Cinta Dan Kontrak Pernikahan

Cinta Dan Kontrak Pernikahan
Menikah 2 Tahun


__ADS_3

Bianca masih terduduk bersama Lola di lantai kamar kost Lola. Tidak mudah baginya untuk memutuskan apa yang sebaiknya ia lakukan saat itu.


Hanya satu yang pasti, keadaan memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan.


Setelah beberapa lama bergulat dengan pikirannya sendiri, Biancapun akhirnya mengambil keputusan.


"Baiklah aku akan menemuinya," ucap Bianca yang segera beranjak dari duduknya.


Mendengar hal itu Lolapun segera ikut beranjak dari duduknya, mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Bianca untuk memastikan keseriusan dari ucapan Bianca saat itu.


"Apa kau serius Bianca?" tanya Lola dengan membulatkan matanya tepat di depan Bianca.


"Singkirkan wajahmu, kau menghalangi masa depanku!" balas Bianca sambil menempelkan telapak tangannya pada wajah Lola.


Bianca kemudian meraih tas selempangnya, berdiri di hadapan cermin lalu mengikat rambutnya dengan kuat, sekuat keyakinannya untuk mengambil keputusan yang sebenarnya tidak diinginkan olehnya.


Bianca kemudian keluar dari kamar kost Lola, mengenakan sepatu converse miliknya dan mengikatnya dengan kencang sebelum ia membawanya melangkah untuk menemui laki-laki gila yang akan memberinya uang 50 miliar yang ia butuhkan.


"Tidak ada pilihan lain lagi bukan? hanya ini yang bisa aku lakukan!" ucap Bianca berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


"Kau sudah melakukan yang terbaik Bianca, aku mendukungmu!" balas Lola sambil menggenggam kedua tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Peluk aku Lola, aku membutuhkan semangat darimu!" ucap Bianca sambil meregangkan kedua tangannya.


Lolapun segera memeluk Bianca dengan erat sambil menepuk-nepuk punggung Bianca.


"Pergilah kawan, doaku selalu menyertaimu!" ucap Lola sambil melambaikan tangannya pada Bianca yang perlahan berjalan menjauh darinya.


Beberapa saat setelah kepergian Bianca, Lola baru teringat sesuatu.


"Memangnya kemana dia akan menemui laki-laki itu? tidak mungkin dia menemui laki-laki itu di perusahaan besar dengan pakaian seperti itu bukan?"


"Aaarrghhh bodoh sekali, seharusnya aku mendandaninya dulu seperti kemarin," ucap Lola yang merutuki kebodohannya sendiri.


Di sisi lain, Bianca baru saja menaiki ojek online yang akan membawanya pergi ke perusahaan milik keluarga Arga.


Sesampainya Bianca disana, beberapa saat ia ragu saat ia menatap bangunan besar di hadapannya.


"Menikah? apakah aku sudah melakukan hal yang benar? ya Tuhan beri hambamu ini petunjuk!" batin Bianca dalam hati.


Setelah memantapkan dirinya, iapun membawa langkahnya memasuki perusahaan besar di hadapannya, Bianca berjalan menemui resepsionis untuk menanyakan dimana ruangan Arga.

__ADS_1


Resepsionis cantik dengan pakaian rapi itupun tentu saja memperhatikan Bianca dari atas sampai bawah sebelum ia menunjukkan di mana ruangan Arga.


Karena Bianca datang dengan hanya mengenakan celana jeans, kaos oblong dan kemeja yang kancingnya tidak dipasang tentu saja membuat sang resepsionis ragu untuk memberitahu dimana ruangan Arga pada Bianca.


"Mohon maaf sebelumnya, apakah kakak sudah membuat janji dengan Pak Arga?" tanya resepsionis dengan sopan.


"Belum, tapi saya yakin Arga pasti mau menemui saya," jawab Bianca yakin.


"Mohon maaf kak, untuk bertemu dengan Pak Arga di kantor harus membuat janji terlebih dahulu," ucap sang resepsionis.


"Coba hubungi saja Arga dan katakan padanya bahwa saya mencarinya, saya yakin dia pasti mau menemui saya," ucap Bianca.


"Baik kak, kalau boleh tahu dengan siapa saya berbicara?" tanya sang resepsionis.


"Saya....."


Bianca menghentikan ucapannya, percuma saja ia menyebutkan namanya karena Arga belum mengetahui namanya.


