tidak membicarakan tentang masalahku sama sekali," jawab Lola.


"Dia tau itu hal yang sensitif buatmu Lola, jadi dia tidak ingin membahasnya," ucap Bianca.


"Tapi sepertinya dia sangat kesepian di rumah, jadi sebaiknya kau pulang saja," ucap Lola.


"Kesepian? tidak mungkin, dia bahkan jarang berada di rumah, kalaupun dia rumah, dia hanya akan sibuk di lantai 3, entah di kamar atau di ruang kerjanya," balas Bianca.


"Tapi dia ingin kau pulang Bianca!" ucap Lola.


"Tidak Lola, aku hanya akan pulang saat dokter sudah mengizinkanmu pulang," balas Bianca.


"Kalau begitu katakan pada dokter jika aku sudah baik-baik saja dan ingin pulang," ucap Lola.


"Yang paling tau tentang keadaanmu saat ini adalah dokter, bagaimana mungkin aku mengatakan hal itu pada dokter!" balas Bianca yang membuat Lola menghela nafasnya panjang.


"Kau akan membuat biaya rumah sakit semakin membengkak Bianca!" ucap Lola.


"Aku tidak peduli, Arga yang akan membayarnya," balas Bianca.


"Apa kau mulai memanfaatkan suamimu sekarang?"


"Bukankah memang seharusnya begitu?" balas Bianca lalu tertawa diikuti oleh anggukan kepala dan tawa Lola.


"Arga selalu menghabiskan uangnya untuk sesuatu yang tidak penting, jadi biarkan saja uangnya habis untuk membayar biaya rumah sakit," ucap Bianca.


"Bagaimana dengan uang yang selalu dia berikan padamu? apa kau masih belum memakainya?" tanya Lola.


"Aku belum memakainya sama sekali dan tidak akan pernah memakainya, aku hanya menyimpannya dan akan mengembalikan padanya saat kontrak kesepakatan kita berakhir," jawab Bianca.


"Bukankah seharusnya kau bisa menggunakannya Bianca? bagaimanapun juga Arga memang berkewajiban untuk memberimu nafkah bukan?"


"Bagiku mendapatkan apa yang saat ini aku miliki sudah lebih dari cukup Lola, aku bisa tinggal di tempat yang nyaman, makan apapun yang aku mau dan yang terpenting aku masih bisa menghasilkan uang sendiri, aku tidak membutuhkan uang yang Arga berikan padaku," balas Bianca.


"Apa Arga mengetahuinya?" tanya Lola.


"Entahlah, tapi dia tidak pernah menanyakannya padaku, dia hanya mentransfernya setiap Minggu tanpa dia tau apakah aku menggunakan uang itu atau tidak," jawab Bianca.


"Pasti kau benar-benar akan menjadi kaya raya setelah kau berpisah dengan Arga jika kau menggunakan uang itu!" ucap Lola.


"Aku tidak pernah berpikir seperti itu, lagi pula uang yang aku hasilkan sudah cukup bagiku, setelah aku keluar dari rumah Arga, aku akan mencari tempat kos dan pekerjaan tetap lalu kembali menjadi Bianca yang seperti dulu," balas Bianca dengan penuh senyum.


"Kau tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi nanti Bianca, bisa jadi kau tidak akan pernah keluar dari rumah itu," ucap Lola.


"Kenapa? apa Arga mengurungku disana?"


"Iya, mengurungmu sebagai nyonya Arga hehe...." balas Lola yang membuat Bianca memutar kedua bola matanya.


Di tempat lain, Arga yang sudah berada di rumahnya sedang duduk di balkon lantai dua. Beberapa kali ia tampak menghela nafasnya saat ia menyadari tidak ada Bianca di sampingnya.


"Kenapa aku terus memikirkannya? aku bisa gila jika terlalu lama seperti ini!"


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Arga berdering, sebuah pesan masuk dari Karina.


