
Waktu berlalu, sampai jam kerjanya telah selesai Arga belum juga bisa mengendalikan pikirannya sendiri, ia tidak bisa fokus mengerjakan semua pekerjaannya.
Meskipun begitu Arga memilih untuk pulang dengan cepat, bukan untuk pergi ke rumah Karina melainkan pulang ke rumahnya untuk bertemu dengan Bianca.
Entah apa yang sebenarnya ia pikirkan, dia hanya ingin segera pulang dan bertemu dengan Bianca.
Saat Arga baru saja keluar dari ruangannya, Daffa segera beranjak dari duduknya dan menahan Arga.
"Berhentilah melakukan hal yang bodoh Arga!" ucap Daffa yang mengira jika Arga akan kembali menemui Karina.
"Dan kau berhentilah ikut campur urusan pribadiku," balas Arga sambil menarik tangannya dengan kasar dari Daffa lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi.
Daffa hanya menghela nafasnya kasar, membiarkan Arga pergi dari hadapannya, sedangkan di sisi lain Arga segera mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Arga segera keluar dari mobilnya dan berjalan cepat memasuki rumahnya.
Arga segera membawa langkahnya ke arah kamar Bianca, mengetuk pintunya beberapa kali namun tidak ada jawaban dari dalam kamar Bianca.
Arga kemudian menaiki tangga dan membawa langkahnya ke arah balkon namun ia juga tidak melihat Bianca disana.
"Kemana kau Bianca? tidak mungkin Daffa memberitahumu yang sebenarnya bukan?" batin Arga bertanya dalam hati dengan panik.
Arga kemudian membawa langkahnya ke arah ruang gym dan masih tidak menepati Bianca disana.
Saat Arga baru saja menutup pintu ruang gym, bersamaan dengan itu Bianca keluar dari ruang baca yang berada di sebelah ruang gym.
"Arga!" panggil Bianca yang terkejut dengan keberadaan Arga.
Arga menghela nafasnya lega melihat Bianca yang berdiri di depan ruang baca. Arga tersenyum lalu membawa langkahnya pelan ke arah Bianca, memegang kedua bahu Bianca lalu memeluknya dengan erat.
"Arga, apa yang kau lakukan?" tanya Bianca sambil meronta, berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Arga.
"Maafkan aku, aku..... aku hanya......"
Arga terdiam dengan menggaruk tengkuknya, ia tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan. Ia tidak mengerti dan tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Apa pekerjaanmu di luar kota sudah selesai?" tanya Bianca.
"Sudah, aku sudah menyelesaikannya," jawab Arga dengan menganggukkan kepalanya.
"Tidak ada masalah bukan?" tanya Bianca memastikan.
"Tidak," jawab Arga dengan menggelengkan kepalanya.
"Baguslah kalau begitu," balas Bianca lalu membawa langkahnya ke arah belakang dengan membawa beberapa buku di tangannya.
Argapun berjalan mengikuti Bianca lalu duduk di balkon bersama Bianca. Seketika Bianca membawa pandangannya pada Arga dengan mengernyitkan keningnya, karena tidak biasanya Arga mengikutinya untuk duduk di balkon, terlebih setelah apa yang baru saja Arga lakukan padanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Bianca pada Arga yang duduk di sampingnya.
"Aku.... hanya ingin duduk, apa aku tidak boleh duduk disini?" balas Arga.
"Kau aneh sekali!" ucap Bianca lalu beranjak dari duduknya, namun Arga segera menarik tangan Bianca agar kembali duduk di sampingnya.
"Arga berhentilah menyentuhku semaumu!" ucap Bianca kesal.
"Kau mau kemana? duduk saja disini!" balas Arga.
"Kau membuatku tidak nyaman, lebih baik aku membaca buku di kamarku saja," ucap Bianca lalu kembali beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan balkon, diikuti oleh Arga yang juga meninggalkan balkon.
"Kau mau kemana? kau tidak akan mengikutiku ke kamar bukan?" tanya Bianca pada Arga yang berjalan di belakangnya.