"Tolong katakan saja pada Arga jika perempuan yang ingin dinikahinya datang untuk menemuinya," ucap Bianca yang membuat resepsionis mengernyitkan keningnya.


Karena Bianca yang terus memaksa untuk bertemu dengan Arga, akhirnya si resepsionispun menghubungi Arga.


"Selamat sore Pak, ada perempuan yang ingin bertemu dengan Pak Arga, tapi dia belum membuat janji sebelumnya," ucap resepsionis setelah Arga menerima panggilannya.


"Tapi.... dia bukan Clara pak, dia..... dia berkata bahwa dia adalah perempuan yang ingin Pak Arga nikahi," ucap si resepsionis ragu.


"Biarkan dia masuk," balas Arga lalu mengakhiri panggilan itu begitu saja.


Sang resepsionispun begitu terkejut namun pada akhirnya ia memberitahukan pada Bianca dimana ruangan Arga.


"Ruangan Pak Arga ada di lantai 7 di sebelah kiri," ucap sang resepsionis pada Bianca.


"Terima kasih," ucap Bianca lalu segera membawa langkahnya menaiki lift.


Sesampainya ia di lantai 7, Biancapun segera membawa langkahnya ke arah kiri sesuai dengan petunjuk resepsionis.


"Pasti disini ruangannya!" ucap Bianca sambil membaca papan nama yang ada di depan ruangan itu.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dafa yang membuat Bianca cukup terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba.


"Saya ke sini untuk mencari Arga, apa benar ini ruangan Arga?" jawab Bianca sekaligus bertanya.

__ADS_1


"Iya benar, apa sudah membuat janji sebelumnya?"


"Sudah, baru saja resepsionis menghubungi Arga," balas Bianca.


"Baiklah kalau begitu, silakan masuk!" ucap Dafa sambil membuka pintu ruangan Arga setelah ia mengetuk beberapa kali lalu kembali menutupnya setelah Bianca masuk ke dalam ruangan Arga.


Arga yang sudah menunggu kedatangan Bianca hanya diam di tempatnya duduk dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Sepertinya kau sudah membuat keputusan!" ucap Arga.


"Apa aku boleh duduk?" tanya Bianca yang berjalan menghampiri Arga.


"Silakan!" balas Arga.


Biancapun duduk di hadapan Arga, ia berusaha untuk menghilangkan semua keraguan dalam hatinya atas keputusan yang sudah ia ambil, meskipun tidak sesuai dengan keinginannya.


"Kau terlihat berbeda dengan saat pertama kali kita bertemu," ucap Arga memperhatikan penampilan Bianca.


"Aku yang sebenarnya memang seperti ini, apa kau keberatan? apa kau berubah pikiran?" balas Bianca.


"Tentu saja tidak, aku tetap akan menikahimu dan memberikan sebanyak apapun uang yang kau butuhkan!" ucap Arga.


"Huh sombong sekali!" gerutu Bianca pelan.


"Jadi kenapa kau menemuiku? apa kau sudah siap untuk menjadi istriku?" tanya Arga.


"Sebelum aku membuat keputusan yang sama sekali tidak aku inginkan, bolehkah aku bertanya kenapa kau tiba-tiba ingin menikahiku?" balas Bianca bertanya.


"Kau menarik dan aku pikir kau cukup menyenangkan untuk bisa menjadi istriku!" jawab Arga santai.


"Menarik dan menyenangkan? apa hanya itu kualifikasi untuk bisa menjadi istrimu? waaahhh aku benar-benar tidak mengerti cara berpikir orang kaya sepertimu!" ucap Bianca dengan menggelengkan kepalanya pelan.


Arga hanya tersenyum tipis lalu mengeluarkan selembar kertas dan menaruhnya di atas meja bersama sebuah pena.


"Mari kita buat kesepakatan yang tidak memberatkan satu sama lain," ucap Arga sambil menggeser kertas dan pena itu ke arah Bianca.


"Apa maksudmu?" tanya Bianca tak mengerti.


"Aku akan menikahimu tapi hanya untuk 2 tahun, setelah itu aku akan menceraikanmu," jawab Arga.


"Apa maksudmu kita akan melakukan pernikahan kontrak?" tanya Bianca memastikan.

__ADS_1


"Terserah bagaimana kau menyebutnya, tapi yang pasti aku hanya membutuhkanmu untuk menjadi istriku selama 2 tahun, setelah itu kau akan bebas dariku," jawab Arga.


__ADS_2