"Apa kau sedang sibuk?"


Dengan cepat Arga membalas pesan Karina.


"Tidak, apa kau ingin aku menemuimu?"


Tak butuh waktu lama, ponsel Arga kembali berdering karena balasan dari Karina.


"Aku menunggumu di restoran biasa kita bertemu, aku sedang ingin banyak makan makanan enak sekarang!"

__ADS_1


Arga tersenyum tipis lalu membalas pesan Karina.


"Baiklah, aku akan segera mereservasi atas namamu, aku akan segera kesana!"


Dengan penuh semangat Arga kemudian beranjak dari duduknya lalu segera berganti pakaian dan menyambar kunci mobilnya.


Arga segera mengendarai mobilnya ke arah restoran yang sudah ia reservasi atas nama Karina.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Argapun sampai di tempat tujuan. Arga segera membawa langkahnya ke arah salah satu ruangan tertutup yang ada di restoran itu.


Disana sudah ada Karina yang menunggu kedatangannya dengan beberapa menu makanan dan minuman yang ada di atas meja.


"Aku sudah memesan beberapa makanan dan minuman, kau tidak keberatan bukan?" ucap Karina sekaligus bertanya pada Arga.


"Tentu saja tidak, kau memang selalu tau seleraku," balas Arga.


Arga dan Karina kemudian menikmati makan malam mereka berdua dengan sesekali mengobrol dan bercanda.


"Dokter bilang aku tidak boleh menahan sesuatu yang aku suka, termasuk makan makanan ini, ternyata stres juga bisa terjadi karena aku selalu menahan sesuatu yang inginkan," ucap Karina.


"Apa yang sedang kau inginkan Karina?" tanya Arga.


"Mmmm..... entahlah, aku sangat bosan dengan hidupku akhir-akhir ini, apa lagi aku harus diet dan hanya makan makanan yang terbatas," jawab Karina.


"Katakan pada Bian jika apa yang dia inginkan darimu membuatmu stres, jika dia benar-benar mencintaimu, dia pasti akan memintamu untuk berhenti diet," balas Arga.


"Aku sudah pernah mengatakannya tapi dia bilang aku harus tetap melakukannya, bukan demi dia tapi demi diriku sendiri," ucap Karina.


"Itu hanya alasannya saja Karina," balas Arga.


"Sekarang aku hanya akan diet saat aku bersamanya, selama dia tidak ada bersamaku aku akan makan apapun sepuasku," ucap Karina dengan tersenyum diikuti senyum oleh Arga.


"Aaahh iya, bulan depan apa kau bisa mengambil cuti, Arga?" lanjut Karina bertanya.


"Cuti? kenapa?" tanya Arga.


"Aku tidak tau apa aku boleh mengatakan hal ini padamu atau tidak, tapi aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat," jawab Karina.


"Bulan depan mama dan papa mengajak berlibur ke Lombok, jadi aku sudah tidak bisa mengambil cuti lagi untuk hari lain," ucap Arga.


"Aaahh begitu, apa Bianca juga ikut?" tanya Karina.


"Iya, ada aku, Bianca, mama dan papa," jawab Arga.


"Awal bulan depan," jawab Arga.


Karina hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya setelah mendengar semua jawaban Arga.


"Jika aku tidak memiliki istri dan jika kau tidak memiliki tunangan, aku pasti bisa memperbaiki kesalahanku yang dulu Karina, aku pasti akan berusaha untuk memperlakukanmu dengan lebih baik," ucap Arga.


"Tapi pada kenyataannya kita sudah memiliki seseorang yang baru dalam hidup kita," balas Karina.


"Apa itu tidak bisa diubah?" tanya Arga yang membuat Karina segera membawa pandangannya pada Arga.


"Apa maksudmu Arga? pertanyaanmu bisa membuatku salah paham," balas Karina.


"Aku yakin kau mengerti maksudku Karina," ucap Arga.