"Tidak.... aku hanya ingin pergi ke kamar," jawab Arga beralasan.
"Kamarmu di lantai 3 dan kau sedang menuruni tangga lantai 2 sekarang!" ucap Bianca yang membuat Arga tersadar lalu segera berbalik dan berjalan cepat menaiki tangga untuk ke lantai 3.
"Aneh sekali, sepertinya pekerjaan yang membuatnya tertekan sampai dia linglung seperti itu!" ucap Bianca dengan menggelengkan kepalanya pelan menatap Arga yang berlari kecil menaiki tangga.
Bianca kemudian membawa langkahnya masuk ke kamarnya, membaca buku sambil mengerjakan artikel yang harus segera ia selesaikan.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, sebuah panggilan masuk dari Daffa.
"Halo Daffa, maaf karena belum menyelesaikan artikelnya, aku janji besok pagi akan selesai!" ucap Bianca setelah ia menerima panggilan Daffa.
"Aku menghubungimu bukan untuk menanyakan artikel itu, lagi pula deadline-mu masih satu hari lagi," balas Daffa.
__ADS_1
"Aaahhh begitu, lalu kenapa kau menghubungiku? apa ada materi baru yang harus aku kerjakan?" tanya Bianca.
"Ini tentang produk baru di perusahaan, apa kau bisa memberikan review tentang produk baru itu?" balas Daffa bertanya.
"Tentu saja bisa, aku akan me-reviewnya setelah aku menerima produk barunya," jawab Bianca.
"Baiklah kalau begitu, aku akan berkoordinasi dengan pihak marketing agar mereka mengirimkan produknya untukmu, inti materinya akan aku berikan padamu nanti malam," ucap Daffa.
"Berapa lama waktu yang aku miliki untuk bisa mengerjakan review itu?" tanya Bianca.
"Aku membutuhkan artikel review itu siap untuk di posting awal bulan depan, jadi kau masih memiliki waktu lebih dari satu minggu untuk mengerjakan artikelmu," jawab Daffa.
"Oke baiklah, aku akan segera mengerjakannya setelah aku memahami materi dan produk yang sudah dikirimkan," ucap Bianca.
Panggilan berakhir, Bianca kembali fokus untuk mengerjakan artikel yang harus segera ia selesaikan.
Bianca memang bekerja sama dengan beberapa brand yang mempercayainya untuk menuliskan artikel tentang reviewnya pada produk tertentu.
Pada saat Daffa mengetahui hal itu, Daffapun segera meminta bantuan Bianca untuk mengerjakan beberapa artikel dan review produk yang tentunya tanpa sepengetahuan Arga.
Bukan karena Daffa dan Bianca ingin menyembunyikannya dari Arga, tetapi karena Arga yang memang tidak begitu memperhatikan kesibukan Bianca saat Bianca berada di rumah.
Waktupun berlalu, langit senja kini sudah menjadi gelap. Setelah menyelesaikan artikel yang akan ia muat besok pagi, Bianca segera menutup laptopnya lalu membawa langkahnya keluar dari kamar.
Bianca membantu bibi untuk menyiapkan makan malam kemudian menikmati makan malamnya sendiri di meja makan seperti malam-malam sebelumnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Bianca berdering, sebuah pesan masuk dari Daffa.
"Aku sudah mengirim materi ke emailmu, mungkin besok produk itu akan sampai di rumahmu!"
Biancapun membalas pesan Daffa dengan emoticon jempol.
Tak lama kemudian Daffa kembali membalas pesan Bianca dengan stiker lucu yang membuat Bianca terkekeh.
"Sepertinya seru sekali!" ucap Arga yang membuat Bianca terkejut, karena ia tidak menyadari jika Arga sudah berdiri di dekat meja makan.
"Sejak kapan kau berada disana?" tanya Bianca yang segera menaruh ponselnya di atas meja.
"Sejak kau tertawa sendiri," jawab Arga lalu duduk, kemudian mengambil nasi dan lauk untuknya makan malam bersama Bianca.
"Jangan makan sambil tertawa atau kau akan tersedak!" ucap Arga.