Karina hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menyeruput minuman miliknya.


"Karina, kau pernah meninggalkanku demi laki-laki lain dan kau membuatku hampir gila saat itu, lalu setelah kau menjalani kehidupanmu bersamanya sebagai seorang tunangan, apa kau merasa lebih bahagia? apa dia lebih baik dari aku? atau kau menyesal karena sudah meninggalkanku?" tanya Arga.


Karina terdiam untuk beberapa saat. Ia lalu membawa pandangannya menatap Arga yang duduk di hadapannya.


"Apa yang pernah terjadi diantara kita adalah masa lalu Arga dan ini adalah jalan pilihanku yang harus aku terima, bahagia atau tidak biar aku sendiri yang merasakannya," ucap Karina.


"Kenapa kau memaksakan dirimu jika kau tidak bahagia dengannya, sedangkan ada laki-laki lain yang bahkan masih berjuang untuk memperbaiki kesalahannya padamu!"


"Apa yang terjadi tidak semudah yang kau pikirkan Arga, aku tidak bisa pergi dari Bian begitu saja, aku sudah memilihnya dan aku akan tetap menjalani hubunganku dengan Bian sampai kita menikah," ucap Karina.


Arga hanya menghela nafasnya panjang lalu menyeruput minuman di hadapannya. Untuk beberapa saat mereka hanya diam dalam kecanggungan sampai akhirnya Karina memutuskan untuk pulang.


"Aku akan mengantarmu," ucap Arga.


Karina hanya menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan itu lebih dulu. Saat Karina baru saja melewati pintu keluar restoran, tiba-tiba Karina menghentikan langkahnya dan segera berlari masuk.


"Ada apa Karina?" tanya Arga yang terkejut melihat sikap Karina yang tampak panik.


"Ada orang tuamu Arga, mereka pasti akan sangat marah jika melihatku bersamamu disini," jawab Karina yang segera membawa langkahnya ke arah toilet.

__ADS_1


Sedangkan Arga masih berdiri di tempatnya dan menatap ke arah pintu masuk restoran, dimana ia melihat mama dan papanya yang baru saja masuk.


"Aku tidak bisa menghindar, bisa jadi mama dan papa sudah melihat mobilku di depan, mereka akan semakin curiga jika mereka tidak melihatku disini," ucap Arga dalam hati.


Arga menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya ia membawa langkahnya menghampiri mama dan papanya.


"Arga, kau disini?" tanya Nadine yang melihat Arga menghampirinya.


"Iya, apa mama dan papa akan makan malam berdua disini?" balas Arga.


"Iya, apa kau mau bergabung?"


"Lain kali saja ma pa, Arga baru saja selesai dan akan pulang," jawab Arga.


"Dimana Bianca? kau kesini bersamanya bukan?" tanya Nadine.


"Tidak, Arga kesini untuk bertemu dengan klien," jawab Arga berbohong.


"Bertemu dengan klien? dengan pakaian seperti ini?" tanya Nadine curiga.


"Sudahlah ma, jangan menanyakan hal yang tidak penting seperti itu, ayo kita cari tempat duduk!" sahut David lalu berjalan masuk untuk mencari tempat duduk.


Sedangkan Arga segera membawa langkahnya menjauh sebelum mama dan papanya mencurigainya.


"Apa menurut papa Arga berbohong?" tanya Nadine pada sang suami saat mereka baru saja duduk.


"Kenapa mama berpikir seperti itu, bukankah mama tau jika papa dulu juga sering menemui klien di restoran!" balas David.


"Tapi tidak mungkin Arga menemui klien dengan pakaian seperti itu pa, mama sangat mengenal Arga," ucap Nadine.


"Sudahlah ma, jangan berburuk sangka pada Arga!" ucap David.


"Mama ke toilet sebentar pa," ucap Nadine lalu beranjak dari duduknya.


Saat Nadine baru saja masuk ke toilet, tepat saat itu Karina baru saja keluar dari toilet. Karina sengaja berdiam di dalam toilet beberapa lama sampai akhirnya Arga meminta Karina untuk keluar.


Arga melihat kedua orang tuanya duduk di tempat yang cukup jauh dari toilet, jadi Arga berpikir itu adalah saat yang tepat bagi Karina untuk keluar, tanpa Arga tahu jika sang mama saat itu sedang ke toilet.


"Karina, kau...."


"Permisi Tante," ucap Karina lalu berjalan pergi, namun Nadine segera menahannya.


"Tunggu dulu, katakan pada tante, siapa yang kau temui disini?" tanya Nadine pada Karina.


"Apa Tante akan marah jika Karina disini untuk bertemu dengan Arga?" balas Karina.


"Kau adalah perempuan yang tidak mempunyai harga diri jika kau terus mengganggu Arga seperti itu Karina!" ucap Nadine.


"Bagaimana jika ternyata Arga yang selalu mengganggu Karina, Tante? apa dia laki-laki yang tidak punya harga diri? dia bahkan sudah memiliki istri!"


"Jaga ucapanmu Karina, kau benar-benar tidak memiliki sopan santun," ucap Nadine yang berusaha menahan emosinya dengan tetap berbicara dengan nada rendah.


"Tante tidak mengenal Karina dengan baik, jadi Karina akan memaafkan jika Tante berbicara sesuatu yang buruk pada Karina," ucap Karina lalu berjalan pergi begitu saja.


Nadine yang penasaran dengan siapa Karina berada di restoran itu segera membawa langkahnya mengikuti Karina.


Namun Nadine hanya melihat Karina yang masuk ke dalam taksi, karena tanpa sepengetahuan Nadine, Karina sudah mengirim pesan pada Arga.


"Aku bertemu dengan Tante Nadine di toilet, seperti biasa Tante Nadine selalu memarahiku, tapi aku tidak mengatakan apapun tentangmu, jadi lebih baik aku pulang dengan menggunakan taksi sekarang!"


Setelah taksi yang dinaiki Karina pergi, Nadinepun segera membawa langkahnya ke arah sang suami menunggunya.


"Mama baru saja bertemu Karina di toilet," ucap Nadine pada sang suami.


"Karina? apa dia kesini bersama Arga?" tanya David.


"Entahlah, tapi mama melihatnya pergi dengan menggunakan taksi," jawab Nadine.


"Mungkin hanya kebetulan saja, mama tidak perlu terlalu memikirkannya," ucap David.


"Mereka membuat mama curiga pa, tidak biasanya Arga menemui kliennya dengan pakaian santai seperti itu dan....."


"Ma, bukankah mama yang paling mengenal Arga? Arga sudah memiliki istri, tidak mungkin dia berselingkuh dari Bianca, Arga tidak akan mungkin menyakiti istrinya dengan sengaja ma, mama tau itu bukan?"


Nadine menganggukkan kepalanya pelan. Arga memang laki-laki yang selalu menunjukkan rasa sayang dan pedulinya pada orang di sekitarnya.


Sejauh yang ia tau, Arga tidak pernah menyakiti perempuan yang dia sayang, apa lagi jika perempuan itu adalah istrinya.


Namun Nadine tidak pernah tau jika apa yang selama ini ada di hadapannya hanyalah kebohongan belaka. Semua yang terjadi antara Bianca dan Arga hanyalah kepalsuan yang Arga ciptakan demi kepentingannya sendiri.

__ADS_1


Entah sebesar apa kekecewaan Nadine saat ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan Bianca dan Arga.


Tapi sebelum itu terjadi, Arga sudah menyiapkan seribu alasan yang akan membuat kedua orang tuanya menerima keputusannya untuk mengakhiri pernikahannya dengan Bianca setelah kontrak kesepakatan mereka berakhir.


__ADS_2