"Temanmu itu memang lucu sekali, sepertinya dia mengoleksi banyak stiker lucu di ponselnya," ucap Bianca.
"Teman? siapa?" tanya Arga sambil mengunyah makanannya.
"Daffa," jawab Bianca singkat yang membuat Arga tiba-tiba terbatuk karena tersedak makanannya.
Bianca yang terkejutpun segera mengambil air putih lalu memberikannya pada Arga.
"Makanlah dengan pelan Arga!" ucap Bianca.
Setelah minum dan berusaha untuk menenangkan dirinya, Arga kemudian membawa pandangannya pada Bianca yang masih melanjutkan makan malamnya dengan santai.
"Apa yang baru saja membuatmu tertawa adalah Daffa?" tanya Arga dengan tatapan tajam menatap Bianca.
"Iya, dia mengirim stiker lucu padaku, lihatlah!" jawab Bianca sambil menunjukkan layar ponselnya pada Arga.
"Tidak perlu," balas Arga lalu segera beranjak dari duduknya.
"Arga, kau belum menghabiskan makan malammu!" ucap Bianca.
"Aku sudah kenyang," balas Arga lalu berlari kecil menaiki tangga.
"Ada apa dengannya? sikapnya dari tadi terlihat sangat aneh," tanya Bianca pada dirinya sendiri.
"Entahlah aku tidak peduli," ucap Bianca lalu melanjutkan makan malamnya.
Di sisi lain, Arga hanya diam terduduk di tepi ranjangnya, memikirkan apa yang baru saja terjadi.
"Apa selama ini Daffa memang berniat untuk mendekati Bianca? apa mungkin mereka..... tidak.... tidak mungkin Bianca menyukai Daffa, Bianca hanya menyukai Bara, laki-laki yang bahkan tidak mengetahui jika diam-diam Bianca menyukainya!"
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Tiba-tiba ponsel Arga berdering, sebuah panggilan dari Karina yang membuat Arga tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Halo Arga, apa kau masih berada di kantor?" tanya Karina setelah Arga menerima panggilannya.
"Iii.... iya... aku masih di kantor," jawab Arga berbohong.
"Aku pikir kau tidak akan kembali kesini, setidaknya kau harus berpamitan padaku sebelum kau pulang ke rumahmu!" ucap Karina.
"Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku, tunggu sebentar lagi!" ucap Arga.
"Baiklah aku akan menunggumu," balas Karina.
Panggilan berakhir, Arga kemudian beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari kamarnya, berniat untuk pergi ke rumah Karina.
Saat baru saja turun dari tangga, Arga berpapasan dengan Bianca yang baru saja keluar dari dapur. Bianca hanya diam tanpa bertanya atau mengatakan apapun seolah tidak menyadari keberadaan Arga saat itu.
"Bianca, aku harus pergi!" ucap Arga yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Seketika Arga menghentikan langkahnya, sedangkan Bianca tetap berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
"Kenapa dia hanya diam? kenapa dia tidak bertanya kemana aku pergi? dia bahkan tidak bertanya apapun sebelum aku mengatakan jika aku akan pergi, apa memang dia sangat tidak peduli padaku?" batin Arga bertanya dalam hati.
Arga menghela nafasnya kasar lalu berjalan keluar dari rumahnya, mengendarai mobilnya ke arah rumah Karina.
"Sepertinya hanya aku yang peduli padanya, dia sama sekali tidak peduli padaku, mungkin karena dia memang menikahiku hanya demi uang 50 miliar yang aku berikan untuk melunasi hutang papanya," ucap Arga kesal.
Entah kenapa melihat Bianca yang mendiamkannya membuat Arga merasa begitu kesal.
"Tapi bagaimanapun juga kita adalah suami istri, kita bahkan tinggal dalam satu rumah, seharusnya dia bisa bersikap lebih ramah padaku, tetapi dia bahkan tidak menegurku sama sekali!" ucap Arga yang masih merasa kesal dengan sikap Bianca.
Setelah beberapa lama berkendara Argapun sampai di rumah Karina. Saat Arga baru saja keluar dari mobilnya sudah ada Karina yang berlari kecil menyambut kedatangannya.
"Apa kau baru saja pulang dari kantor?" tanya Karina yang terdiam memperhatikan pakaian Arga.
"Iya, kenapa?" balas Arga bertanya sambil membawa langkahnya memasuki rumah Karina.
"Kenapa kau tidak memakai pakaian kerja?" tanya Karina yang membuat Arga tersadar jika dirinya sudah berganti pakaian saat ia berada di rumah.
"Aku..... aku melepasnya di mobil," jawab Arga beralasan.
"Tapi kenapa kau wangi sekali? kau seperti baru selesai mandi," tanya Karina penuh selidik.
"Aku baru saja pulang dari kantor Karina, tidak mungkin aku wangi, mungkin hidungmu sedang bermasalah hehe...." ucap Arga berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Arga tidak ingin Karina mengetahui jika dirinya baru saja pulang untuk menemui Bianca.
"Apa kau sudah makan malam? aku baru saja memesan makan malam untuk kita!"
"Kebetulan sekali aku memang sedang lapar," balas Arga sambil memegang perutnya.
Karina tersenyum lalu menggandeng tangan Arga ke arah meja makan kemudian menikmati makan malam mereka.
Karina menceritakan banyak hal pada Arga, tentang pekerjaan dan teman-teman di tempat kerjanya. Tetapi entah kenapa Karina merasa jika Arga sedang tidak fokus dengannya, Arga lebih banyak diam dan hanya tersenyum tanpa menanggapi cerita Karina.
"Arga, apa kau tidak mendengar ceritaku?" tanya Karina yang membuat Arga segera membawa pandangannya pada Karina.
"Aku mendengarnya," jawab Arga beralasan karena sebenarnya sedari tadi tanpa sadar Arga lebih banyak memikirkan tentang Bianca daripada menyimak cerita Karina.
"Tapi kau seperti sedang mengabaikanku!" ucap Karina.
"Mana mungkin aku mengabaikanmu Karina, habiskan makananmu dan cepatlah tidur, kau tidak boleh tidur terlalu malam!" ucap Arga.
Karina hanya menganggukkan kepalanya pelan kemudian melanjutkan makan malamnya.
Karina kemudian masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Arga segera membawa langkahnya ke ruang tamu, tempat dimana dia tidur selama beberapa hari menginap di rumah Karina.
Tiba-tiba Arga teringat ucapan Daffa padanya, tentang bagaimana Daffa memuji Bianca di hadapannya.
"Bianca cantik, lebih cantik dari Lola bahkan mungkin lebih cantik dari semua perempuan yang pernah bersamaku, dia baik dan sangat menyenangkan, jadi bagaimana mungkin laki-laki yang mengenalnya tidak akan jatuh cinta padanya!"
Arga tersenyum tipis, berusaha menahan kekesalan dalam dirinya.
"Bianca memang cantik, tetapi aku tahu dia bukan gadis yang mudah untuk jatuh cinta, dia bahkan sangat bodoh dalam hal percintaan, dia hanya menunggu laki-laki yang hanya memberinya harapan palsu," ucap Arga dalam hati.
Malam semakin larut, membawa Arga tertidur pulas di atas sofa yang ada di ruang tamu Karina.
Meskipun baginya tempat itu bukanlah tempat yang nyaman untuk tidur, tetapi Arga bisa tetap tertidur dengan nyenyak karena ia baru saja mengonsumsi obat tidur yang sudah sejak beberapa hari ini ia konsumsi.
Tidak ada cara lain yang biasa ia lakukan selain mengkonsumsi obat tidur karena ia sama sekali tidak merasa nyaman untuk tidur di sofa sempit yang ada di ruang tamu Karina.
__ADS_1
Semua itu Arga lakukan demi bisa membuktikan pada Karina bahwa hanya dialah laki-laki yang pantas untuk Karina, laki-laki terbaik yang bisa memberikan seluruh perhatiannya untuk Karina, perhatian yang dulu tidak pernah ia berikan pada Karina, gadis yang dulu dicintainya.